Jerat Candu Istri Sewaanku

Jerat Candu Istri Sewaanku
Chapter 37


__ADS_3

"Liburan katanya tapi, kau selalu membuat ku susah berjalan. Sayang, perih...!" Rengek Joana.


"Kau pikir aku tidak perih? Ujungnya juga lecet nih!" Sahut Dave.


"Kau saja seperti orang kelaparan. Heran, tidak ada bosannya!"


"Kau membuat ku candu sayang, wajar jika aku selalu menggoyang mu setiap malam." Ucap Dave.


"Bilangnya gak mau nikah gak mau punya anak. Dasar penjilat! Makanya, kalau belum merasakan nikmatnya surga dunia, jangan sok membuat pendirian seperti itu."


"Mengejek ku lagi...!" Seru Dave.


"Sayang,....!" Panggil Joana pelan.


"Iya sayang, ada apa?" Tanya Dave.


"Entah kenapa aku sering merasakan buah dada sebelah kanan suka nyeri dan kencang. Terkadang, gantian sebelah kiri. Menurut mu kenapa ya?" Tanya Joana heran.


"Itu tandanya minta.......!" Dave memonyongkan bibirnya.


Joana memutar bola matanya malas. Ia memilih beranjak dari atas tempat tidur menuju balkon kamar hotel.


"Sayang, ayo pergi jalan-jalan. Ya ampun, bagus banget pemandangannya."


"Masih indah kamu kalau di pandang," sahut Dave.


"Ayo pergi...!" Rengek Joana.


"Iya sayang. Ayo kita pergi sekarang."


Dengan senang hati Dave mengajak istrinya pergi. Jalan kaki berdua, sambil menikmati indahnya pemandangan kota. Joana tampak bahagia, ia seperti anak kecil yang sedang di tuntun oleh ayahnya.


"Sayang, apa kau ingin makan es krim?" Tawar Dave.


"Tentu saja...!"


"Tunggulah di kursi sana, aku akan mengantri untuk mu."


"Terimakasih suamiku," ucap Joana.


Dave pun pergi mengantri es krim sedangkan Joana pergi ke kursi yang tunjuk oleh Dave tadi.


Bug......


Awww......


"Maaf...maaf.....!" Ucap seorang pria kemudian membantu Joana berdiri.


"Aduh, kalau jalan lihat-lihat dong." Gerutu Joana.


"Jo,.....Joana....?" Pria tersebut mengenali Joana.


Joana mendongak, menoleh ke arah sumber suara yang mengenali dirinya.


"Aston, hai....kau Aston?"


"Astaga Jo, sudah lama kita gak ketemu. Kamu kemana aja?" Tanya Aston senang saat bertemu dengan Joana.


"Ya ada, aku masih hidup!" Jawab Joana.

__ADS_1


"Kau sedang liburan atau.....?" Tanya Aston.


"Aku sedang liburan bersama suami ku," jawab Dave.


"Sayang, siapa dia?" Tanya Dave dengan wajah dinginnya.


"Oh, ini teman sekolah ku dulu." Jawab Joana memberitahu saat Dave datang membawa dua es krim.


Dave memberikan es krim tersebut pada istrinya. Kemudian mengulurkan tangannya pada Aston.


"Dave, suami Joana." Ucap Dave memperkenalkan diri.


"Aston,...!"


"Kalau begitu, kami pergi dulu." Ujar Dave yang langsung menarik tangan istrinya.


"Aston, aku pergi dulu...!" Kata Joana yang sebenarnya merasa tidak enak hati.


Joana dan Dave pun pergi, sedangkan Aston terus memandang Joana dari belakang.


"Joana sekarang cantik banget. Beda sama yang dulu," ucap Aston yang merasa kagum saat melihat Joana kembali.


Di sisi lain, Dave merasa cemburu saat melihat istrinya ngobrol bersama laki-laki lain selain dirinya.


"Marah ya...?" Goda Joana.


"Aku cemburu melihat mu bicara dengan laki-laki lain apa lagi kau dan dia tampak akrab." Ucap Dave jujur.


"Dia teman sekelas ku dulu sebelum aku memutuskan untuk berhenti sekolah." Ujar Joana memberitahu suaminya.


"Hem, ya sudah kalau begitu. Biarkan saja!"


"Cemburu pada pasangan itu wajar. Kau istri ku, berani macam-macam akan ku gantung kau di tiang menara itu." Ancam Dave.


"Galak sekali...!" Seru Joana. "Sayang, ayo pulang. Aku lelah!"


Dave mengerutkan keningnya seraya memandang wajah istrinya yang tampak lesu.


"Sayang, apa kau sakit?" Tanya Dave memastikan. "Kenapa wajah mu pucat?"


"Sepertinya aku masuk angin. Perut ku terasa kembung."


"Kita pulang sekarang," ujar Dave.


"Sayang, gendong." Pinta Joana.


Berat tubuh Joana yang tidak seberapa membuat Dave dengan entengnya menggendong sang istri. Tidak ada rasa malu di hati pria ini saat menggendong istrinya di depan umum.


Hembusan nafas Joana terdengar jelas di telinga jelas di telinga Dave.


"Sayang, kenapa tiba-tiba tubuh ku mendadak lesu ya?" Tanya Joana pada suaminya.


"Kamu sih, kebanyakan goyang setiap malam."


Dengan sisa tenaganya Joana menarik telinga suaminya.


"Sayang, sakit!"


"Makanya, jangan suka menyalahkan aku terus!"

__ADS_1


Dave terus berjalan kaki sambil menggendong istrinya. Lumayan jauh jarak kembali ke hotel hingga membuat Joana tidur di atas gendongan suaminya.


Sementara itu, Aston saat ini tengah memikirkan Joana. Setelah sekian tahun ia tak pernah melihat Joana tapi, mereka malah bertemu di negara orang.


"Masa iya sih, Joana sudah menikah?" Tanya Aston tidak percaya. "Suaminya kelihatan lebih tua dari pada Joana tapi, sangat tampan dan gagah. Jika di lihat, sepertinya bukan orang sembarangan."


Aston terus memikirkan Joana, karena saat sekolah dulu Joana termasuk dalam perhitungan siswa paling cantik di sekolah.


Terus memikirkan sampai hingga membuat Aston semakin penasaran dengan kehidupan Joana yang sekarang.


Di sisi lain, Dave saat ini dengan membaringkan istrinya dengan sangat hati-hati agar Joana tidak bangun tapi, nyatanya Joana membuka mata.


Sedikit ngos-ngosan, Dave duduk di tepi ranjang untuk sekedar membuang rasa lelah.


"Sayang, peluk!" Rengek Joana.


"Aku harus mandi sebentar. Tubuh ku lengket," ucap Dave.


"Peluk,....!!"


Hanya satu kata, Dave tidak mungkin menolak. Pria ini langsung memeluk istrinya.


"Kalau sakit ngomong, jangan diam aja. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa," ucap Dave pada istrinya.


"Aku hanya lelah. Tubuh ku terasa nyeri," ujar Joana.


"Mungkin efek semalam, makanya jangan minta terus."


"Aku lagi yang salah. Udahlah, pergi sana. Kau menyebalkan!"


Bukannya pergi Dave malah memeluk istrinya semakin erat.


"Kenapa kau jadi pemarah seperti ini hem?"


"Sayang, aku tubuh ku benar-benar nyeri. Perut ku terasa kembung!"


"Oh, sebentar. Aku ambil minyak angin dulu." Ujar Dave.


Setelah membongkar isi koper, Dave menemukan apa yang ia cari. Pria ini langsung membaluri perut dan punggung istrinya dengan minyak angin.


"Aku harus mengecilkan pendingin ruangan." Ujar Dave yang begitu sibuk bahkan pria ini meminta teh tawar hangat untuk istrinya.


"Aku seperti anak mu ya," ucap Joana.


"Kau istri ku...!" Sahut Dave meluruskan.


"Bercanda saja tidak boleh!" Seru Joana. "Peluk lagi....!" pintanya dengan manja.


"Siapa yang waktu itu makan roti di atas makam ibunya, hayooo?" Goda Dave.


"Ya, aku. Tapi, nanti kau akan makan roti di atas makam ku," ucap Joana kesal.


"Sayang. Jangan bicara seperti itu. Tidak baik, aku hanya bercanda!"


"Kau selalu mengejek ku," ucap Joana dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengejek mu." Ucap Dave merasa bersalah.


Joana menjauhkan diri dari suaminya. Ia tidur menghadap ke lain arah, tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipi. Melihat istrinya menangis, Dave mendadak panik dan khawatir.

__ADS_1


__ADS_2