Jejak Sadin

Jejak Sadin
19. Rafles Ditemukan


__ADS_3

"Assalamu'alaikum warahmatullah ... Assalamu'alaikum warahmatullah ...."


Selepas sholat, Dinda langsung menoleh ke arah belakang dan mendapati Hyu yang tengah tertidur pulas. Ia bersyukur karena tidak membatalkan sholatnya demi gangguan suara-suara halus yang kini menghilang tanpa jejak. Ia melanjutkan dengan doa untuk memohon keselamatannya dan juga sahabat-sahabatnya kepada Yang Maha Kuasa.


Sadin sengaja memperlambat dzikir dan doanya agar selalu dilindungi oleh Allah. Ia membacakan doa pada air dan menyuruh teman-temannya semua untuk minum. Terkecuali dengan Hyu.


"Tadi kalian dengar suara Rafles dan Hyu yang minta tolong?" tanya Dinda yang merasa iseng jika hanya dia yang mendengar suara itu sendiri.


"Gue dengar, kok. Cuma gue enggak mau ambil pusing saja. Toh, itu cuma makhluk halus yang selalu menyesatkan manusia," sahut Sadin yang terlihat tak acuh dan mulai membersihkan ruangan yang baru saja dipakainya itu.


"Kalian udah selesai sholat?" tanya Hyu yang mulai bangun dari tidur saat teman-temannya itu saling berbicara.


"Udah."


"Ini kira-kira ruangan apa ya? Kok sepertinya terawat sekali." Gembul terlihat memegang stetoskop yang menggantung pada salah satu paku di dinding ruangan itu.


"Bukan terawat, sih. Mungkin saja karena tidak pernah dibuka. Jadinya seperti ini. Masih bersih dan juga elok," sahut Hyu sembari melihat-lihat ke arah berkas-berkas yang berada di dalam laci.


"Tapi biasanya kalau ruangan ditutup terus pasti akan berdebu, loh atau mentok-mentok ada sarang laba-labanya, tetapi ini anehnya tidak sama sekali," sanggah Gembul yang ikut melihat-lihat isi berkasnya.


"Riwayat penyakit amnesia pada tahun 1934 sebanyak 81 orang dalam satu tahun. What? Are you seriously? Amnesia karena apa, coba? Gak alamiah sekali kalau tiba-tiba 81 orang diagnosis terkena penyakit ini," ujar Hyu sembari membuka lembaran selanjutnya.


"Pada tahun, duh, kok terhapus tulisannya, ya? Terdapat 47 wanita terkena penyakit kanker rahim dan kanker payudara." Hyu nampak terkejut dan menutup mulutnya yang melongo secara tiba-tiba.


"Ada daftar nama pasien atau cara penanganannya, gak?" tanya Gembul yang ikut-ikutan penasaran.


"Ada, tapi seperti disingkat. Contohnya tuh Kvnu. Bisa kita tebak sebagai Kevanu, kovonu, ya, semacam itulah," terang Hyu.


"Ada lagi, nih."


"Penanganan 1.500 pasien terdampak penyakit Ebola. Loh, bukannya Ebola itu penyakit dari abad berapa gitu, ya? Kok kertas ini masih ada sampai sekarang?" tanya Hyu dengan nada kaget dan terus membuka berkas-berkas yang lain.


"Ya, wajar lah. Ini kan rumah sakit tua." Sahutan dari Dinda langsung mendapat gelengan tegas dari Hyu.


"Tetapi sepertinya enggak setua itu, deh. Eh, gimana kalau kita minta paman ku untuk membantu kita untuk mencari Rafles dan ke luar dari sini?" tanya Hyu sembari merogoh kantong sakunya.


"Ya Ampun, kenapa enggak kepikiran dari tadi?" Dinda terlihat menepuk jidatnya yang juga merasa nampak bodoh saat itu juga.


Saat Hyu selesai menekan tombol memanggil pada kontaknya, tiba-tiba saja ...


*Prank ....


Bragh* ....


Ponselnya terlempar dan tertiban sebuah lemari tua yang sudah sangat lapuk.


"Handphoneku!"


Para lelaki segera membantu mendirikan lemari itu dan menempatkannya ke tempat semula, namun naas, ponsel Hyu susah hancur retak dan tak dapat dihidupkan kembali.


"Ah, sial! Kenapa kalian tega banget, sih?!" Hyu nampak geram pada makhluk-makhluk halus yang sedang mengerjainya.

__ADS_1


"Kelewatan tau, enggak?!" geramnya sembari mendengus sebal dan kemudian menangis.


"Sudah Hyu jangan menangis. Kamu hafal nomor pamanmu, tidak? Kalau hafal, biar ditelepon pakai handphoneku." Gembul berusaha menyakinkan kepada Hyu jika masih ada jalan lain yang bisa ditempuh.


"Enggak. Aku enggak hafal," sahut Hyu yang semakin memperkuat tangisannya.


"Ya Tuhan."


"Lebih baik kita cari jalan ke luar lagi. Kita baca doa sekaligus cari Rafles lagi. InsyaaAllah pasti kali ini kita akan bertemu dia." Sadin langsung menggendong tasnya untuk ke luar dari ruangan itu.


Tak lupa ia menutup rapat kembali pintu ruangan dan bergegas untuk mencari Rafles.


Tiba-tiba saja mereka semua dibuat kaget saat melihat seorang suster yang seolah-olah sedang berjaga di tempat resepsionis. Rambutnya acak-acakan dengan topi dekil yang ada di atas kepalanya. Bajunya juga sudah terlihat menguning. Tatapannya terlihat kosong, namun masih berusaha mematri sebuah senyuman.


Gembul sudah bergetar di tempatnya. Ia tak sanggup melihat sosok mengerikan yang ada di depannya. Beda lagi dengan Sadin yang terlihat santai walaupun hatinya lumayan agak gentar.


"A–rhhh–da ya–hg–ng bisah sa–rgh–ya bantuh arhh?" tanyanya dengan sebuah senyuman menyeramkan.


"Mba, lihat mas-mas pakai jaket jeans dan topi warna hitam tidak? Tinggi badannya sekitar 170-an." Pertanyaan dari Sadin berhasil membuat yang lain terlonjak kaget.


"Sadin! Lo gila ata–"


"Suth!" Sadin berusaha menyuruh Saben dan yang lainnya diam saja.


"Oh, ta–rh–di se–rhs–dangh di–ba–rh–wa ke ru–rh–ang ope–hh–rashi."


"W–what? Operasi?" Hyu terkejut sesaat setelah mendengarkan penuturan suster jadi-jadian yang ada di depannya.


"Ruangan operasi di sebelah mana?" tanya Dinda yang sudah mulai geram.


Suster tersebut langsung menunjuk ke arah sebelah kanan dan juga menganjurkan untuk melihat papan penunjuk jalan.


Bagaimana bisa melihat papan yang sudah rapuh dan patah menjadi dua karena termakan rayap?


Mereka semua langsung lari menyusuri koridor rumah sakit tua dan mencari-cari keberadaan ruang operasi yang dimaksud oleh suster itu. Semoga saja ini merupakan jalannya.


"Eh, Bro, ini kayaknya!" Saben menunjuk ke sebuah ruangan yang di terangi oleh cahaya matahari siang.


Beberapa huruf di sana juga memperjelas nama ruangan itu.


R ... ng op ... r ... i


Perlahan Sadin mulai membuka pintunya, namun sayangnya pintu tersebut terkunci dari dalam.


"Biar Gembul buka," ujar Gembul yang mulai turun tangan dan mulai memberikan aba-aba.


"Bismillahirrahmanirrahim ... 1 ... 2 ... 3 ...."


Brugh...


Gagal.

__ADS_1


"Coba lagi ya."


"Bismillahirrahmanirrahim ... Allahumma shalli'alaa sayyidina Muhammad. wa alaa Ali sayyidina Muhammad."


Brugh ...


Gembul menutup matanya saat pintu terbuka dengan lebar. Semua tampak kaget ketika melihat dua buah tempat tidur operasi yang di mana salah satunya adalah tempat Rafles tertidur pulas di kelilingi oleh beberapa makhluk halus.



"Sial! Kenapa semuanya jadi bisa lihat makhluk-makhluk di sini, sih?" gerutu Sadin sembari menatap geram juga ke arah makhluk-makhluk berpakaian seperti dokter pada tahun 1900-an.


Seorang arwah dokter secara tiba-tiba hendak menghunuskan pisau bedahnya ke arah jantung Rafles.


"JANGAN!"


Sret ....


Dengan cekatan Sadin menahan pisau bedah itu dengan pisau belati yang ada di tangannya. Raut wajah makhluk itu benar-benar sangat marah dan langsung mengarahkan pisau bedah itu ke arah Sadin. Dengan susah payah Sadin menangkal serangan mematikan itu. Saben terlihat mengambil perhatian para makhluk yang lain agar tidak menyerang Sadin. Hyu, Dinda, dan Gembul langsung membantu Rafles yang tak sadarkan diri itu untuk turun dari tempat tidur operasi.


"Jangan ganggu kami!"


"Gue enggak ngerasa ganggu kalian!" teriak Sadin sembari mengambil celah dan ...


**** ....


Satu tikaman berhasil mengenai makhluk itu. Ia terlihat kepanasan dan tak berdaya lagi. Rupanya tiba-tiba saja berubah menjadi asap dan menghilang.


Sementara makhluk yang lainnya masih berusaha memberontak dan menahan Rafles agar tak dibawa pergi. Gembul seketika ingat jika ia masih punya sebotyair mineral yang telah dibacakan beberapa doa dan diberi penawar. Dengan mengucap basmalah, ia pun segera menyiramkan air tersebut ke sekumpulan makhluk itu.


*Byur ....


Byur* ....


"Aaargh!"


"Aaaaaaa!"


"Arhk."


"Wuarhhh."


"Aaakkkk."


Sadin langsung menggendong Rafles di punggungnya. Beruntunglah Rafles tidak gendut, tetapi tetap saja, orang yang tidak sadarkan diri akan jauh lebih berat daripada orang yang sadar secara utuh.


"Cari tempat yang bersih! Pasti ada! Kita sadarkan Rafles terlebih dahulu!" perintah Sadin yang nampaknya sudah kewalahan.


"Di sana saja. Gembul yang bantu jadi pawangnya. Gembul dan yang lainnya akan baca doa." Gembul langsung berlari ke arah sebuah tempat yang tidak terlalu kotor dari tempat yang lain.


Ia mulai menggelar sebuah tikar yang dibawanya. Di sekeliling tempat tersebut ditaburi dengan garam dan juga beberapa doa-doa pemusnah. Mereka berharap mereka akan aman di sana.

__ADS_1


__ADS_2