
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Langit sudah mulai menggelap menandakan azan maghrib akan segera berkumandang.
"Itu apa?" tanya Hyu sembari menunjuk ke arah sebuah tenda besar bertuliskan 'Ramal Masa Depanmu Di Sini!'.
"Gue enggak tau, Hyu. Kalau Lo
mau coba, coba aja, tapi kalau gue pribadi enggak percaya begituan," sahut Dinda sembari mengemil popcorn yang baru dibelinya tadi.
Hyu langsung menarik Dinda ke arah tenda tersebut. Entah mengapa kali ini rasanya ia sangat antusias untuk pergi ke tempat ramalan tersebut.
Hyu mulai menyibakkan tirai yang menghalangi jalan masuknya ke dalam tenda. Dia dapat melihat jelas sebuah perempuan berparas cantik dengan gaun hitam anggun duduk di depan sebuah bola ramalan. Wanita itu tengah asik memainkan ponselnya. Sangat jauh dari perkiraan peramal-peramal yang berada di televisi ataupun acara horor lainnya.
"Excuse me, Mrs. Good afternoon," sapa Hyu sembari tersenyum hangat.
"Uh, Don't call me Mrs. Call me Madam Yet," ralat wanita tersebut sembari menaruh ponselnya di atas meja.
"Wanita cantik berdarah China-Australia dan juga wanita agamis berdarah Jawa-Sumatera, ada yang bisa Madam Yet bantu?" tanyanya sembari tersenyum ramah dan memegang bola kristalnya.
"Kami ke sini hanya sekadar iseng-iseng saja–"
"Yes, iseng-iseng berhadiah," tukas Madam Yet sembari tersenyum hangat.
Ia mengambil beberapa kartunya dan mulai mengocoknya.
"Aku merasakan hal yang tidak enak akan terjadi pada orang terdekat kalian," ungkap Madam Yet sembari terus mengocok kartu tersebut.
Ia mulai membagi beberapa kartu tersebut menjadi tiga bagian di atas meja.
"Maksud Madam?" tanya Hyu dengan mimik wajah yang terlihat heran bercampur was-was.
"Ambil lah untuk membuktikan bahwa firasatku ini benar." Madam Yet tersenyum dengan tangan yang menuntun Hyu untuk memilih kartu yang tepat.
Dinda terlihat tenang sambil membuka bungkus snack yang kedua. Dari kecil ia tak pernah diperbolehkan percaya kepada peramal dalam bentuk apapun. Walaupun dia hadir di sini, seakan-akan telinganya tertutup dan tidak akan menyimpan informasi yang diberikan oleh perempuan bergaun hitam selutut itu.
"Temanmu sangat santai, yah. Apakah dia tidak ingin mengetahui apa yang akan terjadi?" tanya Madam Yet yang sengaja mengundang rasa penasaran Dinda.
"Biar Hyu saja. Saya masih percaya takdir Tuhan. Bagi saya ini hanya omong kosong belaka. Kalau ramalanmu benar pun, aku akan menyebutnya sebagai bonus keberuntungan saja," ujar Dinda dengan santai tanpa merasa bersalah.
"Aw!" Hyu mencubit Dinda dan berusaha memperingatkan perkataannya yang tidak sopan.
Dinda hanya bisa menatap Hyu dengan tatapan mata sinis.
"Gue ngomong apa adanya, Hyu!"
Madam Yet terlihat tersenyum.
"Baiklah. Aku tidak pernah memaksa seseorang untuk percaya akan sebuah ramalan. Bagi sebagian orang memang ramalan hanyalah sebuah lelucon belaka, tapi bagiku, ramalan adalah penentu masa depan," tutur Madam Yet.
"Kau atheist?" Pertanyaan yang ke luar dari mulut Dinda kali ini sangat membuat Hyu geram.
"Dinda! kamu–"
"Tidak apa-apa. Biarkan dia berdebat kecil denganku sedikit saja. Dia hanya ingin tahu," potong Madam Yet sembari tersenyum dan mengelus pundak Hyu.
"Aku bukan atheist. Aku seorang Nasrani," sahut wanita tersebut.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau menjadi peramal? Bukankah kau percaya adanya Tuhan dan takdir?" tanya Dinda dengan wajah yang tenang.
"Tuhan yang menyuruhku untuk menjelajahi dunia luar. Hingga aku sampai di titik ini. Di titik nyamanku," terang Madam Yet dengan setenang mungkin.
"Kau punya relasi apa dengan Tuhan? Mengapa Tuhan bisa langsung menyuruhmu?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja ke luar dari bibir mungil milik Dinda.
"Aku membuka mata batin," sahut Madam Yet.
"Di dunia ini mata batin adalah penghubung manusia dengan makhluk gaib. Bukan Tuhan." Sanggahan dari Dinda seketika membuat Madam Yet terdiam.
"Entahlah, intinya dengan meramal kehidupanku jauh lebih bahagia." Madam Yet mulai memoles kukunya.
"Ya, bahagia di dunia. Di akhirat, bagaimana?" Pertanyaan skak dari Dinda hanya bisa dijawab senyum seadanya oleh Madam Yet.
'Yang seperti ini mau dipercaya? Cih, jawab pertanyaan saja bisa skak,' batin Dinda sembari tersenyum miring.
"Aku pilih ini," ujar Hyu yang berusaha memberhentikan perdebatan di antara Dinda dengan Madam Yet.
Madam Yet mulai membuka satu persatu kartu tersebut.
"Kemenyan."
"Kematian."
"Mati."
"Tidak akan lama," ungkap Madam Yet yang tidak sama sekali dimengerti oleh Hyu.
"Maksudnya?" tanya Hyu bingung.
"Mati."
"Kematian."
"Tidak wajar."
Ungkapan itu berhasil membuat Hyu bertambah bingung.
"Ingat dengan yang kuucapkan di awal? Akan ada sesuatu yang tidak enak terjadi pada orang terdekatmu," terang Madam Yet kembali.
Hyu mengangguk tanda menyetujui.
"Ini. Kemenyan dalam kartu ini menandakan sebuah kematian. Kematian tidak wajar karena sebuah kesalahan dan hal ini terjadi tidak akan lama lagi," papar Madam Yet sembari tersenyum hangat.
"Ma-maksudmu, siapa?" tanya Hyu dengan kecemasan yang begitu besar.
"Aku tidak bisa membuka semuanya padamu. Aku hanya seorang peramal, bukan Tuhan. Jadi, aku tidak bisa mendahului takdir dengan mengucap siapa yang akan mati," terang Madam Yet seraya melirik ke arah Dinda yang tengah tersenyum miring ke arahnya.
"Apakah semua itu tidak bisa ditunda?" Pertanyaan tersebut tiba-tiba saja membuat Dinda tertawa kencang.
"Bodoh lo, Hyu. Tadi kan dia sudah menjelaskan bahwa dia bukan Tuhan. Mana mungkin dia bisa menunda atau merubah keadaan," sindir Dinda perlahan.
Sekali lagi, Madam Yet hanya bisa tersenyum.
Kecemasan Hyu terlihat meningkatkan berkali-kali lipat. Ia berusaha menetralisirkan rasa cemas dan khawatir tersebut, tapi tidak bisa.
__ADS_1
"Kalian boleh percaya atau tidak. Yang jelas aku hanya menyampaikan saja," tegas Madam Yet sembari membuka penglihatannya pada bola ramal.
"Sepertinya ada sesosok makhluk yang mengikuti kalian sedari tadi. Apakah dia peliharaan kalian?" Pertanyaan Madam Yet seketika membuat Hyu langsung menatap Dinda yang terkesan tak acuh.
"Wanita berkebaya hijau?" tanya Hyu memastikan.
"Betul," balas Madam Yet sembari tersenyum.
"Usir dia bisa enggak?" Pertanyaan Dinda terdengar menantang di telinga Madam Yet.
"Aku hanya seorang peram–"
"Ya, dan kau bukan Tuhan. Jadi, jangan berusaha mendahului takdir," potong Dinda sambil tersenyum meremehkan.
Madam Yet terlihat mengembuskan napasnya secara perlahan.
"Dinda! Hyu!" Teriakan dari luar tenda berhasil membuat kedua wanita itu langsung melongok ke arah luar tenda.
"Terima kasih, Madam. Ini bayarannya." Hyu terlihat memberikan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Tidak usah. Ambil lah. Untukmu kali ini gratis," tolak Madam Yet sembari tersenyum hangat.
"Benarkah? Terima kasih, Madam. Semoga kau sehat selalu," harap Hyu sembari berpamitan dan menyusul Dinda yang sudah terlebih dahulu ke luar dari tenda.
"Kalian ke mana aja, sih? Udah maghrib begini masih keluyuran. Besok kita kan harus ke rumah sakit. Kalau tiba-tiba kalian sakit gimana?" Pertanyaan Rafles berhasil memojokkan Dinda dan juga Hyu.
"Ya, tinggal dirawat di rumah sakit itu," timpal Sadin sambil tertawa.
"Ih, ogah!" tolak Dinda sambil memutar bola matanya dengan jengah.
"Kalian habis ngapain?" tanya Saben dengan heran.
"Kepo aja!" sahut Dinda dan Hyu bersamaan.
"Eh, bambang! Kita nih panik nyariin lo berdua. Itu handphone kenapa enggak dibawa, Din? Lo juga Hyu, handphone lo kenapa enggak aktif?" tanya Sadin dengan geram.
"Gue diisengin tadi sama si hantu kebaya hijau. Mamah tau, kok. Gue malas buat cerita lagi," sahut Dinda sambil memakan snack untuk yang ketiga kalinya.
Beruntunglah dia banyak membeli persediaan snack.
"Kalau aku, kehabisan baterai. Buat hubungi Papah saja tidak bisa," sahut Hyu sembari memperlihatkan ponselnya yang mati.
"Kayak kembar kalian tuh. Ada aja kesamaannya. Liat aja tuh sepatunya bisa sama," tunjuk Rafles ke arah sepatu yang dipakai kedua sahabat perempuannya itu.
"Eh, iya. Kok bisa sama, ya? Lo beli di mana sepatunya?" tanya Dinda yang mulai mendekatkan sepatunya ke arah sepatu Hyu.
"Di mall waktu koko ulang tahun," sahut Hyu sambil tersenyum.
Koko adalah panggilan Hyu untuk kakaknya.
"Yah, kalau gue sih jelas di Pasar Klener. Harganya pasti beda lah. Iya enggak?" tanya Dinda memastikan sembari tertawa.
"Eh, perempuan ribet deh kalau sudah bicara soal barang. Udah, yuk pulang!" ajak Saben sembari berjalan terlebih dahulu.
Mereka pun serempak meninggalkan Pasar Sore yang sebentar lagi akan tutup.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, Madam Yet terlihat memandangi dari kejauhan. Menelusup dan menerawang satu-persatu wajah para remaja tersebut. Ia tersenyum sambil membuka buku catatannya dengan judul 'Catatan Kematian'. Dituliskannya salah satu nama dan segera menutup buku tersebut.
"Kasihan sekali," lirihnya sembari fokus kepada pengunjung lain yang mulai datang.