
Waktu telah berganti, tak terasa usia kandungan Joana sudah semakin membesar bahkan bulan ini sudah masuk masa melahirkan.
Masih mengkhawatirkan, meskipun Joana sudah mengontrol makan dan suasana hatinya tapi, tekanan darah masih saja tinggi.
"Kenapa hem?" Tanya Dave begitu lembut.
"Seharusnya aku melahirkan normal," ucap Joana yang merasa bersalah.
"Kenapa kau memiliki pemikiran seperti itu?"
"Ya tidak apa-apa!" Jawab Joana yang sebenarnya merasa khawatir pada dirinya sendiri karena sore ini mereka akan pergi ke rumah sakit.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Mau operasi atau normal itu sama saja, kalian perempuan tetap saja melahirkan dan akan menjadi seorang ibu."
"Bijaknya perjaka tua ku ini," goda Joana.
"Sayang, aku sudah menikah dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Kenapa selalu mengejek ku perjaka tua?"
"Davina sering mengejek mu begitu, sepertinya seru!"
"Seharusnya aku menghukum mu dan dia!" Jawab Dave. "Ayo pergi sekarang, mami sudah menunggu di bawah!"
"Huh.....!" Joana membuang nafas kasar. "Aku berdebar, seumur hidup baru sekarang naik meja operasi."
"Santai, semua akan baik-baik saja."
Dave menggendong istrinya menuruni tangga sampai ke mobil. Mereka pun pergi ke rumah sakit karena besok pagi Joana akan melahirkan anaknya secara caesar.
"Lihat wajah kakak mu, menyebalkan!" Ucap nyonya Andina.
"Kak Dave terlihat tegang." Kata Davina.
"Sekarang dia akan merasa menjadi orang tua. Biar tahu bagaimana rasanya di lawan sama anak," ucap tuan Darius.
"Calon kakek satu ini, kalau bicara suka benar!" Sahut Dave.
Joana hanya diam saja, sudah biasa suaminya seperti ini. Tak berapa lama mereka akhirnya sampai juga di rumah sakit.
Mereka langsung di antar salah satu perawat menuju ruangan yang akan di tempati Joana selama berada di rumah sakit.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, mau tidak mau malam ini juga Joana akan melakukan operasi caesar mengingat kondisi kehamilan Joana mengalami kendala.
Joana mendadak gelisah dan panik mengingat almarhum sang mama meninggal dunia saat melahirkan dirinya.
"Damaikan pikiran mu, sayang. Semua akan baik- baik saja," ucap Dave.
Joana tersenyum tipis.
"Hanya gugup, wajarkan?"
"Setelah kau melahirkan, kau minta liburan kemana pun akan aku turuti."
__ADS_1
"Makasih sayang ku...!" Ucap Joana.
Keluarga Dave begitu baik, mereka terus menyakinkan Joana jika semua akan baik-baik saja.
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya tepat pukul sembilan malam di lakukan operasi. Dave masuk ke dalam untuk menemani istrinya. Pria ini terus menggenggam tangan Joana tak ingin melepaskan.
Menunggu dengan harap-harap cemas, pada akhirnya lahirlah seorang bayi yang berjenis kelamin laki-laki.
Suara tangisnya memenuhi ruangan, Dave menangis haru bahkan pria ini terus memeluk istrinya. Begitu juga dengan Joana, akhirnya ia bisa bernafas lega. Ketakutannya yang selama ini menghantui dirinya lenyap seketika.
"Anak kita sudah lahir sayang," ucap Dave bahagia.
Joana tak bisa menjawab, ia terus menangis.
"Anak yang akan menggendong peti mati ku akhirnya lahir juga," ucap Dave membuat sang istri dan para Dokter tertawa.
"Aku ingin memukul mu," ujar Joana.
Dave memainkan tangan istrinya, pria ini memukul-mukul dadanya sendiri.
Setelah menunggu beberapa saat, Dokter menaruh anak Dave dan Joana di dalam inkubator. Dave terpana melihat hasil karyanya, hidung mancung, bibir sedikit tebal, alis tebal sungguh manis sekali.
"Ini serius anak ku?" Tanya Dave pada Dokter yang menangani istrinya.
"Jika bukan, lalu anak siapa?" Dokter balik bertanya.
"Baru sekarang aku melihat bayi secara langsung. Lengan ku lebih besar dari dia," ujar Dave.
"Lucu,...jadi pengen...!" Ucap Davina gemas.
"Berani macam-macam akan ku penggal kepala mu," ancam Dave.
"Masih aja suka mengancam Davina. Heran deh....!" Joana mencubit lengan suaminya.
"Mirip papi ini,...!" Ujar tuan Darius.
Dave melirik tajam.
"Ini anak ku...!" Kata Dave menegaskan.
"Kalian ini, masih aja suka ribut," ujar nyonya Andina. "Jangan berisik, biarkan Joana istirahat. Tidurlah Jo, biar mami dan suaminya mu yang menjaga anak mu."
"Iya mi....!" Jawab Joana yang benar-benar butuh istirahat.
Dave membelai rambut istrinya agar Joana cepat tidur. Tak sampai lima menit, Joana akhirnya terlelap juga. Dave menghembuskan nafas lega sekarang.
"Bagaimana keadaan Joana? Apa kata Dokter?" Tanya nyonya Andina.
"Sampai tiga hari ke depan, Joana masih harus di pantau kesehatannya."
Malam ini Dave dan tuan Darius tak bisa tidur, mereka lebih memilih menjaga yang beristirahat.
__ADS_1
Pukul empat dini hari, barulah Dave tidur. Pria ini lebih memilih tidur sambil duduk di samping istrinya. Pukul lima pagi, Joana tiba-tiba saja terbangun.
"Sayang....sayang.....!" Panggil Joana dengan suara pelan.
Dave tidak juga bangun.
"Kak, kakak kenapa?" Tanya Davina yang melihat kakak iparnya sudah bangun.
Davina merasa heran saat melihat kakak iparnya menangis.
"Kak Dave bangun....!" Davina mengguncang tubuh kakaknya. Dave yang merasa terganggu langsung membuka matanya.
"Ada apa?" Tanya Dave yang sangat mengantuk.
"Kak Jo menangis," jawabnya membuat Dave panik.
"Sayang, kau kenapa?" Tanya Dave mendadak segar.
"Kaki ku,.....!!" Lirih Joana.
"Kaki mu kenapa?" Tanya Dave semakin panik.
"Kaki ku tidak bisa di gerakan!" Jawabnya membuat isi ruangan panik. Dave langsung memencet bel memanggil Dokter.
Wajah mereka semua tegang saat melihat Joana di tangani oleh beberapa Dokter.
"Mi, istri ku kenapa?" Tanya Dave dengan dada berdebar.
"Entahlah Dave, mami tidak tahu!"
"Tolong keluar sebentar, kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi." Perintah salah satu perawat.
"Saya suaminya, kenapa harus keluar?"
"Tolong ya pak,....!!"
"Dave, ayo keluar!" Tuan Darius menarik anaknya.
Mau tidak mau Dave keluar, pria ini benar-benar merasa khawatir sekarang.
"Jo kenapa mi?" Tanya Dave lagi. "Istri ku kenapa?"
"Dave, sabarlah. Kita harus menunggu Dokter dulu." Ujar Tuan Darius yang berusaha menenangkan Dave.
Tak berapa lama, Dokter pun keluar. Dokter mengajak Dave bicara di ruangan mengenai kondisi Joana sekarang.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Kenapa kakinya tidak bisa di gerakan?" Tanya Dave.
"Istri anda mengalami stroke sistemik. Hal ini bisa di sebabkan dari tekanan darah tinggi, obesitas, pola makan, gaya hidup tidak sehat atau pun riwayat keluarga. Operasi yang di lakukan tadi malam ternyata beresiko pengembangan gumpalan darah di dalam Vena, terutama di bagian kaki atau organ pinggul." Jelas Dokter membuat Dave hancur.
Dave kembali teringat jika almarhum ibu mertuanya meninggal saat melahirkan Joana dan itu artinya riwayat tersebut menurun pada Joana.
__ADS_1