
"Dua minggu, tidak lebih!" Ucap tuan Darius yang mengizinkan Dave dan Joana pergi berbulan madu.
Seketika senyum Dave merekah mendengar sang papi mengizinkan mereka pergi.
"Kalau begitu kami pulang dulu," ujar Dave yang langsung menarik tangan istrinya.
"Kak, tidak sopan!" Seru Davina kesal.
"Tidak bisakah kalian menginap semalam di sini?" Tanya nyonya Andina setengah berteriak.
"Kami akan pergi malam ini juga!" Sahut Dave membuat kedua orang tuanya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Papi mana tiket liburan ku?" Davina menagih.
"Tidak ada!"
"Papi lupa sama taruhan yang kita buat dulu. Cepat pi, aku juga ingin pergi liburan."
Davina merengek.
"Suamiku. Cepat berikan, kau sudah janji pada anak mu yang cantik ini." Kata nyonya Andina mengingatkan.
Tuan Darius mendengus kesal, sebenarnya ia tak mengizinkan anak kesayangannya ini pergi tapi, demi menepati janji ia harus mengizinkan Davina pergi berlibur seorang diri.
Di sisi lain, Dave dan Joana yang langsung pergi ke bandara tanpa membawa pakaian ataupun perlengkapan yang lain. Hanya identitas diri yang saat ini di genggam oleh Dave.
"Kita ini seperti orang hilang saja," ucap Joana kesal.
"Kenapa begitu?" Tanya Dave heran.
"Pergi tanpa membawa pakaian. Ku rasa kita berdua ini aneh!"
"Jika kita mengemasi barang-barang, kita akan ketinggalan pesawat malam ini."
"Seperti tidak ada hari besok saja!"
Joana benar-benar kesal, ia hanya bisa menggerutu sambil memejamkan mata.
Cukup jauh penerbangan malam ini, pesawat yang di tumpangi Dave dan Joana akhirnya mendarat dengan selamat di negara E lebih tepatnya di kota L.
Dari bandara mereka langsung pergi ke hotel yang sudah di pesan Dave sebelum turun dari pesawat.
Setengah jam perjalanan, akhirnya Joana bisa merebahkan diri di atas tempat tidur juga.
"Sayang, pergilah mandi dulu." Ujar Dave.
"Tidak ada pakaian ganti, nanti saja!" Tolak Joana.
"Itu,....!" Tunjuk Dave membuat Joana terkejut saat melihat dua koper besar yang berada di samping sofa.
Joana membuang nafas kasar lalu berkata.
"Lelaki satu ini....!"
"Cepat mandi sana!" Titah Dave.
"Lima menit lagi, aku masih lelah."
"Sayang, sekarang kau terlihat lebih berisi." Ucap Dave.
__ADS_1
"Maksud mu, aku gemuk gitu?" Tanya Joana tidak terima.
"Eh, gak gitu maksudnya sayang."
"Ah, udahlah....!"
Joana merajuk, ia memilih pergi mandi.
"Perempuan satu ini sensitif sekali," ucap Dave seraya menggelengkan kepalanya.
Sambil menunggu istrinya mandi, Dave beristirahat sebentar.
Di tempat lain, masih di tempat yang sama, Sarah dan Karina hanya bisa menangis merasakan pahitnya hidup mereka yang sekarang.
Sejak kemarin, Karina sudah tak berdaya. Ibu dan anak ini hanya bisa menikmati rasa sakit yang menjalar di tubuh mereka.
Lebih sakit dari yang di rasakan Joana, Dave benar-benar membalas rasa sakit yang di alami oleh istrinya dulu.
"Tolonglah nak Edric, tolong beritahu di mana alamat rumah Dave." Tuan Altan memohon pada Edric.
"Maaf tuan Altan, Joana dan Dave sedang tidak ada di rumah jadi, percuma saja anda pergi ke sana."
"Jangan membohongi ku. Aku hanya ingin bertemu dengan Joana."
"Joana dan Dave pergi berlibur. Mereka sudah berangkat tadi malam," ucap Edric memberitahu.
Tuan Altan hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Dengan langkah gontai ia pergi dari apartemen Edric.
Begitu suram keadaan tuan Altan yang sekarang. Meskipun ia memiliki cukup uang tapi, ia kehilangan kasih sayang dari anaknya sendiri.
Tiba-tiba saja tuan Altan teringat akan Sarah dan Karina. Ia kembali lagi ke menemui Edric.
"Aku mau bertanya, apa kau tahu di mana Sarah dan Karina?" Tanya tuan Altan karena sejak kejadian malam itu, ia sudah tidak pernah lagi melihat istri dan anak tiri kesayangannya.
Edric mengerikan keningnya lalu menjawab.
"Maaf, aku tidak tahu. Mungkin saja mereka sudah melarikan diri."
"Aku harus mencari mereka dan memberinya pelajaran," ucap tuan Altan dengan rahang mengeras.
Tuan Altan kembali pergi, meskipun Edric tahu di mana Sarah dan Karina, tidak mungkin ia akan memberitahu.
Kembali ke Dave dan Joana, saat ini mereka berdua sedang menikmati sarapan pagi sambil menikmati pemandangan tengah kota dari atas balkon.
"Sayang, ternyata dunia luar bagus juga ya." Ucap Joana dengan senyum bahagianya.
"Kita masih di bumi, sayang." Sahut Dave.
"Tidak bisakah kau serius?"
Joana memutar bola matanya malas.
"Aku hanya bercanda sayang," ucap Dave.
"Aku juga bercanda," sahut Joana.
"Setelah ini, kau mau istirahat. atau langsung pergi jalan-jalan?" Tanya Dave menawarkan.
"Katanya bulan madu, bagaimana jika kita langsung buat anak saja?"
__ADS_1
Mendadak mata Dave melebar kesenangan.
"Serius?" Tanya Dave.
Joana mengangguk.
"Cepat habiskan makan mu," titah Dave yang juga buru-buru menghabiskan makanannya.
Tak berapa lama, mereka selesai juga makan.
"Dua minggu full, kita hanya fokus untuk membuat anak. Aku sudah mencaritahu gaya seperti apa biar cepat jadi bayi," ucap Dave membuat Joana tertawa.
"Sayang, kau ini sangat mengada-ngada sekali," sahut Joana.
"Eh sayang, aku serius. Aku bertanya langsung pada Dokter yang ahli dalam bidangnya."
"Kau bertanya? Sayang, apa kau tidak malu saat bertanya?"
Joana menggelengkan kepalanya.
"Kenapa harus malu?" Tanya Dave, "semua uni demi kebaikan kita berdua."
"Tapi, tetap saja aku yang malu. Urusan ranjang di bahas sama orang lain."
"Sudahlah, jangan di pikirkan. Dokternya laki-laki dan dia sudah biasa di mintai pendapat seperti ini."
Sejenak Joana termenung sambil memandang suaminya.
"Sepertinya Dave benar-benar serius menginginkan seorang anak. Dasar penjilat!" Batin Joana.
"Sayang, kenapa melamun?" Tegur Dave mengejutkan Joana.
"Tidak kenapa-kenapa. Aku sedang memikirkan gaya seperti apa yang akan kau lakukan nanti."
"Kalau begitu, ayo main sekarang!" Ajak Dave sudah tidak sabaran.
"Sepuluh menit lagi, makanan ku belum sampai ke perut!"
"Kau ini ada-ada saja. Jangan membuat alasan!"
"Perut ku begah, tunggu sebentar lagi. Mungkin masuk angin sedikit."
"Mulailah alasan mu itu....!"
Dave menurut, pria ini lebih memilih merebahkan diri sambil melihat-lihat tempat yang akan ia kunjungi selama di negara ini.
"Sayang. Sebelum bersama ku, apa kau pernah pergi berlibur dengan orang yang kau sayang?" Tanya Dave iseng.
"Kau tahu sendiri bagaimana kehidupan ku. Aku pergi meninggalkan rumah saat aku berumur enam belas atau tujuh belas tahun. Pertanyaan mu itu, menyebalkan!"
"Bertanya saja tidak boleh!" Seru Dave.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Halo kak, terimakasih sudah membaca novel-novel ku🌝 terimakasih untuk hadiah dan dukungannya, mohon maaf jika ada komentar yang tidak di balas 🤝🏻
Yuk mampir ke novel baru ku yang berjudul \=\=>
"Istri Kedua Mafia"
__ADS_1