Jejak Sadin

Jejak Sadin
30. Kiyai Majid - END


__ADS_3

Bapak yang tidak diketahui namanya itu kini mengantarkan kami ke depan sebuah rumah yang sederhana namun terkesan apik dan benar-benar berhawa baik. Bangunan bergaya Belanda-Eropa ini mulai menarik perhatian mata untuk menelisir di setiap sisinya. Di depan pekarangan rumahnya terdapat tanaman hijau segar serta bunga-bunga berbau harum.


Di depan halamannya terdapat mobil dan beberapa motor yang terparkir. Sempat terpikirkan oleh yang lain, siapa yang tengah mengunjungi Kiyai Majid?


"Kiyai, saya mohon. Saya butuh itu Kiyai." Seorang lelaki ditemani oleh lelaki lain bertubuh besar-besar kini ke luar dari rumah Kiyai Majid.


"Maaf, tidak bisa. Silahkan sampean ambil wudhu dan sholat taubat," seorang lelaki yang sudah nampak beruban dan berjanggut putih itu tersenyum. Sepertinya itu Kiyai Majid.


"Kiyai, saya sudah bilang, toh, sholat dan puasa sudah saya lakukan selama ini, tapi tetap saja masalah itu tidak selesai," keluh seorang berjas itu sembari memegang tangan Kiyai Majid.


"Ndu', Dengarkan, ya, dalam surah Al-Baqarah ayat 256, Allah telah menjelaskan, Allah tidak akan membebani seseorang sesuai dengan kesanggupannya. Kalau kamu merasa Allah tidak adil, maka kamu yang kurang bersyukur."


"Kiyai, saya ke sini hanya minta penglaris dan jimat, bukan ceramah."


Kami yang mendengarnya langsung terkejut.


Kiyai Majid pun tersenyum, "Ndu', bukan di sini tempatnya. Silahkan kamu pulang dan renungkan kesalahanmu," pesan Kiyai Majid sambil menepuk pundak lelaki berjas tersebut.


Lelaki itu terus menggerutu dan akhirnya menyuruh para bodyguardnya untuk pergi dari tempat itu. Ia sempat terkejut ketika melihat keberadaan Tim Jejak Sadin dan juga Bapak yang mengantarkan mereka ke sini, namun keterkejutannya itu cepat-cepat dihilangkannya dan segera pergi naik mobil bersama dengan bodyguard lain yang menaiki motor.


"Saben sudah datang? Masya Allah, Pakde kangen sekali denganmu." Ucapan dari Kiyai Majid itu berhasil membuat mereka semua tersenyum dan menyalimi Kiyai Majid.


"Pakde bagaimana kabarnya? Maaf bila Saben jarang mengunjungi Pakde," ujar Saben sembari tersenyum dan memeluk Kiyai Majid.


"Alhamdulillah, Pakde selalu sehat dan merasa tetap muda," canda Kiyai Majid sambil terkekeh kecil.


"Oh iya, Kiyai, itu tadi siapa? Kok sepertinya dia meminta jimat dan penglaris, ya?" Pertanyaan dari Sadin itu berhasil membuat yang lain menunggu jawaban dari Kiyai Majid.


"Itu contoh orang yang kufur akan nikmat, 'Ndu. Kalian jangan sampai seperti itu, ya," pesan Kiyai Majid sembari tersenyum.


"Sudah berulang kali orang yang datang ke sini untuk meminta benda-benda musyrik tersebut, tetapi jelas saya tidak memberikannya. Toh, saya pun tidak tau bagaimana cara memproduksi benda seperti itu," terang Kiyai Majid.


"Loh, lalu kenapa mereka datang ke sini?"


"Omongan orang. Omongan orang itu kadang suka dilebih-lebihkan. Saya hanya mampu menyembuhkan penyakit manusia atas izin Allah dan juga membantu yang terkena guna-guna dan sebagainya, tapi karena hal itu, orang-orang jadi meminta yang macam-macam ke saya," ungkap Kiyai Majid.


"Ya sudah, masuk sini. Ndak baik tamu ada di luar." Kiyai Majid membuka pintunya lebar-lebar dan mempersilakan Tim Jejak Sadin untuk masuk.


"Kiyai, kalau begitu saya izin pamit dulu, ya," Pamit Bapak itu sembari tersenyum.


"Eh, sampean yang mengantarkan Saben ke sini, ya? Terima kasih banyak, toh," ujar Kiyai Majid sembari menyodorkan sebuah amplop.


"Untuk jajan anak istri," ucapnya sembari tersenyum.


"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Kiyai. Semoga sehat selalu."


"Aamiin."


Saat sudah sampai di ruang tamu, Kiyai Majid mulai menampakkan keanehannya.


"Sadin, ya? Perempuan yang suka intilin kamu ini suka denganmu."


"Yang pakai kebaya hijau atau si Sun?" Pertanyaan dari Sadin itu berhasil membuat Kiyai Majid tersenyum.


"Si Sun itu. Nduk' sekalian, percayalah jika kita semua ini hidup berdampingan dengan para jin. Jin itu ada yang baik dan juga jahat. Jadi, kalau kalian lengah sedikit, jin jahat akan dengan mudah mengelabui kalian. Ndu' Sadin ini sudah kena."


"Maaf, Kiyai, tapi masih bisa disembuhkan, 'kan?" tanya Dinda yang sedari tadi kelihatan gelisah.


"InsyaaAllah, atas seizin Allah."


Kiyai Majid mendekatkan dirinya ke arah Sadin. Tangannya menelisir pada kening Sadin. Ia membacakan sedikit doa pada Sadin hingga lelaki itu mulai kepanasan. Kiyai Majid menyuruh teman-temannya yang lain agar segera memegangi. Sementara Kiyai Majid mulai mengambil air dalam gentong dan sudah dibacakan beberapa doa.


Kiyai Majid mulai membacakan sebuah doa yang mungkin tak dimengerti oleh Tim Jejak Sadin. Dari situ terdengar suara auman singa. Badan Sadin langsung bergelinjang hebat. Suaranya langsung berubah menjadi kikikan kuntilanak.

__ADS_1


Kiyai Majid awalnya menyuruh semuanya untuk membantu memegangi, tapi akhirnya dibiarkan lepas agar bisa leluasa melepaskan semua sihir atau segala macamnya itu.


Setelah lama bergulat dengan suara-suara aneh yang ke luar dari mulut Sadin, Kiyai Majid pun langsung memohon doa dengan bahasa Indonesia.


"Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah, bilamana Nak Sadin ini memiliki kesalahan semasa hidupnya, ampunilah Ya Allah. Jangan biarkan jin itu mampir ke tubuhnya dan memporak-porandakan sukmanya. Ya Allah, bilamana Nak Sadin ini ada penyakit, angkatlah."


"Arghhhh ...."


"Allahu Akbar."


Tangan Sadin menegang dengan mata yang melotot ke atas. Semuanya ikut tegang melihat Sadin yang tak seperti dirinya itu.


"La Haula Wala Quwwata Illa Billah."


"Aargh ...."


Sadin terlihat berdiri dan menjulurkan lidahnya hingga air liurnya bercucuran ke lantai. Kepalanya hampir memutar seratus delapan puluh derajat jika tidak ditahan oleh Gembul.


Tiba-tiba saja tubuhnya terangkat dengan sendirinya dan terlempar ke tembok. Semuanya panik. Kiyai Majid sempat terkejut dan akhirnya menghampiri Sadin.


"Astaghfirullahal'adzim, enggak biasanya saya rukiah orang sampai seperti ini." Kiyai Majid memegang jempol kaki milik Sadin dan memijitnya dengan lumayan keras.


"Arghhhh!"


"Ya Allah, bersihkanlah segala macam perasaan iri, dengki, ria dari diri Nak Sadin ini. Segala mantra dan guna-guna lenyapkanlah Ya Allah. Jangan sisakan ruang sedikit pun untuk jin agar tidak masuk dan menempeli Nak Sadin lagi Ya Allah."


"Aamiin," ucap semuanya yang berusaha mengamini doa yang dipanjatkan oleh Kiyai Majid.


Sadin makin beringas di tempatnya. Kepalanya hampir terjedot tembok. Beruntunglah teman-temannya itu dengan cekatan menahannya.


"Wes, Bismillahirrahmanirrahim. Allahu Akbar!"


Saat itu juga, Sadin mulai terkapar di lantai. Ia sudah tak sadarkan diri. Teman-temannya langsung berusaha membangunkannya.


Saben berjalan sedikit cepat ke arah dapur. Di sana terdapat dua buah gentong. Ia bingung harus mengambil air dari gentong yang mana.


Ia langsung mencoba terlebih dahulu gentong yang berada di sebelah kiri. Ku


"Aaaaaa!"


"Ben? Ambilnya yang di sebelah kanan." Saben merasa Kiyai Majid itu peka terhadap yang ia lihat.


Sebuah kepala berlumuran darah tiba-tiba ke luar dari gentong sebelah kiri. Hidungnya tinggal menyisakan tulang beserta dengan darah-darahnya, tapi kini sudah tak terlihat lagi.


Saben langsung menutup gentong sebelah kiri itu dan membuka gentong sebelah kanan dengan mengucap basmalah. Dengan cepat ia ambil juga minyak aromaterapi dan berlari menuju ruang tamu.


"Lihat kepala ya, Ndu'?" Kiyai Majid tersenyum sembari mengelus kepala Saben.


"I–Iya, Pakde."


"Ndak apa-apa, Ndu'. Dia cuma mau kenalan."


Setelah lima belas menit Sadin mengalami pingsan, ia pun bangun dan mengadukan kebenaran yang diucapkan oleh Kiyai Majid. Badannya sakit dan terasa kaku.


"Ndu', InsyaaAllah sekarang kamu ndak akan diganggu atau ditempeli lagi. Biasanya yang bisa melihat itu karena di dalam tubuhnya ditempeli jin."


"Berarti Gembul ditempeli jin, dong? Lo indigo, 'kan, Mbul?" Dinda menoleh ke arah Gembul.


"Mau ikut dibersihkan, Ndu'?" tawar Kiyai Majid.


Gembul menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Terima kasih, Kiyai. Nanti biar saya konfirmasi ke Ayah dulu," tolak Gembul secara halus.


"Injih kalau begitu. Oh iya, teruntuk kalian semua, tolong dijaga sholat lima waktunya. Bagi yang subuh e suka kesiangan, hati-hati telinganya habis dikencingi setan. Bagi yang isyanya ketiduran, hati-hati dikeloni setan." Kiyai Majid berjalan ke sebuah meja dan membawakan beberapa gelas minuman.

__ADS_1


"Monggo diminum." Tawaran dari Kiyai Majid itu langsung disambut antusias oleh Tim Jejak Sadin akibat letih sehabis membantu Sadin tadi.


"Allah swt. Menjelaskan dalam Al-Qur'an surah Al-An'am ayat 112 yang artinya :


'Dan demikianlah untuk setiap Nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka ada-adakan'."


"Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dan terus waspada agar tetap bisa menjaga diri dari tipu daya setan yang terkutuk itu. Terlebih lagi kalau kalian sedang merasa kesulitan saat tertimpa musibah, Masya Allah, itu setan langsung gencar untuk memporak-porandakan isi hati manusia. Naudzubillahimindzalik," jelas Kiyai Majid sambil tersenyum.


"Jadi, sebetulnya indigo itu enggak ada, Pakde? Yang ada hanya orang ketempelan jin dan akhirnya bisa melihat jin lain, gitu?"


"Nang, semua orang punya kepercayaannya masing-masing. Kita ndak bisa memaksakan agar dia percaya kepada kita. Sebagian orang ada yang percaya tentang kemampuan indigo, sebagian lain ada yang percaya kalau itu hanya ketempelan. Yang lain juga ada yang percaya kalau mata batinnya terbuka. Ada juga yang menyebutkan kalau sebagian masyarakat tak percaya dengan hantu dan setan. Jadi, bagaimana penjelasannya, kembali lagi kepada pandangan setiap orang mau percaya atau tidak. Sudah selesai," papar Kiyai Majid sambil memegang tasbihnya.


"Bukannya roh itu langsung diangkat ke langit, ya, Kiyai? Tapi kenapa banyak orang yang bilang kalau roh atau arwahnya itu penasaran, Kiyai?" tanya Sadin yang langsung minum air dari gentong itu.


"Itu hanya jin. Entah jin qorin atau jin biasa. Yang jelas tugasnya adalah mengecoh manusia. Jadi, kalau kalian lupa akan Allah, bisa-bisa jin itu masuk ke raga kalian dan mengendalikan pikiran kalian ke jalan yang tidak benar," jelas Kiyai Majid sambil tersenyum.


"Allah juga berfirman dalam qur'an surah Al-Baqarah ayat 169 yang artinya:


'Sesungguhnya (setan) itu hanya menyuruh kamu agar berbuat jahat dan keji dan mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah'. Jadi kalau ada bisikan untuk berbuat keburukan atau maksiat walaupun sedikit saja, itu artinya setan sedang berusaha menjerumuskan manusia ke dalam lubang kesesatan. Wah, kalau sudah seperti itu, sih, setan paling seneng, deh," terang Kiyai Majid.


"Alhamdulillah ilmu baru," ucap Sadin sembari tersenyum.


"Rajin-rajinlah ke kajian, ya. Supaya sering dapat ilmu baru lagi," saran Kiyai Majid.


"Assalamu'alaikum," salam seseorang dari balik pintu yang berhasil membuat kami semua menoleh.


"Waalaikumussalam."


"Eh, ada tamu, ya, Mbah?" tanya seseorang berpakaian serba mahal sembari membuka kacamatanya.


"Mbah, Mbah, sampean pikir aku Mbah dukun?!" geram Kiyai Majid sembari tersenyum miring.


"Gini, Mbah, kedatangan saya ke mari–"


"Mau minta jampi-jampi dan doa-doa? Iya? Saya ndak menerima itu semua!" tegas Kiyai Majid sembari menghembuskan nafasnya dengan kesal.


"Tapi, Mbah, eh, Kiyai–"


"Halo? Apa, Pah? Papah mau ke sini jemput Saben? Kan Saben sama teman-teman, Pah. Hah? Sudah sampai gerbang desa? Papah sudah selesai nugas polisinya hari ini?" Mendengar suara keras yang Saben sampaikan ke arah telepon soal polisi itu, lelaki bergaya pakaian serba mahal itu langsung terkejut.


"Sa–saya pamit, Mbah, eh, Kiyai. Permisi!" Lelaki itu langsung melesat ke luar rumah dan menyuruh supirnya untuk cepat-cepat jalan.


"Loh, sejak kapan Bapakmu jadi polisi, Ben? Beliau mau ke sini?" Pertanyaan tersebut langsung dibalas derai tawa oleh Saben.


"Maaf, Pakde. Saben cuma bercanda tadi supaya orang itu pergi," ungkap Saben sambil terkekeh.


"Ealah, bocah zaman sekarang, nih. Alhamdulillah kalau begitu."


"Memang orang tadi itu siapa, Kiyai?" tanya Sadin.


"Koruptor."


"Astaghfirullahal'adzim."


"Jangan jadi macam dia, ya. Selalu taat pada Allah dan terapkan kejujuran yang InsyaaAllah bisa membawa kalian ke surga nanti."


Semuanya pun mengamini perkataan Kiyai Majid. Sejak saat itu, Sadin dan kawan-kawannya memutuskan untuk beralih ke konten dakwah lewat pembuatan video Islam mini. Tak ada lagi unsur horror yang dikejar. Semua ikhlas menjalankannya untuk menggapai ridho ilahi. Hyu pun ikut dalam pembuatan video sebagai pemegang pemeran wanita yang tidak berhijab.


"Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 11).


TAMAT 👀


Kesan pesan kalian selama membaca ini, apa aja? Comment di bawah, ya! 😊 Love you.😍 Jangan lupa mampir ke dunia orange dengan nama askhanzafiar 😊

__ADS_1


__ADS_2