
Sebuah tanjakan berhasil dilalui Rafles dengan susah payah. Pasalnya jika sampai mobil mati di tengah-tengah tanjakan atau mobil tidak kuat menanggung beban, pastilah mobil itu akan mundur ke belakang dan mencelakai pengguna kendaraan yang ada di belakangnya.
"Belok mana lagi, ya? Gue lupa," ucap Rafles sembari melihat ke arah google map sebagai patokan.
"Belok kanan ambil tanjakan lagi." Sadin terlihat masih asik dengan ponselnya.
Rafles langsung melajukan mobilnya sesuai arahan Sadin. Tanjakan tersebut langsung membawa mereka menyusuri hutan kecil.
"Ambil kiri. Ikuti jalan habis itu sampai," timpal Hyu sembari melihat-lihat ke arah pepohonan lebat.
Rafles langsung memacu mobilnya lebih cepat. Ia mulai memarkirkan mobilnya saat sudah sampai di depan rumah sakit tersebut.
Hospital Guard. Begitulah kira-kira tulisan nama yang terpampang di depan gedung. Sudah terkelupas, besi penyangganya patah, juga berkarat.
Gedung tua ini sangat amat tidak terawat. Kesan horor, mistis, seram, sudah tidak bisa disanggah lagi. Semua yang datang ke sini secara langsung pasti akan merasakan nuansa yang berbeda. Bulu kuduk mete satu persatu berdiri.
"Inget, ya, jangan ada yang toxic. Ini tempat orang. Kita cuma numpang pinjam tempatnya," nasihat Sadin sembari menyingkirkan jaring lentur yang menjadi penghalang tulisan di papan pemberitahuan.
Semua sepakat mengangguk. Saben mulai menyiapkan kameranya yang untungnya baik-baik saja.
"Mau ada behind the scene, gak?" tanya Saben sembari mengarahkan kameranya ke arah teman-temannya sebagai bahan percobaan.
"Boleh. Biar seru," sahut Rafles sembari membuka mata batinnya dan mencerna sekelilingnya.
Gembul terlihat terus-menerus mepet ke arah Dinda karena rasa takutnya yang tak bisa hilang. Dinda yang sedari tadi risih hanya bisa marah tanpa melakukan perlawanan seperti biasanya.
"Nanti kalau ada sesuatu yang terjadi, enggak usah bicara ke kamera. Fokus aja ke penelusurannya, ya," pesan Saben sembari memfokuskan kembali kameranya.
Kini semua mulai bersiap-siap untuk pembukaan konten YouTubenya.
"Eh, bentar! kameranya ngadet!" Saben mengutak-atik kameranya.
"Kenapa, deh?" Sadin terlihat mendekat sembari mengambil kamera Saben.
Sadin terlihat menyalakan kembali kamera Saben yang tadi sempat mati. Ia mulai mencoba memfokuskan lensa. Ia mulai mengarahkan kameranya ke arah depan.
"Apa deh, Ini enggak apa-apa, kok, Ben aaaaa!" Sadin terkejut sembari melemparkan kamera yang ada di tangannya. Beruntunglah kamera itu berhasil ditangkap oleh Dinda dengan sigap.
"Lo kenapa, Din?" tanya Dinda sembari menghampiri Sadin.
"Ya Allah, kamera gue! Untung berhasil ditangkap Dinda. kalau enggak, bagaimana?" Saben menggerutu sembari mengambil kameranya.
"E–eh, a–anu, maaf tadi gu–e liat ...." Sadin menggantungkan kalimatnya itu sambil menoleh ke arah tempat yang disoroti oleh kamera Saben tadi.
"Lihat?" Semua teman-temannya menunggu kelanjutan dari kalimat yang dilontarkan oleh Sadin.
"Tadi gue lihat ibu-ibu pakai kemben bawa anaknya. Wajahnya pucat sekali. Dia tadi tepat berada di samping Gembul."
Dengan cekatan, Gembul langsung berpindah ke tengah-tengah. Ia terlihat ketakutan sembari berpegangan erat pada Rafles.
"Halusinasi saja, mungkin," sanggah Hyu.
"Sudah dilanjutkan saja," ujar Saben sembari mengarahkan kameranya ke arah teman-temannya.
Sadin mulai mengambil napas perlahan dan menutupi rasa takutnya itu.
"Oke, camera rolling action!
"Oke, Bro! Balik lagi sama gue Sadin."
"Gue Rafles!"
"Gue Dinda yang paling cantik."
__ADS_1
"Aku Hyu yang manis."
"Dan ini salah satu teman baru kita yang membantu kita untuk sampai di sini. Namanya Gembul. Say hi, Gembul!"
"H–hai." lirih Gembul sembari tersenyum perlahan
"Kali ini kita berada di rumah sakit yang katanya seram bin angker. Yes, Hospital Guard! Berbagai rumor banyak yang telah beredar. Banyak yang bilang kalau rumah sakit ini banyak mengalami kesalahan medis yang di sengaja seperti–"
"Hiks ... hiks ...."
Sadin terdiam sesaat. Teman-temannya itu mulai bingung melihat Sadin yang tiba-tiba saja celangak-celunguk.
"Hiks ... hiks ...."
"Denger suara nangis, enggak?" tanya Sadin yang seketika sadar bila suara bicaranya diiringi dengan suara tangis perempuan.
"Kayaknya suaranya dari arah sana, deh!" tunjuk Hyu ke sebuah gudang dengan jempolnya.
"Hiks.. hiks..."
"Mau coba lihat ke sana?" tanya Rafles sembari merapihkan ranselnya.
"Ayo, deh!"
Mereka semua mulai berjalan menyusuri ranting-ranting pohon yang sudah sangat rapuh. Bau apek perlahan mulai terendus di penciuman.
"Hiks.. hiks..."
Sadin menyuruh yang lainnya untuk diam mendengarkan rintihan dari makhluk misterius tersebut. Ia mulai membuka pintu tersebut. Tetapi tidak ada apapun di dalamnya. Hanya gelap, lembab, sumpek, dan jaring laba-laba saja yang bersarang di dalamnya.
"Auranya kuat. Dia masih ada di sini tapi gue enggak bisa melihat bentuknya seperti apa," ujar Rafles sembari terus mencoba berkontak dengan makhluk halus itu.
"Yang Gembul rasa aura sedih. Sedih ditinggal bayi yang disayanginya," ujar Gembul yang langsung membuat yang lainnya menoleh ke arahnya.
"Mbul? Kau–"
"Kenapa lo enggak takut?" tanya Dinda yang langsung melepaskan lengan Gembul dari lengannya.
"Karena wajah wanita tersebut tidak seram.
Kemarin Gembul syok karena rupa hantu tersebut yang benar-benar seram. Suasana yang mencekam juga sangat Gembul benci," sahut Gembul yang tak lagi berani menoleh ke arah wanita tadi.
"Lo bisa kontak sama dia?" tanya Rafles sembari mendekat ke arah Gembul.
"Gembul enggak mau!"
Gembul mendekat ke arah teman-temannya.
"Dia kelihatannya baik, tetapi logikanya jahat. Lebih baik kita pergi dan lanjut penelusuran lagi saja," ajak Gembul sembari menjauh dari brankar itu.
Semua yang ada langsung mengikuti saran Gembul. Lelaki itu masih saja nempel kepada Dinda. Terkadang juga ke arah Sadin.
Suasana semakin horor saat ada seorang Bapak tua yang berjalan ke arahnya. Dia membawa arit dengan sepatu boots yang melekat di kakinya.
"Mau apa?" tanyanya sembari memangkas rumput yang sudah meninggi.
"Kami ingin melakukan penelusuran, Pak," sahut Sadin tanpa rasa takut sedikit pun.
"Enggak takut mati?" tanya Bapak itu tanpa menjelaskan maksud dari perkataannya.
"Maksud Bapak?" Hyu mulai bingung dengan perkataan Bapak tua itu.
"Kalian ke sini enggak takut mati?"
__ADS_1
"Kenapa takut mati? Kematian sudah menjadi takdir Tuhan," tukas Dinda dengan nada yang sedikit ketus.
"Hahaha. Kematian memang misteri ilahi, tetapi dia tidak akan datang jika tidak diundang."
Sadin dan kawan-kawannya hanya diam dan menunggu Bapak tua itu bicara.
Gembul yang ketakutan setengah mati hanya bisa menunduk tanpa mau mengetahui Bapak tua itu sebenarnya setan atau manusia. Matanya mulai melotot saat mengetahui Bapak tua itu tak sedikit pun menapaki kakinya di tanah. Gambul segera membisikkan sesuatu ke arah Dinda.
"Yang di depan ki–kita i–ni bukan ma–manusia. Di–dia hantu," lirihnya yang langsung menunduk.
"Tau dari mana lo?" bisik Dinda yang sudah merasakan hawa tak enak juga.
"Li–lihat ke arah kakinya." Dinda langsung mengikuti apa yang diucapkan Gembul.
"Kyaa, setan!"
Dinda dan Gembul langsung lari bersama-sama mencari tempat yang aman. Mereka meninggalkan teman-temannya yang masih bingung di tempat.
"Astaghfirullah, enggak napak!" teriak Sadin sembari berlari disusul oleh teman-temannya yang lain.
"Mau ke mana kalian semua!"
"Kalian datang ke sini untuk sebuah hal yang tidak bermanfaat! Maka kalian akan kami manfaatkan demi penumbalan gedung ini!"
"Guys! Pintu ke luar ke mana?" tanya Sadin yang sudah gemetar.
"Eh, sumpah ini di mana? Perasaan kita belum jauh dari pintu masuk!"
Ting.. ting.. ting...
Suara dentingan sendok di piring langsung membuat keenam remaja itu bingung secara bersamaan. Sepertinya mereka tengah berada di ruang kantin.
Senyap.
"Enggak ada suaranya lagi?" tanya Dinda yang langsung beringsut ke belakang tubuh Sadin.
"Daging.. daging.. daging segar..."
Glup.
Perkataan barusan berhasil membuat tim Jejak Sadin tenggelam pada pemikirannya masing-masing. Entah suara apa barusan, tetapi mereka benar-benar bisa mendengarkannya dengan jelas.
Lantai tiba-tiba berguncang dengan hebat. Sepertinya akan terjadi gempa bumi. Tiba-tiba Sadin mendengar suara rintihan yang begitu mengenaskan.
Keenam remaja itu sontak terkejut saat di hadapannya kini terdapat beberapa puluh orang–maksudnya makhluk halus– yang sudah tak utuh lagi. Gembul seketika menjerit.
"Sial ini apa?!"
Seorang perempuan berpakaian suster tengah tersenyum sembari mematahkan kepalanya. Ia berjalan merangkak dengan cepat.
"Aaaaa!"
Semua lari kocar-kacir saat suster itu berniat menghampiri. Saben masih setia mengambil gambar dengan tangan yang sudah sangat gemetar. Nasih buruk jatuh kepada mereka. Mereka semua lari tak tentu arah dan membuat mereka berpisah antar satu sama lain.
Gembul dan Dinda terpaksa masuk ke dalam kamar ruang inap yang sudah sangat kotor dan membuat siapapun yang mencium baunya akan pusing. Gembul langsung pucat pasi saat dirinya menangkap siluet hitam yang hampir mirip seorang dokter yang tengah membawa suntikan. Awalnya hanya siluet, namun lama-kelamaan...
Dem.. dem.. dem...
"I–itu a–pa?" tanya Dinda dengan tangan yang tergagap-gagap saat melihat sesosok makhluk yang sangat asing baginya.
"A–ku juga enggak tau, Din. A–aku enggak kuat lihatnya," sahut Gembul sembari memejamkan matanya.
Sesosok makhluk itu langsung mendekat ke arah mereka berdua. Harum melati seketika masuk ke dalam indera penciuman Dinda. Gadis itu terseok-seok mundur ke arah belakang. Ia tak kuat melihat makhluk itu.
__ADS_1
Hingga akhirnya...
To be continued 👀