
"Kenapa harus mengundang mereka?" Tanya Joana tidak suka.
"Sayang, kau duduk saja dulu. Kau pasti suka pertunjukan nanti."
"Menyebalkan!" Seru Joana. "Lihatlah, mereka bersikap sok manis."
"Biarkan saja. Sekarang, mari bergabung dengan mereka." Ajak Dave mau tidak mau Joana menurut. "Jangan lupa sepuluh ronde mu," bisik Dave.
Joana memutar bola matanya malas. Suaminya ini memang tidak tahu tempat.
"Jo,....!" Sapa Karina dengan senyum ramahnya. "Apa kabar?" Tanyanya tak tahu malu bahkan Karina masih memiliki muka untuk bertemu dengan Dave.
Joana tak menanggapi, hanya duduk memperhatikan menu makan malam ini.
"Joana. Kakak mu bertanya, kenapa kau tidak menjawabnya?"
Tuan Altan menegur.
"Almarhum mama ku hanya melahirkan diri ku di dunia ini. Aku tidak memiliki adik maupun seorang kakak!" Jawab Joana dengan ekspresi wajah tak suka.
"Lihatlah Dave, Joana sangat jahat pada saudaranya sendiri."
"Setidaknya aku menunjukkan kejahatan ku di depan. Bukan di belakang untuk sekedar mencari pujian." Sahut Joana.
"Sudahlah, jangan di bahas. Mari kita makan," ujar Dave mempersilahkan.
Karina sesekali mencuri pandang ke arah Dave. Tentu saja hal ini membuat Joana merasa cemburu.
"Jangan suka melirik suami orang, tidak baik!" Singgung Joana membuat Karina salah tingkah.
"Jo, siapa yang melirik suami mu?" Tanya Sarah pura-pura tidak tahu.
"Seharusnya anda tahu jawabannya!" Jawab Joana.
"Jo,....!" Sentak tuan Altan yang sudah tidak tahan melihat sikap Joana. "Kau memang anak tak terdidik, di mana letak sopan santun mu hah?"
"Terkadang sadar diri itu penting!" Jawab Joana. "Selama ini, apa anda pernah mendidik aku?" Tanya Joana membuat tuan Altan mati ucap.
"Kita selesaikan sekarang," ucap Dave membuat Sarah, Karina dan tuan Altan bingung.
"Apa yang harus di selesaikan?" Tanya Sarah penasaran.
"Katakan saja dengan jujur, apa kau yang sudah menyebar fitnah di media sosial dengan menunjukan wajah Joana sebagai pembunuh?"
Dave bertanya langsung pada Karina tanpa basa basi.
"Dave, tidak mungkin aku melakukan hal keji seperti itu pada saudara ku!" Bantah Karina.
"Karina tidak ada waktu untuk mengurusi hal seperti itu. Mungkin saja ada orang lain yang melakukannya!" Sambung Sarah membela anaknya.
"Kalau bukan Karina, itu artinya kau!" Sahut Dave d
seraya menunjuk Sarah.
__ADS_1
"Apa maksud mu, Dave? Kau sudah memfitnah anak dan istri ku!" Ujar tuan Altan.
"Joana bukan pembunuh, aku bisa buktikan itu!" Ucap Dave membuat Sarah dan Karina saling pandang menyembunyikan kepanikan.
Untuk beberapa saat meja makan hening, Dave menatap tajam ke arah Sarah hingga membuat wanita itu sedikit ketakutan.
Tuan Altan juga mendadak bingung, sebenarnya ia juga tak tahu apa tujuan Dave mengundangnya makan malam.
Dave melentikkan jarinya, memberi kode kepada seseorang di belakang sana. Beberapa orang masuk memasuki area makan malam di restoran milik teman Dave.
"Kau pasti kenal dengan Dokter itu kan?" Ujar Dave menunjuk ke tepat di depannya.
Sarah dan Karina langsung menoleh ke belakang. Ibu dan anak ini panik ketakutan saat melihat seseorang yang sudah membantunya berbohong dulu.
"Suamiku, ada baiknya kita pulang sekarang!" Ajak Sarah dengan wajah panik.
"Selangkah saja kalian keluar dari tempat ini, akan ku habisi kalian!" Ancam Dave membuat Sarah dan Karina ketakutan.
"Suamiku, dari mana kau menemukan Dokter itu?" Tanya Joana berbisik.
"Jangan lupa sepuluh ronde mu," bisik Dave. Bukannya menjawab pertanyaan sang istri, Dave justru mengingatkan Joana.
"Dave, apa maksud dari ini semua?" Tanya tuan Altan. "Kenapa ada banyak preman di sini?"
"Hai, kau ingin berkata jujur atau aku sendiri yang akan membukanya?" Dave membuat penawaran.
"Ma, bagaimana ini?" Tanya Karina berbisik.
"Joana bukan pembunuh," ucap Dave dengan tegas. "Perempuan yang anda nikahi lalu katanya hamil seorang bayi laki-laki, semua itu bohong!"
"Dave, hentikan...!" Sentak Sarah yang terkejut karena Dave mengetahui rahasianya.
"Ya, tante Sarah tidak pernah hamil dan papa sudah di bohongi dengan mereka." Sambung Joana. "Aku sudah menjelaskan hal ini berulang kali tapi, papa sama sekali tidak mendengarkan aku."
"Nyatanya memang anak yang di kandung mama mu, meninggal dunia." Ucap tuan Altan.
"Dia bukan mama ku!" Teriak Joana kesal.
"Maaf tuan, sebenarnya nyonya Sarah tidak pernah hamil." Ucap Dokter yang bernama Diana. "Nyonya Sarah menyogok saya untuk berbohong." Imbuhnya.
"Hai, ******....hentikan fitnah keji mu!" Ucap Sarah tidak terima.
"Anda terlalu bodoh tuan Altan," cibir Dave.
"Jadi, selama ini kau sudah membohongi ku, Sarah?"
Wajah tuan Altan memerah.
"Suamiku, mereka bohong dan sudah memfitnah ku. Pasti mereka semua sudah bekerjasama. Joana dalangnya."
"Masih tidak mengaku juga!" Seru Joana mulai kesal.
"Pa, mama benar. Semua ini fitnah!" Karina membuka suara. "Malam itu, bukankah papa sendiri yang melihat mama jatuh terguling dari atas tangga?"
__ADS_1
"Percayalah tuan, nyonya Sarah sudah berbohong!" Ucap Dokter Diana dengan wajah ketakutan.
"Suamiku, jangan percaya dengan ucapan mereka semua!"
Dave tertawa sinis, rasanya senang juga ada pertunjukan gratis.
"Istri anda ini sebenarnya menikah dengan anda hanya untuk mengeruk uang anda," ucap Dave memberitahu tuan Altan.
"Dave, jaga mulut mu. Kenapa kau memfitnah ku hah?" Sarah menyentak Dave.
"Suami mu di penjara lima belas tahun kasus pembunuhan. Kau rela menikah dengan tuan Altan semata-mata hanya ingin menghidupi suami mu yang di penjara. Bukankah begitu?"
Dave tersenyum sinis.
"Suamiku, apa itu benar?" Tanya Joana yang ternyata baru tahu.
"Sarah, apa itu benar?" Tanya tuan Altan dengan nada tinggi.
"Bohong....semuanya fitnah!" Sarah semakin terdesak.
"Ma.....!" Karina menggenggam tangan mamanya.
"Hukuman suami mu masih kurang lima tahun lagi karena kau sudah membayar denda untuk beberapa tahun. Apa aku benar?"
"Keterlaluan!" Ucap tuan Altan.
"Kau tidak memiliki bukti. Jadi, semua ini fitnah!" Sarah kekeh tidak mau mengaku.
Tiba-tiba saja muncul sebuah layar monitor yang menunjukkan wajah suami Sarah yang sesungguhnya. Wajah seorang pembunuh yang saat ini sedang berada di dalam tahanan.
Tidak hanya itu, Dave juga menunjukkan pada tuan Altan dan Joana sebuah bukti jika Sarah dan Karina rutin pergi ke penjara.
Tuan Altan terduduk lesu seraya memijat kepalanya yang terasa sakit. Dave kemudian memberi kode pada anak buahnya untuk membawa Sarah dan Karina.
"Lepaskan kami...!"
Sarah dan Karina berontak, tuan Altan sudah tidak peduli lagi saat Sarah dan Karina di bawa pergi anak buah Dave.
"Joana, maafkan papa." Ucap tuan Altan tertunduk malu.
"Semudah itu kah?" Tanya Joana seraya tertawa tapi, air matanya jatuh.
"Kami pergi dulu....!" Ujar Dave lalu menarik tangannya Joana untuk mengajaknya pergi dari sana.
"Joana, maafkan papa."
Tuan Altan mengejar anaknya.
"Untuk sekarang aku belum bisa memaafkan anda," ucap Joana kemudian berlalu begitu saja.
Tuan Altan hanya bisa menangis penuh penyesalan. Ia tak percaya jika selama ini dirinya sudah terhasut omongan Sarah dan Karina.
Mengejar Joana pun percuma, anak buah Dave menghalanginya.
__ADS_1