Jejak Sadin

Jejak Sadin
9. Sulit Untuk Melepaskan


__ADS_3

Drt.. drt...


Sadin yang tengah asik mengemas beberapa pakaiannya pun segera melirik ke arah handphonenya.


"Assalamu'alaikum," salamnya.


"Waalaikumussalam. Din, lo di mana, sih? Udah jam berapa, nih? Katanya janjian di rumah Gembul jam tujuh," maki Dinda dari seberang telepon.


"Mbaknya masih pagi sudah ngegas saja hehehe," kekeh Sadin sambil menutup tasnya dan segera menggendongnya.


"Sadin, gue serius!"


"Ini lagi otw."


"Otw bangun dari kasur maksud lo?!"


"Alhamdulillah kalau paham."


"Astaghfirullah, Sadin! Lo ngaret banget, sih!"


"Udah ada siapa aja di sana?"


"Udah lengkap kecuali lo!" teriak Dinda dengan sedikit kesal.


"Ya udah tunggu bentar lagi gue sampai."


"Lima belas menit enggak sampai, tinggal!


"Hm."


"Awas–"


Tut.. tut.. tut...


"Dinda cantik-cantik mulutnya rese," gumam Sadin sambil mematikan teleponnya.


Sadin segera menggotong tas besarnya menuju ke arah ruang makan. Di sana Embu telah mempersiapkan ayam gulai beserta telor kecap kesukaan Sadin.


"Wah, enak nih, Embu," ujar Sadin yang langsung bersiap untuk duduk di meja makan.


"Sengaja Embu buatku khusus untukmu," sahut Embu sambil mengecup kening Sadin dengan penuh kasih.


Sadin mengambil piringnya dan segera menuangkan nasi di atasnya.


"Din." Panggilan dari Embu berhasil membuat Sadin menoleh dan bingung.


Mata Embu terlihat berkaca-kaca, tetapi ia masih tetap tersenyum.


"Embu kenapa?" tanya Sadin yang langsung mendekat dan merangkul embunya.


Tiba-tiba Embu menangis sembari memeluk Sadin. Sami yang baru ke luar dari kamarnya pun melakukan hal yang sama kepada Sadin.


"Ada apa?" tanya Sadin dengan terheran-heran.


"Kakak jangan pergi, hiks." Sebuah air mata lolos begitu saja pada pipi Sami yang chubby.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Sadin sembari memeluk adiknya juga.


"Sami sayang Kakak!" pekik Sami sambil menangis sejadi-jadinya.


"Eh? Kakak juga sayang Sami, kok," ujar Sadin tanpa melepaskan pelukannya.


"Sami, pergilah makan di bale-bale. Embu ingin bicara dengan Kakakmu," perintah Embu sembari mengelus kepala Sami.


"Iya, Embu," sahut Sami sambil membawa sepiring nasi yang telah disiapkan oleh Embu di meja makan.


"Hati-hati nanti dipatok ayam, ya!" ujar Embu yang berusaha mengingatkan.


"Iya, Embu," sahut Sami.


"Embu sehat? Embu kenapa?" tanya Sadin yang kini menatap dalam mata coklat milik Embu.


"Alhamdulillah, Embu sehat. Embu semalam mimpi almarhum Abah," ungkap Embu.


Flashback on


"*Embu?"


"Abah? Kenapa Abah di sini?"


"Sadin mau kemana, Embu?"


"Sadin mau pergi cari uang, Bah. Untuk konten yusup."


"Yusup apa itu? Pekerjaan halal, kah? Kenapa tidak bekerja di perusahaan saja, Embu?"


"InsyaaAllah halal, Abah. Sadin masih kuliah, Abah. Belum Embu perbolehkan untuk bekerja."


"Syukurlah. Embu, untuk kali ini jangan biarkan Sadin pergi."


"Kenapa begitu, Bah?"


"Abah merasakan firasat yang tidak enak, Embu. Akan ada sesuatu yang terjadi padanya juga teman-temannya."


"Benarkah begitu?"


"Iya, Embu*."


Flashback off.


Tanpa Embu sadari, Sadin tengah tertawa kecil ketika dalam mimpi itu Abah kebingungan perkara 'konten yusup'.


"Setelah itu Embu terbangun. Embu takut omongan Abahmu itu jadi kenyataan, Din. Embu tidak mau kamu dan teman-temanmu kenapa-kenapa," cemas Embu sembari melihat ke arah lain.


Sadin mengarahkan wajah Embu ke arahnya agar bisa menatap manik-manik mata milik wanita surganya itu.


"Embu, mimpi itu bunga tidur. Tidak semua mimpi memiliki arti. Siapa tau itu bukan Abah? Bisa jadi itu setan, Embu. InsyaaAllah, Sadin akan berusaha untuk jaga diri Sadin," ujar Sadin sembari menggenggam erat kedua tangan embunya.

__ADS_1


"Embu takut, Din. Embu takut," lirih Embu yang seketika membuat Sadin tidak tega.


"Embu, ada Allah. Sadin berusaha untuk selalu dekat Allah. Embu enggak perlu khawatir. Semua yang Sadin jalani ini adalah takdir. Kalaupun ada apa-apa, itu semua sudah jalan yang telah Allah gariskan untuk Sadin. Sadin minta doa saja ke Embu untuk keselamatan Sadin dan kawan-kawan Sadin," harap Sadin sembari mengecup kening embunya.


"Embu jangan takut lagi, ya? Sadin janji akan sering-sering hubungi Embu kalau sinyalnya ada," ujar Sadin sembari menyodorkan kelingkingnya ke arah Embu.


Embu terlihat tersenyum kecil sembari menautkan kelingkingnya juga ke arah Sadin.


"Embu doakan yang terbaik untukmu. Semoga ini jalan yang terbaik, Din," ucap Embu sembari memeluk Sadin kembali.


"Baik-baik di sana ya," lanjut Embu sembari mengelus punggung belakang Sadin.


Drt.. drt...


Embu segera melepaskan pelukan dari Sadin.


"Assalamu–"


"LO DIMANA, SADIN?!" teriak Dinda yang seketika membuat Sadin dan juga Embu terkejut.


"Siapa?" bisik Embu pada Sadin.


"Dinda," sahut Sadin.


Tut.. tut.. tut...


"Kok dimatikan?" tanya Embu heran.


"Dinda kalau telepon berisik. Sadin mau makan dulu," ujar Sadin sembari men-silent ponselnya.


"Enggak baik seperti itu." Embu segera mengambil segelas teh hangat untuk Sadin.


"Enggak apa-apa, Embu. Sudah biasa," sahut Sadin sambil tersenyum.


Ia pun makan dengan khidmat. Dentingan sendok dan juga garpu menghiasi keheningan yang tercipta akibat percakapan tadi.


"Sadin berangkat, ya, Embu," pamit Sadin saat sarapannya telah beres.


"Hati-hati, ya, Din. Jangan lupa berdoa," nasihat Embu sambil tersenyum.


Sadin mengecup punggung tangan milik Embu.


"InsyaaAllah. Sudah, ya, assalamualaikum," salam Sadin sambil melambaikan tangannya dan segera pergi ke luar.


Sadin melirik ke arah bale-bale. Sami terlihat tengah makan sambil menatap makanan tersebut dengan kosong.


"Sami, Kakak berangkat dulu, ya," pamit Sadin sambil duduk di samping Sami.


Sami melirik ke arah Kakaknya. Tiba-tiba mukanya memerah dan menangis kembali. Mulutnya masih dipenuhi oleh makanan.


"Huwaaaa! Kakak jangan pergi hiks," pinta Sami sambil memeluk Kakaknya itu.


"Sami, Kakak pergi untuk cari uang. Kalau kakak enggak pergi, Sami dan Embu makannya bagaimana? Nanti Sami bayar sekolah pakai apa?" tanya Sadin sembari mengelus puncak kepala adiknya.


Tiba-tiba Tumi datang sambil membawakan boneka kucing yang digigitnya.


"Waktu itu Sami menemukan boneka ini di kamar Kakak. Sami ambil dan lupa izin ke Kakak. Maaf, ya," lirih Sami sambil mengelus kepala Tumi, si kucing peliharaannya.


"Terima kasih, Kak." Sami terlihat tersenyum manis.


"Jangan nangis lagi, ya. Doakan Kakak terus, oke?" Sami terlihat mengangguk-angguk dan tersenyum.


"Kakak pergi, ya. Assalamu'alaikum," pamit Sadin seraya memberikan hormat kepada Sami.


Sami terkekeh dan melakukan hal yang sama kepada Sadin.


"Waalaikumussalam, bos!"


Karena jarak rumah Gembul yang terlihat lumayan jauh, akhirnya Sadin memutuskan untuk naik ojek terlebih dahulu. Ia bergegas ke pertigaan jalan untuk mencari tukang ojek.


Srek.. srek...


Sadin menoleh ke arah belakang. Selain suara langkah kakinya, kini nampak dengan jelas terdengar suara kaki lain yang langkahannya seperti terseret. Bulu kuduknya tiba-tiba meremang.


"Pagi-pagi begini ada-ada saja yang iseng," gerutu Sadin sembari berjalan lebih cepat.


"Ojo lungooo..." Suara rintihan tersebut seketika membuat Sadin menghentikan langkahnya.


Ia menoleh lagi ke arah belakang, tetapi tetap saja ia tak menemukan apapun.


"Audzubillah himinassyaiton nirrajim..


Bismillahhirrahmannirrahim.


Alhamdulillahi rabbil 'alamin.


Arrahma nirrahim. Maliki yaumiddin.


Iyyaka na'kbudu waiyyaka nasta'in.


Ihdinassiratal mustaqim.


Siratal lazina an'amta'alaihim ghairil maghdubi 'alaihim waladdhalin."


"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum.


Laa ta'khudzuhuu sinatuw wa laa naum.


Lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardh.


Man dzal ladzii yasyfa'u 'indahuu illaa bi idznih.


Ya'lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum.


Wa laa yuhiithuuna bi syai-im min 'ilmihii illaa bi maa syaa-a.


Wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardha wa laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa Wahuwal 'aliyyul 'azhiim."

__ADS_1


Dengan mantap Sadin mulai melanjutkan jalannya.


"Bismillahirrahmanirrahim."


👀


"Assalamu'alaikum, sorry gue telat," salam Sadin sambil tersenyum.


"Pinter lo! Di telepon malah enggak diangkat!"


"Dinda! Lo tuh bawel banget! Gimana Sadin mau tertarik sama lo, coba?" Saben terlihat geleng-geleng kepala karena sedari tadi mendengar ocehan dari mulut Dinda.


"Siapa juga yang mau disukai sama Sadin," ketus Dinda sembari melengos.


"Udah, dong. Kalau berantem terus kapan jalannya?" ujar Sadin menengahi.


Gembul mengeluarkan mobil dari garasi rumahnya setelah dipanaskan. Para remaja itu segera masuk ke dalam mobil.


"Oh iya, Bro. Gue mau cerita dulu sedikit ke kalian. Ambu gue sebetulnya enggak setuju banget kalau gue pergi kayak gini. Mau denger rekamannya, enggak? Gue sengaja ngerekam, sih." Rafles segera mengencangkan speaker ponselnya.


"*Rafles! Ambu enggak setuju kamu pergi!"


"Rafles cari uang untuk bantu adik-adik sekolah, Ambu," ujar Rafles dengan suara yang lemah lembut.


"Ambu punya firasat tak baik, Nak! Ambu ingin kamu tetap di rumah. Biarlah teman-temanmu saja yang pergi. Abah masih bisa menafkahimu, Nak!"


"Enggak bisa seperti itu, Ambu. Satu pergi, semua harus pergi," ucap Rafles yang berusaha menerangkan setenang mungkin.


"Kalau Ambu tidak merestui, Tuhan tidak akan memberkatimu, Nak!"


"Ambu jangan bicara seperti itu. Doakan yang terbaik untuk Rafles. Kalau Ambu percaya pada Tuhan, pasti Tuhan jaga Rafles untuk Ambu."


"Ambu tidak sudi kamu pergi!"


"Ambu, cobalah untuk tidak egois terus. Semua yang Ambu minta selalu Rafles lakukan, kok."


"Terserah padamu, Nak! Semoga Tuhan selalu memberkatimu*!"


Rafles pun mematikan setelan rekaman suara tersebut.


"Habis itu Ambu masuk ke dalam rumah dan enggak mau membukakan pintu lagi. Gue berusaha bujuk beliau, tapi tetap saja Ambu enggak mau buka pintu. Kesannya malah mengusir," lirih Rafles sembari memijit pelipisnya.


"Kalau lo mau balik gapapa, kok." Sadin mengelus pundak sahabatnya itu.


Drt.. drt...


Dering ponsel Rafles terdengar sangat kencang.


"Dari Ambu," ujar Rafles sembari membuka pesannya.


Ambu


Kalau kamu mau pergi, tak apa, Nak. Jaga kesehatanmu, ya. Maafkan Ambu yang tadi sempat kasar padamu. Ambu hanya tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Ambu selalu mendoakanmu. Semoga Bapak memberkati.


"Syukurlah," ucap Rafles sambil tersenyum.


Teman-teman yang lainnya pun tersenyum.


Rafles Demian


Amin, Ambu. Ambu baik-baik di rumah, ya.


"Kalau begini kan sudah lega," ujar Hyu sembari tersenyum dan mengelus pundak pacarnya itu.


"Mau langsung jalan?" tawar Gembul yang sudah siap duduk pada kursi kemudinya.


"Ojo lungooo..."


Semua yang ada di mobil terdiam. Suasana menjadi tampak lebih panas. Sekelebat bayangan seperti nampak berseliweran di atas mobil.


Tin!


Suara klakson mobil tiba-tiba berbunyi sendiri.


"Rupanya dia mengikuti sampai ke sini," gerutu Sadin.


"Dia siapa?" tanya Saben dengan bingung.


"Audzubillah himinassyaiton nirrajim..


Bismillahhirrahmannirrahim.


Alhamdulillahi rabbil 'alamin.


Arrahma nirrahim. Maliki yaumiddin.


Iyyaka na'kbudu waiyyaka nasta'in.


Ihdinassiratal mustaqim.


Siratal lazina an'amta'alaihim ghairil maghdubi 'alaihim waladdhalin.


"Aamanar-rosuulu bimaaa unzila ilaihi mir robbihii wal mu'minuun, kullun aamana billaahi wa malaaa ikatihii wakutubihii wa rusulih, laa nufarriqu baina ahadim mir rusulih, wa qooluu sami'naa wa atho'naa ghufroonaka robbanaa wa ilaikal-mashiir."


"Laa yukallifullohu nafsan illaa wus'ahaa, lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat, robbanaa laa tu aakhiznalaaa in nasiinaaa au akhtho naa, robbanaawa laa tahmil 'alainaaa ishrong kamaa hamaltahuu 'alallaziina ming qoblinaa, robbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thooqota lanaa bih, wa'fu 'annaa, waghfir lanaa, war-hamnaa, anta maulaanaa fanshurnaa 'alal-qoumil-kaafiriin."


"InsyaaAllah sudah tidak ada gangguan," ujar Sadin dengan tenang.


"Tadi itu apa?" tanya Rafles dengan heran.


"Hantu kebaya hijau. Semalam aku diteror habis-habisan olehnya. Dia bicara padaku dengan bahasa Jawa. Aku tidak mengerti," terang Hyu sembari bergidik ngeri.


"Kenapa enggak nanya artinya sama Mamah lo?" tanya Saben sembari melahap snack kesukaannya.


"Yang dia bicarakan tidak bisa kuingat ataupun kuserap, Ben. Jadi, bagaimana aku menanyakan artinya pada Mamah?" Pernyataan Hyu barusan hanya dijawab anggukan kepala oleh Ben.


"Dia nyakitin kamu?" tanya Rafles yang mulai mengeluarkan aroma bucin.

__ADS_1


"Dah, lah, jalan aja! Daripada bucinnya semakin menjadi-jadi," ujar Dinda sembari menyumpal telinganya dengan earphone.


"Sialan kalian!" sahut Rafles sambil tertawa.


__ADS_2