
Suasana semakin bertambah horor saat makhluk-makhluk halus itu hanya bisa melihat dari jauh karena terhalang oleh pembatas yang dibuat Gembul dan juga teman-temannya. Semua makhluk memperhatikan seperti melihat selayaknya pertunjukan. Tim Jejak Sadin sangat risih melihat tatapan tak menyenangkan dari berbagai macam bentuk makhluk itu.
Sadin masih setia menempelkan minyak aromaterapi pada hidung Rafles yang belum juga siuman. Mereka yakin bahwa sebenarnya Rafles terkena biusan, tetapi anehnya, biusan apa yang digunakan oleh makhluk-makhluk itu? Apakah di rumah sakit tua masih ada sebuah biusan? Kalaupun ada pasti sudah kedaluwarsa. Ya, 'kan?
"Rafles sadar!" teriak Gembul sembari tersenyum dan menyodorkan sebotol air putih.
"Mana wanita itu?" tanya Rafles sembari memegang kepalanya.
"Wanita apa?" tanya Hyu dengan sedikit mengeluarkan emosi.
"Tadi ada wanita cantik. Cantik sekali. Gue pengen dia!"
"Rafles! Kamu sudah punya aku!"
"Hyu, kamu enggak ada apa-apanya dibanding dia," sahut Rafles dengan nada yang terdengar datar.
"Maksud kamu apa?" Hyu mulai menjatuhkan air matanya saat itu juga.
Rasa sakit hatinya mulai tak terbendung lagi. Sedari tadi ia sangat mengkhawatirkan keadaan Rafles, tetapi lelaki itu malah mengejar wanita lain yang belum pasti seperti apa wujudnya.
Di tengah perdebatan itu, tiba-tiba saja Sadin teringat akan perkataan Mas Sayo waktu di warung kopi itu.
"*Oh iya, kalau di dalam sana ada sebuah berlian besar, jangan coba-coba untuk pegang. Katanya, sih, penunggunya sengaja taruh di situ untuk mencari tumbal." Mas Sayo menuangkan teh tawar yang baru matang ke dalam teko.
"Berlian seperti apa?" tanya Sadin.
"Saya kurang tahu persisnya, tapi yang jelas berlian itu berwarna bening berkilau. Kalau dia kurang iman, pasti dia akan lupa dengan nasihat ini," jelas Mas Sayo*.
"Lo menemukan berlian?" Sadin menepuk pundak Rafles dengan pelan.
"Lo tau? Atau jangan-jangan Lo yang ambil berlian itu dan rebut Elin dari gue?" tanya Rafles dengan emosi yang tak terkendalikan.
"Rap, inget kata Mas Sayo waktu itu?" tanya Sadin sembari menaungi Rafles dengan doa.
"Apa?" Rafles terlihat tak acuh dengan pertanyaan yang dilontarkan Sadin itu.
"Katanya kalau ada seseorang menemukan berlian di rumah sakit ini, jangan disentuh. Nanti bisa kena tumbal. Sekarang yang jadi pertanyaan, kamu nyentuh berlian itu?" Sadin menatap lekat sahabatnya itu.
"I–iya," jawabnya dengan sedikit gugup.
"Coba ceritakan," pinta Sadin dengan perlahan.
Flashback on
*Rafles berlari ke arah barat dengan nafas yang memburu. Badannya sudah panas dingin tak karuan. Ia berharap bahwa sehabis ini dia tak menemukan makhluk aneh lainnya. Ia menoleh ke belakang dan tak mendapati kekasihnya yang sedari tadi berjalan di belakangnya.
Ia kembali tersadar bahwa ia telah berpisah jauh dari teman-temannya. Kepalanya menoleh ke segala arah, namun yang dilihatnya hanya sekelebat bayangan beberapa makhluk halus. Itu pun tak dihiraukannya sama sekali.
"Hyu!"
"Sadin!"
"Saben!"
"Dinda!"
"Gembul!"
"Kalian semua di mana, sih? Gue di sini sendirian!"
Hanya terdengar suara gema saja yang menyapa. Rafles berjalan tak tentu arah. Ia berharap akan menemukan semua temannya dengan cepat.
Hingga tibalah ia di sebuah ruangan gelap yang tak mendapat penerangan cahaya matahari. Matanya menerawang ke arah sana. Rasa hati ingin Rafles membuka ruangan itu. Ruangan gelap, namun memancarkan sebuah aura yang terang dan menenangkan.
Ceklek ....
Tidak dikunci!
Kriet ....
"Permisi?" Rafles mencoba untuk membuka pintunya lebih lebar lagi.
Tak ada sahutan sedikit pun dari dalam. Ia mencoba untuk masuk. Ternyata di dalam ruangan ini tak segelap penampakan dari luar. Nampak rapuh dan terjaga. Di dalamnya terdapat beberapa ruangan lainnya.
Rafles mulai membuka sebuah pintu tengah yang sudah nampak berdebu.
Kriet ...
"Halo, ada orang di sini?" tanya Rafles sembari menyalakan senter ponselnya sebagai penerangan.
Cetek ....
__ADS_1
Tiba-tiba lampu menyala. Ia lumayan terkejut karena ternyata tempat tua ini masih mengalirkan listrik. Padahal tempat ini sudah tak dipakai beberapa tahun silam.
Ia mulai mematikan senter di ponselnya dan melangkah perlahan menuju sebuah benda yang hampir mirip dengan peti. Bentuknya persegi dengan hiasan emas di pinggirnya.
"Ini apa?" tanyanya pada diri sendiri.
Tangannya dengan ragu-ragu mulai menggapai peti kecil tersebut. Tak ada debu ataupun sarang laba-laba yang mengotorinya. Sangat apik dan terawat.
Klik ....
"Heh? Enggak dikunci? Ia membuka perlahan peti tersebut.
Sebuah sinar menghalau matanya yang seketika terasa perih. Ia mundur perlahan dan mulai memperhatikan benda apa yang sebenarnya ada di dalam peti itu.
Lelaki itu mulai terpukau saat melihat berlian besar yang di sisi-sisinya dilapisi dengan emas murni. Mulutnya melongo dan benar-benar sangat takjub dibuatnya.
Ia menyentuh berlian yang baginya sangat indah tiada tara.
"Kok ada orang yang membiarkan berlian ditinggalkan begini?" tanyanya sembari melihat-lihat ke segala arah, memastikan bahwa tak ada orang yang melihat berlian ini juga.
Ia mengambil belian tersebut dari tempatnya. Berlian tersebut dielusnya dan dijaga baik-baik.
"Jadi kamu?" Sebuah pertanyaan berhasil membuat Rafles terlonjak kaget dan terasa beku di tempat.
"L–lo siapa?" tanya Rafles yang sepertinya nampak terpukau dengan kecantikan gadis yang tengah berada di depannya ini.
Gadis berkulit putih merah delima. Pipinya merona dengan sapuan bibir tipis yang terlihat sangat menggoda. Rambutnya pirang dengan topi berwarna putih di atasnya. Dress yang dipakainya teramat sangat cantik dan benar-benar mempesona.
"Aku, Elin. Aku yang menunggu kedatangan seorang lelaki tampan yang bisa dan berani mengambil berlian itu. Kau harus ikut bersamaku. Biar ku tunjukkan kau sebagai Pangeranku kepada ayahanda dan ibunda ku." Gadis bernama Elin itu tersenyum manis ke arah Rafles.
Lelaki itu benar-benar sangat mabuk asmara dibuatnya. Ia benar-benar melupakan Hyu, kekasihnya itu.
"Lo enggak mau tau nama gue?" tanya Rafles sembari mendekat ke arah wanita itu.
"Oh iya, namamu siapa?" tanya Elin sembari menggapai uluran tangan Rafles.
"Nama gue Rafles, Rafles Demian," ucap Rafles dengan lantang.
"Nama yang bagus, Pangeran. Mari ikut aku," ajak Elin sembari menggandeng tangan Rafles.
Dengan senang hati Rafles langsung mengikuti. Gadis itu membawa Rafles ke salah satu ruangan di rumah sakit tersebut. Gelap, pengap, dan berbau amis. Sejenak ia melihat-lihat ke arah ruangan tersebut.
"Masuklah ke dalam sana. Ayahanda dan ibunda ku ada di sana," perintah Elin dengan mata berbinar.
"Kenapa kamu melamun? Ayolah Pangeran, aku mencintaimu," pinta Elin dengan wajah memelas dan mata yang sudah berkaca-kaca.
Gadis itu benar-benar cantik. Rafles merasakan suatu getaran yang tak pernah dirasakannya selama bersama dengan Hyu.
"Kamu tidak mencintaiku, ya?" tanya Elin sembari menundukkan wajahnya.
Rafles mengangkat dagu Elin dengan telunjuknya.
"Jangan khawatir, Elin, aku akan menemui ibu dan ayahmu. Tenang saja. Aku juga mencintaimu," sahut Rafles dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya.
"Terima kasih, Pangeran. Masuklah!" perintah Elin dengan penuh kelembutan.
Rafles langsung masuk ke dalam sana. Ia benar-benar sudah dibutakan oleh gadis cantik jelita yang sebenarnya adalah sundel bolong penunggu kamar nomor 223 yang tewas akibat pembunuhan saat dirinya tengah mengandung anak kesembilannya.
"Hahahaha ... hihihihi ... kena kau, anak manusia! Buta sekali kau dengan cinta! Dengan Tuhanmu saja kalau sampai lupa arghh ... hihihihi."
Setelah masuk ke dalam ruangan itu, Rafles hanya merasa pandangan matanya buram dan seingatnya ia dibawa dengan sebuah tempat yang bergerak diiringi dengan beberapa orang atau ... ya, apalah itu Rafles tidak bisa melihatnya dengan jelas. Setelah itu dia benar-benar pingsan.
**Flashback off***.
"Gue enggak tau lagi apa yang gue lakukan setelah itu," ujar Rafles setelah menjelaskan panjang kali lebar.
Hyu sudah menangis di tempatnya, tetapi tetap saja Rafles tak mempedulikan gadisnya itu. Dinda yang terlihat geram itu hampir saja menonjok wajah Rafles, namun dihalangi oleh Sadin yang seolah-olah memberi pengertian bahwa Rafles sepertinya terkena suatu pelet atau guna-guna.
"Sekarang gue mau nyari Elin!" Rafles yang berniat pergi itu langsung ditahan oleh Hyu.
"Kamu kenapa jahat sekali denganku, Rap?"
"Kamu bukan tipeku lagi. Hanya Elin yang aku cinta!" Gertakan dari Rafles sontak membuat Hyu semakin hancur berkeping-keping.
Brug ....
"Lo sadar enggak, sih? Tadi lo itu ditemukan di ruang operasi, Rap. Dada Lo mau dibelah! Jantung Lo mau diambil! Lo dijadikan tumbal atas berlian itu. Please, jangan mengada-ada soal Elin-Elin sialan itu! Dia cuma makhluk halus yang menyamar jadi manusia!" Saben langsung memukul perut Rafles dengan sangat kasar.
"Udah, Ben!" lerai Sadin sembari menahan pergerakan Saben.
"Dia manusia! Dia bisa gue sentuh! Lo enggak usah mengada-ada," sanggah Rafles sembari tersenyum miring dan memegang erat perutnya.
__ADS_1
Seumur-umur, baru kali Hyu merasakan sakit hati terhadap Rafles. Lelaki itu sangat mencintai Hyu. Lama waktu pacarannya saja sudah hampir empat tahun. Tidak sedikit juga yang mendekati baik ke Rafles maupun Hyu, tetapi dua insan itu benar-benar sudah saling mencintai dan tak ingin berpisah. Tetapi mengapa seperti ini akhirnya?
"Gila, lo!"
"Udah, Ben. Aku tidak apa-apa, kok. Mungkin memang ini jalan terbaiknya," ujar Hyu sembari memaksakan senyumnya.
Dinda langsung memeluk Hyu dan berupaya untuk menguatkannya. Hatinya benar-benar sakit ketika melihat sahabatnya benar-benar terpuruk seperti ini.
"Lo gila, Hyu? Lo nyerah cuma karena perempuan yang belum jelas makhluk halus atau manusia itu?" Pertanyaan dari Saben langsung dijawab anggukan mantap oleh Hyu.
"Rap." Panggilan dari Hyu hanya direspon dengan tatapan sinis dari Rafles.
"Kita putus tidak apa-apa, 'kan?" tanya Hyu yang berusaha untuk tersenyum kuat dan selembut mungkin.
Padahal hatinya benar-benar berharap bahwa Rafles mencegahnya untuk meminta putus.
"It's okay. No problem. Gue bisa langsung nikahin Elin nanti."
Jleb ....
Dinda langsung menarik Hyu untuk menjauh dari sana. Tak peduli dengan beberapa makhluk halus yang tengah menonton pertunjukannya itu.
"Hyu, lo kuat? Gue yakin, kok!" Dinda mengelus kedua pundak sahabatnya itu dan langsung memeluknya dengan erat.
"Lo sahabat gue yang paling kuat!" ucap Dinda sebagai kata penyemangat.
Hyu tersenyum dengan semanis mungkin.
"Aku kuat, Dinda. Lelaki tidak hanya Rafles saja, kok," sahut Hyu sembari menghapus air matanya yang mengalir deras ke pipinya yang berwarna merah merona.
Klutak ... Klutuk ....
Suara delman tiba-tiba saja terdengar jelas di telinga mereka. Dinda menoleh dan mendapati delman berhenti tepat di depannya. Seorang perempuan berkulit putih turun dari delman tersebut. Ia membenarkan dress-nya dan tersenyum ke arah Hyu.
"Kasihan. Gadis yang malang," ucapnya sembari tersenyum miring.
"Siapa lo!?!" tanya Dinda sembari menghalangi gadis itu agar tak terlalu dekat dengan Hyu.
"Aku Elin. Perempuan yang kelak akan menjadi Permaisuri Kakanda Rafles, hahaha .... " ujarnya sembari tersenyum puas.
"Jadi, lo–"
"Eits, jangan emosi!" Elin terlihat tenang sembari memainkan rambutnya.
"Mau lihat bentuk asliku?" tawarnya.
Elin menggertakkan kakinya dan tiba-tiba saja yang di depannya kini adalah ...
"Su–sundel bolong?!"
"Ya, that's right, hihihihi!" sahutnya sembari memperlihatkan gusinya yang sudah berdarah-darah.
Rambutnya berwarna hitam pekat dengan lumpur yang menempel di sisinya. Perutnya bolong dengan bayi yang samar-samar terlihat di bagian tengahnya. Kakinya melayang. Baju berwarna biru khusus pasien itu sudah berdarah-darah tak karuan.
"Aaaaaa! Pergi! Pergi!"
"Mamah, Hyu takut!"
"Hei, kalian kenapa?" Suara lelaki yang khas itu seketika langsung membuat Dinda dan Hyu berani menoleh. Ya, dia Sadin.
"Alhamdulillah," ucap Dinda ketika tidak melihat sosok hantu tersebut.
"Kalian lihat apa?" tanya Gembul yang keheranan.
"Elin, Elin itu sundel bolong!" teriak Hyu.
"Hah? Enggak mungkin? Sekarang di mana dia?" tanya Rafles sembari menoleh ke sana-ke mari.
"Gue harus kejar!"
Sadin langsung menahan lengan Rafles dengan kasar.
"Bismillah."
Ia mengusap wajah Rafles seketika.
Brug ....
Lelaki itu langsung terjatuh. Untung saja Sadin bisa dengan sigap menangkapnya.
"Rafles!"
__ADS_1
"Dia enggak apa-apa. Maaf gue pakai cara kasar. Dia cuma gue buat enggak sadar aja. Nanti juga bangun lagi, kok. Lebih baik kita cepat ke luar dari sini. Kalau sudah sampai di luar, baru kita beri pemahaman lebih kepada dia. Aura jahat di sini mendukung banget si guna-guna atau peletnya ini untuk bekerja maksimal. Sekarang kita cari jalan ke luar. Bismillahirrahmanirrahim, InsyaaAllah, bisa!" seru Sadin sembari menyuruh Gembul untuk mengangkat Rafles ke pundaknya.
"Bismillah, deh. Yok!" ajak Dinda sembari membantu Hyu yang masih agak lemas itu untuk jalan.