Jejak Sadin

Jejak Sadin
3. Kejadian di Rumah Dinda


__ADS_3

Dinda yang bertugas sebagai pengedit sekaligus pengupload pun langsung melancarkan aksinya pada kamis pagi. Baru dua jam penayangan kisah berdarah di rumah Sadin, YouTube langsung digemparkan oleh video tersebut.


"Gila, sih! Langsung dilihat ratusan ribu orang," ucap Sadin sambil bertepuk tangan.


"Baca komentarnya, deh" ujar Hyu sambil melihat ke arah handphone milik Dinda.


Asli itu serem banget!


Kalau ada yang menganggap ini rekayasa, fix orang itu enggak nonton dengan serius.


Demi apa Hospital Guard? Kak, itu horor banget! Katanya pernah ada pasiennya yang meninggal karena tabrakan kereta. Ke sana dong, Kak! Ungkap misterinya, ya!


Lanjut aja, Kak. Kayaknya seru, deh bikin konten di sana.


Ditunggu konten di rumah sakit selanjutnya 😍


Aku belum percaya soal ini kalau Kakak semua gak ke sana untuk membuktikan maksud dari perkataan jangan itu!


Wah, pasti rame nih konten selanjutnya.


"Bisa kalian liat sendiri, 'kan? Mereka semua pengen banget kalau kita lanjut ke rumah sakit itu. Kalau kita bisa ke sana, kita adalah orang pertama yang uji nyali di tempat itu. Kebayang enggak, sih kalau YouTubers yang lain langsung ikut-ikutan ke sana? Konten kita bisa langsung ditonton dan digemari banyak orang!" Persuasi Dinda kepada teman-temannya.


Semua langsung bertatapan satu sama lain.


"Oke aja gue mah," ucap Sadin sambil tersenyum.


"Good. Gue juga!" Timpal Saben.


"Kalau dua orang ini sudah ikut, gue harus ikut!" Semarak Rafles.


Hyu terlihat menggigit bibir bawahnya sembari menoleh ke arah lain.


"Kalau Lo, Hyu?" tanya Dinda dengan perlahan.


Hyu tersenyum tipis dan mengangguk secara perlahan.


"Bagus! Tinggal atur schedule. Mau kapan?" Tanya Dinda.


Hyu yang bertugas mengatur jadwal pun langsung membuka bukunya.


"Sabtu aja, gimana? Biar sekalian kita nginep di sana sampai Minggu. Lumayan jauh dari sini, 'kan? Kalau bolak-balik kayaknya bakal kepepet waktu," saran Sadin sambil memakan bakpia yang disajikan oleh ibunya Dinda.


"Saran yang bagus. Masalah mobilnya, gimana?" Tanya Rafles.


Semua yang ada tergeming selama beberapa menit.


"Temen gue ada, sih, tapi sayangnya dia kayak penakut gitu orangnya," tutur Dinda sembari membuka ponselnya.


"Siapa?" tanya Saben dengan penasaran.


"Gembul, anak kelas gue," terang Dinda.


"Oh, yang suka sama lo?" tanya Rafles sambil menutup mulutnya yang berusaha menahan tawa.


"Euh, tolong gak usah ucapkan kalimat itu. Menggelikan," ketus Dinda.


"Kayaknya bakal mau, deh, Din. Secara cowok kalau udah sayang banget pasti akan melakukan apa pun yang ceweknya mau," goda Sadin sambil tertawa.


"Idih."


"Udah, woy! Hubungi aja dulu. Masalah mau atau enggak belakangan," ucap Saben.


Dinda Delia


Bro, gue ganggu lo enggak?


"Langsung diread, woy!" teriak Dinda.


Gembul Alaspati


Enggak, Din. Kenapa chat aku? Tumben.


"Wahahaha! Ngomongnya aku-kamu, cie!" Godaan dari Rafles mendapat hadiah pelototan tajam dari Dinda.


"Diam! Atau gue gak bakal bantu cari pinjeman mobil!" teriak Dinda dengan wajah kesal.


Semua diam sambil menahan tawa.


Dinda Delia


Lo mau bantu gue, gak? soalnya gue dan temen-temen lagi butuh banget mobil. Gue enggak tau harus pinjam siapa.


Gembul Alaspati


Lo mau pinjam mobil? Boleh, kok.

__ADS_1


"Yes!" Sontak semua yang ada di sana merasa lega.


"Jangan lupa ajak dia buat gantian bawa mobil," ucap Rafles.


"Harus banget?" gerutu Dinda sembari menatap sinis ke arah Rafles.


"Lo mau gantian bawa mobilnya?"


Dinda Delia


Tapi Lo harus ikut juga, ya.


Gembul Alaspati


Emang mau ke mana?


Dinda Delia


Penelusuran di Hospital Guard.


Gembul Alaspati


Eh, aduh, gimana ya, Din, aku enggak bisa.


Dinda Delia


Penakut?


Gembul Alaspati


Enggak gitu, Din.


Dinda Delia


Kalau enggak takut, ya harus ikut. Kalau enggak ikut, jangan harap bisa berteman lagi sama gue.


Gembul Alaspati


Jangan gitu, Din.


Dinda Delia


Bye maximal.


"Udah pasti ikut itu mah," ucap Rafles sambil melahap sebuah tahu isi.


Hospital Guard.


Berdiri pada tahun 1902.


"Wah, tua banget!" ujar Rafles sambil mendekat ke arah Sadin.


Rumah sakit ini lebih sering digunakan sebagai tempat bersalin, namun tidak menutup kemungkinan bila banyak juga orang yang memiliki riwayat penyakit ganas dirawat di sini. Sampai akhirnya rumah sakit ini lah yang menjadi saksi bisu saat tubuh terbujur kaku dengan Isak tangis keluarga yang mengiringi.


"Jiwa hacker gue ke luar, nih. Mau gue cariin sisi gelap rumah sakit ini, enggak?" Tanya Rafles yang memang memiliki bakat menjadi hacker.


Sadin langsung menyerahkan laptopnya ke arah Rafles. Ternyata mencari data gelap itu mampu menghabiskan waktu sekitar lima belas menit.


Layar monitor laptop mulai menampilkan sebuah website rahasia milik rumah sakit. Hal yang pertama muncul di baris pertama adalah data tentang kecelakaan yang pernah terjadi di rumah sakit.


Daftar kecelakaan medis Hospital Guard.


12/04/1923. Salah memasukkan cairan suntikan ke dalam tubuh pasien yang mengakibatkan pasien kejang-kejang dan meninggal dunia.


28/02/1925. Seorang yang berjemur di taman rumah sakit pada pagi hari tewas tertabrak kereta.


03/08/1925. Niat awal ingin membersihkan bekas luka sayat pada pasien, namun cairan pembersihnya tertukar dengan obat luka bakar.


17/06/1927. Pasien yang tengah rehat di lantai ketiga tiba-tiba mengaku ingin dibunuh oleh salah seorang suster. Karena tidak kuat dengan teror tersebut, pasien tersebut memilih terjun dari lantai tiga dan meninggal di tempat.


19/01/1930. Saat hendak membersihkan seorang bayi yang baru lahir, seorang suster diajak bicara oleh seorang temannya. Karena terlalu asyik bicara, sang bayi tercelup ke dalam bak mandi dan akhirnya meninggal karena kehabisan napas.


14/04/1933. Seorang dokter salah mendiagnosa suatu penyakit hingga menyebabkan komplikasi.


31/12/1935. Seorang bayi yang sedang dirawat di rumah sakit tertelan mainan hingga meninggal dunia. Padahal sedang diawasi oleh seorang suster.


28/09/1940. Seorang balita meminum alkohol pembersih luka sebanyak satu botol penuh saat perawat rumah sakit sedang mengambil obat-obatan untuknya.


Dan masih banyak lagi.


"Gak kebayang," ujar Dinda sambil geleng-geleng kepala.


"Kalau kata uncle, banyak yang mati tidak wajar di sana. Ada yang tiba-tiba meninggal atau juga sering melamun. Pernah kesurupan massal juga, loh!" ungkap Hyu sambil memegang tangannya yang mulai merasakan rasa tidak enak.


"Gimana kejadiannya?" tanya Sadin.

__ADS_1


"Sadis. Demi Tuhan seperti psikopat," tutur Hyu.


"Terus?"


"Waktu itu, ada salah seorang pasien yang tengah melamun. Mungkin saja karena memikirkan nasib hidupnya yang sudah tidak akan lama lagi. Toh, namanya di rumah sakit pasti banyak penunggunya, 'kan? Waktu dia melamun itu, dia kerasukan setan. Orang itu mulai mengambil jas dokter dan pura-pura menjadi seorang dokter. Saat ada seorang pasien yang harus diambil tindakan, orang yang kerasukan itu langsung masuk ke dalam ruangan dan berpura-pura untuk memeriksa."


"Saat keluarganya disuruh untuk ke luar terlebih dahulu, orang tersebut langsung menancapkan pisau secara bertubi-tubi ke arah pasien. Pintu terkunci dan akhirnya tidak ada yang bisa menyelamatkan nyawa pasien yang tengah bersimbah darah itu. Setelah selesai mencabik, dia pun langsung menerjunkan dirinya ke arah bawah yang kebetulan pada saat itu tengah berada di lantai dua."


"Mati lah orang tersebut dalam keadaan dikendalikan setan atau bisa juga disebut roh jahat," terang Hyu.


"Bahaya banget," ucap Dinda sambil menyesap susu full cream kesukaannya.


Klontang..


"Mah? Gapapa?" tanya Dinda yang masih mengawasi Mamahnya dari kejauhan.


"Coba cek, Din!" suruh Sadin.


Dinda langsung berlari ke arah dapurnya.


"Ya Allah, Mamah!" pekik Dinda sambil berusaha mengangkat Mamahnya yang sudah terkapar di lantai.


"Mamah, bangun!" Seruan dari Dinda tak berhasil digubris oleh Mamahnya.


"Mamah lo pingsan, Din. Bawa ke kamar aja biar nanti gue hubungin Ibu gue," ucap Saben.


Semua lelaki yang ada di sana berusaha membantu untuk menggotong mamah Dinda untuk dibawa ke dalam kamar. Saben segera menelepon ibunya yang memang merupakan seorang dokter.


Tak lama sebuah motor matic datang dengan tergesa-gesa.


"Mana mamahnya Dinda?" tanya ibu Saben dengan panik.


"Di dalam, Tante," ucap Dinda sambil membuka pintu kamar dan membiarkan ibu Saben untuk memeriksa kondisi mamahnya.


"Mamahmu syok berat, Din. Beliau seperti kaget melihat sesuatu yang belum pernah ditemui sebelumnya," terang Ibu Saben setelah menjalani serangkaian pemeriksaan.


"Nanti saya berikan resep. InsyaaAllah sebentar lagi mamahmu bangun. Beruntunglah beliau tidak memiliki riwayat penyakit jantung," tuturnya lagi.


"Alhamdulillah." Ungkapan syukur berhasil dilantunkan oleh Dinda.


"Oh iya, Tante masih ada kerja lagi. Jadi, maaf ya kalau tidak bisa lama-lama," ujar ibu Saben sambil membereskan alat-alatnya.


"Pembayarannya, Tante? Mau aku kasih lewat Saben atau–"


"Enggak usah, Dinda. Kamu dan teman-teman Saben sudah Tante anggap seperti anak Tante sendiri. Jadi, kalian jangan sungkan-sungkan, yah," ucap ibu Saben sambil tersenyum dan menenteng tasnya.


"Alhamdulillah, kalau gitu. Tante hati-hati, ya," ujar Dinda sambil tersenyum.


"Iya, sayang. Saben dan semuanya, Tante balik, ya. Assalamu'alaikum," salam ibu Saben.


"Waalaikumussalam," jawan semuanya.


Ibu Saben pun langsung ke luar dari rumah Dinda.


"Uhuk.. uhuk..."


"Dinda, Mamahmu bangun," ucap Sadin sambil bersiap membantu mamah Dinda yang berniat untuk duduk.


"Mah, kalau enggak kuat, tidur aja dulu," ucap Dinda sambil membantu Mamahnya.


"Ta–tadi pas Mamah mau lanjut masak sayur, ada perempuan yang lagi bantu Mamah masak. Mamah pikir itu kamu. Terus dari arah ruang tamu itu masih ada suara kamu. Pas mamah hampiri, dia langsung senyum. Mamah kaget di sana. Ketika mamah balas senyumnya, tiba-tiba mukanya berubah jadi kebakar. Akhirnya kepala Mamah pusing dan tiba-tiba Mamah sudah di sini," jelas mamah Dinda sambil mengelus dadanya dan menampakkan muka yang masih syok.


"Sebelumnya enggak ada, 'kan, Mah?" tanya Dinda sambil memberikan air putih ke arah Mamahnya.


"Enggak."


"Wanitanya pakai baju kebaya hijau?" terka Rafles.


Mamah Dinda langsung mengangguk.


"Nah, kita diteror sama si hantu kebaya hijau," ujar Rafles sambil mengusap wajahnya.


"Mau dia apa, sih, sebenarnya?" tanya Saben dengan kesal.


"Mending kita tantang hantu itu. Kayaknya dia gak suka kalau kita ke Rumah Sakit Guard. Pasti dia jengkel!" ujar Rafles sambil tersenyum menyeringai.


"Kalau dia makin menjadi-jadi, bagaimana?" tanya Hyu dengan hati-hati.


"Gapapa, Hyu. Si hantu itu cuma bisa nakut-nakutin aja, kok. Dia enggak akan bisa mencelakai kita. Celaka itu takdir Tuhan," ucap Dinda sambil merangkul sahabatnya itu.


Hyu langsung tersenyum dan mulai menganggukkan kepalanya.


"Gue ngampus dulu, ya," pamit Sadin sambil mengambil tasnya yang sengaja dibawa dari rumah.


"Baru jam berapa? Sepuluh, 'kan? Gue nanti, sih jam dua belas. Hati-hati, Din," ujar Saben.

__ADS_1


"Yo, Assalamualaikum," salam Sadin sambil berjalan ke luar rumah Dinda.


__ADS_2