Jejak Sadin

Jejak Sadin
12. Kepala Tuan Becak


__ADS_3

"Sumpah pemikiran lo dangkal banget," celetuk Rafles yang baru lima belas menit ini pulang dari pengambilan surat izin.


Setelah pulang, Hyu dan Dinda menceritakan kejadian mengenai hantu cantik, munculnya sesosok menyerupai Sadin, dan juga Saben yang melakukan hal yang menyimpang.


"Kayak enggak bisa nahan nafsu gitu. Memalukan," sindir Sadin sembari menyeruput es kopi yang baru dibelinya.


"Ya, maaf. Namanya juga naluri lelaki. Tidak bisa dielakkan," sahut Saben.


"Kalau tadi lo ikut kita-kita, pasti enggak akan begitu kejadiannya. Kalau udah begini, siap-siap aja kita akan diteror. Lagian kalau lo sebagai penunggu rumah, lo rela enggak, sih, kalau rumah lo dijadikan ajang buat nonton yang tidak-tidak?" Pertanyaan dari Sadin berhasil membuat Saben menggelengkan kepalanya.


"Kalau gue sendiri, ya gapapa."


"Serah lo, bambang!"


"Udah, ah. Laper, nih! Mau masak mie dulu. Ada yang mau nitip?" tawar Dinda sembari membuka tas ranselnya.


"Eh, beli makan aja, gimana? Tadi kata Pak Kades, ada warteg enak di sekitar sini." Tawaran dari Sadin berhasil membuat teman-temannya mengangguk setuju.


"Wih, warteg! Kesukaan Hyu sekali," ujar Hyu sembari tersenyum.


"Kamu sukanya warteg? Enggak suka aku?" Pertanyaan dari Rafles sontak membuat yang lainnya pura-pura mendadak ingin muntah.


"Huwek! Bucin!"


"Dah, lah, jomblo minggir," cibir Dinda sembari memutar bola matanya.


"Kan ada Gembul, Din," celetuk Sadin yang langsung dibalas pelototan mata oleh Dinda.


Gembul hanya bisa tersenyum saja sembari memerhatikan Dinda.


Klontang...


Semua hening dan berniat memahami benda apa yang terjatuh tadi.


"Ya Allah, cape."


"Suth!"


Saben segera menutup mulutnya dan diam kembali.


"Ada yang datang ke sini," celetuk Rafles yang mulai merasakan kehadiran mereka.


Tok.. tok.. tok...


"Permisi."


"Eh, siapa yang ke sini?" tanya Hyu.


"Pak Kades, mungkin?"


Sadin segera berdiri disusul dengan semua temannya sambil membukakan pintu.


"Iya ada ap–"


"Permisi, Mas. Dengar-dengar tadi ada yang ingin ke warteg, ya? Mari saya antar pakai becak saya."

__ADS_1


"Huwaaaaa!"


Gebrak...


Pintu langsung ditutup kencang oleh Sadin. Semua yang melihatnya pun ikut terpaku.


Seorang lelaki paruh baya yang tengah berdiri dengan kepala terpisah yang berada di dudukan becak membuat Sadin tersentak.


Darahnya mengucur jelas dari bekas potongan di kepalanya. Ditambah dengan satu kaki yang termutilasi. Jari-jarinya pun dirasa sudah tidak lengkap lagi. Dia tersenyum menyeringai sembari mengeluarkan suara retakan tulang-tulang persendian belakang.


"Mas? Kenapa ditutup? Butuh jasa saya, tidak?"


"P–" Dengan cepat Rafles langsung menutup mulut Sadin.


"Jangan disahut. Nanti dia semakin menjadi-jadi. Diam dulu." Rafles langsung melepaskan tangannya dari mulut Sadin.


Dor.. dor.. dor...


"Mas, buka, Mas!"


Dor.. dor.. dor...


Gembul terlihat sudah berwajah pucat pasi dengan tatapan yang terlihat kosong.


"Eh, Gembul bawa ke kamar! Kasih minyak kayu putih!" perintah Sadin sembari menahan pintu agar tidak didobrak oleh hantu itu.


Dinda, Hyu, dan Saben dengan cekatan langsung membawa Gembul ke kamar. Badannya sudah dingin dan tidak mau bicara sepatah kata pun.


Sementara itu, Rafles dan Sadin masih berusaha menahan hantu tadi.


"Mas, saya antar!"


Dor.. dor.. dor...


"Bismillahirrahmanirrahim.


A’udzu bi kalimatillahit tammat allati la yujawizuhunna barrun wa la fajirun min syarri ma khalaqa wa dzara’a wa bara’a wa min syarri ma yanzilu minas sama’, wa min syarri ma ya’ruju fiha, wa min syarri ma dzara’a fil ardhi wa min syarri ma yakhruju minha, wa min syarri fitanil laili wan nahar, wa min syarri kulli thariqin illa thariqan yathruqu bi khairin ya rahman."


"Arghhh ... panas."


"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum.


Laa ta'khudzuhuu sinatuw wa laa naum.


Lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardh.


Man dzal ladzii yasyfa'u 'indahuu illaa bi idznih.


Ya'lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum.


Wa laa yuhiithuuna bi syai-im min 'ilmihii illaa bi maa syaa-a.


Wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardha wa laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa Wahuwal 'aliyyul 'azhiim."


Hening.

__ADS_1


"Mujarab juga doanya," bisik Rafles sembari mengelus dadanya dan mulai terduduk di balik pintu.


"Alhamdulillah. Spot jantung rasanya gue. Gila, ada setan siang-siang gini." Sadin nampak mengelap keringatnya.


"Apa kita pindah villa aja?"


Dor.. dor.. dor...


"Apa lagi itu, Ya Tuhan!"


Dor.. dor.. dor...


"Mba, Mas? Ada masalah kah di dalam?" Suara tersebut membuat Sadin dan Rafles tampak saling berpandangan.


Sadin langsung melongok ke arah jendela sembari membaca surah.


"Pak Kades." Sadin langsung membuka pintu yang terkunci tersebut.


"Alhamdulillah, Pak," Rafles langsung jatuh lemas di lantai.


"E–eh, ada apa?" tanya Pak Kades sambil membantu Rafles untuk berdiri.


"Tadi saya dengar kamu semua teriak-teriak sambil gedor-gedor, kenapa?" tanya Pak Kades yang ternyata tidak sendirian.


Beliau bersama dengan beberapa warga yang lain.


"Bukan kami yang menggedor, Pak, tapi–"


"Tukang becak?" tebak seorang warga yang membuat Sadin dan Rafles sedikit terkejut.


"Bapak tau?" tanya Sadin.


"Berarti benar, Pak!"


"Jadi, arwah tukang becak itu memang sering muncul dan menampakkan dirinya bagi pendatang baru. Dikarenakan beliau kalau sedang narik becak, jalan satu-satunya adalah lewat sini. Tidak hanya kamu saja yang diganggu. Semua yang lewat pun pasti diganggu olehnya," ungkap Pak Kades sembari membenarkan peci kepalanya.


"Me–mang kenapa dia bisa seperti itu, Pak?" tanya Rafles sembari mencium wangi-wangian aromaterapi.


"Dia adalah korban pembacokan enam tahun yang lalu. Jadi, waktu itu ada penyerangan di desa ini karena ada suatu kesalahpahaman antar warganya. Ada pembantaian besar-besaran. Nah, yang paling parah adalah almarhum Pak Ngatidin, tukang becak tersebut. Kepala beliau dipenggal dan di taruh pada kursi becaknya. Semua badannya dimutilasi. Entah pelakunya itu punya dendam atau tidak, saya kurang tahu," jelas Pak Kades sembari termenung mengingat peristiwa beberapa tahun yang lalu itu.


"Ya Allah, pantas saja hantunya seseram itu," celetuk Rafles sembari terus memijat pelipisnya.


"Oh iya, biasanya almarhum Pak Ngatidin akan bergentayangan jika ada orang yang berniat pergi ke luar dari rumah. Mas-mas ini mau ke mana? Bukankah kalian semua ingin pergi ke rumah sakit itu besok?" tanya Pak Kades.


"Kami hanya ingin membeli makanan di warteg yang bapak sarankan saja, Pak. Tiba-tiba waktu kami buka pintu, hantu tersebut sudah berada di depan rumah," jelas Sadin yang tak berani mengingat bentuk hantu tersebut.


"Ya sudah kalau begitu, Mas dan mbaknya di rumah saja. Biar nanti saya suruh warga untuk membeli makanan di sana sekalian diantarkan ke sini," papar Pak Kades sembari tersenyum hangat.


"Eh, jangan, Pak, merepotkan." Sadin merasa tidak enak dengan tawaran dari Pak Kades yang terkesan berlebihan itu.


"Enggak apa-apa, Mas. Nanti dibawakan, ya." Pak Kades tersenyum lagi.


"Waduh, terima kasih banyak, Pak. Maaf jadi merepotkan seperti ini." Sadin menunduk sembari terkekeh dan menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal sama sekali.


"Sama-sama, Mas. Kalau begitu, saya dan warga izin pamit dulu. Assalamu'alaikum," salam Pak Kades.

__ADS_1


"Waalaikumussalam."


"Baru datang saja sudah diisengi seperti ini, Din. Bagaimana nanti?" Pertanyaan dari Rafles hanya direspon dengan gedikan bahu saja oleh Sadin.


__ADS_2