Jerat Candu Istri Sewaanku

Jerat Candu Istri Sewaanku
Chapter 22


__ADS_3

"Mami ngajak Joana pergi belanja?" Tanya tuan Darius dengan ekspresi wajah tercengang.


"Iya, buat persiapan ulang tahun Davina."


"Aduh mi,....!" Tuan Darius menepuk jidatnya.


"Kenapa sih pi?" Tanya nyonya Andina penasaran.


"Sebelum mami, papi itu datang ke rumah Dave malah di usir."


"Loh, kenapa? Tidak benar ini anak!"


"Mami itu loh, orang lagi nyebar benih kok di ganggu. Aduh, papi yakin Dave pasti marah tapi gak bisa marah sama mami."


"Aduh,....!" Nyonya Andina mendadak bersalah. "Papi serius gak sih?"


"Mami ini kalau di kasih tahu ngeyel. Lihat aja, pasti kita udah gak boleh pergi ke rumah Dave."


"Papi kenapa gak ngomong sih?"


Maklum, namanya juga perempuan, kalau lagi gemas pasti suka mukul lengan kalau gak mencubit. Begitu juga dengan nyonya Andina, reflek tangannya memukul lengan sang suami.


Di rumah Dave, pria sedang bersiap-siap untuk menuntaskan apa yang tertunda tadi siang.


"Jangan sekarang deh, nanti ada yang ganggu lagi." Ujar Joana.


Dave melirik jam yang berada di atas nakas.


"Jam delapan malam, tidak akan ada yang mengganggu."


"Nanti sudah naik-naiknya ada tamu seperti tadi pagi."


Belum lagi Dave menyahut, pintu kamar di ketuk. Salah satu asisten rumah tangga mengatakan jika ada Edric di bawah.


"Apa ku bilang,...!" Seru Joana.


"Hari ini benar-benar menguji kesabaran ku," ucap Dave geram.


Mau tidak mau Dave turun menemui Edric.


"Tidak bisakah kau datang besok?" Tanya Dave seraya menahan emosinya.


"Dave, di mana Joana?"


"Bajingan satu ini, kenapa kau mencari istriku hah?"


"Dave, mertuanya mu datang ke apartemen ku. Gila, dapat dari mana dia alamat apartemen ku?"

__ADS_1


"Kau serius?" Tanya Dave tidak percaya.


"Sepertinya keluarga Joana sedang mencaritahu tentang kau dan keluarga mu. Dave, tuan Altan meminta alamat rumah mu."


"Dan kau memberitahunya?"


"Tentu saja tidak." Jawab Edric. "Tidak habis pikir, dia memaksa ku membujuk mu agar kau bisa menerima saudara tiri Joana kerja di perusahaan."


"Jangan beritahu Joana, awas saja. Pergi sana....!"


Edric yang hanya sekedar mampir langsung pergi lagi. Dave kembali ke kamar, ternyata Joana sedang duduk di tepi ranjang dengan wajah tertunduk seperti menyimpan malu.


"Aku minta maaf," ucap Joana dengan suara pelan.


"Sayang, kenapa kau minta maaf?" Tanya Dave heran.


"Atas nama keluarga ku, aku minta maaf."


"Kau mendengar semuanya?"


"Aku mendengar semua yang Edric katakan pada mu."


"Bukan salah mu, kenapa kau harus minta maaf?"


Joana memaksa senyumnya, memberanikan diri menatap wajah suaminya.


"Sudahlah, jangan di pikirkan. Mereka hanya masalah kecil bagi ku."


"Bagi mu, tapi tidak bagiku." Jawab Joana. "Melihat wajah papa dan tante Sarah, aku merasa jika luka di tubuh ku kembali perih."


Dave tak bisa berkata, pria ini hanya diam saja lalu memeluk istri kecilnya.


"Jangan di pikirkan lagi, ada baiknya kita istirahat sekarang." Ujar Dave mau tidak mau harus mengalah malam ini.


Dave tidur memeluk Joana, pria ini paham betul jika perasaan istrinya sekarang sedang gundah gulana.


Malam telah berganti pagi, selesai sarapan Dave bersiap-siap untuk pergi ke kantor.


"Sayang, aku pamit kerja dulu ya...!" Ujar Dave kemudian mengecup kening istrinya.


"Belajar dari mana bisa seromantis ini?" Tanya Joana.


"Ada, rahasia!" Jawab Dave. "Nanti siang, jangan lupa susul aku di restoran xxxx." Ujar Dave mengingatkan.


"Siap suamiku," Jawab Joana.


Pria ini kemudian pergi, sedangkan Joana lebih memilih memberi makan ikan-ikan kesayangannya.

__ADS_1


"Pernikahan ini, apa bisa bersama selamanya atau.....?" Joana tidak meneruskan ucapannya. "Aku tidak bisa mengharapkan apa pun dari Dave, dia bersama ku hanya sekedar nafsu dan aku menikmati itu. Segala yang aku rasakan sekarang setimpal dengan apa yang aku berikan. Dave tidak mungkin mencintaiku setulus yang aku harapan."


Sampai detik ini Joana masih ragu akan cinta yang selalu di nyatakan Dave. Perkenalan yang singkat, pernikahan di atas kertas dan nafsu di atas ranjang menjadikan mereka bersama-sama sampai detik ini. Joana hanya perempuan biasa, berbeda dengan Dave yang jauh di atas segalanya. Hal inilah yang membuat Joana tidak begitu mengharapkan pernikahannya ini berjalan selamanya.


"Ingat Joa, kau hanya sekedar pemuas." Ucap Joana yang selalu menekankan dalam hatinya.


Pukul sebelas siang, atas permintaan Dave, Joana datang ke restoran di antar oleh supir. Restoran mewah, cukup ramai membuat Joana sedikit kebingungan mencari suaminya.


"Tuan Dave sudah menunggu di sebelah sana," ucap salah seorang pelayan restoran.


"Oh, iya. Terimakasih!" Jawab Joana dengan senyum manisnya.


Joana kemudian melangkah ke arah yang di tunjukan tadi.


"Ku dengar kau sudah menikah, apa itu benar Dave?" Tanya suara perempuan hingga membuat langkah Joana terhenti untuk mengejutkan suaminya.


"Ya, sudah dua bulan." Jawab Dave.


"Aku tahu bagaimana sifat mu, Dave. Kenapa kau tiba-tiba saja menikah?"


"Aku terpaksa menikah atas desakan kedua orang tuaku," jawaban Dave membuat Joana tersenyum getir di balik pilar besar penyangga restoran.


"Kau tahu sendiri aku mencintaimu, Dave. Kenapa kau tidak menikah dengan aku saja? Kenapa harus perempuan lain?"


"Aku merasa nyaman dengan istriku," ucapan Dave sekali lagi membuat Joana tersenyum getir.


"Kenapa kau harus sakit hati Jo? Apa yang di katakan Dave itu benar?" Batin Joana berbicara.


"Tapi kau tidak mencintainya!" Sahut perempuan itu.


"Cinta atau tidak urusan ku. Pergilah, sebentar lagi istri ku akan datang!" Usir Dave.


Joana merasa sakit hati, pada akhirnya ia memutuskan untuk pergi dan tidak jadi menemui suaminya.


Perempuan yang bernama Rachel itu juga pergi. Tinggallah Dave sendiri yang mulai gelisah menunggu istrinya.


"Di mana Joana? Kenapa dia belum datang juga?"


Dave mencoba menghubungi istrinya tapi ponsel Joana tidak aktif. Tapi, orang rumah mengatakan jika Joana sudah pergi sejak tadi di antar supir.


Dave khawatir, apa lagi Joana sudah terlambat satu jam. Pria bergegas pergi untuk mencari Joana.


Di sisi lain, saat ini Joana sedang duduk di pinggir makam ibunya. Tidak ada air mata, yang ada hanya raut wajah sedih.


"Mama, Joana rindu." Ucap Joana dengan suara bergetar. Sejak ia lahir, Joana belum pernah melihat wajah ibunya secara langsung. Foto wallpaper yang di lihat Dave waktu itu pun hanyalah editan untuk sekedar menjadi kenang-kenangan dalam hidup Joana.


"Mama, laki-laki mana lagi yang harus ku percaya sedangkan papa ku sendiri sudah membuangku. Suami ku....? Oh, hanya sementara." Ucap Joana kemudian ia menertawakan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2