Jerat Candu Istri Sewaanku

Jerat Candu Istri Sewaanku
Chapter 43


__ADS_3

Karina terus berlari dengan sisa tenaga yang masih ada. Mencoba meminta tolong pada mobil yang lalu lalang tapi tak ada yang mau berhenti.


Deru nafas lelah, telapak kaki berdarah menghantam aspal panas tak ia hiraukan yang terpenting Karina bisa mendapatkan pertolongan.


Ciiit......


Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di samping Karina. Bibir wanita ini tersenyum tipis, ia seperti mendapatkan harapan hidup lagi.


Mendadak senyum Karina hilang berubah menjadi ketakutan saat melihat seorang pria keluar dari dalam mobil tersebut kemudian menariknya masuk ke dalam mobil.


"Lepaskan aku, Dave!" Mohon Karina berderai air mata.


"Yang kau rasakan tidak sebanding dengan apa yang di rasakan Joana. Dia kehilangan keluarga, kehilangan kepercayaan, kehilangan kasih sayang papa-nya. Belum lagi luka fisik dan hati yang kalian perbuat. Percayalah, aku akan membuat mu jauh lebih sakit dari apa yang di rasakan oleh Joana."


"Aku minta maaf," ucap Karina yang masih terisak. "Aku berjanji tidak akan menjahati Joana lagi."


Dave hanya diam, pria ini tidak memperdulikan Sarah. Tak berapa lama mobil Dave kembali memasuki area gudang tua milik Dave yang terbengkalai.


Dengan sangat kasar Dave menyeret Karina masuk kembali ke dalam. Beberapa anak buah Dave hanya bisa tertunduk ketakutan akibat kelalaian mereka sendiri.


Bug......


Dave mendorong Karina masuk ke dalam ruang semula. Di lepasnya sabuk dari pinggang hingga membuat Karina ketakutan.


"Dave, ku mohon jangan lakukan itu." Karina menangkupkan kedua tangannya memohon di bawah kaki Dave.


Dave diam, pria ini tidak peduli dengan wajah memilukan Karina.


Sssset........


Aaaaaaa.......


Jerit kesakitan memenuhi ruangan, Karina memeluk tubuhnya, merasakan panas perih menjalar di sekujur tubuhnya meskipun baru satu cambukan.


"Ku mohon hentikan!" Pinta Karina.


"Jangan coba-coba kabur lagi dari tempat ini atau, aku akan mengirim mu pada mama mu!" Ancam Dave kemudian pria ini keluar dari ruangan tersebut bahkan Dave sendiri yang menguncinya.


"Maafkan atas kelalaian kami, bos!" Ucap salah satu anak buah Dave.


"Sekali lagi kalian lalai, akan ku habisi kalian semua!" Ancam Dave kemudian pergi begitu saja.


"Di jaga yang benar. Awas saja!" Imbuh Edric kemudian menyusul Dave.


Di dalam, Karina hanya bisa menangisi nasibnya sekarang. Jika kemarin masih ada sang mama yang bisa di ajak bicara tapi, kali ini Karina benar-benar sendirian.

__ADS_1


Sebelum pulang ke rumah, Dave berganti pakaian di apartemen Edric.


"Ada baiknya kau mengirim dia kerumah sakit jiwa," ujar Edric memberi saran.


"Sekalian saja kau nikahi dia," sahut Dave.


"Tega sekali kau ini, apa kau mau punya saudara ipar seperti dia?"


Dave tidak menjawab, pria ini pergi begitu saja. Cukup lama meninggalkan istrinya di rumah sendirian, Dave merasa khawatir pada Joana.


Di lajukannya mobil dengan kecepatan tinggi. Bahkan sopir yang mengantar dirinya tadi sengaja di tinggal di apartemen Edric.


Tak berapa lama, Dave sampai juga di rumah mewahnya. Pria ini bergegas masuk mencari istrinya.


"Sayang,.....!"


Joana langsung berlari memeluk Dave.


"Sudah ku bilang jangan berlari. Kau ini sedang hamil, lama-lama aku jewer juga kuping mu!"


"Maaf, aku lupa. Aku rindu pada mu, sayang. Wajar dong...!"


"Pasti belum mandi. Iya kan?" Tebak Dave.


"Jika aku belum mandi, apa yang akan kau lakukan?"


"Sayang, aku ingin makan kentang goreng tapi, makannya di restoran bintang tujuh kalau ada bintang sembilan sepuluh."


"Iya sayang. Apa pun, mari kita pergi malam ini." Ajak Dave.


"Tapi, aku ingin melihat secara langsung koki yang memasaknya!"


"Iya sayang. Hal yang gampang itu. Tapi, sekarang mandi dulu ya. Sudah sore!" Bujuk Dave.


Dengan senang hati Joana menuruti ucapan suaminya. Joana pun masuk ke kamar mandi sedangkan Dave memilih keluar sebentar untuk mengabarkan pada asisten rumah tangganya agar mereka tidak masak makan malam untuk mereka berdua.


"Baik tuan....!" Ucapan Asisten rumah tangga yang biasa di panggil bi Yul.


"Maaf tuan, ada tamu!" ujar bi Win memberitahu Dave.


"Siapa?" Tanya Dave singkat. "Edric kah?"


"Bukan, tamunya sudah tua!"


Dave mengerutkan keningnya penasaran, dengan penuh rasa penasaran Dave keluar menemui tamu tersebut.

__ADS_1


Dave terkejut saat melihat tuan Altan yang tiba-tiba saja datang ke rumahnya.


"Maaf, dari mana anda bisa menemukan alamat rumah ku?" Tanya Dave tanpa basa basi.


"Itu semua tidak penting yang terpenting aku bisa bertemu dengan Joana." Jawab tuan Altan. "Dimana anak ku, aku ingin bertemu dengan dia."


"Joana tidak ingin bertemu dengan anda. Silahkan pergi...!" Usir Dave.


"Malam itu anak buah mu menyeret Karina dan Sarah. Kau pasti tahu di mana mereka. Cepat katakan, di mana mereka?"


"Aku tidak tahu di mana mereka. Mungkin saja sudah mati, pergilah sebelum Joana melihat anda."


"Aku hanya ingin bertemu dengan anak ku. Kau tidak berhak melarang ku," ucap tuan Altan terpancing emosi.


"Aku suaminya dan aku berhak melarang Joana bertemu dengan orang yang sudah tidak menganggapnya sebagai anak."


"Joana.....Jo....ini papa nak. Joana.....cepat keluar nak....!"


Tuan Altan terus berteriak memanggil nama anaknya. Dave melipat kedua tangannya tidak peduli, ia membiarkan tuan Altan mencari istrinya.


Pintu kamar yang tidak tertutup membuat Joana bisa mendengar ada seseorang berteriak memanggil namanya.


Joana yang penasaran langsung keluar dari kamar bahkan ia belum sempat berganti pakaian.


"Sayang,....!" Panggil Joana dari lantai dua. "Siapa?" Tanyanya.


"Jo, ini papa Jo....!" Teriak tuan Altan dari lantai bawah.


"Sayang, aku tidak ingin bertemu dengan orang itu. Cepat usir dia....!"


"Anda bisa dengar sendiri. Joana tidak mau bertemu dengan Anda," ucap Dave pada mertuanya.


"Jo, papa minta maaf nak. Pulanglah bersama papa, papa janji akan menyayangi kamu!"


"Aku tidak butuh janji anda. Aku bukan anak anda lagi, anak anda itu Karina. Pergilah menyayangi dia...!" Usir Joana.


"Lihatlah tuan Altan, luka yang anda tanamkan begitu dalam. Anda sendiri yang memupuk kebencian di hati Joana jadi, jangan salahkan dia."


Tuan Altan hanya bisa tertunduk lesu. Di pikirnya Joana sudah berubah pikiran tapi, ternyata tidak.


"Jo, papa mohon maafkan papa." Ucap tuan Altan dengan tetes air matanya.


"Hai anda, di saat aku memohon di bawah kaki meminta ampun dan maaf, apakah anda bersikap layaknya orang tua?" Tanya Joana dari lantai atas.


"Pergilah, jangan memancing kebencian Joana semakin jauh lagi."

__ADS_1


Tuan Altan hanya bisa menghela nafas panjang. Pak tua ini kemudian pergi dari rumah Dave dengan tangan kosong. Jangankan di maafkan, di sambut kedatangannya saja tidak. Tuan Altan semakin merasa bersalah pada anaknya.


__ADS_2