
"Alhamdulillah, terima kasih banyak atas partisipasinya, Pak," ucap Sadin sambil berjabat tangan dengan kepala desa setempat.
"Sama-sama, Nak. Kenapa tidak bermalam di sini saja? Sudah jam delapan ini. Bisa-bisa kamu sampai rumah jam satu malam, loh!" ujar Pak Kades sambil berupaya menawarkan tempat singgahan.
"Tidak usah repot-repot, Pak. Besok kami harus mengejar matkul lagi. Baru habis itu bisa istirahat dan bersiap untuk melakukan penelusuran ke rumah sakit tersebut," ujar Sadin sambil tersenyum.
"Oalah, baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan. Jangan lupa berdoa," nasihat Pak Kades sambil membalas dengan senyuman juga
"Iya, Pak. Mari, Pak Kades, ibu-ibu, bapak-bapak," pamit Sadin mewakili kedua temannya.
Mereka segera masuk ke dalam mobil. Kini giliran Rafles yang membawa mobil. Jalanan malam ini terbilang masih terpantau ramai. Sawah-sawah masih terlihat begitu banyak. Tidak dipungkiri bila orang-orang desa suka sekali dengan keasrian desanya dan tak ingin sama sekali pergi ke kota.
Kali ini lagu yang disetel adalah lagu dangdut, agar suasana yang dirasakan tak terlalu tegang.
Drt... Drt...
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam. Sadin dan yang lainnya sudah sampai mana?" tanya Dinda dari seberang telepon.
"Baru banget balik. Ternyata lumayan ribet ngurusnya karena harus minta tanda tangan ke sana ke mari. Sampai sempat nunggu tokoh agama pulang dulu. Gila cape banget, deh, ini," keluh Sadin sambil memijat bahunya.
"Gembul bikin ulah, enggak?" tanya Dinda dengan suara yang jutek.
"Enggak, Din. Pacar lo baik-baik saja di sini."
"Dih, kalau gue ada di dekat lo, habis kepala lo kena jitak dari gue," hardik Dinda.
"Weh, santai! Gembul mau ngomong sesuatu sama Dinda?" tanya Sadin ke arah Gembul.
"Eh, apasih! Gua enggak mau!" ketus Dinda.
Ternyata yang ditanya sudah tertidur pulas.
"Oh, udah tidur, Din," ujar Sadin.
"Huft, untung saja."
Kretek... Kretek...
Sadin terdiam sebentar sembari menajamkan telinganya dengan kuat.
Kretek... Kretek...
"Din? Kok diam?"
"Diam, Dinda. Gue kayak dengar sesuatu. Sudah dulu, ya."
"Emangnya kenap–"
Tut... Tut... Tut...
"Lo denger, Din?" tanya Rafles sembari lebih cepat melajukan mobilnya.
"Denger," sahut Sadin.
"Gue kira cuma gue doang," ujar Rafles dengan tak acuh.
Kretek... Kretek...
"Bagian mobilnya ada yang patah kali," terka Sadin sembari mencari-cari asal suara.
"Suaranya itu kayak–"
"Ah, enggak mungkin. Mbul! Gembul! Bangun!" panggil Sadin ke arah Gembul yang nampak tertidur lelap.
"Ergh.. kenapa?" tanya Gembul yang belum bisa membuka mata.
"Bangun dulu!" perintah Sadin sambil mendorong-dorong tubuh Gembul.
Perlahan matanya mengerjap sebelum akhirnya terbuka sempurna.
"Mobil lo dibeli kapan?" tanya Sadin berbasa-basi terlebih dahulu pada Gembul.
"Baru setahun yang lalu. Kenapa, Din?" tanya Gembul, bingung.
"Mustahil kalau ada yang rusak, 'kan?" tanya Sadin yang berusaha untuk memastikan.
"Mobil ini baru Ayahku servis. Tiga hari yang lalu mungkin. Jadi, enggak mungkin ada kerusakan baik dari dalam maupun luar," terang Gembul.
"Memangnya kenapa–"
Kretek... Kretek...
Semua terdiam sembari memasang pendengarannya lebih detail.
Kretek... Kretek...
"Kok kayak suara tulang patah, ya?" tanya Gembul memastikan.
"Suth!" Secara bersamaan, Sadin dan Rafles menyuruh Gembul untuk diam.
Kretek... Kretek...
__ADS_1
"Cek bagasi, deh," saran Rafles yang berupaya untuk cepat-cepat sampai di jalan besar lagi.
Kebetulan mobil modern memang bisa dilihat langsung ke arah belakang bagasi dari dalam mobil. Tidak seperti mobil zaman dulu yang harus turun dan membuka bagasi belakang terlebih dahulu.
"Kamu aja, Din," pinta Gembul yang sudah terlihat ketakutan.
Sadin terlihat diam terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan.
Malam ini terasa sangat mencekam. Hawa dingin air conditioner terasa seperti dinginnya angin malam. Buku kuduk mereka sudah berdiri. Degup jantungnya sudah tak karuan karena rasa takut yang membuncah.
Kretek... Kretek...
Sadin mulai memberanikan diri untuk melongok ke arah bagasi belakang.
"Sh–sakith..."
"Huaaaa!"
Cit...
Teriakan Sadin berhasil membuat Rafles refleks ngerem mendadak. Sadin terlihat ketakutan sembari melafalkan beberapa ayat suci Al-Qur'an.
"Ada apa?" tanya Rafles yang dengan sergap pindah ke kursi belakang.
Rafles terlihat melongok ke arah bagasi.
"Enggak ada apa-apa, Din," ujar Rafles.
"Ta–tadi ada–"
"Suth.. lo ngantuk, Din. Istirahat saja atau enggak buka handphone cari kesibukan, ya," saran Rafles sembari pindah ke kursi depan lagi.
Rafles mengambil ponselnya sebelum jalan terlebih dahulu.
Rafles Demian
Gue tau apa yang lo liat.
Sadin mulai membuka notifikasi di ponselnya.
Ia terlihat melirik ke arah Rafles.
Sadin Anugerah
Kakek tua? Pegang tangannya sendiri terus dipatahin tulangnya satu-satu? Mukanya koreng semua? Badannya bau anyir, 'kan?
Rafles Demian
Sadin Anugerah
Iya, Rap.
"Kok enggak jalan? Kenapa?" tanya Gembul yang terlihat bingung ketika kedua temannya malah asik main handphone.
"Eh, sorry tadi bokap nanya kabar," ujar Rafles, bohong sembari menjalankan mobilnya lagi.
Kali ini Sadin berupaya melantunkan dzikirnya dengan perlahan. Gembul terlihat asik main handphone.
"Rap, itu ada bapak-bapak melambai ke arah kita!" teriak Sadin.
Rafles tak mengindahkan ucapan dari Sadin.
"Eh, lo gila, Rap? Itu bapak-bapak minta tolong masa lo tinggalin sih?" tanya Sadin dengan sedikit iba terhadap bapak-bapak tadi.
"Rap? Lo gila atau gimana, sih?" maki Sadin yang terlihat kesal.
Rafles hanya bisa mendiami Sadin yang tak henti-hentinya bicara. Gembul hanya bisa diam sembari meneliti apa yang sebenarnya terjadi.
Ketika sampai di sebuah jalan besar, Rafles mulai menepikan mobilnya di sebuah tempat makan. Saat Rafles turun, Sadin hendak memberikan pelajaran atas apa yang dilakukan Rafles terhadap Bapak tua itu.
"Di mana tata krama lo sebagai yang lebih muda, hah?" tanya Sadin dengan penuh emosi.
"Din, tahan dulu!" harap Gembul sembari memisahkan kedua temannya.
"Apanya yang harus sabar, sih? Anak ini benar-benar keterlaluan–"
"Lebih baik kita bicarakan di dalam, Din. Kalian lapar, 'kan?" tanya Rafles.
Sadin hanya diam sembari mengikuti Rafles yang sudah masuk ke dalam rumah makan terlebih dahulu. Emosinya masih meletup-letup.
"Lo Rafles bukan, sih?" tanya Sadin pada Rafles yang hanya diam saja.
Rafles memesan makanan dan menyuruh kedua teman lainnya untuk memesan juga. Setelah pramusaji hilang dari pandangan, barulah Rafles berani buka mulut.
"Tadi itu bukan manusia, Din." Ucapan Rafles membuat Sadin tercenung.
Gembul langsung mepet ke arah Sadin, menandakan dirinya mulai ketakutan.
"Maksud lo tadi itu, dedemit?" terka Sadin yang terlihat terkejut.
"Iya. Coba lu bayangin, mana ada bapak-bapak di pinggir sawah melambai-lambai tanpa kaki? Tatapan kosong ke depan. Kalau tadi kita turun, bisa-bisa dia minta ikut sampai rumah. Mau?" Tawaran mematikan dari Rafles itu dijawab gelengan kepala oleh kedua temannya.
"Maafin gue, Rap," ujar Sadin yang terlihat merasa bersalah.
__ADS_1
"Santai, Bro! Gue ngerti, kok," sahut Rafles sambil tersenyum dan melakukan Hi-five dengan kedua temannya.
"Permisi," sapaan dari pramusaji berhasil membuat perut yang sedari tadi siang kosong mulai bergejolak.
Mereka menyantap makanan tersebut dengan lumayan cepat. Beruntunglah tadi mereka memesan makanan yang lumayan banyak.
"Setelah ini ada jalan seperti tadi lagi?" tanya Sadin di sela-sela kegiatan makannya.
"Enggak. Masuk ke arah sini sudah jalanan besar. Sekitar dua jam lagi mungkin kita sampai," terang Rafles sembari meminum teh hangat.
"Syukurlah," ucap Sadin sembari meminum es teh manis setelah selesai makan.
"Jurig! Jurig eta jurig!"
"Astaghfirullahal'adzim ada setan!"
"Tah, kok bisa keliatan?"
"Ada apaan?" tanya Gembul sembari melongok ke arah jendela.
"Ada jurig katanya. Jurig apa?" tanya Rafles heran.
"Jurig itu setan," sahut Sadin.
"Setan?" tanya Rafles memastikan.
"Eh, mobil kita! Mobil kita yang dibilang ada setannya!" pekik Rafles sambil berlari ke arah luar disusul oleh kedua temannya yang sudah panik.
Kini mobilnya tengah dikerubungi oleh banyak orang yang sepertinya pengendara lain yang sedang menepi juga.
"Ini mobilnya, Nak?" tanya seorang ibu-ibu.
"Eh, iya, Bu," sahut Sadin sambil berusaha ramah.
"Kok bisa ada setannya gitu? Kalian habis ngapain?" tanya Ibu itu dengan berbagai rentetan pertanyaan lainnya.
Sadin terlihat kalut dan bingung harus menjawab apa.
"Misi," ujar seseorang dengan peci di kepalanya dan sorban di pundaknya.
"Mobil ini punya siapa?" tanya orang tersebut yang ternyata adalah ustadz.
"Kami pak," sahut Gembul yang bersembunyi di balik badan Rafles.
"Audzubillahiminassyaitonirrajim.
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin.
Arrahma nirrahim. Maliki yaumiddin.
Iyyaka na'kbudu waiyyaka nasta'in.
Ihdinassiratal mustaqim.
Siratal lazina an'amta'alaihim ghairil maghdubi 'alaihim waladdhalin."
"Alhamdulillahi ‘ala kulli halin."
"Aamanar-rosuulu bimaaa unzila ilaihi mir robbihii wal mu'minuun, kullun aamana billaahi wa malaaa ikatihii wa kutubihii wa rusulih, laa nufarriqu baina ahadim mir rusulih, wa qooluu sami'naa wa atho'naa ghufroonaka robbanaa wa ilaikal-mashiir."
Setan tersebut terlihat mengerang kesakitan.
"Laa yukallifullohu nafsan illaa wus'ahaa, lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat, robbanaa laa tu aakhiznaaa in nasiinaaa au akhtho naa, robbanaa wa laa tahmil 'alainaaa ishrong kamaa hamaltahuu 'alallaziina ming qoblinaa, robbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thooqota lanaa bih, wa'fu 'annaa, waghfir lanaa, war-hamnaa, anta maulaanaa fanshurnaa 'alal-qoumil-kaafiriin."
Badannya bergelinjang karena kepanasan. Bentuk tubuhnya hampir menyerupai genderuwo. Yang diherankan adalah mengapa si setan tersebut bisa dilihat banyak orang?
"Bismillahirrahmanirrahim. A’udzu bi kalimatillahit tammat allati la yujawizuhunna barrun wa la fajirun min syarri ma khalaqa wa dzara’a wa bara’a wa min syarri ma yanzilu minas sama’, wa min syarri ma ya’ruju fiha, wa min syarri ma dzara’a fil ardhi wa min syarri ma yakhruju minha, wa min syarri fitanil laili wan nahar, wa min syarri kulli thariqin illa thariqan yathruqu bi khairin ya rahman."
"Bismillahirrahmanirrahim, Allahu Akbar."
Blush..
Setan tersebut seketika lenyap dari penglihatan. Semua yang melihat langsung mengucapkan syukur dengan hati yang masih deg-degan.
"Te–terima kasih, pak Ustadz. Tanpa bapak, mungkin makhluk tadi akan ikut kami sampai ke rumah," ucap Sadin sambil bersalaman dengan ustadz tersebut.
"Alhamdulillah, itu semua atas seizin Allah. Ibu dan bapak silahkan dilanjutkan kegiatannya," ucap ustadz yang langsung membuat keramaian seketika bubar.
"Dari mana malam-malam begini?" tanya ustadz tersebut sambil memegang pundak Sadin.
"Dari rumah kepala desa dekat Hospital Guard, Pak. Minta surat izin," terang Sadin.
"Lain kali hati-hati, ya. Banyak sekali yang ingin ikut denganmu tadi. Beruntunglah hanya satu yang ikut. Kalau semuanya, bagaimana?" Pertanyaan retoris dari pak Ustadz membuat bulu kuduk dari ketiga lelaki itu merinding.
"Naudzubillahimindzalik, Pak," sahut Sadin sambil terkekeh.
"Kalian mau langsung lanjut perjalanan atau bagaimana?" tanya pak Ustadz.
"Sepertinya lanjut, Pak. Kalau begitu, kami pamit untuk siap-siap, ya. Assalamu'alaikum," salam Sadin disusul senyum dari kedua temannya ke arah pak Ustadz.
"Waalaikumussalam."
__ADS_1