
"Joana hamil," ucap Dave memberitahu kedua orang tuanya saat mereka menumpang makan malam di rumah tuan Darius.
"Coba ulangi...!" Perintah nyonya Andina.
"Joana hamil mi, pi...!" Ucap Dave mengulangi.
"Jo, serius?" Tanya nyonya Andina tidak percaya.
"Iya mi, sudah tujuh minggu." Jawab Joana.
Bak...buk...bak...buk....
Nyonya Andina memukul-mukul kecil suaminya yang tengah makan.
"Sebentar lagi kita punya cucu pi," ucap nyonya Andina kegirangan.
"Sakit mi,....!" Tuan Darius menarik diri.
"Biasa aja mi, gak usah berlebihan," ucap Dave.
"Dave,...!" Sentak nyonya Andina kesal. "Kau ini sama sekali tidak ada romanti-romantisnya. Berbanding terbalik dengan papi mu."
Dave memutar bola matanya malas.
"Jo, mulai sekarang kau dan Dave pindah kembali ke rumah ini." Ujar nyonya Andina.
"Tidak, kami akan tetap tinggal di rumah kami sendiri," tolak Dave.
"Dave, siapa yang akan mengurus Joana saat hamil hah?"
"Aku suaminya, aku bisa mengurus istri dan anak ku. Heran sama mami, sensitif banget!"
"Mami mu itu benar Dave, kalian harus pindah ke rumah ini. Secara kamu itu.....!" Tuan Darius tidak melanjutkan omongannya.
"Aku menolak...!" Tegas Dave.
"Dave, Joana itu sedang mengandung anak pertama mu. Cucu pertama dalam keluarga ini. Mami gak mau terjadi apa-apa sana Joana dan calon anaknya."
Joana hanya bisa diam mendengarkan perdebatan suami dan mertuanya ini.
"Sayang, mengalah!" Ucap Joana dengan nada pelan berusaha menenangkan suaminya.
"Gini aja, setelah melahirkan kira-kira saat umur anak kami berumur tiga bulan mami boleh mengajaknya tinggal di sini," ujar Dave.
"Ah, gak mau. Mami maunya Joana tinggal di rumah ini sampai melahirkan dan seterusnya!"
"Kalau begitu mami bikin saja anak lagi...!" Sahut Dave kesal.
Tuan Darius hanya bisa menghembuskan nafas kasar.
"Sayang, ayo kita pulang. Kau tidak boleh tidur larut malam," ucap Dave begitu lembut pada istrinya.
__ADS_1
"Lapor sama mami kalau Dave tidak mengurus kamu ya, Jo." Ujar nyonya Andina.
"Baik mi....!"
Dave dan Joana pun pulang ke rumah mereka. Tentu saja nyonya Andina melanjutkan mengomel.
"Aku heran sama anak lelaki mu itu. Sikapnya dingin dan Kasar terutama keras kepala, mau menang sendiri."
"Namanya juga anak laki-laki. Coba anak perempuan mu, Davina. Manja, cengeng pula!" Sahut tuan Darius.
Nyonya Andina melirik tajam kemudian memilih masuk ke dalam kamar.
Di sisi lain, Dave dan Joana yang baru saja sampai ke rumah merasa perut mereka masih lapar terutama Joana.
Mau tidak mau mereka berdua meminta pada asisten rumah tangga untuk masak malam-malam.
"Sayang, sesekali jangan bersikap seperti itu pada mami. Selama ini aku melihat mu seperti musuh saja sama mami."
"Mami suka memaksa orangnya. Aku tidak suka!" Sahut Dave.
"Ah, terserah kalian lah!" Seru Joana yang merasa percuma saja jika bicara dengan suaminya.
"Sayang, aku tidak suka ya kalau kau bertemu dengan teman mu itu." Ucap Dave yang teringat pada Aston.
"Siapa?" Tanya Joana lupa.
"Siapa itu, si bom atom atau siapa lah itu!"
"Aston....? Dia memang seperti itu, rewel tapi baik kok!"
"Kau memuji laki-laki lain di hadapan suamimu sedangkan kau tidak pernah memuji aku sebagai suamimu. Benar-benar kau ini....!"
Dave menggelengkan kepalanya tidak terima.
"Apa sih? Lagian aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Aston. Kami hanya teman lama."
"Berani bermain api di belakang ku, awas saja!" Ancam Dave.
"Hanya kau seorang di hati ku, sayang. Lagian, uang mu lebih banyak dari pada dia. Gila betul jika aku membuang berlian seperti mu demi batu sungai seperti dia," ucap Joana menenangkan suaminya.
"Ternyata kau materialis juga!" Sahut Dave.
"Wajar, mati saja bawa uang!"
"Tidak ada istilah begitu!" Sahut Dave.
"Menurut ku tidak salah," ucap Joana. "Manusia mati, beli perlengkapan mayat menggunakan uang, peti mati, batu nisan, penggali makam, semua di bayar menggunakan uang. Ya tapi, tetap saja amal yang paling utama."
"Sepertinya kau benar!" Ujar Dave mengalah. Mana mungkin ia mau berdebat dengan istrinya yang selalu benar ini.
Mereka diam saat makanan sudah terhidang di atas meja. Jika di lihat, Dave dan Joana lebih cocok menjadi kakak adik dari pada suami istri.
__ADS_1
Keesokan harinya, Dave sudah kembali bekerja seperti biasanya meskipun saat berangkat harus ada drama karena Joana tidak ingin di tinggal suaminya.
Belum habis masalah Joana, Dave di buat terkejut atas kedatangan Aston ke kantornya.
"Dari mana kau tahu kantor ku?" Tanya Dave penasaran.
"Anda ini orang kaya uncle, wajar jika aku tahu. Aku mencari informasi tentang ada," kata Aston benar-benar membuat Dave jengkel.
"Uncle,...uncle....kau pikir aku paman mu?"
"Jangan marah uncle, aku datang hanya untuk menanyakan alamat Joana."
Semakin panas hati Dave, baru sekarang ia menemukan seseorang pria yang berani seperti ini padanya.
"Joana istri ku, mau apa kau hah?" Tanya Dave dengan wajah memerah menahan emosi.
"Tapi, aku temannya. Sudah lama kami tidak bertemu, wajar dong jika kami bertemu?"
"Pergi dari kantor ku!" Usir Dave.
"Katakan saja di mana alamat rumah kalian maka aku akan pergi."
Tiba-tiba saja Dave mencengkram leher Aston hingga membuat para karyawan ketakutan.
Edric yang baru saja datang langsung berlari ke arah Dave dan Aston untuk memisahkan mereka.
"Dave, kenapa kau mencekik dia?" Tanya Edric penasaran.
"Bajingan satu ini berani-beraninya mengganggu istri ku. Dia harus ku beri pelajaran!"
"Aku hanya ingin bertemu Joana, apa itu salah? Kami teman lama!" Ucap Aston begitu keras kepala.
Semakin terpancing emosi Dave, andai tidak di tahan oleh Edric mungkin saja bogem mentah sudah mendarat di wajah Aston.
"Pergilah, jangan membuat keributan di tempat ini atau kau, kami laporkan kepada polisi!" Ancam Edric.
Aston tertawa sinis lalu mengejek Dave.
"Kau dan Joana itu lebih cocok sebagai paman dan keponakan. Lihat saja, nanti juga Joana akan berpaling dari mu."
Semakin tersulut emosi Dave, pria ini ingin menghajar Aston tapi, Edric menahannya.
Aston pergi begitu saja seraya mengejek Dave. Aston memang seperti itu, ia pandai memancing masalah.
"Memang, siapa dia?" Tanya Edric penasaran.
"Dia teman lama Joana. Kami bertemu saat liburan kemarin dan sekarang ketemu dia lagi. Sial!" Umpat Dave.
"Aduh, biasanya kalau suka bertemu secara kebetulan bisa jadi jodoh!" Ucap Edric benar-benar memancing keributan.
"Jika kau sudah bosan bekerja pada ku, silahkan kirimkan surat pengunduran diri mu." Kata Dave kemudian pria ini pergi begitu saja.
__ADS_1
"Dave, aku hanya bercanda!!"