
Gembul langsung melajukan mobilnya lebih cepat lagi dan berharap tak ada apapun yang bisa menghalanginya.
"Alhamdulillah," ucap Dinda sembari menangis dan memeluk Hyu.
"Waktu sudah mau Maghrib, tetapi mengapa kita masih berada di sekitar hutan terus?" tanya Hyu sembari melepaskan pelukannya pada Dinda.
Gembul mulai tersadar dan segera mengambil jalan lain.
"Seingatku waktu tadi di perjalanan, lewat sini, tapi kenapa jadi muter-muter, ya?" tanya Gembul yang mulai menyusuri jalanan kembali.
Lampu remang-remang dari rumah penduduk yang saling berjarak pun memenuhi indera penglihatan mereka. Langit sudah benar-benar gelap. Tak ada adzan yang berkumandang.
"Bagaimana kalau kita menginap di salah satu rumah warga saja?" usul Sadin sembari membersihkan pakaiannya yang nampak kotor.
"Apa enggak merepotkan? Lalu kuliah kita?" tanya Saben yang sudah terlihat sangat suntuk.
"Kita cari yang tidak merasa direpotkan saja. Kalau kita nekad malam ini pulang, pasti akan semakin menjadi-jadi terornya. Yang muslim belum sholat. Takutnya benteng kita runtuh." Sadin berupaya menjelaskan kecemasannya itu.
"Benar juga kata Sadin, Ben. Gue enggak mau pulang bawa semua kesialan ini. Gara-gara lo!" Makian dari Dinda langsung mendapatkan cubitan pedas dari Hyu.
"Auh, apa sih? Udah jelas, kok, kalau semua ini karena dia. Coba aja kalau dia enggak macam-macam, paling gangguannya hanya sedikit," ketus Dinda sembari memalingkan wajahnya ke arah ponsel yang sedari tadi berdering di sakunya.
"Halo, Mah?" Senyuman Dinda langsung muncul seketika saat mamahnya menghubunginya.
Beruntunglah di sini ada sinyal. Walaupun masih agak lumayan ngadet.
"Assalamu'alaikum, cantik."
"Waalaikumussalam, Mah. Mamah apa kabar? Maaf Dinda belum bisa kasih kabar dari tadi pagi. Ini baru ada sinyal saat Mamah telepon."
"Alhamdulillah, baik, sayang. Kamu dan teman-temanmu bagaimana?"
"Alhamdulillah, baik juga, Mah."
"Syukurlah kalau begitu. Kontennya sudah beres?"
"Hancur, Mah. Dinda malah diteror habis-habisan sama penunggunya. Nanti kalau Dinda sudah sampai, Dinda ceritakan, ya, Mah. Mamah sehat-sehat di sana."
"Iya, sayang. Kamu kapan sampai di sini?"
"Kemungkinan besok baru jalan pulang, Mah. Sementara ini mau cari tempat untuk membersihkan badan dan sholat. Enggak mau bawa perkara, deh, kalau langsung pulang."
"Ya sudah, hati-hati."
"Iya, Mah."
"Kalau begitu, sudah dulu. Mamah harus urus Adek dan Papah mu. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam."
"Duh, Hyu jadi ingin telepon Papah dan Mamah juga. Kak Julian apa kabar, ya?" Hyu terlihat cemberut ketika mengingat lagi ponsel mahalnya yang sudah hancur lebur akibat ulah makhluk kurang ajar tadi.
"Pakai handphoneku saja, Hyu." Gembul terlihat menyodorkan ponselnya, tetapi masih fokus menyetir.
"Hyu tidak hafal nomornya, Mbul," sahut Hyu sembari cemberut dan mengetuk-ngetuk dagunya.
"Pakai ponsel gue aja. Gue ada nomor kedua orang tua lo," saran Rafles sembari berusaha tersenyum.
"Minta nomornya saja," sahut Hyu dengan tak acuh.
Rafles hanya tersenyum getir sembari menyerahkan ponselnya.
Hyu mengetikkan beberapa angka di ponsel milik Gembul.
"Mah?"
"Eh, Hyu? Kamu pakai nomor siapa? Kamu apa kabar?"
"Maaf, Mah. Handphone Hyu pecah. Jadi, ini pinjam dari teman.
"Ya Ampun, tapi kamu enggak apa-apa, 'kan?"
__ADS_1
"Baik, kok, Mah."
"Bagus kalau begitu. Pulang kapan?"
"Doakan saja, Mah. Aku ingin mencari tempat menginap dulu. Mungkin besok sudah bisa pulang."
"Oh, oke. Hati-hati, sayang."
"Iya, Mah." Hyu menyerahkan ponsel Gembul yang telah selesai dipakai.
"Terima kasih, Mbul," ujar Hyu sembari tersenyum.
"Sama-sama," jawab Hyu tanpa menoleh ke arah Hyu karena fokus menyetirnya.
Gembul mulai memberhentikan mobilnya di dekat sebuah rumah yang penerangannya cukup memadai. Rumah yang beratapkan daun Rumbia itu terlihat besar, tetapi tidak terlalu enak untuk dipandang lantaran sudah hampir reot.
"Yakin mau di sini? Apa enggak merepotkan pemiliknya?" tanya Dinda yang nampak melihat-lihat ke sekeliling jalanan yang sangat gelap.
"Enggak ada jalan lain. Selebihnya hanya gubuk kecil. Enggak muat untuk kita numpang menginap," sahut Gembul sembari turun dari mobil.
Sadin berjalan lebih dulu dan mulutnya mulai komat-kamit untuk berdoa.
"Bismillahirrahmanirrahim."
Tok ... tok ... tok ....
"Assalamu'alaikum," salam Sadin sembari melihat-lihat ke arah jendela yang terbuat dari plastik.
Tok ... tok ... tok ....
"Permisi."
"Kulo nuwun."
(Minta izin/ permisi)
"Permios."
(Permisi)
Kriet ....
"Eh, Bapa, aya saha ieu?" Ibu itu langsung masuk lagi ke dalam untuk memanggil suaminya.
(Eh, Bapak, ada siapa itu?)
"Saha teh, Bu? Eh, Aa jeung Eneng ieu teh saha? Aya naon ka dieu? Hayu atuh, masuk!" ajak Bapak itu dengan ramah dan membukakan pintunya dengan susah payah karena telah keroak.
(siapa, Bu? Eh, Aa [sebutan untuk laki-laki] dan Teteh [sebutan untuk perempuan] ini siapa? Ada apa ke sini? Ayo, masuk!)
"Hatur nuhun, Bu, Pak. Sebelumnya, maaf bila kedatangan kami ke sini mengganggu."
"Teu nanaon. Hayu asup!"
Tim Jejak Sadin mulai masuk ke dalam rumah gubuk tersebut. Lampu tampak terang benderang menghiasi suasana gubuk tua yang entah sudah berdiri selama beberapa tahun yang lalu.
"Jadi, kedatangan kami ke sini untuk izin menginap bila Bapak dan Ibu berkenan. Hari sudah menjelang malam. Kami belum sembahyang dan bersih-bersih," ucap Sadin yang menjadi pembuka perbincangan di ruang tamu yang serba minimalis ini.
"Memang Aa dan Teteh ieu ti mana hoyong ka mana?" tanya Bapak itu sembari membuka jendela agar udara dari luar bisa masuk ke dalam.
(Memang Aa dan Teteh ini dari mana mau ke mana?)
"Saya dari Hospital Guard, Pak."
"Na–naon? Hospital Guard? Eh, ngapain kalian teh ka sana? Bahaya eta. Babaturan teh masih keneh lengkeup?" Raut wajah Bapak itu berubah menjadi sangat khawatir.
(A–apa? Hospital Guard? Eh, ngapain kalian ke sana? Bahaya itu. Teman-teman kalian masih lengkap?)
"Alhamdulillah, selamat, Pak. Kenapa Bapak sampai seperti itu?" tanya Saben yang mulai ikut hanyut dalam perbincangan.
"Aduh, sebelumna urang tepangeun heula. Nami Bapak teh Hantar. Ini namina saha wae?"
__ADS_1
(Aduh, sebelumnya kita perkenalan dulu. Nama Bapak Hantar. Ini namanya siapa saja?)
"Abdi Sadin, Pak. Eta Dinda, Hyu–"
"Hiu?" Bapak Hantar mulai bingung dengan sebutan nama itu.
"Hyu, Pak. Agak digas kalau panggil namanya. Kalau enggak digas, nanti yang datang malah ikan hiu," canda Gembul sembari terkekeh.
"Ealah ... kitu, nyak? Lamun ieu?" Bapak Hantar nampak menunjuk ke arah Rafles.
(Ealah ... gitu, ya? Kalau ini?)
"Itu Rafles, yang ini gembul, dan yang ini Saben," terang Sadin.
"Masya Allah, geulis Jeung kasep pisan, euy," ujar Bapak Hantar sembari tertawa ramah.
"Ah, si Bapak bisa saja."
"Kalian teh aya perlu naon ka sana?" Bapak Hantar langsung menyambut hangat istrinya yang membawakan sebuah teko dan juga beberapa buah gelas.
"Hanya melakukan penelusuran saja, Pak."
"Senekad eta? Lain waktos ulah atuh, nyak. Bahaya pisan. Di sana teh pernah Aya kasus pembunuhan oge. Ih, bahaya pokona mah," terang Bapak Hantar sembari bergidik ngeri.
"Hayu atuh diminum kasep, geulis, maap ieu teh ala kadarna," ucap Bapak Hantar sembari tersenyum.
"Enggak apa-apa, Pak. Ini saja sudah Alhamdulillah," sahut Gembul sembari tersenyum ramah.
"Nu gadisna masuk wae atuh ganti baju, sholat, jeung langsung reureuh ka kamar. Kasian atuh. Pasti cape, 'teu?" Ibu Hantar nampak menyambutnya dengan baik dan mulai mengajak mereka menuju ke kamar.
(Yang gadisnya masuk saja ganti baju, sholat, dan langsung istirahat ke kamar. Kasian. Pasti cape, 'kan?)
"Terima kasih, Bu," sahut Dinda dan Hyu bersamaan.
"Kalian teh oge hoyong istirahat atau lanjut guneman sareng bapa?" Pertanyaan Bapak Hantar langsung dijawab oleh uapan yang ke luar dari mulut Gembul.
(Kalian juga mau istirahat atau lanjut berbicara bersama bapak?)
"Eh, maaf, Pak. Saya kelepasan," ujar Gembul yang merasa tidak enak.
"Teu nanaon , Kang. Tidur wae. Kamarna ada di sabelah kenca, tapi maklum lamun leutik. Bapa mah wungkul jalma pas-pasan. Geus bisa dahar teh, Alhamdulillah pisan," sahut Bapak Hantar sembari tersenyum hangat.
(Tidak apa-apa, kang. Tidur saja. Kamarnya ada di sebelah kiri, tapi maklum kalau kecil. Bapak hanya orang pas-pasan. Sudah bisa makan, Alhamdulillah sekali.)
"Gapapa, Pak. Kami juga sama. Maaf kalau kedatangan kami merepotkan," sahut Saben.
"Ah, heunteu atuh. InsyaaAllah kalian ka sini mawa rezeki jeung pangesto ti Gusti Allah. Bapak teh ngadel kalau budak sarerea teh jalma anu baik," ujar Bapak Hantar sembari menyesap teh hangat yang berada di depannya.
(Ah, tidak. InsyaaAllah kalian ke sini membawa rezeki dan berkah dari Gusti Allah. Bapak percaya kalau anak semua budak yang baik.)
"Aamiin."
"Hayu atuh mangga istirahat!"
"Baik, Pak. Permisi."
Para lelaki itu mulai meninggalkan Bapak Hantar untuk segera ke kamar. Kamarnya tak terlalu kecil dengan ranjang minimalis yang terbuat dari bambu. Hanya ada sebuah foto berdua antar Ibu dan Bapak tadi.
"Gue enggak mau tidur di bawah!" ujar Rafles yang langsung merebahkan dirinya di atas ranjang.
"Lo enggak boleh egois, Rap!" bentak Saben yang mulai terpancing emosi.
"Suka-suka gue, dong!"
"Biar gue aja yang tidur di bawah." Sadin lebih memilih untuk mengalah dan menyingkirkan barang-barangnya ke bawah.
"Aku ikut kamu, deh, Din. Aku juga di bawah saja," ucap Gembul yang terlihat sangat antusias.
"Eh, enggak apa-apa?" tanya Saben yang merasa tidak enak.
"Enggak apa-apa."
__ADS_1
"Gantian, deh, siapa yang mau ke kamar mandi dulu. Kayaknya itu dua ciwi-ciwi udah selesai." Sadin terlihat mengambil pakaian yang akan dipakainya.
"Gue duluan, deh. Sekalian mau sholat."