
"Kenapa dengan dia, Jo?" Tanya nyonya Andina yang heran saat melihat Dave masuk begitu saja ke dalam rumah tanpa menyapanya.
"Gak di beliin balon mi, makanya ngambek!" Jawab Joana kemudian menyusul suaminya ke kamar.
Klek....
Joana membuka pintu, di lihatnya Dave duduk di pinggir ranjang dengan wajah dingin.
"Jangan marah pada ku, aku tidak tahu apa-apa." Ucap Joana.
"Bisa-bisanya bocah itu mengatai aku tua," sahut Dave dengan emosi.
"Makanya itu brewok dicukur. Di bilangin berapa kali, di cukur biar bersih."
Joana yang geram menarik hidung suaminya.
"Sakit,....!''
"Aku lapar....!" Rengek Joana karena mereka belum makan sejak pagi.
"Astaga. Maafkan aku, sayang ku. Iya, ayo kita makan!" Ajak Dave yang langsung turun ke lantai bawah.
"Mau kemana lagi?" Tanya nyonya Andina.
"Mau sarapan!'' Jawab Dave begitu santainya.
Nyonya Andina melirik jam.
"Dave, sekarang sudah jam sepuluh pagi tapi, kenapa kau belum memberi istri mu makan? Joana sedang hamil, kalau bayinya kenapa-kenapa bagaimana? Keterlaluan!" Omel nyonya Andina.
Dave menggosok-gosok telinganya yang panas lalu menarik nafas panjang.
"Manusia pagi kenapa sih? Perasaan bikin emosi terus dari pagi." Ucap Dave kesal.
"Jo, ayo makan sayang. Suami mu itu benar-benar keterlaluan, awas saja dia nanti."
Nyonya Andina sibuk menyiapkan makanan untuk menantunya. Joana dan Dave malah tercengang melihat mami mereka yang begitu sibuk.
Selesai makan, Dave mengajak istrinya untuk beristirahat.
"Sayang, mau kemana lagi?"
"Katanya di suruh cukur, gimana sih?"
"Oh, cepatlah!"
Dave masuk ke kamar mandi, sedangkan Joana tiduran manja di atas tempat tidur sambil bermain ponsel.
Lima belas menit kemudian, Dave keluar dengan wajah tampan dan segarnya. Joana terkagum-kagum melihat ketampanan suaminya ini.
"Tampan sekali suamiku," puji Joana. "Sayang, sini....!"
Dave menurut, pria ini menghampiri istrinya di atas ranjang.
"Kenapa hem?" Tanya Dave begitu lembut.
"Melihat mu, aku jadi ingin." Bisik Joana malu-malu.
__ADS_1
"Ingin apa hem?" Dave bertanya seolah-olah tidak tahu.
"Tidak ada niatan mau menyiram benih yang kau tanam kah?"
"Masih siang, nanti malam aja!"
Mendengar penolakan dari suaminya, Joana langsung mendorong tubuh Dave kemudian kembali merebahkan diri tanpa menoleh Dave.
"Sayang, aku hanya bercanda!" Ucap Dave. "Tentu saja aku mau, kau tahu sendiri aku kelaparan soal ranjang!"
"Nafsu ku sudah hilang. Aku mau tidur!" Sahut Joana denhan suara datarnya.
"Sayang,....!"
Dave menyentuh istrinya.
"Jangan sentuh aku!" Seru Joana seraya menepis tangan suaminya.
"Astaga, matilah aku!" Batin Dave. "Sayang, ayo kita lakukan sekarang!" Ajak Dave.
"Aku tidak mau!" Tolak Joana. "Lelaki ya seperti kau ini, giliran istri yang mau di tolak tapi, giliran batang mu mengeras harus segera masuk. Sudahlah, jangan ganggu aku. Pergi sana!"
"Sayang, sumpah. Aku hanya bercanda, ayo kita mendesaah bersama!"
Joana menutup tubuhnya dengan selamat sampai ke atas kepala.
"Bahaya ini, kalau Joana marahnya sampai malam bisa nganggur tidur aku," ucap Dave dalam hati.
Menggaruk kepalanya tak gatal, Dave berusaha memikirkan cara untuk merayu istri kecilnya.
"Sayang, aku pergi sebentar ya...!" Izin Dave.
Dave pun pergi, apa lagi kalau bukan mencari makanan yang bisa membuat istrinya bisa memaafkan Dave.
Terus berkeliling, mencari sesuatu yang sesuai dengan selera istrinya tapi, Dave belum juga menemukannya.
"Oh, aku harus masuk ke dalam restoran itu. Mana tahu ada menu makanan yang bisa membuat Joana tidak marah lagi. Semua ini demi kau, pedang pusaka ku." Ucap Dave pada dirinya sendiri.
Dave pun masuk, pria ini hanya memesan satu makanan karena Dave tidak tertarik dengan menu di sana. Setelah membayar, Dave bergegas keluar.
"Hai,.....!" Sapa Suara menghentikan langkah Dave.
Keningnya berkerut memandang perempuan yang ada di depannya.
"Siapa kau, kenapa menghalangi jalanku?" Tanya Dave dengan wajah dinginnya.
"Aku Nindi, kita pernah bertemu di London beberapa waktu yang lalu." Jawab Nindi dengan senyum manisnya.
"Lalu?"
"Em,...boleh kita berkenalan secara resmi?"
"Aku tidak punya waktu," ucap Dave kemudian berlalu pergi begitu saja.
"Hai,...aku hanya ingin tahu nama mu. Apa salahnya jika kita berkenalan sebentar. Siapa tahu kita cocok!"
Nindi terus mengejar Dave sampai ke parkiran.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak tertarik pada mu!" Ucap Dave begitu tegas.
"Kita sudah tiga kali bertemu secara kebetulan. Kata orang, bisa jadi itu jodoh." Kata Nindi tak bermalu.
"Aku sudah beristri. Menyingkirlah, aku mau masuk!"
Dave membuka pintu mobilnya kemudian pria ini masuk dan langsung menancap gasnya.
"Suami orang lebih menantang," ucap Nindi dengan senyum sinisnya. "Jangan panggil aku Nindi jika aku tidak bisa menaklukkan batu es itu."
Wanita ini pun pergi, dengan sengaja ia pergi meninggalkan gebetannya di dalam restoran hanya demi mengejar Dave.
Di sisi lain, sekarang Dave sudah mendapatkan ide untuk membujuk istrinya. Dengan senyum lebar dan berlenggang santai Dave pulang ke rumah dengan membawa mobil box besar.
"Sayang,....!" Panggil Dave pada istrinya.
Joana yang sedang duduk bersantai dengan mertuanya langsung menjawab.
"Kenapa?" Ketusnya.
"Suami mu ini punya sesuatu!"
"Apa....?" Tanya Joana penasaran.
"Maaf tuan, mau taruh di mana?" Tanya pak sopir yang membawa barang pesanan Dave.
"Dave, untuk apa kau membeli freezer beserta es krim sebanyak ini hah?" Tanya nyonya Andina yang terperangah melihat kelakuan anaknya.
"Joana suka makan es krim jadi, aku membelinya langsung dari pabrik."
Joana menghembuskan nafas pelan.
"Oh suamiku, aku mencintaimu." Ucap Joana langsung memeluk Dave.
Dave tersenyum puas, ide tak sengaja ini berhasil membuat istrinya bahagia.
"Lihatlah sayang, berbagai macam rasa ada semua. Kau bebas makan asal jangan berlebihan!"
"Jo, jangan makan berlebihan." Ucap nyonya Andina mengingatkan. "Mami sedang menunggu komentar papi mu."
"Davina harus pulang besok. Sudah dua minggu liburan tidak ingat pulang. Jadi apa dia?" Omel Dave.
"Adik mu pulang malam ini," ujar nyonya Andina.
"Jangan galak-galak nanti, kalau ada laki-laki yang mau mendekati Davina, mereka akan takut." Kata Joana mengingatkan suaminya.
"Baguslah kalau taku!" Sahut Dave. "Sayang, aku mandi dulu...!"
Dave pun pergi ke kamar sedangkan Joana dan mami Andina memilih es krim yang akan mereka makan sekarang.
"Kau minta jet pribadi pun akan di belikan sama Dave," gurau nyonya Andina.
"Itu sangat berlebihan mi, bagi ku makanan adalah nomor satu sekarang."
"Sehat-sehat cucu mami, semoga sifat dan sikapnya tidak menurun dari Dave."
"Jangan mi, aduh. Gak kebayang kalau sama seperti Dave."
__ADS_1
Menantu dan mertua ini bicara sangat pelan agar Dave tak mendengar. Jika Dave mendengar, bisa habis mereka berdua.