Jejak Sadin

Jejak Sadin
26. MATI


__ADS_3

Gembul mempercepat laju kendaraannya. Kini mereka telah berada di rumah sakit angker tersebut. Bukan angker, lebih tepatnya mematikan.


"Sial. Kalau enggak karena sahabat, ogah banget gue datang ke rumah sakit ini lagi!" maki Dinda sembari membuka pintu dan ke luar dari mobilnya itu bersama dengan Hyu.


Sebuah rumah sakit yang sangat terkutuk itu kini terpampang jelas di depan mereka. Tidak, bukan untuk sebuah penelusuran lagi, tetapi untuk mencari temannya yang kini dalam bahaya.


"Duh, Rafles, lo di mana?!" teriak Sadin sembari tangannya yang meninju di udara.


"Hihihihi."


"Hahaha." Suara tertawa sundel bolong dan juga genderuwo berhasil membuat Tim Jejak Sadin langsung mencari asal suaranya.


"Kayaknya enggak jauh dari sini, nih," ucap Saben sembari mencari-cari dan mulai mengandalkan instingnya.


Hyu mulai menampakkan wajah paniknya saat melihat Rafles tengah berada di antara genderuwo dan juga sundel bolong tepat di pinggiran sebuah sumur besar yang lumayan tinggi.


"Ra–rafles! I–itu!" Hyu mulai berlari disusul oleh teman-temannya yang juga mulai panik.


"Rap! Rap sadar! Turun ke sini Rap! Jangan ikut mereka!" Teriakan dari Sadin nampaknya tak dihiraukan sedikit pun oleh Rafles.


Sepertinya lelaki itu sudah dalam pengaruh tumbal guna-guna.


"Hahahaha! Kalian rasakan itu! Siapa suruh bersekutu dengan kami! Ingat lah, kami ini adalah musuh terbesar bagimu, manusia. Untuk apa berdoa pada kami? Sedangkan di antara kami saja ingin minta didoakan olehmu! Tidak punya otak!" Suara genderuwo itu terdengar sangat menggelegar.


Hyu nampak menangis histeris. Sadin tiba-tiba saja lari. Hal yang dilakukannya itu membuat yang lain bingung harus berbuat apa. Saben masih tetap fokus merekam dalam diam.


"Aku bersahabat dengan genderuwo. Genderuwo harus membagi hasilnya kepadaku. Rafles akan tenang di sana denganku hihihihi!" Elin tertawa seram bak kuntilanak.


Sepertinya Elin tidak tahu diri. Sudah punya suami dan anak yang meninggal pun masih menginginkan berondong.


"Hiyaaaaaaa!" Sadin berniat menyodorkan pisau belatinya sesaat sesudah berada di dekat kedua hantu jejadian itu.


Sundel bolong dan genderuwo itu langsung menghindar dengan cekatan. Ia juga terus membawa Rafles tanpa dilepas dari genggaman sedikit pun.


"Kau tidak akan bisa membawa Rafles! Dia sudah menjadi milikku!" teriak Elin sembari berpegangan kuat ke arah Rafles dan genderuwo.


Tak ingin diam saja, Gembul pun memberanikan diri untuk membantu Sadin. Ia menyiramkan air yang sudah dibacakan doa dari ayat-ayat suci. Sundel bolong dan genderuwo itu kecipratan dan rasa panas mulai menjalar perlahan ke tubuhnya.


Sadin berusaha menarik Rafles saat sundel bolong itu mulai kewalahan, tetapi hantu itu tak hanya diam, dia melakukan perlawanan lagi.


Saben mulai menaruh kameranya. Bunga-bunga yang masih berada di tasnya, kini ia kibas-kibaskan ke arah makhluk-makhluk itu.


Dua makhluk Itu sudah lelah, tetapi energi kuatnya itu membuat mereka masih memiliki kesempatan untuk terus bertarung melawan tiga orang lelaki yang berada di depannya.


"Hahahaha!"


"Saatnya, Wo! Saatnya!"


Sundel bolong itu terbang dan mulai menarik Rafles dengan kasar. Disusul dengan genderuwo yang mulai menampakkan giginya dan tajam dan bersiap untuk menerkam tiga orang dari Jejak Sadin.


Tiga orang yang sudah ketakutan itu mulai lari menjauh. Sundel bolong bersama degan Rafles itu akhirnya itu bergandengan tangan dengan genderuwo juga.


"Selamat tinggal!"


"Tidak, Rafles!"


Kedua makhluk itu bersama-sama memegang Rafles dan menerjunkan diri mereka ke dalam sumur tua yang sudah tidak terpakai lagi. Bagai tertampar dalam sebuah mimpi, semua yang menyaksikannya langsung syok dan menangis dengan keras.


Mereka semua gagal. Ya, mereka semua gagal menjadi sebuah teman. Kini temannya sudah ikut menjadi tumbal atas guna-guna yang dilakukan oleh Saben.


"Ini semua gara-gara lo, bodoh!" Dinda yang sudah menangis kencang berniat mendekat ke arah Saben untuk memberikan pelajaran lagi.


Sayangnya hal itu langsung ditahan oleh Sadin.


"Istighfar, Dinda!" gertak Sadin.


"Lebih baik kita cek di dalam sumur sekarang! Masih ada waktu untuk menolong teman kita!" Sadin segera meyakinkan yang lain untuk mendekat ke arah sumur.

__ADS_1


Sumur itu nampak bau dan basah oleh genangan air hujan yang tak pernah menguap. Di dalam sana terpampang jelas Rafles yang sudah terjatuh dengan tubuh kaku tanpa sedikit pun pergerakan.


"Rafles! Enggak mungkin! Aku enggak mau kehilanganmu!" Teriakan Hyu yang sangat histeris itu berhasil membuat teman-temannya semakin ikut sedih dan menangis satu sama lain.


Semua salah. Tidak ada yang perlu disalahkan lagi. Semua salah karena masih tetap kekeh untuk pergi ke rumah sakit jadi-jadian ini.


Drt ... drt ....


Ponsel Gembul yang hanya digetarkan saat terdapat telepon masuk pun mulai mengganggu fokus dari teman-temannya.


"Assalamu'alaikum, Ayah."


"Waalaikumussalam, Gembul. Kamu di mana? Kapan pulang? Kamu baik-baik saja, 'kan?" Suara besar dari seberang telepon terdengar sangat khawatir dan panik.


Gembul melihat ke arah Sadin. Berusaha untuk meminta persetujuan antara bicara soal Rafles atau tidak.


"Bicara saja. Kita butuh bantuan orang sekarang untuk mengangkat Rafles," ujar Sadin yang nampak menunduk dan mengacak-acak kepalanya dengan kasar.


"Gembul?"


"Alhamdulillah, Gembul baik-baik saja, tapi ...."


"Tapi kenapa, Mbul?"


"Teman Gembul ada yang jatuh ke sumur, Ayah. Ayah bisa tolong hubungi keluarganya? Bawa ambulance atau apapun ke sini untuk membantu mengangkatnya. Secepatnya, ya, Yah. Nanti Gembul share loc ke Ayah hiks," ujar Gembul sembari menangis lebih kencang lagi.


"Astaghfirullahal'adzim. Keadaannya bagaimana sekarang?"


"Gembul juga enggak tau, Yah hiks. Tolong secepatnya, ya."


"Baik, Nak. Kamu coba untuk tetap tenang dan berdoa, ya. Jangan panik atau pun gegabah. Minta perlindungan pada Allah."


"Iya, Yah."


"Baik. Sudah ya, assalamu'alaikum."


Brug ....


Hyu tiba-tiba saja pingsan. Dengan cekatan, Gembul langsung membantu mengangkat Hyu dan mengamankannya ke dalam mobil. Semua yang ada di sini hanya bisa menyesali perbuatan dan juga berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Perjalanan dari rumah mereka ke sini cukup lama. Mustahil kalau Rafles masih bisa diselamatkan. Itu lah yang sekarang sedang berada di pikiran mereka.


"Coba pakai tali saja," saran Dinda yang tak kuat melihat sahabatnya di dalam sumur tua itu.


"Kalau yang jatuh enggak merespon, bagaimana bisa kita ambil? Kita butuh alat yang lebih banyak dan lengkap untuk melakukan hal seperti itu. Kalau salah ambil tindakan, habis sudah kita." Ucapan Sadin tersebut membuat yang ada di sana mengangguk setuju.


"Lebih baik kita laksanakan sholat Dhuha di lapangan dekat sana. Kita mohon petunjuk dan perlindungan untuk Rafles kepada Allah. Semoga saja masih sempat untuk diselamatkan," saran Sadin sembari tersenyum.


👀


Sebuah mobil ambulance dan pemadam kebakaran datang ke sini. Dengan cekatan, pemadam kebakaran mencoba untuk turun ke bawah dan menarik Rafles yang nampaknya sudah kedinginan.


"Rafles!" Ambu terlihat sangat depresi dan langsung memeluk tubuh Rafles yang sudah sangat kaku itu dengan penuh kasih.


Salah seorang dari petugas ambulance langsung mengecek denyut nadi milik Rafles.


"Maaf, Bu. Pasien sudah tidak bisa diselamatkan," ucapnya dengan sangat berat.


"Enggak! Enggak mungkin, Pak! Anak saya masih hidup, 'kan? Anak saya masih bisa hidup, Pak! Tuhan pasti memberkatinya!" Teriakannya berhasil membuat siapapun yang melihatnya akan mengiba.


"A–ambu, maafkan Hyu yang gagal jaga Rafles," ucap Hyu sembari memeluk tubuh Ambu dari belakang.


Ambu yang tak terima itu langsung mendorong keras tubuh Hyu hingga terhuyung ke belakang.


"Pergi kalian semua! Gara-gara kalian, saya jadi kehilangan anak kesayangan saya! Gara-gara kalian, Rafles jadi durhaka pada saya! Seharusnya dia nurut untuk tidak ikut dengan genk kalian yang kurang ajar itu!" Ambu memaki-maki semua teman-teman Rafles.


Tim JS tau, ini benar-benar salah mereka. Jadi, wajar saja bila ambu Rafles benar-benar tidak akan terima jika anaknya meninggal seperti ini. Semua Ibu pasti akan merasakan hal yang sama. Terpuruk, terpukul, dan hanya bisa menyesal.


"Saya akan laporkan kalian ke kantor polisi!"

__ADS_1


"Bu, sudah, ya, jenazah harus segera diangkat. Baunya sangat menyengat sekali karena air kotornya, Bu," tegur seorang petugas medis dan langsung menggotong Rafles untuk masuk ke dalam ambulance.


Semua benar-benar terpukul. Ambulance tersebut langsung melesat dan membawa Rafles langsung ke rumah orang tuanya.


Orang tua dari semua Tim JS sudah hadir dan langsung memeluk anaknya masing-masing dalam diam. Embu Sadin terlihat menatap kosong ke arah Sadin sesaat. Ia mulai menampakkan wajah sedihnya dan mulai memeluk anaknya itu.


"Sadin, apa yang terjadi, Nak? Ibu enggak percaya kalau Rafles sudah ndak ada. Rafles anak yang baik, toh, Din. Kenapa bisa sampai begini?" tanya Embu sembari membelai rambut halus milik Sadin.


"Maafin Sadin dan teman-teman, Embu. Ceritanya panjang. Lebih baik kita susul Rafles dulu ke sana, Mbu," ujar Sadin sembari menepuk pundak embunya dan tersenyum singkat.


👀


Suasana semakin kelabu saat peti besar datang dan dimasukkan ke dalam rumah Rafles. Tim Jejak Sadin baru saja datang dan hendak masuk ke dalam untuk melihat suasana yang lumayan ramai. Semua teman-teman, baik teman kampus maupun teman sekolahnya dulu, hadir menyaksikan Rafles untuk yang terakhir kalinya.


"Ngapain kalian ke sini?!" Gertakan dari ambu Rafles berhasil membuat semua orang terkejut dan langsung saling berbisik.


"Ambu, maafkan Sadin. Sadin sudah berusaha saling jaga antar teman, tapi rupanya takdir berkata lain, Mbu," Sadin berlutut di depan Ambu.


Dengan kasar Ambu langsung menendang Sadin untuk menjauh.


"Cih! Sekarang setelah kematian anak saya, baru kamu menyesal dan minta maaf? Apa berguna? Hah?" Ambu menyalahkan Sadin sembari menunjuk-nunjuk ke arahnya dengan sangat tidak sopan.


"Pergi!"


"Ambu, maaf, kami sudah berusaha untuk saling menjaga, Ambu. Ini bukan salah siapa pun. Ini salah semuanya," ujar Saben dengan nada yang lumayan rendah agar tak terkesan membentak.


"Kalian menyalahkan anak saya, hah? Pergi! Saya akan laporkan kalian semua ke polisi?!" murka Ambu sembari berniat menonjok Sadin dan juga Saben.


"Bu, sudah!" Abah Rafles datang sembari menengahi permasalahan yang tengah terjadi.


"Ambu fokus ke Rafles, ya. Biar Abah yang urus anak-anak," ujar Abah Rafles sembari tersenyum.


Ambu melihat ke arah Abah Rafles sesaat. Ia menyiniskan matanya ke arah Tim Jejak Sadin dan langsung pergi.


Abah Rafles menatap satu persatu di antara Tim JS. Lama tatapan tersebut mengintimidasi, Abah Rafles pun tersenyum sejenak yang membuat mereka kebingungan.


"Abah tau kalian seperti apa. Abah tau pertemanan kalian seperti apa. Abah juga tau, kok, kalian pasti akan menjaga satu sama lain." Ucapan Abah Rafles itu membuat masing-masing dari mereka mulai lega.


"Kesalahan ini bukan salah siapa-siapa. Semua sudah takdir yang sudah Tuhan gariskan. Abah perhatikan kalian sudah meminta maaf sedari tadi, 'kan? Abah tau permintaan maaf kalian itu sangat tulus dari hati." Abah menepuk pundak Sadin, orang yang paling dekat posisinya dengan dirinya.


"Abah sudah memaafkan kalian. Dan Abah bisa jamin ke kalian kalau Ambu enggak akan laporkan kalian ke polisi, kok. Abah janji." Abah tersenyum dengan sangat ramah.


"Ambu sebetulnya sudah memaafkan. Hanya saja mungkin dia masih sangat terpukul atas kepulangan Rafles ke pangkuan Tuhan. Kalian boleh hadir nanti di pemakaman, tapi usahakan untuk tidak terlihat di hadapan Ambu. Abah takut Ambu akan mengamuk dan membuat suasana tidak kondusif seperti tadi. Pasti kalian mengerti maksud Abah, bukan?" Pertanyaan Abah barusan langsung membuat mereka mengangguk.


"Kalau begitu, terima kasih banyak, Abah. Kami izin menepi dulu ke tempat lain. Nanti kalau mendiang sudah mau dimakamkan, tolong kabari kami, ya, Abah," pesan Sadin sembari tersenyum dan memeluk Abah Rafles.


Saben pun ikut berpelukan. Sadin dan Saben memang sudah dianggap seperti anak abah Rafles sendiri.


"Iya, Din, Ben. Sabar, ya, Rafles pasti tenang di pangkuan Tuhan. Kalian bertiga memang benar-benar sahabat klop dari kecil," ujar Abah sembari tersenyum dan melepaskan pelukannya.


"Iya, Bah. Permisi."


"Hyu?" Abah memanggil nama Hyu ketika gadis itu hanya diam saja dan tak memperlihatkan tangisnya sedikit pun di sini.


"Eh, i–iya, Bah." Sahutan yang dilayangkannya terasa kaku dan benar-benar terdengar bingung.


"Kamu enggak sedih Rafles meninggal? Enggak mau lihat Rafles untuk yang terakhir kalinya?" tanya Abah yang langsung membuat yang lain khawatir jika Hyu tak kuat untuk menjawabnya.


Namun kini yang dilihat adalah senyuman Hyu yang benar-benar menawan.


"Maaf sebelumnya, Abah. Hyu memang sedih, Hyu terpukul, dan juga sangat merasa kehilangan, tetapi Hyu dan Rafles sudah putus saat di sana. Jauh di dalam lubuk hati Hyu, Hyu masih sangat menyayangi Rafles, tapi mungkin untuk memperlihatkan kesedihan ke orang lain, Hyu tidak bisa. Karena Hyu sadar, Hyu bukan siapa-siapanya." Ucapan Hyu barusan membuat semua yang ada di sana ikut merasakan rasa pilu yang dibawa oleh Hyu.


"Abah enggak tau, Hyu. Maaf, ya. Kamu tetap Abah anggap seperti anak Abah sendiri," ucap Abah sembari menepuk pundak Hyu.


"Terima kasih, Abah."


"Ya sudah. Kalian hati-hati, ya."

__ADS_1


"Baik, Abah. Permisi," ucap Hyu dan juga yang lainnya.


__ADS_2