Jejak Sadin

Jejak Sadin
29. Misteri Jalan Nyengrai


__ADS_3

"Dor!"


"Astaghfirullahal'adzim, Din. Kalau gue jantungan, gimana?" ujar Saben yang nampaknya sedang duduk-duduk di kursi kantin kampusnya.


"Enggak bakal lagian. Jadi berangkat ke rumah pakde lo, 'kan?" tanya Sadin sembari membenarkan tatanan rambutnya.


"Lah, lo bukannya masih ada kelas, shodiqi?" Pertanyaan dari Saben itu langsung dibalas dengan sebuah cengiran.


"Sesekali absen. Enggak betah gue diganggu terus." Sadin nampak duduk di sebelah Saben.


"Diganggu kenapa?"


"Semalam Embu gue diteror pas lagi ke kamar kecil. Tiba-tiba kayak ada yang ketok pintu depan. Otomatis Embu langsung buru-buru buat ke luar, dong. Eh, pas dibuka pintunya, kata Embu, dia lihat sosok Abah. Embu nangis sambil tutup pintu lagi. Suara yang Embu dengar itu jelas suara Abah. Karena dengan Embu teriak-teriak sambil baca Al-Qur'an, akhirnya gue dan Sami ke luar buat mastiin," jelas Sadin sembari mencomot roti keju yang ada di hadapan Saben.


"Terus taunya itu apa?" Saben nampak antusias mendengarkan cerita dari Sadin.


"Ya, pas baca-baca doa dan melongok ke jendela, yang kelihatan itu si Elin."


"Elin? Si Sun?" tanya Saben sembari menyesap es kopyor.


"Iya."


"Terus lu buka pintunya?" tanya Saben.


"Enggaklah, shodiqi. Lo mau gue makin diteror?" Pertanyaan dari Sadin itu langsung dibalas cengiran oleh Saben.


"Mau jalan sekarang?" tawar Saben sembari menghabiskan makanannya.


"Boleh, deh. Jauh enggak, sih?" tanya Sadin sembari melirik ke arah arloji di tangannya.


"Enggak, sih. paling cuma sejam perjalanan. Kata Pakde gue, sih, kalau mau langsung ke sana, ke sana aja. Dia selalu stay di rumah."


Sadin menoleh ke arah Saben. "Pakde lo ustadz?"


Saben menggelengkan kepalanya. "Enggak. Beliau kiyai di desanya."


Sadin mengangguk-angguk mengerti.


"Yaudah, ayo!"


"Ekhem! Mau ke mana? Enggak ajak kita?" Sebuah pertanyaan yang baru saja muncul itu langsung membuat Sadin mengembuskan napasnya dengan kasar.


"Eh, kita enggak ada niatan sama sekali untuk ajak kalian." Jawaban candaaan dari Saben itu langsung dibalas dengan pelototan tajam oleh Dinda.


"Pokoknya kita harus ikut!" seru Dinda sembari manyun.


"Dinda, ini bukan saatnya jalan-jalan. Gue enggak mau kejadiannya kayak waktu itu." Ucapan Sadin itu langsung membuat Dinda mengerutkan alisnya.


"Gue sama Hyu tetap ikut!"


"Din, jangan dipaksa. Siapa tau itu privasi mereka."


"Noh, yang anggun, dong kayak Hyu! Enggak semuanya bisa lo paksa," cerocos Saben sembari memainkan ponselnya.


"Ya sudah ikut saja. Daripada jadi berantem. Kita cuma sebentar saja, 'kan, Ben?" tanya Sadin.


"Tergantung pakde gue. Kayaknya, sih, sebentar. Eh, tapi entar dulu. Kita mau naik apa kalau bareng-bareng gini ke sananya?" tanya Saben yang langsung membuat Dinda menoleh ke arah lain.


"Nah, pas banget, nih. Gembul!" Panggilan kencang dari Dinda itu langsung membuat Gembul menoleh. Sepertinya ia ingin bergegas ke luar dari kantin.


"Kenapa?" tanya Gembul sembari tersenyum simpul dan bergabung.


"Mau ikut ke pakdenya Ben, enggak? Katanya Sadin mau rukiah. Kalau lo ikut, kita berdua juga ikut. Sekalian pakai mobil lo gitu," ucap Dinda sambil cengengesan.


"Oh, boleh. Kebetulan Gembul bawa mobil, sih. Mau sekarang?"


"Yes! Kita jalan-jalan!"


"Enggak jalan-jalan! Tetap jaga etika, ya!" ketus Saben sembari menampakkan wajah kesal.

__ADS_1


"Iye, bawel!" Dinda merangkul Hyu sembari tersenyum.


"Ya sudah kita jalan sekarang saja." Ajakan Sadin itu langsung dibalas dengan persetujuan teman-temannya.


👀


Siang ini mereka berkeliling mencari alamat pakde Saben yang nampaknya cukup jauh dari kampus. Alamat-alamat kesasar sepertinya. Saben ternyata lupa nama jalan dan nomornya. Pakdenya sekarang sedang tidak bisa dihubungi.


"Gue yakin, sih, kalau tempatnya itu enggak jauh dari sini. Gue masih inget suasananya." Saben menoleh-noleh ke arah lain. Ia berusaha memastikan kebenaran ingatannya.


"Tanya saja ke orang. Pakdemu kiyai, 'kan? Pasti orang-orang tau, deh," saran Hyu sembari mengelap keringatnya.


"Iya juga, sih. Sebentar, deh. Eum, Bu? Boleh tanya alamat?" tanya Saben dengan ramah.


Ibu-ibu pertama yang dihampiri hanya bisa menunjukkan raut wajah ketakutan dan segera berlari pergi menjauh.


"E–eh, kenapa?" tanya Dinda yang mulai heran.


"Ih, selam! Kakakna selam!" Seorang anak kecil yang berpapasan dengan mereka langsung lari terbirit-birit. Sadin dan kawan-kawannya itu nampak kebingungan rupanya.


"Sumpah aneh banget. Ada apa, sih?" tanya Gembul sembari melongok ke arah belakang.


Seorang ibu-ibu yang tengah menunduk pun akhirnya menjadi sasaran pertanyaan Saben lagi.


"Bu, maaf sebelumnya, boleh minta waktunya sebentar untuk tanya alamat?" Saben berusaha ramah agar tidak seperti ibu-ibu yang tadi.


Si Ibu itu melengos pergi tanpa mau menatap lama keberadaan Sadin dan teman-temannya.


"Eh, kok ditanya gitu, sih, Bu?!" Dinda nampak sewot dan berniat untuk mengejar ibu-ibu itu.


"E–eh, udah biarkan saja. Siapa tau dia lagi buru-buru," ujar Gembul yang menghalau jalan Dinda.


"Bapak itu mungkin bisa." Sadin mulai mendekati sang bapak yang sedang menyangkul sawah.


"Permisi, Pak. Boleh saya bertanya?" tanya Sadin dengan senyum ramah yang berusaha dikeluarkannya.


"Loh, ini Saben, keponakannya Kiyai Majid, ya?" Bapak itu tersenyum sembari menyalami Saben.


"Iya, Pak."


"Wah, sudah besar. Sampean nyari rumah Pakdemu?" Pertanyaan dari Bapak tersebut langsung dijawab anggukan oleh Saben.


"Lupa atau bagaimana?" ledek Bapak itu sambil tertawa.


"Lupa, Pak. Maklum, sudah hampir enam tahun tidak kemari."


"Rajin-rajinlah ke sini. Kasihan Pakdemu sudah tua, Ben."


"Injih, Pak."


"Ngomong-ngomong kalian semua ini dari mana?" tanya Bapak itu.


"Dari kampus sengaja ke sini, Pak," sahut Sadin.


"Gini, maaf sebelumnya, ya, kalian punya peliharaan?" Pertanyaan dari Bapak itu langsung membuat semuanya terkejut dan saling menghindar satu sama lain.


"Eh, enggak, Pak. Memang ada apa?" tanya Dinda yang mulai merasa ada yang tidak beres.


"Pasti sampean dijauhi orang tadi, ya? Hal itu dikarenakan ada yang mengikuti kalian. Eum, coba kamu ke sini." Sadin yang merasa ditunjuk pun mulai mendekati Bapak itu.


"Bismillahirrahmanirrahim. Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum.


Laa ta'khudzuhuu sinatuw wa laa naum.


Lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardh.


Man dzal ladzii yasyfa'u 'indahuu illaa bi idznih.


Ya'lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum.

__ADS_1


Wa laa yuhiithuuna bi syai-im min 'ilmihii illaa bi maa syaa-a.


Wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardha wa laa ya-uuduhuu hifzhuhumaa Wahuwal 'aliyyul 'azhiim."


"Kamu ini ada yang mengikuti, ndu'. Lain kali hati-hati. Kamu tetap ibadah, 'kan?" tanya Bapak itu kepada Sadin.


"Alhamdulillah, iya, Pak."


"Setan yang ikut ke kamu itu ngeyel, Ndu'. Entah dia mau apa dari kamu. Dia ikut kamu ketika sedang tidak beribadah. Bapak takutnya nanti kamu malah dikira memelihara jin."


"Tapi kenapa orang di desa ini bisa melihat, Pak?" tanya Saben yang ikut penasaran.


Bapak itu tersenyum." Gini, Ndu', warga desa kami ini percaya jika mata batin itu dapat dibuka dan bisa menambah penjagaan bagi diri kami. Jadi, kalau ada seseorang yang ingin jahat lewat guna-guna maupun pelet, itu sudah bisa diterawang oleh warganya sendiri. Karena mata batinnya sudah terbuka," jelas Bapak itu sambil tersenyum.


"Huh, Gembul saja rasanya ingin minta ditutup mata batinnya. Warga sini malah suka dibuka gitu, ya, Pak?"


"Iya. Setiap orang punya kepercayaan dan keunikannya masing-masing," ujar Bapak itu.


"Hantu tadi bentuknya apa, Pak?" tanya Sadin sembari terus membaca doa.


"Genderuwo kalau tidak salah."


Sadin dan kawan-kawannya saling berpandangan. Ini pasti kerjaannya Elin dan temannya itu.


Brug ....


Suara benturan yang cukup kencang berhasil membuat semua yang tengah bercakap itu langsung menoleh.


Tepat di sebelah barat, kini mereka bisa melihat dengan jelas seseorang yang tengah terkapar berdarah di jalan.


"Astaghfirullahal'adzim, tabrakan!" Bapak itu langsung lari ngacir diikuti para Tim Jejak Sadin.


Seorang lelaki yang tertabrak itu sudah tak bisa sadarkan diri dengan kepala yang hampir hancur karena terlindas oleh sebuah truk. Semua warga desa berdatangan dan segera menelepon polisi.


"Kalian enggak usah cemas. Kalau takut, tunggu saja dulu di kedai sana. Nanti Bapak akan antar kalian ke rumah Kiyai Majid." Ucapan Bapak itu langsung dijawab anggukan oleh Tim Jejak Sadin.


Semuanya mulai menepi saat mobil polisi datang. Polisi mulai memeriksa TKP dengan Bapak tadi sebagai saksinya.


Masih terbayang jelas di benak Sadin. Kepala yang hancur dan sudah berdarah-darah itu akankah masih bisa diselamatkan nyawanya? Kakinya saja sudah buntung. Untuk pertama kalinya ia melihat kejadian itu secara langsung. Biasanya ia hanya bisa melihat lewat televisi saja.


Setelah lebih dari setengah jam menunggu, Bapak itu datang dengan keadaan badan yang sudah tampak lumayan basah dengan siram-siraman berbau ... eum, melati, mungkin?


"Maaf, ya, jadi bikin kalian menunggu seperti ini,'" ucap Bapak itu sembari tersenyum.


"Tidak apa-apa, Pak. Oh iya, Pak, saya lihat tadi Bapak membasahi tubuh di gentong itu untuk apa, ya?" tanya Hyu.


"Kalian mau dengar ceritanya?" Semua mengangguk menginginkan penjelasan sedetail-detailnya dari Bapak itu.


"Sekitar beberapa belas tahun yang lalu, desa-desa ini aman-aman saja. Terutama di jalan bekas tabrakan tadi. Namanya Jalan Nyengrai, namun semua itu berubah saat ada korban tabrak lari yang langsung meninggal di tempat." Bapak itu duduk di sebelah Sadin.


"Semenjak saat itu, Jalan Nyengrai memiliki penunggu yang konon katanya akan terus meminta tumbal. Memang perkataan itu ada benarnya. Karena saat kejadian tabrakan tadi pun Bapak bisa melihat penunggunya yang dengan iseng mengganggu sang supir bus. Saat Bapak menoleh tadi, penunggunya itu langsung melesat cepat ke arah pohon kelapa yang ada di dekat sana." Bapak tua itu menunjuk ke arah pohon kelapa yang nampak seperti ingin tumbang.


"Dan rumah yang ada di depan sana ...." Bapak itu menunjuk ke arah sebuah rumah sederhana di pinggir jalan, "Sudah kosong lebih dari lima belas tahun karena setiap malam sehabis tabrakan, selalu ada yang mengetuk pintu meminta bantuan. Bantuan seperti makan, selimut karena kedinginan, dan juga obat karena mungkin rasa sakit yang dirasakan karena tabrakan tersebut," jelas Bapak itu sembari menunduk.


"Tabrakannya selalu di jalan itu?


"Ya, tepat di samping pohon kelapa itu," ujarnya sembari tersenyum.


"Kalau soal air melati itu ...."


"Oh, soal itu. Sudah menjadi tradisi bagi kami untuk menyediakan air bunga melati di dekat situ. Jika ada yang melihat tabrakan secara langsung dan menginjakkan kaki tepat di jalan tersebut sebelum jalan dibersihkan, maka wajib mengguyurkan air bunga melati ke badannya. Tujuannya agar tidak mendapat kesialan dan keburukan. Kebetulan saya tadi menginjakkan kaki di sana," jelas Bapak itu.


"Kental sekali aura mistisnya di desa ini, ya, Pak," komentar Hyu sembari tersenyum.


"Ya, seperti itu. Oh iya, kalian jadi mau ke rumah Kiyai Majid?" tanya Bapak itu sembari memakai capingnya kembali.


"Injih, Pak."


"Ya sudah, mari ikut saya."

__ADS_1


__ADS_2