
Suasana kampus pada siang ini terbilang cukup sepi. Sadin terlihat tengah duduk di salah satu kursi taman setelah kelas selesai.
Beberapa pikiran mengenai teror dari si hantu berkebaya hijau masih terus berkecamuk di kepalanya. Apa sebenarnya mau dari hantu tersebut?
Iseng-iseng Sadin mulai membuka laptopnya dan mencari beberapa pengetahuan mengenai hantu kebaya hijau itu di internet.
Nyatanya, cerita yang ke luar berbeda-beda dari satu artikel ke artikel lainnya. Berarti dapat ditegaskan bahwa tidak ada kemunculan tanda-tanda yang membahayakan. Mungkin saja hantu kebaya hijau itu hanya iseng atau bahkan halusinasi semata?
Sekali lagi, pikiran Sadin tetap meresapi setiap peristiwa ganjil yang dialaminya secara bertubi-tubi. Mungkin saja ada suatu kesimpulan yang bisa ditarik dari berbagai rangkaian peristiwa tersebut.
Puk...
"Allah!"
"Eh? Kaget, tah? Maaf, Din," ujar seseorang sambil menaruh tasnya dan duduk di sebelah Sadin.
"Ya ampun, kenapa?" tanya Sadin pada Dinda yang kini telah tersenyum ke arahnya sambil memakan sebuah roti keju.
"Eum, gapapa, sih. Lo nanti pulang sama siapa? Nebeng boleh, 'kan?" tanya Dinda dengan ramah.
"Boleh, kok. Lo minta nebeng kayak sama siapa aja, deh," tutur Sadin sambil tertawa.
"Yang lain mana?" tanya Sadin sambil melihat-lihat ke arah lain.
"Kayaknya di kantin, deh–"
"Dinda? Aku nyariin kamu ternyata kamu di sini, ya?" ucap seorang lelaki dengan senyuman yang mengembang.
"Ngapain?" ketus Dinda sembari membuang pandangan wajahnya dari lelaki itu.
"Eh, eum, masalah yang ikut ke rumah sakit," ujar seseorang yang ternyata adalah Gembul.
"To the point aja. Lo mau ikut atau enggak?" tanya Dinda dengan tak bersahabat.
"Din, ngomongnya yang enak, coba!" tegur Sadin kepada sahabatnya itu.
Dinda hanya melirik Sadin dengan sinis.
"Euh, gini, aku mau ikut, kok." Ucapan Gembul berhasil membuat Dinda tersenyum miring.
Benar tebakan teman-temannya kalau lelaki itu pasti ikut. Dasar bucin.
"Oke."
"Eh, gue dapat WhatsApp dari Rafles, katanya kita harus ke kantin sekarang untuk atur jadwal yang lengkap. Besok kita tinggal beres-beres sekalian istirahat," ujar Sadin sembari membawa laptopnya yang malas ditutup itu.
"Gembul, ikut, yuk!" ajak Sadin sambil tersenyum ramah.
"Apa, sih? Kenapa segala diajak, coba?" Dinda terlihat menatap sinis ke arah dua lelaki itu secara bergantian.
"Lo kenapa, sih? Dia kan yang nantinya mau meminjamkan mobil untuk kita. Kalau lo nya kayak begitu, mending pinjam ke orang lain aja, deh. Enggak enak gini gue jadinya. Masa kita yang pinjam, tapi orangnya kita maki-maki? Lo sadar enggak, sih, ngomong kasar kayak begitu?" Ucapan Sadin membuat Dinda terdiam beberapa saat.
Sadin tak berniat memarahi Dinda. Hanya saja kali ini kelakuan Dinda sudah mencapai batas tidak wajar.
"Eh, enggak apa-apa, kok, Sadin. Aku bisa mengerti soal itu," ujar Gembul menengahi.
Lelaki berperawakan tinggi dan kurus itu tersenyum dengan rasa yang tidak enak hati atas pertengkaran dua sahabat itu. Ya, Gembul hanyalah sebuah nama. Aslinya, Gembul tidak memiliki badan yang besar ataupun lebar, lebih cenderung ke arah kerempeng sepertinya.
"Kalau lo masih mau kayak gitu, pulang sana! Kayak bocah aja," sindir Sadin yang memang terkesan blak-blakan.
Dinda terlihat menarik napas dalam-dalam.
"Maaf," ujarnya sembari berjalan terlebih dahulu ke arah kantin.
Sadin hanya bisa menggelengkan kepala atas kelakuan sahabatnya itu.
"Maafin Dinda soal yang tadi ya, Bro! Jangan dimasukkan ke hati," ujar Sadin sambil menepuk pundak Gembul.
"Enggak apa-apa, Din. Aku bisa paham. Kamu beruntung banget bisa kenal dekat dengan Dinda. Padahal Dinda garang, 'kan?" ujar Gembul sembari memastikan.
Sadin terlihat tertawa.
"Namanya juga sahabat, Mbul. Susah-senang, kelebihan-kekurangan, ya harus diterima apa adanya," tutur Sadin sambil tersenyum.
"Weh, juragan sudah datang! Eh, ada Gembul juga, ya? Duduk sini," ajak Saben mempersilakan Gembul duduk di sampingnya.
"Eh, iya terima kasih," sahut Gembul sembari tersenyum.
"Oh iya, teman-teman kata my uncle, kalau kita mau ke sana, kita harus mendapatkan izin terlebih dahulu. Izinnya harus beberapa hari sebelum pergi ke sana. Karena surat izinnya keluar satu hari setelahnya. Jadi, apakah ada yang mau pergi ke sana mendahului yang lain? Kalau siap bolak-balik, ya, enggak apa-apa, tapi kalau mau pulang lagi juga enggak apa-apa. Maunya bagaimana?" tanya Hyu sembari menyesap cappucino latte yang baru saja diantarkan.
"Gue bisa," ujar Sadin sambil membuka bekal makanan yang selalu disiapkan embunya.
"Gue nemenin Sadin, deh," sahut Rafles yang memang sangat dekat dengan Sadin.
__ADS_1
"Gue juga–"
"Enggak!" tukas Sadin dan Rafles bersamaan.
Dinda langsung menatap sinis ke arah kedua lelaki itu.
"Kenapa?" tanya Dinda dengan wajah kesal.
"Ribet!" sahut Sadin dan Rafles bersamaan.
"Gembul, nanti lo ikut, ya. Masalah nyetir, nanti bisa ganti-gantian sama gue. Lo bisa bawa mobil, 'kan?" tanya Rafles memastikan.
"Bisa, Rafles."
"Panggil Rap aja. Jangan Rafles. Kita udah anggap kamu teman, kok. Jadi, jangan canggung, ya" ucap Rafles sambil merangkul Gembul.
"I–iya," sahut Gembul terbata sambil menggaruk kepalanya.
"Nanti kalian semua ingin jalan jam berapa?" tanya Hyu sambil mencatat sesuatu yang sekiranya penting.
"Kalau siang ini, bisa enggak lo, Mbul?" tanya Sadin.
"Oh, bisa," sahut Gembul sembari membuka ponselnya.
"Kebetulan teman Papah lagi enggak ada yang pinjam mobil," tambah Gembul.
"Bagus. Semoga saja kita sampai di sana enggak terlalu sore. Urus surat habis itu pulang," ujar Rafles sambil memakan soto ayam kesukaannya.
👀
"Berkasnya ada yang kurang, tidak?" tanya Hyu kepada teman-temannya yang akan segera pergi ke tempat daerah yang dituju.
"Kayaknya enggak, deh. Nanti tinggal kirim lewat pap aja kalau ada berkas dokumen yang ketinggalan," ujar Rafles sembari membantu Sadin merapihkan beberapa map yang berceceran.
Sementara Gembul tengah memanaskan mobilnya yang hendak digunakan.
"Jangan kebanyakan bercanda atau nyanyi-nyanyi. Banyakin doa," perintah Dinda.
"Siap, nyonya Sadin."
Pletak..
"Makan, tuh!" ketus Dinda kepada Rafles.
"Hati-hati di jalan, ya," ujar Saben sambil melambaikan tangan pada Sadin dan Gembul yang sudah masuk mobil.
"Kalian doakan kita supaya surat izinnya bisa cepat-cepat didapatkan," ujar Rafles yang kemudian Hi-five dengan sahabatnya yang lain.
"Siap!"
"Bye!" sorak Rafles sambil melambaikan tangan dan segera masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Diiringi dengan suara musik tahun 90'an, rasa-rasanya suasana siang ini terbilang lebih tenang.
Perjalanan ke sana memang membutuhkan waktu yang lumayan lama. Jadi, skill menyetir harus benar-benar di atas rata-rata agar tak pulang terlalu malam.
"E–eh! Tabrakan itu woy!"
"Eh, awas, Mbul. Rem!"
"Aaaaaa!"
Cit...
Dengan cekatan akhirnya mobil Gembul berhenti. Tepat di depan mereka, kini telah terpampang jelas tabrakan antara sedan putih dan juga kereta api.
"Astaghfirullah!"
Sedan tersebut habis terlindas kereta. Kereta yang masih mempunyai daya mesin untuk berjalan pun langsung mental seketika. Beruntunglah tidak mengenai mobil yang mereka kendarai.
Semua yang ada langsung menutup matanya dan enggan melihat langsung kejadian itu sedikit pun.
"Badan gue lemes, Bro," tutur Sadin sambil memegang dadanya.
"Kita ke luar atau langsung cari jalan lain aja?" tanya Gembul yang terlihat sudah mual.
Tok... Tok... Tok...
"Mas?" panggil seseorang dari luar kaca jendela.
Dengan masih agak lemas, Sadin membuka kaca jendela.
"A–ada apa ya, Pak?" tanya Sadin dengan sedikit terbata.
__ADS_1
"Lanjut saja, Mas," ucap Bapak itu sambil menunjuk jalanan depan.
"Hah? Bagaimana maksudnya, Pak?" tanya Rafles dengan bingung.
"Dilanjut saja jalannya, Mas," ulang Bapak itu lagi.
"Tapi di depan ada tabrakan, Pak," ucap Gembul.
"Tuh, kan benar!" tukas Bapak itu.
"Benar apanya?" tanya Rafles yang terlihat bingung.
"Monggo istirahat dulu, di kedai sebelah sana, Mas," ajak sang Bapak sambil menunjuk ke arah kedai kecil pinggir jalan.
"Tapi kami sedang buru-buru, Pak."
"Alangkah baiknya mas-mas sekalian duduk terlebih dahulu," ajak Bapak itu sekali lagi.
Rafles dan Gembul menoleh ke arah Sadin untuk meminta persetujuan.
"Iya, Pak," sahut Sadin yang mengajak Rafles untuk segera turun.
Gembul memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
Di antara Sadin, Rafles, atau Gembul, tidak ada yang berani melihat ke arah tabrakan tersebut. Jangankan melihat, melirik saja bisa membuat badan seketika tumbang.
"Mbak Asti, tolong kopinya empat," pinta Bapak itu sambil menyuruh ketiga lelaki tampan itu duduk.
Sadin langsung duduk diiringi dengan kedua temannya.
"Adik ini dari mana mau ke mana?" tanya Bapak itu sembari menyodorkan sepiring gorengan yang masih hangat.
"Dari Bagelen mau ke Hospital Guard, Pak," sahut Sadin dengan tersenyum ramah.
"Oalah."
"Ini kopinya, Pak, Mas," ucap seorang Mbak yang kemungkinan namanya adalah Asti.
"Terima kasih, Mbak. Monggo diminum dulu," tawar Bapak itu sambil menyesap kopinya terlebih dahulu.
"Enggeh, matur suwun, Pak," ucap Sadin sambil tersenyum.
"Sampean ini jenenge sopo?" tanya Bapak itu sembari menaruh kopinya.
"Nama saya Sadin. Ini teman saya, Rafles dan Gembul," ucap Sadin memperkenalkan.
"Kalau Bapak sendiri namanya siapa?" tanya Rafles berusaha akrab.
"Saya Masigih," sahut Pak Masigih sambil tersenyum.
"Sekarang kalian tengok ke arah tabrakan tadi," ujar Pak Masigih sambil menunjuknya dengan dagu.
Ketiga pemuda itu langsung terkejut seketika. Hawa dingin mulai menjalar pada diri Sadin. Rafles merasakan badannya yang kaku. Gembul hanya bisa tergeming di tempatnya dengan keringat dingin yang tiba-tiba bercucuran.
"Kecelakaan itu terjadi tepat delapan belas tahun yang lalu. Yang kalian lihat tadi adalah gambarannya. Ya, bisa dibilang tadi hanya halusinasi," terang Pak Masigih sambil memantik korek api dan menempelkannya pada sebuah rokok kretek.
Sadin, Rafles, dan Gembul masih terlihat tidak percaya atas apa yang tengah dialaminya saat ini. Mereka bertiga masih setia mendengarkan penjelasan dari Pak Masigih.
"Tabrakan tersebut memang melenyapkan sebuah mobil sedan putih yang dipakai oleh tiga orang remaja laki-laki seperti kalian. Konon katanya, bagi tiga remaja lelaki yang lewat sini akan melihat langsung gambaran kejadian tahun 2000-an tersebut," tutur Pak Masigih.
"Setiap tiga remaja laki-laki yang lewat akan melihat hal tersebut, Pak?" tanya Sadin memperjelas.
"Iya. Maka dari itu, berdoalah kalian selama di perjalanan. Beruntunglah kalian tidak banting stir mobil. Kalau iya, bisa jadi kalian yang akan tabrakan di sini," ujar Pak Masigih sambil menyesap kopinya kembali.
"Ada yang pernah seperti itu, Pak?" tanya Gembul yang mulai berani berbicara.
"Ada. Untungnya hanya mobilnya saja yang rusak. Alhamdulillah orang di dalamnya masih selamat," jelas Pak Masigih sambil mengepulkan asap rokoknya dengan lihai.
Sadin menoleh ke arah jam tangannya. Sudah pukul tiga sore rupanya.
"Kalau begitu, kami izin pamit, Pak. Kami harus segera sampai pada pukul empat sore," izin Sadin yang langsung berdiri disusul oleh kedua temannya.
"Oalah, monggo. Lain kali hati-hati, yo," ucap Pak Masigih sambil tersenyum dan ikut berdiri.
"Kami lewat sini bisa, Pak?" tanya Rafles sambil menunjuk rel kereta tersebut.
"Gapapa. Asalkan jangan lupa berdoa, ya," nasihat Pak Masigih dengan ramah.
"Enggeh, Pak. Mari," ujar Sadin sambil tersenyum ke arah bapak-bapak lain yang tengah nongkrong di warkop.
Sadin, Rafles, dan Gembul mulai melewati jalanan rel kereta tersebut dengan Gembul yang masih menyetir. Rafles hanya diam ketika bayangan yang hanya dirasakannya itu muncul. Betapa pedihnya rintihan tiga remaja yang tertabrak kereta delapan belas tahun silam. Bau anyir yang menyeruak ke dalam indera penciuman Rafles mulai membuatnya mual mendadak.
"Lo gapapa?" tanya Sadin yang mulai memperhatikan gerak-gerik Rafles yang mulai mencurigakan.
__ADS_1
Rafles hanya menggeleng dan mulai memasang earphonenya. Berharap tak ada kejadian gila lagi di perjalanan selanjutnya.