
"Zaman sekarang susah banget cari kerja," ucap Joana dengan wajah lesu.
Sejak pagi mencari pekerjaan tapi, tak ada pekerjaan cocok untuk dirinya.
"Susahnya gak punya ijazah. Gini amat nasib diriku," keluh Joana.
"Jo,....!" Sapa suara mengejutkan Joana. "Kenapa kau ada di sini?" Tanya Karina penasaran.
Joana memutar bola matanya malas, sial betul dirinya bisa bertemu dengan Karina.
"Hanya duduk-duduk!" Jawab Joana sembarangan.
"Kau tampak seperti gembel. Apa kau sudah di tendang Dave?"
"Jangan suka ikut campur urusan orang!" Sahut Joana.
"Joana,...Joana. Kau itu tidak pantas menjadi istri Dave. Baguslah kalau Dave sudah sadar, apa sih yang di lihatnya dari diri mu itu?"
"Pergilah, aku sedang malas berdebat dengan mu!"
"Jo,...aku akan menggantikan posisi mu menjadi istri Dave. Bagaimana?"
Karina tersenyum mengejek.
"Ambil saja jika Dave mau dengan mu. Jika kau bisa menaklukkan hati Dave, aku akan bersujud di bawah kaki mu!" Tantang Joana karena ia tahu betul jika Dave tidak tertarik dengan banyak perempuan.
"Jo, di banding kau, aku jauh lebih segalanya. Bagaimana hidup di jalanan? Ku harap kau akan segera bertemu dengan ibu mu di neraka!"
"Karina,....!" Sentak Joana emosi.
Joana memilih mengalah, rasanya sudah lelah berdebat dengan Karina. Pada akhirnya Joana memilih pergi. Sakit rasa di hati, Joana hanya bisa menahan air matanya tanpa bisa bercerita pada siapa-siapa.
"Aku harus segera menemui Dave," ucap Karina kemudian bergegas pergi ke kantor Dave. Selain perusahaan, Karina tidak tahu di mana alamat tempat tinggal Dave.
Di sana, Karina harus menelan kecewa karena Dave tidak masuk ke kantor hari ini. Karina memaksa pada Resepsionis untuk memberikan alamat rumah Dave padanya namun di tolak.
"Satu-satunya jalan untuk mendapatkan alamat rumah Dave, aku harus menemui Davina di kampusnya."
Karina pergi ke kampus tempat di mana ia menemui Davina sebelumnya. Yang membuat Karina kesal, ternyata Davina bukan seorang mahasiswa di sana.
"Jadi, informasi tentang Davina yang kuliah di tempat ini bohong?"
Shiiiiit,.....
Karina mengumpat kesal.
__ADS_1
"Apa yang di kerjakan bocah itu di sini?"
Karina merasa di permainkan, apa yang dia inginkan tak bisa ia dapatkan sekarang. Saat Karina menemui Davina di kampus ini, ternyata itu semua hanyalah ketidaksengajaan saat Davina sedang berkeliling mencari kampus yang menurut nyaman untuk melanjutkan pendidikannya nanti.
Sementara itu, Dave yang pergi mencari Joana semakin merasa khawatir. Sudah dua hari Joana pergi tanpa jejak.
"Dave, salah satu anak buah ku mengabarkan jika Joana bertemu dengan seorang perempuan." Ujar Edric memberitahu.
"Siapa?" Tanya Dave penasaran.
Edric menepikan mobilnya sebentar lalu menunjukkan foto kiriman dari anak buahnya.
"Ini Karina, saudara tiri Joana!" Ujar Dave memberitahu. "Apa anak buah mu masih mengikuti Joana?" Tanya Dave.
"Joana tinggal di daerah ini," ujar Edric menunjukkan satu alamat pada Dave. "Dave, ini masalah mu. Tugas ku sudah selesai untuk menemukan Joana. Kau bisa pergi sendiri menyelesaikan masalah mu."
"Baiklah. Terimakasih!" Ucap Dave.
Edric keluar dari mobil, membiarkan Dave pergi sendirian untuk menemui Joana.
Setengah jam perjalanan, akhirnya Dave tiba di alamat tempat tinggal Joana sekarang.
Dave tertegun melihat tempat ini, satu kawasan kaum menengah kebawah dengan keadaan yang cukup menyedihkan.
Tempati ini kotor, banyak sampah berserakan di mana-mana bahkan orang mabuk saja tidur sembarangan. Mobil Dave tak bisa masuk ke dalam gang, mau tidak mau pria ini melanjutkan dengan berjalan kaki.
Dave mengerti, pria tersebut salah satu anak buah yang di kirim oleh Edric.
Dave menarik nafas panjang saat ia melihat jejeran pintu di rumah sederhana ini. Dave semakin merasa bersalah pada istrinya.
Dave berdiri di depan pintu, hatinya sedikit takut untuk mengetuk pintu. Setelah menimbang diri, akhirnya Dave memberanikan diri.
Tok...
Tok...
Tok....
Tiga kali ketukan tanpa suara, akhirnya Joana membuka pintu dengan ekspresi wajah terkejut.
"Mau apa kau?" Tanya Joana dengan wajah dingin. "Aku sudah mengembalikan uang mu, aku pergi juga tidak membawa barang yang kau belikan. Jangan menganggu aku lagi," ucap Joana langsung pada intinya.
Tiba-tiba saja Dave memeluk Joana.
"Sayang, aku merindukanmu." Ucap Dave.
__ADS_1
Joana berontak, perempuan ini mendorong tubuh Dave dengan kasar.
"Pergilah Dave. Hubungan kita telah selesai," ucap Joana tegas. "Aku sudah melupakan apa yang telah terjadi di antara kita. Jangan membuat ku semakin sakit!"
"Jo, aku minta maaf." Ucap Dave.
Dave hendak meraih tangan Joana tapi, dengan cepat di tepis Joana.
"Kata-kata dan sikap mu terlalu sakit menggores hati ku. Kita telah selesai, aku tidak mau lagi berurusan dengan mu."
"Aku emosi, aku minta maaf. Aku minta maaf karena aku tidak mengerti perasaan mu."
"Selain diri kita sendiri, tidak ada yang bisa di percaya. Pergilah!"
Joana masuk ke dalam lalu menutup pintu. Dave terus memanggil Joana, memohon agar istrinya memaafkan kesalahannya kemarin.
Di dalam rumah, Joana hanya bisa duduk seraya mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi. Tangis tanpa suara, sungguh sakit menyiksa jiwa. Joana sudah biasa menangis seperti ini, kemudian di tutup dengan tertawa.
"Jo, aku mohon pulanglah bersama ku." Pinta Dave terus memohon.
Joana tak bergeming sama sekali, ia membiarkan Dave bicara sendiri di luar sana. Untung saja kalau siang kontrakan sepi karena semua orang sibuk bekerja sampai malam.
"Jo, ku mohon maafkan aku."
Klek,....
Joana membuka pintu, mata sendunya lekat memandang pria berhidung mancung ini.
"Aku hanya sampah jalanan, jika kau memungut ku, kau akan kotor. Pergilah Dave, aku berjanji tidak akan muncul dalam kehidupan mu dan keluarga mu lagi."
"Joana,.....!"
Sekali lagi Dave ingin meraih tangan istrinya tapi, Joana menepisnya.
"Kau banyak uang, kau bisa mengurus perceraian kita dengan cepat." Ucap Joana.
"Tidak, aku tidak akan menceraikan mu. Kau istri ku, sampai kapan pun kau akan menjadi istriku."
"Sudahlah Dave, masih banyak perempuan yang jauh lebih cantik dan pintar di luar sana. Kita tidak pantas bersama, aku bukan perempuan sempurna seperti yang kau minta."
Sekali lagi Joana masuk dan mengunci pintu. Dave hanya bisa memohon, meminta pada Joana untuk memaafkan dirinya.
Satu jam dua jam Joana tidak juga keluar, pada akhirnya Dave memutuskan untuk pergi saat ada penghuni lain datang.
Untuk yang pertama kalinya Dave meneteskan air mata, menangisi perempuan yang sudah berhasil mencuri hatinya.
__ADS_1
Di kutuk kata dirinya sendiri, Dave semakin merasa bersalah pada Joana.