
"Sayangnya daddy jangan nakal di dalam perut mommy. Awas saja, akan daddy gantung kau di atas tangga." Ujar Dave yang mengajak anak mengobrol. Tidak lupa pria ini mengelus-elus perut istrinya yang masih datar.
"Berani menggantung anakku di atas tangga itu artinya kau sudah siap berperang dengan ku." Sahut Joana.
"Bercanda sayang, jangan di tanggapi serius!"
"Sayang,...!" Rengek Joana sambil menarik bibir suaminya. "Aku ingin pulang, aku rindu kamar kita."
"Serius ingin pulang?" Tanya Dave memastikan karena ia takut jika istrinya akan berubah pemikiran lagi.
"Iya, bukankah sejak kemarin aku sudah mengajak mu pulang?"
"Iya sayang. Sebentar, aku akan mengurusnya dulu."
"Mengurus siapa?" Sambar Joana. "Jangan coba-coba bermain api di belakang ku!"
"Maksudnya mengurus perjalanan kita pulang." Ujar Dave memperjelas.
"Oh, begitu. Cepatlah suamiku!"
Dave hanya bisa menghembuskan nafas pelan merasakan sikap istrinya yang sekarang.
"Apa ibu hamil suka seperti itu sikapnya?" Batin Dave. "Oh sial! kata Dokter aku tidak bisa menunggangi istri ku secepat kuda. Bagaimana ini?"
Dave mulai mengkhawatirkan dunia peranjangan miliknya.
Sore ini Dave dan Joana akan melakukan penerbangan pulang. Betapa senangnya Joana karena ia sudah sangat merindukan kamarnya bersama Dave.
"Aku merasa heran dengan diriku. Entah kenapa hati ku terus mendorong, mengajak ku pulang!" Ujar Joana.
"Mungkin ini permintaan dari anak kita. Ya sudah, di turuti saja!"
"Sayang, cium....!" Pinta Joana dengan tingkah manjanya.
"Cium bibir atas atau bibir bawah?" Goda Dave.
"Dua-duanya, aku sedang ingin sekarang!" Sahut Joana yang saat ini sedang duduk di atas pangkuan suaminya.
"Tumben sekali kau minta duluan," ujar Dave heran.
Joana tak bisa berkata, dirinya semakin aneh terasa. Joana benar-benar tidak mau jauh dari suaminya bahkan ia lebih senang di elus-elus sekarang.
Sebelum pulang, Joana mengajak suaminya bermain secelup dua celup. Ia langsung menyambar bibir tebal suaminya, mencumbunya dengan liar seperti orang kelaparan.
"Sialan....!" Umpat Joana dalam hati. "Aku ini kenapa?"
"Sayang, kau sungguh memancing hasrat birahi ku," bisik Dave.
Plak......
Joana memukul tangan suaminya yang meremas salah satu buah dadanya.
"Jangan keras-keras, nyeri.....!" Ujarnya.
"Oh,... kalau begini bagaimana?" Tanya Dave kemudian pria ini menghisap salah satu buah dada istrinya.
Uuuumph.......
__ADS_1
Joana melenguh seraya meremas rambut suaminya.
"Aku ingin lagi,....!" Bisik Joana.
Entah kegilaan apa yang sedang di rasakan Joana tapi, tubuhnya seperti merespon berlebihan setiap sentuhan daru suaminya.
"Kau sudah basah sayang," ucap Dave saat ia menyentuh bagian area inti tubuh istrinya.
"Cepatlah....!" Titah Joana.
Dave suka istrinya yang seperti ini. Joana yang terus meminta kepadanya degan sikap manjanya.
Ooouh.....
Jleb......
Dave berhasil memasukan Jamur miliknya ke dalam lubang inti istrinya.
"Pelan-pelan, nanti anak ku lecet!" Ujar Joana mengingatkan.
"Anak ku juga!" Sahut Dave.
"Iya. Anak kita!" Seru Joana. "Oh, jangan lupa. Keluar di luar!" Ujarnya mengingatkan.
"Iya sayang, kau tenang saja!"
Joana memegang pinggul suaminya, Dave pun mulai menggoyangkan tubuhnya. Dengan gerakan pelan dan sangat hati-hati agar tak menyakiti sang jabang bayi.
Mata Joana merem melek saat jamur milik suaminya keluar masuk menghujami lubang intinya. Ia seperti merasakan sensasi yang berada dari biasanya.
Cukup satu ronde, Dave berhasil memuaskan istrinya. Mereka beristirahat sebentar sebelum melakukan penerbangan yang lumayan lama nanti sore.
Keesokan harinya, Dave dan Joana kali ini sedang tidur di ranjang kesayangan mereka. Joana yang begitu merindukan ranjang ini sangat menguasai dengan membentangkan kedua tangan dan kakinya saat tidur sedangkan Dave hanya tidur di pinggiran saja.
Pukul sebelas siang mereka baru bangun itu pun di saat Joana mengeluh rasa mual di perutnya. Dave yang setengah mengantuk mengejar istrinya yang saat ini sedang muntah-muntah di kamar mandi.
"Jangan nakal sayang, kasihan mommy mu." Ucap Dave seraya mengusap lembut perut istrinya.
Joana mencuci wajahnya agar terlihat lebih segar lalu ia memeluk suaminya.
"Kepala ku pusing," keluh Joana.
Seperti anak kecil yang bergelayut manja pada ayahnya, begitulah Joana.
"Makan dulu ya," ujar Dave. "Mungkin kepala mu pusing karena kau belum makan sejak pagi."
"Aku tidak mau makan nasi. Itu menggelikan!"
"Sayang, jika kau tidak makan nasi dari mana kau akan mendapatkan tenaga?"
Joana tidak menanggapi, ia terus memeluk suaminya untuk menghirup aroma tubuh Dave yang belum mandi.
"Aku mandi sebentar ya," ujar Dave.
Joana menggelengkan kepala tanda tidak boleh.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Rasa pusing ku akan berkurang jika aku mencium aroma tubuh mu, sayang." Ujar Joana memberitahu suaminya.
"Kok aneh....?"
"Jangan mandi, aku ingin seperti ini. Duduk berpangku sambil memeluk mu."
"Tapi, minum susu mu dulu biar kau ada tenaga!"
Joana meminum susu hamilnya yang baru saja di antar ke kamar.
"Sayang, ayo bikin kejutan untuk mami dan papi. Mereka pasti senang sekali jika aku hamil."
"Iya sayang, nanti malam ya."
"Aku sedang ingin makan buah pisang. Tapi, aku mau yang ada di toko buah."
"Makan pisang suamimu apa itu kurang cukup?" Goda Dave.
"Kalau begitu keluarkan lah, akan aku gigit pisang mu!"
"Bercanda sayang. Iya, ayo beli pisang!" Sahut Dave yang seketika merasa nyeri di dalam celananya.
Tanpa mandi dan hanya berganti pakaian, Dave dan Joana pergi ke supermarket yang berada tak jauh dari komplek perumahan mereka.
"Pisangnya besar sekali," ucap Joana.
"Besar mana dengan pisang ku?" Tanya Dave berbisik.
"Sayang,.....!" Joana mencubit lengan suaminya.
"Iya,...iya...bercanda. Ambil saja buah yang kau suka. Jangan cuma pisang!" Titah Dave.
"Jo,.....!!" Sapa suara dengan senyum sumringahnya.
Joana dan Dave langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Jo, astaga Jo. Aku tidak percaya jika kita bisa bertemu di sini," ucap Aston yang begitu senang saat bertemu dengan Joana.
"Kau ada ini ada di mana-mana, apa kau punya ilmu menghilang?" Ujar Dave setengah kesal.
Joana malah kebingungan saat ia bertemu dengan Aston.
Aston tidak menghiraukan ucapan Dave barusan.
"Jo, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Aston begitu bodohnya.
Joana menoleh ke arah suaminya.
"Kami sedang memungut barang bekas!" Jawab Dave semakin kesal.
"Tapi, itu kalian sedang memilih buah!"
Seketika Aston mendapatkan lirikan tajam dari Dave. Dave memasukan beberapa buah-buahan ke dalam keranjang kemudian mengajak istrinya pergi dari sana.
"Aku pergi dulu....!" ujar Joana.
Bukannya pergi Aston malah mengikuti Joana. Pria ini berusaha meminta nomor ponsel Joana untuk mengajak bertemu nanti. Di sini lah kesabaran Dave benar-benar di uji apa lagi di depan umum seperti ini.
__ADS_1