
Seminggu sudah berlalu dengan begitu cepat. Beruntunglah ambu Rafles telah mampu memaafkan kesalahan dari Tim Jejak Sadin. Seminggu ini juga Sadin lalui dengan penuh suka duka. Kenangan Rafles masih melekat kuat di benaknya. Jujur saja, ia merindukan salah satu sahabatnya itu. Rasanya seperti ada yang kurang.
Bug ....
"Auh." Sadin mengeluh sakit karena badannya dilemparkan oleh bola basket.
"Din, jangan melamun terus. Katanya mau ikut turnamen. Gimana, sih?" Teguran dari sang pelatih mampu membuat Sadin mengerjapkan matanya.
"Ma–maaf, Kak," lirih Sadin.
"Kamu masih kepikiran Rafles, ya?" Pertanyaan to the point itu langsung dibalas anggukan oleh Sadin.
"Din, merasa kehilangan sahabat itu boleh, tapi jangan berlebihan. Nanti Allah marah karena kasih sayangmu terlalu berlebihan ke manusia, loh. Sudah jangan sedih lagi. InsyaaAllah, nanti kamu akan dapatkan sahabat yang lebih baik lagi," nasihat sang pelatih itu langsung dibalas senyum oleh Sadin.
"Terima kasih pencerahannya, Kak," ujar Sadin sembari mengambil bola dan berniat untuk memasukkannya ke dalam ring basket.
"E–eh, mau ngapain kamu?" Pertanyaan dari sang pelatih langsung membuat Sadin bingung dan melongo di tempatnya.
"Latihan, Kak."
"Hey, ngawur! Sudah jam lima sore. Lagi pula sebentar lagi mendung, Din. Tolong taruh bola di gudang, ya. Habis itu kamu boleh pulang," ujarnya sembari menepuk pundak Sadin.
Sadin mengembuskan nafas untuk membantu dirinya lebih konsentrasi lagi. Ia segera mengiakan suruhan dari sang pelatih. Langkahnya mulai dipercepat menuju gudang. Sore ini, kampus masih terasa ramai bagi peminat di bidang olahraga.
Ia mulai masuk ke gudang yang terletak di lantai tiga. Badannya sudah terasa remuk dan ingin segera melakukan ritual rebahan di kasur.
"Nih, pasti Embu marah kalau gue tidur maghrib," gumamnya sembari membuka pintu gudang yang belum terkunci.
Ia meluncurkan beberapa bola ke dalam gudang tersebut dengan lihai.
"Beres!"
Ia mulai menutup pintu gudang kembali.
"Aaaaa!" Ia berteriak ketakutan saat melihat hantu kebaya hijau itu kini tengah berada di samping pintu gudang.
"Lo ngapain?" tanya Sadin dengan jantung yang masih berdetak dengan cepat.
Ia membuang wajahnya agar tak melihat wujud asli dari hantu kebaya hijau itu lagi.
"Aku mau kasih tau ke kamu." Hantu itu menoleh ke arah sebuah lelaki di dekat tembok pinggiran koridor.
"Dia ada niatan bunuh diri," ungkap hantu itu yang langsung membuat Sadin mengerutkan keningnya.
"Hei, jangan main-main!" Sadin menatap sinis ke arah hantu kebaya hijau itu.
"Main-main? Kamu meragukan kemampuanku?" Hantu itu berdecak sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Kamu tidak percaya? Baiklah, mari kita saksikan tontonan gratis hari ini. Lihat saja." Ucapan dari hantu kebaya hijau itu membuat Sadin langsung memperhatikan gerak-gerik lelaki yang ditunjuk oleh hantu itu.
Lelaki itu mulai mengangkat kakinya untuk memanjat tembok. Sadin mulai melotot dan berniat untuk menghampiri orang tersebut.
"E–eh, lo gila, ya? Lo mau bunuh diri? Kenapa? Hey, sadar! Dosa!" cerocos Sadin sembari menarik orang tersebut dengan cukup kencang
"Gue enggak kuat. Di dunia ini gue hidup sendiri. Enggak ada yang peduli dengan semua nasib gue. Lepasin gue!" Kini lantai tiga sudah menjadi bahan tontonan dari anak-anak kampus yang tengah lewat.
"Eh, bantuin, dong! Ini temannya mau bunuh diri, masa cuma dilihat saja?!" teriak Sadin yang langsung membuat semua orang ikut panik dan membantu lelaki tadi untuk turun.
Akhirnya lelaki itu mulai meluluh dan turun dengan perlahan. Ia mulai menangis.
"Bro, gue kasih tau sama lo, ya. Kita ini hidup cuma numpang. Ya, numpang sama Allah. Kita cuma disuruh jalani apa yang ada aja, kok. Yang penting itu bersyukur. Jadi, kalau lo lari dari masalah dengan cara begini, dosa, Bro! Allah akan marah besar."
"Allah SWT berfirman dalam qur'an surah An-Nisa ayat 29 yang artinya :
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu."."
"Tuh, Bro! Allah sayang banget sama lo. Minta ampunan sama Allah. Jangan buat diri lo mudah digoda setan untuk melakukan hal-hal yang seperti ini. Jangan berpikir seperti ini lagi." Sadin mengelus pundak lelaki itu sembari menyodorkan sebuah botol mineral.
Lelaki itu mulai menghapus air matanya.
"Terima kasih. Karena lo, gue sadar kalau apa yang akan gue lakukan tadi itu dosa. Terima kasih sudah berikan pencerahan," ujar lelaki itu sembari memeluk Sadin.
"Eh, Broni, kamu mau bunuh diri? Kenapa?" Saat dosen yang belum pulang dari kampus itu mulai berdatangan, Sadin langsung pamit undur diri agar pulangnya tidak terlalu kemalaman.
"Benar kataku, Bukan?"
"Lo bisa diam, enggak? Gue bisa disangka orang gila kalau bicara sendiri!" maki Sadin sembari mempercepat jalannya.
"Hahahaha, setidaknya aku sudah membantumu untuk menghalau orang bunuh diri, bukan?" Ucapan dari si hantu kebaya hijau itu tak digubris sedikit pun oleh Sadin.
Lelaki itu lebih memilih berjalan dengan cepat karena waktu maghrib akan segera tiba. Bisa-bisa ia diteror habis-habisan oleh beberapa makhluk halus di waktu jalan pulang.
Ia melewati sebuah rumah yang kosong akibat suatu kebakaran. Hawanya panas dan terasa cukup seram. Ia menghalau rasa takutnya dengan menumbuhkan keberanian dan terus mengingat Allah.
Aneh tapi nyata, tiba-tiba saja kakinya tersandung. Ia terjatuh dan mulai bangkit berdiri lagi. Saat diperhatikan, ternyata tak ada sedikit pun benda yang menghalanginya.
"Jatuh?" Pertanyaan bersuarakan anak kecil berhasil membuat Sadin menoleh.
Sebuah penampakan tuyul dan teman-temannya itu langsung membuat Sadin terkejut dan lari sekencang-kencangnya. Ia merasa geli dan merinding karena melihat sekitar sepuluh tuyul di belakangnya tadi. Wajahnya sangat tua, badannya berwarna putih kebiruan, dan juga celana yang dipakainya kotor juga berbau busuk.
"Allahu Akbar ... Ya Allah, Sadin enggak kuat lihatnya!" teriaknya yang terus berusaha lari kencang.
"Din, Din? Lo kenapa lari kayak orang kesetanan?" Pertanyaan barusan tak dihiraukan oleh Sadin. Ia berusaha untuk terus lari agar tak diikuti lagi.
"Sadin, Woy!" Suara yang terasa tak asing di telinganya itu langsung membuat ia menoleh perlahan.
__ADS_1
"Ben?"
"Lo kenapa?" Pertanyaan Saben itu langsung mendapat hembusan napas lega dari Sadin.
"Alhamdulillah, lo ada di sini."
"Kenapa, sih?"
"Ke masjid aja, yuk! Biar gue ceritain nanti di sana. Gue sekalian mau sholat."
"Tapi lo lagi keringatan, 'kan? Emang enggak malu ketemu Tuhan disaat badan lo bau begitu?"
"Gue bawa baju ganti, kok. Udah, yuk!" Sadin langsung naik ke atas motor Saben.
Lelaki itu mulai melajukan motornya menuju masjid terdekat.
👀
"Oh, jadi lo yang tahan Broni untuk tidak bunuh diri? Wih, mantep! Gue salut, Din! Tapi emang bener kalau si hantu kebaya hijau itu yang kasih tau tentang Broni yang mau bunuh diri?" Saben nampak merebahkan badannya setelah sholat telah selesai. Kini mereka tengah berada di teras masjid untuk sekadar bercerita terlebih dahulu.
"Bener, lah! Gila, sih. Kalau gini terus, gue harus cepet-cepet rukiah. Gue rasa, nih, ya, kayaknya gue ditempeli makhluk jin. Orang yang bisa melihat hantu, rata-rata seperti itu, Ben. Apalagi tadi gue liat tuyul banyak banget kayak semut lagi berkerubung. Astaghfirullah," ujar Sadin sembari membuka ponselnya.
"Kalau rukiah di pakde gue, gimana? Sekalian konsultasi dulu. Daripada nanti lo kenapa-kenapa kalau asal rukiah di tempat orang. Ya, 'kan?" Tawaran dari Saben itu langsung membuat Sadin tersenyum.
"Boleh, tuh, Ben! Besok lo harus antar gue, ya! Ada jadwal kuliah enggak buat besok?" Saben menepuk pundak Sadin dengan cukup keras.
"Ya Ampun, masalah schedule mah gampang! Anda sedang berhadapan pada pakar ahlinya, nih!" ujar Saben sambil tertawa terbahak-bahak.
"Yeuh! Pakar ahli untuk bolos."
"That's right, shodiqi!"
"Masya Allah, shodiqi. Panggilan yang mulia sekali," ucap Sadin sembari tersenyum.
"Din, mulai sekarang bantu gue untuk jadi yang lebih baik lagi, ya. Bantu gue untuk jadi shodiqi (teman) yang bisa jalan berdampingan sama lo menuju surga nanti." Ucapan dari Saben itu langsung dibalas tatapan haru oleh Sadin.
"Ben, gua salut sama lo! Kita sama-sama hijrah ke arah yang lebih baik lagi, ya. Semoga Allah mengaruniai ridhonya untuk persahabatan kita ini. Gue yakin, kok, Rafles pasti tersenyum juga di sana," ujar Sadin sembari memeluk sahabatnya itu.
"Pulang aja, yuk, Din. Kayaknya bokap dan nyokap udah nyariin, nih." Saben menggendong tasnya ke pundak.
"Gue tetap boleh nebeng, 'kan, shodiqi?" Senyum Saben mengembang ketika melihat Sadin yang nampak mengujinya ini.
"Ya elah, dari orok juga gue udah kenal lo, Din. Naik aja!"
Sadin tersenyum dan segera naik ke atas motor Saben.
"Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad) maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."
__ADS_1
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 69)