Jerat Candu Istri Sewaanku

Jerat Candu Istri Sewaanku
Chapter 47


__ADS_3

"Sayang, coba cerita. Kenapa kau tiba-tiba merah hem?"


"Perempuan tadi itu, bisa-bisanya dia berkata terus terang jika dia menyukai mu." Kata Joana memberitahu suaminya.


"Yang di pesta tadi?" Tanya Dave memastikan.


"Iya. Dia menarik tangan ku di saat aku pergi ke kamar mandi."


"Berani-beraninya dia melukai hati mu," ucap Dave yang geram. "Sayang, kau tenang saja. Suami mu ini tipe setia jadi, jangan khawatir ya."


Joana membulatkan kedua bola matanya malas. Perempuan ini pergi ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri setelah itu berganti pakaian tidur.


Dave menarik nafas panjang, tidak pernah terbesit dalam benar pria ini untuk menduakan istrinya.


"Sayang, duduk dulu sini. Aku ingin bicara!"


Joana duduk di samping suaminya.


"Bicara apa?" Tanya Joana penasaran.


"Masalah hubungan mu dengan papa mu. Apa kau benar-benar membencinya dan tidak mau memaafkannya?" Tanya Dave.


"Kenapa tiba-tiba membicarakan masalah papa?" Joana bertanya balik.


"Papa mu sendiri, maafkan lah dia." Kata Dave merayu istrinya.


"Sebenarnya, aku tidak membenci papa ku. Aku hanya membenci sikap dia yang tidak pernah menganggap aku ada. Aku bisa memaafkan dia tapi, untuk sekarang aku belum bisa bertemu dengannya. Kau tahu sendiri sudah berapa lama aku terbiasa hidup sendiri."


"Oh, baiklah. Sekarang kita istirahat, ya kalau bisa bermain satu ronde dengan senang hati aku akan melayani istri ku."


Joana mendelikan matanya.


"Jatah mu sudah habis bahkan dalam seminggu ini sudah empat kali. Jadi, tunggulah tiga hari lagi." Kata Joana membuat urat kepala Dave menegang.


"Sayang, kenapa lama sekali?"


Dave merengek seperti anak kecil.


"Apa kau tidak kasihan dengan burung kecil ini?" Tanya Dave pada istrinya.


"Apa kau tidak kasihan pada anak mu yang kau goncang setiap malam?" Joana balil bertanya.


Dave menghela nafas panjang dan langsung memeluk istrinya untuk tidur.


"Selamat malam istriku, selama malam anakku." Ucap Dave sebelum memejamkan mata. Tidak lupa mengusap-usap perut istrinya sampai Joana terlelap tidur.


Tenggelam dalam mimpi masing-masing, suasana malam yang begitu hening apa lagi sekarang memasuki pukul dua dini hari. Joana terbangun, di lihatnya sang suami yang tidur begitu pulas sampai ia tak tega untuk membangunkannya.


Joana kelaparan, perutnya terasa sangat perih. Ia sudah mencoba memejamkan mata tapi, tetap saja tak bisa. Dave membuka matanya saat pria ini merasakan Joana yang gelisah.

__ADS_1


"Sayang, kau kenapa?" Tanya Dave dengan wajah mengantuk.


"Aku lapar, sayang. Aku tidak bisa melanjutkan tidurku."


"Kau ingin makan apa hem?" Tanya Dave yang sudah mengubah posisinya menjadi duduk.


"Entah kenapa saat ini aku ingin sekali makan steak wagyu yang baru di angkat langsung dari panggangan. Terasa sangat enak sekali membayangkannya." Ujar Joana membuat Dave terbelalak lebar.


Bukan masalah steaknya tapi, sekarang pukul dua dini hari, sudah pasti tidak ada restoran yang buka.


"Sayang, aku sedang ingin makan steak itu." Rengek Joana.


"Tapi sayang, sekarang masih pukul dua dini hari. Kemana kita harus pergi?"


Joana menghela nafas panjang kemudian merebahkan tubuhnya.


"Ya sudah, aku akan paksa mata ku untuk tidur." Kata Joana yang merasa kecewa.


Dave menggaruk kepalanya tak gatal.


"Ternyata benar, perempuan itu merepotkan!" Batin Dave. "Sepertinya bukan permintaan Joana tapi, anak nakal itu."


Dave kebingungan sekarang.


"Sayang, jangan marah. Aku akan bertanya kepada papi dan mami. Setahu ku mereka memiliki seorang teman yang bekerja sebagai koki."


"Tidak usah, aku tidak ingin merepotkan orang lain selain kamu." Ucap Joana.


Seketika senyum Joana melebar.


"Tentu saja aku akan memakan masakan suamiku." Jawab Joana dengan senyum semringahnya.


Dave dan Joana pergi ke dapur, suami istrinya ini membongkar isi lemari es untuk mencari daging sapi.


"Sayang, dagingnya ada tapi, bukan wagyu. Bagaimana dong?" Tanya Dave yang takut istrinya akan kecewa.


"Tidak apa-apa. Aku sangat menghargai perjuangan suamiku tapi, besok siang kita makan steak ya?"


"Iya sayang....!"


Bermodalkan melihat resep di ponselnya, Dave mulai memanggang daging tersebut. Meskipun rasanya tak karuan tapi, Joana tetap memakannya sebagai bentuk penghargaan pada sang suami.


Setelah selesai makan, mereka kembali ke kamar untuk melanjutkan tidur.


Malam telah berganti pagi, pagi ini Dave izin pada istrinya untuk pergi menemui Edric di kantor karena ada pekerjaan.


Tidak masalah di tinggal suaminya, masih ada nyonya Andina dan Davina di rumah.


Dave, pria ini masuk begitu saja ke dalam ruangan Edric tanpa mengetuk pintu hingga membuat Edric terkejut.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Edric kesal.


"Aku ada pekerjaan untuk mu," ujar Dave.


Edric mengerutkan keningnya penasaran.


"Pekerjaan apa?" Tanya Edric penasaran.


"Cari perempuan ini....!" Titah Dave seraya menyodorkan selembar foto wanita.


Edric yang penasaran langsung mengambil foto tersebut.


"Dari mana kau mendapatkan foto ini?" Tanya Edric.


"Aku meminta rekaman cctv di pesta pernikahan yang aku hadiri kemarin. Apa kau kenal dia?" Tanya Dave.


"Aku tidak kenal, memangnya kenapa kau mencari dia?"


Dave pun menceritakan apa yang sudah di alami Joana pada Edric. Edric mengerti apa yang di mau oleh Dave.


"Jika sudah ketemu, mau kau apakan dia?" Tanya Edric penasaran.


"Mencabut kukunya!" Jawab Dave singkat.


Edric mengangkat kedua bahunya, baru sekarang ia melihat sikap yang berbeda dari Dave. Entah seberapa besar rasa cinta pria ini pada Joana hingga Dave tidak membiarkan orang lain menyakiti istrinya.


"Oh, satu lagi. Aku ingin jika restoran xxxxxx bangkrut!"


Edric mengerutkan keningnya lagi.


"Itu restoran baru, kenapa kau ingin membuat tempat itu bangkrut?" Tanya Edric heran.


"Restoran itu milik teman lama Joana yang suka mengganggu Joana. Aku terima, bocah itu harus di beri pelajaran!"


"Baiklah, sesuai perintah." Jawab Edric.


Dave pun pamit pergi, sejak istrinya hamil pria ini tidak suka. berada di luar berlama-lama apa lagi ia ada janji pada Joana untuk makan siang berdua.


Tidak berdua, ternyata Davina mengekor dengan kakaknya. Dave kesal, tentu saja pria ini tidak terima tapi, tuan Darius meminta Dave untuk mengajak adik perempuannya.


"Kak, aku sangat ingin keponakan perempuan. Pasti menggemaskan," ucap Davina pada kakak iparnya.


"Kenapa harus kau yang menentukan jenis kelamin anak ku hah?"


Wajah Dave berubah sangar.


"Aku tantenya, wajar dong!" Sahut Davina.


"Aku ayahnya!" Balas Dave.

__ADS_1


Sungguh, Joana suka pusing jika suami dan adik iparnya berdebat seperti ini. Apa lagi mereka tidak mengenal tempat tetap saja berdebat.


"Ayo lah, jangan merusak selera makan ku." Ucap Joana membuat Dave dan Davina terdiam.


__ADS_2