
"Hoahem ...." Gembul membuka matanya tepat di malam hari di saat yang lain sudah tertidur.
"Ya Allah, kenapa Gembul harus kebelet pipis?" tanya Gembul sembari bangkit dari tempat tidurnya.
Lampu sengaja dimatikan karena Sadin yang tidak bisa tertidur jika lampu menyala. Sekarang ruangan di hadapannya ini nampak gelap gulita. Ia mulai menoleh ke arah Sadin yang masih tertidur lelap.
Rasa ingin buang hajatnya semakin besar. Mukanya sudah memelas tak karuan.
"D–din? Sadin bangun!" Gembul menggoyangkan tubuh Sadin dengan sedikit keras.
"Hn?"
"Temani ke kamar mandi, yuk!"
"Hm." Sadin terlihat diam tanpa melakukan pergerakan lagi.
"Sadin!"
"Iya, ayo!" Sadin mulai bangun dan mengerjapkan matanya perlahan.
"Setiap hari lo begini?" tanya Sadin sembari turun dari tempat tidur.
"Enggak setiap hari. Mungkin karena hawa di sini dingin juga," jelas Gembul sembari berjalan di belakang Sadin dan memegang erat tangan lelaki itu.
"Kenapa pegang tangan gue?" tanya Sadin sambil menggelengkan kepalanya.
"Gembul takut, Din," ungkapnya sembari menutup matanya.
"Jangan ditutup gitu matanya. Nanti kalau nabrak gimana?"
"Enggak apa-apa. Kan ada Sadin yang jadi penunjuk arah," sahut Gembul dengan sangat polosnya.
Sadin hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
"Ya udah."
Sadin menyalakan lampu kamar.
Zleb.
Seorang wanita cantik kini tengah menatapnya dan tersenyum dengan sangat manis. Sadin meneguk ludahnya dan mengingat betul bahwa di villa ini tidak ada orang lain selain teman-temannya.
"Kok enggak jalan, Din?" tanya Gembul yang masih menutup matanya.
"Eh, iya ayo kita jalan," ujar Sadin yang nampak sedikit gugup dan menahan rasa ingin teriak.
Sadin melewati perempuan itu sembari membaca ayat kursi. Tak ada yang bisa dia lakukan selain berdoa dan menunduk.
"Mas, kenapa dipegangi seperti itu temannya?"
Blush...
Suara halus nan dingin itu berhasil membuat bulu kuduk Sadin meremang. Suasana semakin mencekam. Kakinya terasa lemas seketika. Pendengarannya yang sangat tajam membuatnya tak bisa berkutik.
Dia mempercepat langkahnya.
__ADS_1
"Sadin, pelan-pelan, dong! Nanti kalau Gembul jatuh, bagaimana?" protes Gembul sembari memegang erat tangan Sadin.
Sadin hanya diam di tengah ketakutan yang melanda. Udara dingin seakan masuk ke dalam hidungnya dan menyesakkan dadanya.
"Masuk!" Perintah Sadin saat sudah sampai di depan kamar mandi.
"Udah sampai?" tanya Gembul yang masih memejamkan matanya.
"Udah."
Gembul langsung membuka matanya dan berlari ke arah kamar mandi.
Sadin terlihat menunduk sekaligus berdoa terus-menerus.
"Mas enggak mau kenalan sama saya?"
Deg...
Badan Sadin mulai bergetar hebat. Suara perempuan itu hadir lagi. Ia tidak berani menoleh ataupun membalas ucapan perempuan tersebut.
"Saya tau, kok, kalau Mas ini bisa melihat saya. Saya kurang cantik, ya, Mas?"
"Sialan! Kenapa Gembul lama sekali di kamar mandi!" umpat Sadin dalam hati.
"Nama saya Winy."
"Sumpah, gue enggak mau tau nama lo!" batin Sadin sembari mengelus dadanya.
"Saya diputusi oleh pacar karena jelek, Mas."
"Jelek? Bukankah perempuan ini sangat cantik?" batin Sadin sembari lebih fokus mendengarkan cerita perempuan bernama Winy tersebut.
"Dari situ saya mulai merawat diri saya. Hingga jadilah saya seperti yang tadi Mas lihat, cantik."
"Sejak saat itu, saya mendapatkan seorang lelaki lain yang jauh lebih baik daripada mantan saya yang sudah memutuskan hubungan dengan saya itu. Lelaki itu memperlakukan saya selayaknya ratu di hatinya. Ia meminang saya tepat di umur saya yang ke dua puluh dua tahun. Tetapi, nampaknya nasib buruk menimpa saya."
Sadin mulai menoleh ke arah Winy yang terlihat menunduk. Dengan baju berwarna biru muda dan rambut yang nampak ke depan, Sadin sedikit bergidik ngeri karena penampakannya mirip seperti kuntilanak yang salah pakai kostum. Ia pun mulai mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Saat suami saya itu pergi ke luar kota, kebetulan saya dan ibu tidur di kamar yang terpisah. Saya merasakan ada suara pintu terbuka. Saya pikir itu adalah suami saya yang pulang karena ada barang yang tertinggal. Ternyata saat saya buka pintu kamar, saya mendapati mantan pacar saya tersenyum menyeringai ke arah saya."
"Dia mendekati saya. Dia mengajak saya untuk balik kepadanya. Jelas saja saya menolak. Karena saya sudah berumah tangga."
"Tiba-tiba dia memeluk saya. Saya ingin teriak, namun rasanya mulut seperti terkunci. Badan sudah lemas tak berdaya. Dia melakukan tindakan senonoh saat itu juga."
Sadin tampak merasa kesal dengan lelaki kurang ajar itu. Entahlah mengapa naluri lelaki akan selalu merasa marah jika ada seorang perempuan yang diperlakukan tidak seharusnya oleh lelaki lain. Apalagi jika menyangkut keluarga.
"Setelah yang dia lakukan kepada saya, saya hanya bisa menangis. Tiba-tiba dia berucap untuk meminta balikan lagi dengan perkataan yang nyelekit."
"Kamu sudah dinodai. Lelakimu takkan mau lagi denganmu!"
"Saya tetap menolak, tapi apa daya saya sebagai perempuan yang lemah dan dia sebagai lelaki yang memiliki tenaga jauh lebih besar."
"Dia membawa saya dan menenggelamkan kepala saya ke dalam bak mandi hingga akhirnya saya mati karena kehabisan napas."
"Tak hanya sampai di situ, mayat saya yang sudah tak bisa bergerak, masih saja digaulinya tanpa merasa bersalah. Saya sebagai arwah hanya bisa menangis melihat perilaku biadab mantan pacar saya itu. Dia mulai membawa saya menjauh dan membuang saya di belakang villa ini dalam keadaan sudah diperkosa dan dimutilasi sebagian tubuhnya hiks."
__ADS_1
Sadin menoleh ke arah wanita tersebut. Tubuhnya sudah seratus delapan puluh derajat berbeda dari yang dia lihat sebelumnya.
Kini dia memiliki rambut yang basah dengan badan yang sudah tak utuh lagi. Darah busuk terlihat menetes dari sela-sela jari tangannya. Sadin berusaha tak takut dan meneliti matanya yang terlihat sangat sayu itu. Ternyata dengan jahanamnya laki-laki itu juga mencongkel mata gadis berparas cantik itu hingga ke luar dari tempatnya.
Beberapa detik kemudian air mata Sadin sudah lolos dari tempatnya. Ia menangis. Ia merasakan kepiluan yang mendalam.
"Terima kasih sudah mendengarkan ceritaku. Kamu adalah orang yang baik. Jangan seperti mantan saya. Kamu pasti akan mendapatkan wanita yang baik sama sepertimu," ujar perempuan tersebut sambil berusaha mengembangkan sudut bibirnya dengan perlahan.
Berusaha menahan perih di sekujur badannya yang telah disiksa habis-habisan.
"Saya pergi. Permisi."
Blus...
Sadin masih tidak bisa menahan air matanya. Ia sudah berjanji tidak akan mencelakakan wanita lain hingga seperti itu. Karena dia mencintai embunya. Ia tidak mau embunya disakiti seperti itu oleh orang lain.
Ceklek...
"Din, ayo!" ajak Gembul sembari membenarkan celananya.
"Din? Nangis? Kenapa? Gembul kelamaan ke kamar mandinya jadi kamu sedih, ya?"
Pertanyaan Gembul langsung membuat Sadin tertawa lepas. Seketika rasa sedihnya tergantikan.
"Enggak gitu, kok, Gembul hiks..." Sadin berusaha menghapus air matanya.
"Balik ke kamar, yuk! Nanti lo tidur lagi aja. Gue mau sholat tahajud dulu," ujar Sadin sembari bersiap menggulung celana panjangnya.
"Lo mau duluan ke kamar atau tunggu gue?" tanya Sadin.
"Tunggu aja, hehehe," kekeh Gembul sembari menggaruk kepalanya.
Sadin hanya bisa tersenyum sembari masuk ke kamar mandi.
"Jangan lama-lama, Din!" pinta Gembul sembari menutup matanya dan memeluk dirinya sendiri.
Pyuh...
Gembul langsung membuka matanya saat tengkuknya terasa ditiup oleh seseorang.
"Sadin?" Gembul terlihat gemetar dan meneguk ludahnya sendiri.
Pyuh...
Tengkuknya kembali memanas karena hembusan napas seseorang. Gembul mulai menutup matanya lagi.
Bruk...
Ia terjatuh dan tepat di lantai.
Ceklek...
"Gembul?"
Sadin menoleh ke arah bawah dan mendapati Gembul yang tengah tepar dan tak bergerak.
__ADS_1
"Gembul, bangun! Astaghfirullah!!!"
Sadin langsung membantu Gembul yang setengah sadar itu untuk masuk ke dalam kamar lagi.