Jerat Candu Istri Sewaanku

Jerat Candu Istri Sewaanku
Chapter 50


__ADS_3

"Aku lumpuh....aku lumpuh sekarang," ucap Joana dengan suara pelan. Ingin rasanya ia berteriak keras tapi, lidahnya terasa kelu.


Dave menggenggam tangan istrinya, air matanya tak terbendung lagi saat ia mengetahui kondisi sang istri yang sangat memprihatinkan.


"Sayang, jangan bicara seperti itu. Kau akan sembuh setelah kita melakukan terapi."


"Jo, yang penting selamat. Masalah ini bisa kita selesaikan nanti. Jangan khawatir, Dave dan kami tidak akan meninggalkan mu," ucap nyonya Andina yang merasa sedih dengan kondisi menantunya.


Joana tidak bisa melakukan apa pun sekarang, kedua kakinya tak bisa di gerakan di tambah lagi ia tidak bisa bicara keras-keras.


"Sayang, makan ya...!!" Bujuk Dave.


Joana menggelengkan kepalanya pelan, ia masih syok dengan keadaannya yang sekarang.


Dave menarik nafas panjang, di pandangnya wajah sang istri yang selalu ceria selama ini tapi, hari ini tampak suram.


"Jika kau tidak makan, kapan kau akan sembuh? Kasihan anak kita!"


Air mata Joana kembali mengalir.


"Kita sudah berjanji untuk membesarkan anak kita bersama-sama agar kelak mereka bisa memikul peti mati kita berdua. Jo, ayo makan....!!"


Mendengar perkataan suaminya, ingin sekali Joana mencubit lengan suaminya tapi, ia tidak memiliki tenaga.


"Aku tidak mau mati sekarang, aku ingin melihat anak ku tumbuh besar." Ucap Joana dengan suara yang sangat pelan.


"Sayang,....!!"


Dave memeluk istrinya.


Tuan Darius dan Nyonya Andina tak dapat berbuat banyak. Mereka hanya bisa menganggap jika ini adalah cobaan dalam rumah tangga Dave dan Joana.


"Katanya kau mau bulan madu setelah anak kita berumur enam bulan. Ayo sayang, makan sedikit saja!" Dave masih berusaha merayu.


Mau tidak mau Joana membuka mulutnya sambil mengunyah ia terus menangis. Dave kacau, pria ini benar-benar tidak tega melihat keadaan istrinya sekarang.


Dave menyerahkan mangkuk berisi bubur pada sang mami kemudian pria ini keluar. Dave menangis, hatinya hancur. Istrinya sudah kesusahan selama sembilan bulan hanya untuk mengandung darah dagingnya tapi, sekarang harus merasakan rasa sakit seperti ini.


"Dave, sabar....!" Ucap Edric yang baru saja datang.


"Aku merasa semua ini karma untuk ku," ucap Dave dengan suara seraknya.


"Karma apa yang kau maksud?"


"Kau tahu sendiri jika sebelumnya aku tidak menginginkan seorang anak. Jadi, Tuhan menghukum ku seperti ini."

__ADS_1


"Ayo lah Dave, jangan berpikir seperti itu. Kau harus bersyukur karena Joana masih hidup, apa kau lupa jika almarhum ibu mertua mu meninggal saat melahirkan Joana?"


Dave mengusap wajahnya kasar, pria ini pergi ke kamar mandi untuk sekedar mencuci wajahnya setelah itu kembali menemui istrinya.


Dave menggendong anaknya, tentu saja hal ini membuat Joana sedih karena ia sangat ingin menggendong anaknya tapi tak bisa.


"Sayang, lihatlah. Di tampan seperti aku," ucap Dave berusaha menghibur istrinya.


Joana hanya mengangguk.


"Dia yang selalu menendang di dalam perut mu akhirnya keluar juga."


"Anak ku,....!" Ucap Joana dengan suara pelan.


"Iya sayang, anak kita!"


"Dave, papi dan mami pulang dulu untuk mengambil pakaian. Davina tetap tinggal, bangunkan saja dia jika kalian butuh sesuatu."


"Iya mi," jawab Dave.


"Jo, mami pulang ya nak!"


Joana hanya mengangguk.


"Sayang, tidak apa-apa terpenting kau sehat dulu sekarang." Jawab Dave. "Istirahatlah, kau butuh tidur!"


Dave meletakan anaknya kembali ke dalam box bayi setelah itu pria ini menemani istrinya sampai Joana terlelap tidur.


"Melihat keadaan Joana seperti ini, aku semakin ragu untuk memiliki anak lagi." Batin Dave. "Cukuplah satu, aku tidak ingin kehilangan istriku."


Dave mengusap lembut kepala istrinya. Hati Dave teriris pedih melihat penderitaan Joana yang tiada henti.


"Bahagia mu baru sebentar sayang, kenapa kau harus menderita lagi?" Batin Dave.


Terus menjaga istrinya, sesekali Dave melihat ke arah anaknya yang sejak tadi tidur.


"Kak,...!" Panggil Davina yang baru saja bangun.


Dave hanya menoleh.


"Jika kakak mengantuk, tidur saja. Biar aku yang menjaga anak kalian," ujar Davina.


Dave menghembuskan nafas kasarnya lalu pria ini merebahkan kepalanya untuk beristirahat sejenak.


Di tempat lain, saat ini tuan Darius sedang bertemu dengan tuan Altan. Untuk yang pertama kalinya mereka sebagai besan saling bertemu.

__ADS_1


"Aku hanya ingin mengabarkan jika saat ini Joana sudah melahirkan," ucap tuan Darius memberitahu besannya.


"Benarkah?" Tanya tuan Altan tampak bahagia.


"Cucu kita laki-laki," ujat tuan Darius. "Tapi,......!!"


Kata-kata tuan Darius menggantung.


"Tapi apa?" Tanya tuan Altan penasaran.


"Joana mengalami kelumpuhan. Dokter mengatakan jika lumpuh yang di alami Joana menurun dari riwayat keluarga." Jawab tuan Darius seketika membuat tuan Altan terkejut.


Tuan Altan semakin merasa bersalah pada anaknya, sejak kecil dirinya tidak pernah memberikan kasih sayang yang cukup sebagai seorang ayah.


"Aku ingin bertemu Joana," ucap tuan Altan.


"Maaf, bukan ingin menghalangi tapi, jangan sekarang. Joana masih syok, takutnya jika dia bertemu dengan anda, kondisi Joana bisa menurun."


Tuan Altan hanya bisa menghembus nafas pelan. Jejak masa lalu kembali terngiang dalam ingatan.


Sampai tuan Darius pergi, tuan Altan menangisi keadaan anak yang selama ini ia acuhkan. Tuan Altan pergi ke makam istrinya, ia menangis di atas rerumputan hijau.


"Bubu,....!" panggilan kesayangan tuan Altan pada istrinya saat hamil. "Ku mohon jangan bawa Joana," pintanya dengan isak tangis. "Aku belum sekali pun membahagiakan Joana. Ku mohon biarkan dia sembuh, bawa semua penyakit mu. Jangan kau tinggalkan pada Joana!"


Terus menangis di atas makam istrinya dengan sejuta penyesalan tak bisa di maafkan.


Dave, ternyata sore ini ia pergi ke makam almarhum ibu mertuanya untuk menceritakan apa yang sudah di alami Joana. Tapi, saat ia melihat tuan Altan, Dave mengurungkan niatnya.


"Siapa yang sudah memberitahu tuan Altan mengenai kondisi Joana?" Batin Dave bertanya-tanya karena tuan Darius tidak memberitahu Dave tentang pertemuan tadi siang.


Pada akhirnya, Dave memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Melihat penyesalan tuan Altan, Dave berjanji pada dirinya sendiri untuk membahagiakan Joana selalu.


"Dari mana?" Tanya Joana dengan suara pelannya.


"Tidak dari mana-mana sayang," jawab Dave yang tidak ingin memberitahu istrinya jika ia pergi ke makam tadi.


"Kapan aku sembuh?" Tanya Joana dengan mata berkaca-kaca.


Dave mengusap lembut kening istrinya.


"Sabar ya sayang, nanti juga sembuh. Aku janji akan melakukan apa pun untuk kesembuhan mu," ucap Dave berjanji.


"Aku ingin menggendong anak ku," ujar Joana tapi, tetap saja ia tak bisa karena kedua tangannya sangat lemah.


Semakin hancur hati Dave, sekarang ia tidak bisa berbuat banyak selain menenangkan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2