Jejak Sadin

Jejak Sadin
24. Rafles hilang lagi?


__ADS_3

Sadin terbangun tepat pukul empat pagi. Masih ada waktu beberapa menit lagi untuk sholat malam. Ia memutuskan untuk ke luar lewat pintu belakang. Air dingin benar-benar membuat tulangnya seakan tertusuk-tusuk. Suara gemericiknya berhasil memecahkan keheningan malam.


Crek ... crek ....


Sadin menoleh ke arah sebuah pohon yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia sudah selesai mengambil air wudhu dan seharusnya ia langsung masuk ke dalam, namun kini ia melihat ke arah seorang bapak tua bergamis putih yang tengah mengorek dua buah batu dengan cukup kencang.


Dengan segala keberanian yang ada, Sadin mulai menghampiri Bapak tua itu lewat jalanan berbatu dan juga berlumpur. Hingga sampailah dia di depan Bapak itu. Beliau menoleh dari arah kaki ke arah wajah Sadin. Ia tersenyum sembari melanjutkan pekerjaannya.


Crek ... crek ....


"Bapak pagi-pagi seperti ini sedang apa?" tanya Sadin sembari berjongkok agar lebih nyaman berkomunikasi dengan bapak itu.


"Bapak sedang menyalakan api, namun rupanya ini agak sulit. Di sini dingin sekali, anak muda," sahut Bapak itu sembari tersenyum dan menggoreskan batunya lagi.


"Bapak mau masuk ke dalam? Mungkin Bapak Hantar tidak akan keberatan dengan kehadiran Bapak."


Bapak tua itu menggelengkan kepalanya dengan perlahan dan tersenyum.


"Tidak usah. Bapak di sini saja. Lagi pula sebentar lagi akan subuh." Sahutan dari Bapak tersebut membuat Sadin mengingat niat awalnya.


"Saya ingin sholat malam dulu, Pak. Bapak sudah sholat?" tanya Sadin sembari menawarkan tumpangan lagi untuk melaksanakan sholat.


"Sudah," sahutnya dengan penuh kelembutan.


"Anak muda yang sangat ramah dan sholeh. Teruskan perjuanganmu, Nak. Dakwahkan Islam setiap hari. Ajak teman-temanmu untuk selalu dekat dan kenal Allah." Bapak tua itu menepuk pundak Sadin seolah-olah memberikan tanggung jawab yang besar ke arahnya.


"Islam butuh banyak pemuda seperti dirimu. Sudah saatnya kamu pandai dalam memilih teman. Pilihlah teman yang selalu mengajakmu kepada kebaikan. Berusahalah untuk terus bersama-sama membuat jalan menuju Jannah Allah swt." Sadin nampak menatap wajah Bapak itu dengan saksama.


"Kamu mujahid harapan Islam. Tetap setialah pada setiap amal kebaikan dan juga ibadahnya. Karena sampai saat ini, banyak orang-orang yang sudah mati itu ingin sekali hidup kembali untuk sujud dan bertasbih kepada Allah Yang Esa." Bapak tua itu mulai menunduk dan mengusap air matanya yang sudah jatuh.


Sadin mengelus pundak sang Bapak dengan perlahan.


"InsyaaAllah, Pak. Saya ingin selalu melaksanakan kewajiban kepada Yang Maha Kuasa." Sadin tersenyum dan memeluk Bapak itu.


"Jadilah pemuda yang sukses dan selalu bersyukur. Jadilah anak yang sholeh agar selalu bisa menyelamatkan kedua orang tuamu dari siksa api neraka, jadilah amal jariyah bagi teman-temanmu, dan tebarlah senyuman. Karena jika kamu menebar senyuman ke orang lain, maka orang tersebut akan menyebarkan senyuman lagi kepada orang lain. Tetap tanam dan tebarkan kebaikan. Sebab nanti, kau akan menuai hasil dari kebaikan yang selalu kamu tanam sejak masa mudamu," pesan Bapak tua itu dengan senyuman yang menghiasi wajah tua miliknya.


"Pergilah sholat malam. Sebentar lagi akan masuk waktu subuh. Doakan kakek, yah," pinta sang Bapak tua itu sembari melanjutkan pekerjaannya.


"Iyah, Iyah, Pak. Pasti. Sadin pergi dulu, ya. Assalamu'alaikum," salam Sadin sembari berdiri dan berjalan melewati bebatuan lagi.


Tepat diambang pintu, Bapak Hantar telah menunggu Sadin yang tak balik-balik setelah berada di belakang selama lima belas menit.


"A Sadin teh nempa?" tanya Bapak Hantar sembari memperlihatkan wajah paniknya.


"Hah? Lihat apa, Pak?" Sadin nampak memperlihatkan rasa herannya.


"Lihat Bapak berbaju putih, ya?"


"Oh iya, Pak. Ada apa?" tanya Sadin sembari tersenyum hangat.


"Itu sesepuh desa ini. Almarhum senang melihat orang-orang yang sholeh seperti A Sadin ini."


Sadin tercenung ketika mendengar pernyataan dari Bapak Hantar.


"A–almarhum?" Sadin berusaha memastikan apa yang dikatakan oleh Bapak Hantar.


"Iya. Beliau merupakan sesepuh yang sudah meninggal belasan tahun yang lalu. Semenjak kepergian beliau, warga desa menjadi lebih sering ke dukun ataupun orang pintar. Mereka sudah tak percaya agama lagi. Makannya ketika melihat orang yang sholeh dan menjaga ibadahnya, maka ia akan menghampiri atau menampakkan wujudnya untuk memberikan petuah dan juga nasihatnya. Ia hanya ingin warga desanya mengikuti ajaran Islam seperti saat dia masih ada. Tanpa paksaan sedikit pun," terang Bapak Hantar sembari tersenyum dan menatap pohon tadi.


Sadin pun ikut menoleh dan ternyata Almarhum Bapak tua tadi sudah tidak ada di sana. Sadin merasa beruntung karena telah bertemu dengan beliau. Pulang dari perjalanan ini, ia akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

__ADS_1


"Sebentar lagi azan. Silahkan sholat tahajud terlebih dahulu," ucap Bapak Hantar sembari merangkul Sadin untuk masuk ke dalam.


Dari ujung sawah, Bapak tua itu tersenyum sembari melihat kehangatan dua orang pemuda yang menurutnya itu sholeh.


👀


"Lihat Rafles enggak?" tanya Saben dengan nada suara yang panik dan juga penuh kekhawatiran.


"Kenapa, Ben?" tanya Gembul yang mulai merapat dan menaruh segelas tehnya.


"Rafles enggak ada dari subuh!" teriak Saben sembari mencari-cari ke ruangan lain.


"Loh, tidur mungkin?" Sahutan dari Sadin langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Saben.


"Enggak ada. Tadi katanya dia mau ke kamar mandi, tetapi sampai sekarang enggak balik ke kamar," ungkap Saben.


Suara berisik Saben dan juga para lelaki lain pun mulai mengundang rasa penasaran Dinda, Hyu, Bapak Hantar, dan juga Ibu Hantar yang baru saja selesai memasak.


"Ada apa?" tanya Hyu yang baru selesai menyisir rambutnya.


"Kamu lihat Rafles?" tanya Gembul ke arah Hyu.


Hyu mulai mengerutkan keningnya.


"Rafles? Tadi dia kasih surat ini, tapi aku belum sempat baca karena langsung mandi. Memang dia ke mana?" tanya Hyu sembari menunjukkan sebuah amplop berwarna biru muda di tangannya.


Dengan cekatan, Saben langsung mengambil amplop tersebut dan membukanya.


To : Hyushi sayang.


*Tidak ada kata lain yang dapat kuucapkan selain kata cinta. Ya, aku mencintaimu seperti orang tuamu mencintai dirimu. Maafkan aku yang kemarin. Maafkan aku yang tidak bisa melanjutkan hubungan ini lantaran keegoisanku. Aku menyesal soal ini. Demi Tuhan! Aku ingin selalu bersamamu.




Selamat tinggal semua, **Rafles Demian***.


"Enggak! Enggak mungkin!" Saben menampakkan wajah yang hampir menangis.


Rambutnya ia acak-acakan sembari terus menggigit bibirnya.


"Kenapa, Ben?" tanya Hyu sembari merebut kertas yang dipegang oleh Saben.


"Maksudnya apa?" Hyu mulai menampakkan mata berkaca-kaca dan air matanya pun siap untuk meluncur saat itu juga.


"Ini semua salah gue!"


"Sadar, Ben. Kenapa? Memang ada apa?" tanya Sadin yang tampak heran bercampur bingung.


"Gue pikir ini semua udah kelar."


"Maksud lo?" Dinda memegang pundak Saben dan mencengkeramnya dengan cukup erat.


"Maafin gue. Sumpah, gue pikir semua udah kelar. Rafles yang gue tumbalin untuk guna-guna itu. Saat matahari terbit, ia akan ikut dengan setan yang meminta tumbal untuk segera dilakukan penyerahan," ungkap Saben.


"APA?!"


Bug ....

__ADS_1


"Lo gila! Gue enggak nyangka!"


Bug ....


Pukulan bertubi-tubi terus dilayangkan Dinda kepada Saben. Sadin dan yang lainnya sudah berusaha untuk menengahi, namun sayangnya Dinda lebih beringas dari biasanya.


"SUDAH, DIN! LEBIH BAIK KITA CEPAT CARI RAFLES! KITA HARUS BERUSAHA! SIAPA TAU KITA MASIH BISA MENYELEMATKAN DIA. DARI PADA BERTENGKAR DI SINI ENGGAK ADA GUNANYA!" teriak Sadin yang sudah kehabisan akal karena Dinda yang tak mau sama sekali memberhentikan aksinya.


Dinda terdiam sesaat dengan isak tangis yang terus mengeras.


"Sudah, Din hiks .... yuk!" ajak Hyu yang masih menangis dan mengelus pundak Dinda.


Semua yang ada di sana langsung lari ke luar ke arah mobil. Sadin masih terdiam di tempatnya dan mulai tersenyum ke arah Bapak Hantar.


"Pak, terima kasih banyak atas tempat penginapannya. Kami harus pergi karena teman kami yang sedang dalam bahaya. Maaf jika kedatangan kami sangat merepotkan Ibu dan Bapak." Sadin bersalaman sembari mengecup tangan Bapak Hantar sebagai tanda hormatnya.


"Teu nanaon, A Sadin. Bapa teh paham pisan. Semoga temannya bisa ditemukan dengan selamat ya, A." Bapak Hantar menunjukkan wajah sedihnya sembari menepuk pundak Sadin sebagai pemberian semangat.


"Ini ada sedikit rezeki untuk Bapak. Semoga bisa berguna dengan baik, ya, Pak," ujar Sadin sembari memberikan sebuah amplop yang lumayan tebal.


"Hantur nuhun, A. Semoga kesehatan dan keselamatan selalu melimpah kepada kalian semua," ujar Bapak Hantar sembari tersenyum dan memeluk Sadin.


"Aamiin, Pak. Kalau begitu kami semua pergi, ya. Assalamu'alaikum," salam Sadin sembari tersenyum lagi dan lari ke luar rumah.


Ia langsung masuk ke dalam mobil dan menyuruh Gembul untuk menjalankan mobilnya dengan cepat.


"Akan ke mana kita? Apa ada arahan?" tanya Gembul yang mulai bingung sembari menyalakan mesin mobilnya.


"Ke rumah sakit itu. Sepertinya akan ada sangkut-pautnya dengan sundel bolong yang dimaksud Hyu," sahut Saben yang masih sempat tertunduk dalam-dalam.


"Lo enggak lagi numbalin salah satu dari kita lagi, 'kan?"


"Dinda!" Sadin melotot tajam ke arah Dinda yang nampaknya mulai memanaskan suasana lagi.


"Maaf," lirih Dinda sembari memeluk ke arah Hyu yang masih menangis.


Jedug ....


Gembul refleks mengerem mobilnya. Ia menutup matanya dan enggan melihat apa yang telah ditabraknya.


"Eh, serius kita nabrak apa?" tanya Sadin sembari membuka pintu mobil dan lari ke arah luar mobil.


Sebuah wanita berkebaya hijau yang biasa mengikuti Sadin dan kawan-kawannya itu tengah duduk di depan mobil. Ia tersenyum dengan wajah dan badan yang penuh dengan darah.



"Lo ngapain?" tanya Sadin.


Sementara Dinda dan Hyu sudah menjauh karena takut akan penampakan hantu kebaya hijau itu.


"Temanmu hampir mati," lirihnya sambil mengais jalanan beraspal.


"Cepat pergi! Sudah kubilang jangan ke rumah sakit itu. Kalian tidak paham juga!"


"Hei! Kalau lo nyuruh kita pergi, kenapa lo malah ngehalangin kita di sini? Terus siapa suruh waktu itu pakai bahasa Jawa? Baru belajar bahasa Indonesia selama kita pergi kali ini?" cerocos Sadin yang mulai kesal.


Hantu itu hanya diam sembari mendekap tubuhnya sendiri.


"Cepet cabut, Bro! Jangan dengerin dia. Kita bisa kelamaan kita di sini," ketus Sadin sembari masuk ke dalam mobil kembali.

__ADS_1


Gembul langsung masuk ke dalam mobilnya disusul oleh semua teman-temannya. Ia langsung menjalankan mobilnya tanpa ada gangguan di depannya. Seakan-akan hantu tadi benar-benar tidak ada di depan mobil itu.


__ADS_2