Jejak Sadin

Jejak Sadin
17. Pengakuan Saben


__ADS_3

"Saben."


"Saben lo di mana?"


"Saben kamu di mana?" Panggilan demi panggilan dilontarkan oleh teman-temannya.


Mereka sudah berputar-putar mengelilingi rumah sakit selama lima belas menit, namun tak bisa menemukan baik Sadin maupun Rafles.


"Saben."


"Rafles."


Gembul tiba-tiba terdiam seketika. Semua yang ada di sana langsung menghampiri Saben.


"Sakit." Rintihan kecil nan menyakitkan itu menyadarkan semua orang bahwa ada sesosok makhluk yang masuk ke dalam tubuh Gembul.


"Ini siapa? Bagian mana yang sakit?" tanya Hyu yang ternyata paham bila yang masuk ke dalam tubuh Gembul adalah perempuan.


"Di sini," rintih Gembul sembari menunjuk bagian paha.


"Memang kamu kenapa?" tanya Dinda.


Gembul menggelengkan kepalanya sembari menghapus air mata yang sudah menetes.


"Namu kamu siapa?" tanya Hyu sembari mengelus pundak Gembul.


"S–sulis." Gembul itu masih memegang pahanya yang nampaknya cedera serius.


"Sulis kenapa? Kenapa pahanya bisa sakit?" tanya Dinda.


"Ditusuk-tusuk." Semuanya mulai fokus ke arah Gembul.


"Sama siapa?" tanya Hyu.


Gembul terlihat menggelengkan kepalanya.


"Pakai apa ditusuknya?" tanya Sadin yang mulai penasaran juga.


"Pakai bambu runcing. Sakit sekali." Gembul mulai duduk dan masih mengelus pahanya.


"Sulis salah apa memang?" tanya Hyu.


"Sulis enggak bis–hiks ... enggak bisa menyalakan kompor dan memasak. Ibu marah. Jadi Ibu arahkan bambu runcing ke paha Sulis," ungkap Gembul sembari tambah menangis kencang.


"Bapaknya Sulis ke mana?" tanya Sadin sembari memegang bahu Gembul.


"Bapak waktu itu sedang hiks ... ke luar kota."


"Waktu Bapak balik, Sulis sudah enggak bisa apa-apa."


"Terus Sulis dibawa ke rumah sakit ini?" tanya Sadin.


Gembul terlihat mengangguk. "*Ta*pi enggak selamat. Sampai sekarang masih sakit," keluhnya.


"Ya Ampun, sadis, ya, cuma karena enggak bisa menyalakan kompor dan masak. Padahal masih bisa diajarin, loh."


"Ibu keras," ucapnya.


"Ibu sifatnya keras?" tanya Sadin yang berusaha untuk memastikan.


Gembul terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Makasih." Gembul tiba-tiba menggerak-gerakkan badannya.


"Astaghfirullahal'adzim." Ucapan Gembul barusan bisa dijadikan pertanda bahwa arwah Sulis tadi sudah pergi.


"Dapat penglihatan?" tanya Sadin sembari menyuruh Gembul minum.


"Si Sulis itu kasian banget. Ya Allah, di cuma enggak bisa menyalakan kompor dan masak, ibunya langsung menusukkan bambu runcing. Gembul seperti mendapat gambaran langsung. Astaghfirullahnya itu, sebelum bambu runcingnya dicabut, ibunya itu seperti mengoyakkan huek ... pokoknya dikoyak-koyak gitu sampai dagingnya huek ... Ke luar gitu astaghfirullah," jelas Sadin sembari menahan mualnya.


"Terus abis itu enggak langsung dibawa ke rumah sakit?" tanya Dinda yang ikut mual mendengarnya.


"Enggak. Jangankan dibawa ke rumah sakit, diberi obat juga enggak. Cuma dikasih air putih dan nasi biasa. Selama empat hari seperti itu. Kebayang enggak, sih, busuk daging pahanya itu bagaimana Ya Ampun." Gembul terlihat meneteskan air matanya dan mulai sesegukan.


"Ya Allah Naudzubillahimindzalik."


"Bapaknya baru pulang pas hari ke lima. Ibunya bilang kalau anak itu ditodong maling, tapi enggak punya biaya untuk ke rumah sakit," ungkap Gembul.

__ADS_1


"Astaghfirullahal'adzim! Gila banget ibunya! Tapi bapaknya percaya?" Sadin terlihat sangat geram saat itu.


"Iya."


"Berarti sampai sekarang bapaknya tidak tahu kalau kematian anaknya itu karena ibunya sendiri?" tanya hyu yang mulai melotot saking terkejutnya.


"Iya. Kasihan."


"Jahanam sekali ibunya. Kalau begitu, kita doakan saja agar Sulis bisa tenang. Kasihan sekali. Pasti dia hanya ingin bapaknya tau kalau yang melakukan semua itu adalah ibunya." Sadin nampak menunduk.


"Percuma juga. Ayahnya sudah meninggal. Kejadian ini sekitar beberapa puluh tahun yang lalu. Buktinya saja masih ada bambu runcing," timpal Gembul.


"Iya juga, sih."


"Ya sudah, berarti kita hanya bisa mendoakannya saja. Semoga anak tak bersalah itu tenang di sisi Allah."


"Aamiin."


"Al-Fatihah."


Semua mulai menunduk dan berdoa dengan khusyuk untuk Sulis.


Kresek ... kresek ....


"Kdifhdjajah."


"Akskjsuddjdnnd."


"Hdkdienjdj."


"Eh, sebentar. Dengar suara orang ngobrol enggak? Kok kayaknya ramai banget, ya," ujar Dinda sembari melirik ke arah lain.


"Jsjsushnk."


"Eh, iya ramai banget," sahut Sadin.


Tadi ia pikir hanya dirinyalah yang mampu mendengar suara orang saling bicara tersebut. Ternyata semua teman-temannya bisa mendengar suara itu.


"Dari arah mana, sih?" tanya Hyu sembari menajamkan indera pendengarannya.


"Kayaknya dari arah sini." Gembul menunjuk ke arah sebuah ruangan yang pintunya agak terbuka sedikit.


Kriet ....


Suara pintu besi yang sudah berkarat berhasil membuat sakit telinga. Saat pintu tersebut dibuka sebagian, suara ramai tadi tiba-tiba senyap dan digantikan oleh suara seseorang yang sedang membaca mantra.


"Gue enggak asing sama suara ini, sial!"


Sadin langsung berlari memasuki ruangan besar tersebut. Semua sontak dibuat terkejut oleh Saben yang tengah menaburkan bunga-bunga khusus orang mati dan juga air mawar. Ia membacakan mantra yang temannya sendiri pun tak mengerti maksudnya.


Bugh...


"Saben, Lo gila?!" tanya Sadin yang sudah melemparkan bogem mentahnya ke arah Saben.


Saben jatuh tersungkur dan langsung merasakan sakit di wajahnya. Ia terlihat ketakutan dan berusaha menutupi telinganya. Lelaki itu terus membacakan mantra tersebut bak orang kesetanan.


"Saben sadar bodoh!"


"Diam!" teriak Saben sambil terus menaburkan bunga mawar di sekitar tempat tersebut.


Dinda segera mengeluarkan ponselnya dan menyetel ayat-ayat suci Al-Qur'an.


"Audzubillahiminassyaitonirrajim."


"Bismillahirrahmanirrahim."


"Aamanar-rosuulu bimaaa unzila ilaihi mir robbihii wal mu'minuun, kullun aamana billaahi wa malaaa ikatihii wa kutubihii wa rusulih, laa nufarriqu baina ahadim mir rusulih, wa qooluu sami'naa wa atho'naa ghufroonaka robbanaa wa ilaikal-mashiir."


"Matikan! Matikan sialan!"


"Laa yukallifullohu nafsan illaa wus'ahaa, lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat, robbanaa laa tu aakhiznaaa in nasiinaaa au akhtho'naa, robbanaa wa laa tahmil 'alainaaa ishrong kamaa hamaltahuu 'alallaziina ming qoblinaa, robbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thooqota lanaa bih, wa'fu 'annaa, waghfir lanaa, war-hamnaa, anta maulaanaa fanshurnaa 'alal-qoumil-kaafiriin."


Gedebug ....


Gedebug ....


"Bodoh! Lo nyari petaka di sini, Din!" umpat Saben ke arah Sadin sembari mengacak rambutnya frustasi.

__ADS_1


"Lo gila? Lo yang nyari petaka!" bela Sadin yang tak terima jika pihak benar disalahkan.


"Kalau tadi lo enggak setel itu ayat, pasti mereka enggak akan merasa terganggu!" sanggah Saben yang nampaknya sudah tak waras lagi.


"Heh, lo tanya sama orang-orang sana! Di sini lo itu pihak yang salah! Lo gila bisa seenaknya berbuat begini. Mereka itu cuma minta didoakan bukan dikasih sesaji kayak begini. Ngotak, gila!" Makian dari Sadin dibalas dengan pelototan tajam dari Saben.


Gedebug ....


Gedebug ....


Lantai terasa berguncang sangat kencang. Hewan-hewan dari bawah tanah ke luar seketika. Hyu dan Dinda sudah saling berpelukan karena rasa jijik yang sudah tak kuat ditahannya.


Sekumpulan makhluk halus tiba-tiba dapat dilihat oleh semua yang ada di sini. Gembul sudah takut setengah mati dan lebih memilih untuk menutup mata dan terduduk di lantai yang kotor.


Makhluk halus itu nampak mendekati Sadin. Lelaki itu langsung menjauh seketika. Ia peka terhadap yang makhluk itu inginkan. Pasti mereka menginginkan pisau belatinya agar mendapatkan kekuatan lebih. Ya, pisau belati peninggalan mendiang abahnya.


Sadin menggapai ujung tali yang tersangkut pada sebuah jendela kecil. Dengan sebuah gerakan cekatan ia mampu memotong tali dan mengeluarkan beberapa siung bawang putih. Ia mengikat ujung tali dengan bawang tersebut menggunakan simpul mati. Sebisa mungkin ia berusaha agar talinya tak mengenai tangan lebih dalam. Bisa-bisa tangannya terkilir dan menimbulkan darah segar yang dapat memanggil arwah lebih banyak lagi.


Sret ....


Selesai!


Ia mulai mengikat ikatan bawang putih tersebut ke pisau belatinya dan mencantolkan di bagian celana. Tak lupa pisau belati itu dipeperi dengan bawang putih yang tersisa.


Para makhluk tersebut seketika diam saat Sadin menodongkan pisau belati yang amat keramat itu. Dari jauh saja makhluk itu dapat merasakan ketidaknyamanan dan juga hawa panas. Mereka mulai beringsut saat Saben menangkapnya dan mengikatnya dengan ikatan bunga kantil.


"Saben, apa yang lo perbuat?!" tanya Sadin dengan kesal sembari menghalangi usaha bodoh yang akan dilakukan Saben.


"Diam, Din! Lo diam!"


"Sadar, Ben! Yang Lo lakuin itu musyrik!" ujar Dinda sembari menarik tangan Saben.


"LO SEMUA ENGGAK AKAN TAHU ISI HATI GUE! LO SEMUA ENGGAK AKAN PAHAM!"


"Saben, sadar! Kita semua sahabat kamu! Sahabat gunanya untuk saling memahami, 'kan?" Hyu berusaha membantu Dinda untuk melepaskan Saben.


"Gue enggak pernah anggap lo semua sahabat! Lo semua enggak akan pernah ngerti perasaan gue!" Saben memberontak lebih beringas lagi.


Makhluk yang ada di depannya kini disiram dengan air mawar yang sudah dicampur dengan cairan berbau anyir.


"Saben, sadar!"


"Lo yang sadar, Din! Dinda tuh suka sama lo! Tapi lo cuma bisa diam berasa lo itu makhluk paling cakep sedunia. Gue enggak tau harus bagaimana lagi biar lo sadar. Gue di sini pihak yang sakit! Gue suka Dinda, Din, tapi gue lebih milih ngalah demi lo! Dan sekarang gue enggak mau kalau Dinda sampai dapat cowok yang enggak pernah menghargai keberadaannya. Dia diam-diam memendam rasa sendiri dan itu sakit!" Kejujuran dari Saben tiba-tiba saja berhasil membuat yang berada di sana langsung terlonjak kaget.


"Gue pikir gue bisa nitip Dinda ke lo. Gue pikir Lo bisa jadi sahabat terbaik gue. Ternyata enggak, Din. Lo nyakitin hati Dinda secara enggak langsung. Lo biarin cintanya bertepuk sebelah tangan!"


"Saben! Jadi, Lo ngelakuin semua ini karena gue?" Dinda tampak benar-benar syok dan menarik napasnya dalam-dalam.


"Kalau iya kenapa? Gue enggak mau lo sakit hati karena dia terus, Din!" ketus Saben.


"Lo musyrik, Ben! Gue enggak akan terima kalau gue didapatkan dengan cara guna-guna seperti ini!"


"Enggak ada cara lain!"


"Aaaaa!!"


Brugh ....


Tiba-tiba saja tubuh Dinda terhuyung ke belakang tepat mengenai besi tua yang sudah sangat berkarat. Jika besi tua itu bergeser seratus delapan puluh derajat, bisa dipastikan Dinda akan pendarahan saat itu juga.


Ia menegang di tempat saat merasakan sakit yang luar biasa pada tubuhnya. Serasa dilemparkan langsung tanpa aba-aba.


"Dinda!" Hyu langsung menghampiri sahabatnya itu.


Entah kekuatan darimana tiba-tiba saja dirinya terlempar. Sepertinya ini pekerjaan makhluk halus itu.


"Kamu gapapa?" tanya Hyu sembari mengelus punggung Dinda yang diyakini sudah ada sedikit retakan pada bagian belakangnya.


"A–aku gapapa," sahut Dinda sembari memaksakan untuk mengulas seutas senyuman.


"Ayo berdiri," ajak Hyu.


Namun belum sempat ia berdiri, sebuah batu besar tiba-tiba saja menghantam tubuh Dinda dengan cukup keras.


Bugh ....


"DINDA!" teriak Hyu yang langsung syok ketika mata Dinda melotot dan berusaha menahan perih yang dirasa.

__ADS_1


Dan akhirnya...


To be continued 👀


__ADS_2