Jerat Candu Istri Sewaanku

Jerat Candu Istri Sewaanku
Chapter 34


__ADS_3

"Sayang, mana janji mu...!"


Dave menagih ucapan Joana.


"Haduh, aku bercanda loh kemarin. Gak serius ngomong kemarin itu."


"Tidak menerima alasan. Ayo main sekarang!" Ajak Dave.


"Heran sama kamu, masalah baru aja selesai udah ngajak main."


"Seharusnya besok tapi, mendengar kamu mau main sepuluh ronde di atas makanya aku majukan harinya."


Joana mengumpat dalam hatinya, bisa-bisanya omongannya yang kemarin di tanggapi serius oleh Dave.


"Mana kuat aku main di atas terus," ucap Joana dengan ekspresi wajah lesu.


"Ayo main sekarang,...!" Dave memaksa.


"Sayang,...!!" Rengek Joana.


"Biar cepat jadi anak," ucap Dave.


Pria ini menghampiri istrinya, memeluk Joana lalu menggendongnya ke atas ranjang.


"Makanya, kalau ngomong itu di rem sedikit. Susah sendiri sekarang," ucap Dave seraya melepas semua pakaian istrinya.


Joana mendengus kesal, mau tidak mau ia harus tetap melayani suaminya.


Tubuh mereka sudah sama-sama polos. Dave berbaring di bawah sedangkan Joana berada di atas.


"Ayo sayang, tunggu apa lagi."


"Kalau urusan beginian aja, lancar!"


Dave tertawa, mulai lah pria ini menuntun istrinya untuk bermain. Sebenarnya Dave marasa kasihan melihat wajah Joana tapi, Dave sengaja mengerjai istrinya ini.


Joana hanya mampu dua ronde, sisanya Dave yang bermain. Sesekali Joana merintih perih.


"Masih mau main lagi?" Tawar Dave sedikit menantang.


"Sayang, sudah enam ronde tolong hentikan. Perih,....!"


"Kurang empat loh,....!"


"Aku sudah tidak kuat lagi," ucap Joana mengeluh.


Dave menurut, pria ini menghentikan aktifitasnya. Joana ngos-ngosan, Dave menggendong istrinya pergi ke kamar mandi untuk berendam air hangat sebentar.


"Sayang, apa kau akan memaafkan papa mu?" Tanya Dave yang saat ini sedang memangku istrinya di dalam bathtup.


"Entahlah, rasanya hati ku sulit untuk menerima kata maafnya meskipun dia orang tua ku."


"Jangan memaksa hati mu, aku paham jika kau masih sangat terluka."


"Sayang, besok kita pergi ke makam mama ya." Ajak Joana.


"Pasti kau ingin makan roti di sana. Iya kan....?"


"Jangan mengejek ku. Udah ah, berendamnya. Aku ngantuk!"


Joana dan Dave pun mengakhiri acara berendam mereka di tengah malam buta. Setelah berganti pakaian mereka langsung pergi tidur.


Malam telah berganti pagi, pukul sepuluh pagi belum juga Dave dan Joana bangun. Dave bahkan lupa jika hari ini dirinya ada meeting penting.

__ADS_1


"Di mana tuan mu?" Tanya Edric pada pak Pet.


"Tuan dan nyonya belum keluar kamar sejak pagi." Jawab pak Pet.


"Dave, sialan kau!" Umpat Edric kesal.


Tanpa memiliki rasa sopan santun lagi, Edric langsung pergi ke kamar Dave untuk membangunkannya.


Sekali dua kali ketukan pintu tak juga di ketuk. Akhirnya Edric menggunakan cara yang kasar.


Klek,.....


Dave membuka pintu.


"Bajingan satu ini, kenapa kau merusuh di kamar ku hah?" Sentak Dave.


"Dave, kau sudah melewatkan meeting penting pagi ini yang membuat klien kita membatalkan kerja sama." Ujar Edric memberitahu dengan emosi.


"Aku habis lembur tadi malam," ucap Dave santai.


Edric mengerutkan keningnya.


"Lembur ngapain?" Tanyanya polos.


"Buat anak lah, menurut mu apa lagi? Tak apa aku kehilangan satu klien dari pada aku harus melewatkan jadwal membuat anak ku."


"Sejak menikah, otak mu menjadi mesum. Lama-lama bisa gila aku!"


Edric tak bisa berkata, pria ini pergi begitu saja dari rumah Dave. Dave mengangkat kedua bahunya kemudian masuk kembali ke dalam kamar.


"Sayang, kenapa dengan Edric?" Tanya Joana.


"Tidak apa-apa. Mandi cepat, aku sudah lapar!"


"Masih mau lagi?" Tawar Dave membuat Joana mendadak segar.


"Aku mau mandi setelah itu makan. Aku lapar!" Ujar Joana kemudian ia bergegas pergi ke kamar mandi.


Joana berjalan sedikit tertatih, Dave tersenyum puas melihat hasil karyanya itu.


Seperti biasa, selesai mandi mereka mengisi perut bersama-sama. Joana seperti orang kelaparan, ia makan dengan cepat.


"Sayang, pelan-pelan!" Tegur Dave.


"Tubuh ku gemetar, kau sudah membuat ku seperti ini."


Dave hanya mengangkat kedua bahunya.


"Selesai makan, aku harus pergi sebentar. Ada pekerjaan! Jika kau ingin lanjut tidur, silahkan. Jika ini pergi, jangan lupa kabari aku."


"Aku ingin lanjut tidur saja," sahut Joana.


Benar, selesai makan Joana langsung kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya Sedangkan Dave pergi ke suatu tempat.


Ternyata, Sarah dan Karina tidak di laporkan ke polisi oleh Dave melainkan di kurung sendiri di suatu tempat.


"Bajingan....!" Umpat Karina. "Lepaskan aku dan mama ku!" Pintanya.


"Dave, lepaskan kami!" Pinta Sarah.


"Tidak akan!" Jawab Dave singkat.


"Entah mantra apa yang rapalkan Joana hingga membuat mu sangat tunduk pada ****** itu. Dave, buka mata mu!" Karina emosi.

__ADS_1


"Kalian pasti tahu luka cambuk di tubuh Joana. Ide siapa yang membuatnya menjadi seperti itu?" Tanya Dave dengan wajah dingin.


"Anak sialan itu memang pantas mendapatkannya!" Sahut Sarah.


"Karena dia akan menggagalkan rencana mu?" Balas Dave.


"Dorhan.....!" Panggil Dave pada salah satu anak buahnya.


"Iya tuan,...!"


"Cambuk perempuan yang itu." Titah Dave seraya menunjuk ke arah Karina. "Buat tubuhnya cacat!" Imbuhnya.


Mata Karina melebar, wanita ini ingin kabur tapi, tak bisa karena ia dan mamanya saat ini sedang terikat.


"Dave, jangan gila kau!" Ujar Karina panik.


"Dari pada kau mencambuk tubuh Karina, lebih baik kau menikmatinya, Dave." Ucap Sarah membuat Dave tertawa.


"Aku tidak mungkin tidur dengan perempuan menjijikan seperti anak mu. Dorhan cepat!"


"Baik tuan,....!"


Dorhan mengeluarkan cambuk sepanjang satu meter setengah. Karina dan Sarah semakin panik.


"Dave, jangan....!" Mohon Karina.


"Seharusnya istri ku melihat kalian di siksa. Tapi, aku tidak mau bayangan di masa lalunya menghantui Joana."


Karina di jatuhkan dari kursi, kedua tangan dan kakinya masih terikat.


"Mama, tolong aku!" Pinta Karina ketakutan.


Syuuuut.....


Aaaaaaarh......


Terdengar suara raungan Karina menahan sakit di cambukan pertama.


"Dave hentikan....!" Pinta Sarah tak berdaya.


Cambukan pertama sudah membuat Karina menggelepar kesakitan.


"Apa itu sakit?" Tanya Dave. "Saat istri ku di cambuk seperti ini, apa kalian membantunya? Oh, pasti kalian menertawakannya."


Syuuuuut.....


Aaaaarh.......


Sekali lagi Karina menggelepar menahan perih dan panas di tubuhnya akibat cambukan.


"Ampun....!" ucap Karina pelan.


"Hentikan ku mohon....!" Pinta Sarah berderai air mata.


Terus berulang kali mencambuk, jerit tangis kepedihan memenuhi ruangan. Sarah tak bisa menolong anak kesayangan.


"Yang mencambuk bukan aku tapi, Altan sendiri yang sudah mencambuk anaknya. Tolong hentikan...!" Ujar Sarah memberitahu.


"Tuan Altan tidak akan mencambuk anaknya jika kalian tidak mengomporinya." Sahut Dave. "Selama ini kau membuat hidup suami mu enak di dalam penjara. Tapi, mulai sekarang aku akan membuatnya menderita!"


Mata Sarah melebar, suaminya yang selama ini ia rahasiakan bahkan ia beri kehidupan secara diam-diam bisa ketahuan oleh Dave.


Selain memohon dan meminta maaf, tak ada yang bisa di lakukan Sarah. Ia hanya bisa melihat anaknya terkapar tak berdaya di lantai kotor. Tubuh Karina memerah, bahkan darah segar keluar dari pori-pori kulitnya.

__ADS_1


Dave sudah menepati janjinya pada Joana untuk membalas rasa sakit yang pernah di alami Joana dulu.


__ADS_2