Jerat Candu Istri Sewaanku

Jerat Candu Istri Sewaanku
Chapter 27


__ADS_3

Malam menjelang, Dave datang kembali ke kontrakan Joana. Di ketuk beberapa kali tapi, Joana tidak ada. Lesu, sudah pasti.


Dave hanya bisa menunggu di depan pintu dengan menenteng makanan dan selimut.


"Mau apa kau datang lagi?" Tanya Joana mengejutkan Dave yang tengah duduk berjongkok di depan pintu.


"Sayang, kau dari mana saja? Aku menunggu mu!"


"Dave, aku sudah bilang pada mu jika hubungan kita sudah selesai. Pergilah!" Usir Joana.


"Aku datang membawa makanan dan selimut. Aku takut kau kelaparan dan kedinginan."


"Aku sudah bisa lapar dan kedinginan. Jadi, bawa kembali apa yang kau bawa ini. Aku tidak butuh!"


Joana menolak.


"Minggir,....!"


Joana membuka pintu.


"Pergilah, aku tidak ingin melihat mu lagi...!" Usir Joana kemudian perempuan ini masuk.


Dave mengetuk-ngetuk pintu tapi, Joana tak mau membukanya.


Tap......


Lampu teras mati, Joana sengaja mematikannya agar Dave pergi.


Dave memandang makanan dan selimut yang ia bawa. Rasanya sakit juga di tolak seperti ini. Mau tidak mau Dave pergi dari sana. Bukan pulang ke rumahnya melainkan pergi ke apartemen Edric.


"Sekarang kau ada lawan juga. Sekeras kepalanya dirimu, ternyata Joana paling keras. Jika kau mencintai Joana, aku yakin kau bisa memperjuangkan dia."


"Melihat Joana yang begitu keras, ingin rasanya aku.....!" Dave gemas sendiri.


"Joana bukan perempuan yang banyak kau kenal. Kau tahu sendiri dia pernah terluka dengan satu orang laki-laki yang seharusnya menjadi cinta pertamanya dan melindungi dia tapi, malah di buang seperti sampah."


"Sekarang aku harus apa?" Tanya Dave lesu.


"Makanya Dave, jangan memikirkan hawa nafsu mu saja tanpa memikirkan perasaan. Wajar jika Joana tidak ingin punya anak, dia masih muda dan masih banyak yang harus di pertimbangkan mengingat sikap mu yang seperti itu."


"Sepertinya kau ini sangat suka membela Joana. Jangan-jangan kau suka ya pada istri ku?" Tuduh Dave.


"Bajingan satu ini, di beri nasehat malah memfitnah orang. Pergi sana!" Usir Edric kesal.


Dengan santainya Dave berlenggang pergi. Pria ini datang kembali ke kontrakan Joana. Hanya bisa memandang dari jauh, di antara jumlah pintu hanya kontrakan Joana yang terang sendiri.


"Jo, kenapa hati mu begitu keras?"


Untuk sekarang Dave tak bisa berbuat banyak. Pria tanpa tujuan ini malah pulang ke rumah orang taunya.


"Di mana Joana? Kenapa kau belum membawa dia pulang juga?" Tanya tuan Darius kembali emosi.


"Joana tidak mau pulang bersama ku. Pi, tolonglah jangan ikut campur masalah ku!"


"Bajingan satu ini. Jika bukan karena kau anak ku, sudah sejak kemarin aku menghabisi mu!"


"Jika masalah perjanjian. Mami kira itu tidak mungkin. Dave, katakan pada kami, apa masalah yang sebenarnya?" Tanya nyonya Andina penasaran.

__ADS_1


"Sudahlah. Aku tidak ingin membahasnya," ucap Dave.


"Kenapa kau tidak ingin memberitahu kami? Apa kau sudah tidak menganggap kami sebagai orang tua lagi?"


Kali ini Nyonya Andina ikutan emosi.


"Joana tidak mau punya anak dari ku," ucap Dave yang kesal pada kedua orang tuanya. "Aku menemukan obat penunda kehamilan yang Joana sembunyikan di bawah ranjang."


Nyonya Andina membuang nafas kasar.


"Mengingat sikap dan sifat mu yang kerasa kepala dan ingin menang sendiri. Jika mami jadi Joana, mami akan melakukan hal yang sama!"


"Perempuan sama saja!" Seru Dave. "Punya istri bikin sakit kepala, tidak punya istri lebih sakit kepala!"


Dave tidak menanggapi lagi, pria ini pergi ke kamarnya yang berada di lantai atas. Dave benar-benar gelisah, sejak Joana pergi dari rumah tidurnya sangat tidak nyenyak.


"Ayo pulang Jo, aku sudah terbiasa memeluk dirimu!"


Dave berguling-guling di atas ranjang seperti orang stres.


Malam telah berganti pagi, hari ini Dave tidak bisa datang menemui Joana karena ada pekerjaan di kantor.


Tok,....


Tok....


"Permisi pak, ada ibu Karina datang mencari bapak!" Ujar Resepsionis memberitahu Dave.


"Aku sibuk!" Sahut Dave dari dalam ruangan.


Dave langsung menoleh ke arah pintu karena Karina langsung masuk begitu saja.


"Aku sedang pusing, pergilah!" Usir Dave.


"Pusing memikirkan Joana kah?"


Tidak sopan, tanpa permisi Karina duduk menghadap Dave.


"Joana memang seperti itu, dia anak yang liar makanya papa tidak sanggup mengurus Joana."


"Katakan saja dengan jelas apa tujuan mu datang menemui ku?"


"Aku ingin mengajak mu makan siang," ujar Karina yang berharap Dave mau pergi bersamanya.


"Kita tidak ada urusan, aku sama sekali tidak tertarik untuk makan siang dengan mu!" Tolak Dave tanpa basa basi.


Karina memaksakan senyumnya.


"Berhentilah memikirkan Joana. Aku tahu kau sudah mengusir dia kan? Dave, aku bisa menggantikan posisi Joana sebagai istri mu."


Dave melirik tajam ke arah Karina.


"Perempuan gila...!" Seru Dave.


"Ayo lah Dave. Jangan munafik, Joana ini masih anak kemarin sore, mana bisa dia di ajak berumah tangga."


"Pergilah....!" Usir Dave.

__ADS_1


"Dave,....!"


"Pergi....!" Usir Dave dengan nada tinggi. "Dasar perempuan tidak bermalu!"


Karina beranjak dari duduknya, wanita ini bergegas pergi karena ia tak mau memancing emosi Dave.


Lima belas menit kemudian.


Tok,....


Tok.....


"Maaf pak, ada tamu yang memaksa untuk bertemu anda. Dia ada di depan pintu sekarang!"


"Siapa lagi? Usir saja, aku tidak ingin bertemu siapapun!" Sahut Dave yang masih kesal.


"Tapi dia,.....!"


"Usir saja...!" Dave memotong ucapan Resepsionis.


"Dave, keluar!" Titah suara yang sangat di kenal Dave.


Mendengar suara itu, Dave terkejut dan langsung membuka pintu.


"Sayang, kau datang?"


Seketika senyum Dave melebar.


"Kau, pergilah. Jangan biarkan siapa pun datang ke ruangan ku."


"Baik pak!"


Dave mengajak Joana masuk ke dalam ruangannya.


"Aku mencari mu di rumah tapi kau tidak ada jadi, aku datang kesini untuk mencari mu." Ujar Joana memberitahu.


"Sayang, apa kau sudah memaafkan aku?"


"Dave, aku sudah mengurus perceraian kita!"


Tiba-tiba saja Joana mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas.


Dave mengambil kertas tersebut, tanpa membacanya pria ini langsung merobek-robek kertas tersebut menjadi potongan kecil.


"Aku tidak akan pernah menceraikan mu. Kau istri ku, sampai kapan pun kau akan tetap menjadi istriku."


"Jangan egois Dave, hubungan kita tanpa dasar cinta!"


"Aku mencintaimu, Jo. Mustahil bagi mu tidak mencintai ku!"


Joana terdiam sejenak, jauh dari lubuk hati paling dalam, Joana juga mencintai Dave hanya saja ia ragu mengingat semua ucapan Dave yang dulu.


"Aku tidak peduli...!" Seru Joana.


"Kau harus peduli, ini masalah hati dan perasaan. Kenapa kau tidak mau memaafkan aku?"


"Hati ku sudah biasa sakit jadi, kemungkinan akan sulit untuk sembuh!"

__ADS_1


Joana tidak mau berlama-lama di sana, ia bergegas pergi dan tentu saja Dave langsung mengejar istrinya. Tak peduli jika di tontonan para karyawan, yang penting Dave bisa mendapatkan istrinya kembali.


__ADS_2