Jerat Candu Istri Sewaanku

Jerat Candu Istri Sewaanku
Chapter 46


__ADS_3

"Aku mau tidur, bisakah kau diam sayangku?"


Joana kesal.


"Aku tidak bisa tidur!" Ujar Dave dengan ekspresi wajah kesal.


"Kenapa?" Tanya Joana heran.


"Aku kelaparan!"


"Kalau lapar ya makan, apa susahnya?"


Dave mendengus kesal lalu melirik tajam istrinya.


"Kenapa melihat ku sampai seperti itu?" Tegur Joana tidak terima.


"Aku benar-benar kelaparan dalam urusan ranjang. Sayang, kapan anak kita lahir?"


Dave mulai merengek seperti anak kecil.


"Sekitar tujuh bulan lagi. Sabarlah!"


"Lama sekali, aku bisa gila kalau seperti ini."


"Pikiran mu isinya cuma urusan ranjang. Udah ah, mau tidur!"


Mau tidak mau Dave tidur memeluk istrinya. Yang biasanya setiap malam berhubungan suami istrinya sejak Joana hamil, Dave hanya mendapatkan jatah tiga kali dalam seminggu.


Malam semakin larut, semua orang sudah terlelap di atas ranjang mereka masing-masing. Di saat Dave hendak memeluk istrinya tapi, Joana tidak ada di sampingnya.


"Sayang,....!" Panggil Dave mencari Joana tapi, Joana tidak ada di kamar.


Di carinya di kamar mandi tapi, tetap saja tidak ada.


"Astaga, apa Joana kabur lagi?"


Dave panik, pria ini langsung keluar dari kamar untuk mencari istrinya.


Dave berkacak pinggang sambil menggelengkan kepala saat melihat Joana dengan santainya makan es krim.


"Wah, enak sekali ya....!" Tegur Dave mengejutkan Joana.


Joana tersenyum lebar lalu menyembunyikan apa yang dia makan.


"Lama-lama aku buang freezer itu," ucap Dave. "Sudah makan berapa kau hari ini?"


"Cuma satu kok," jawab Joana padahal Dave bisa melihat dengan jelas ada bekas sampah dua bungkus. "Jangan marah, mau jatah gak?"


Joana merayu suaminya agar tidak marah.


"Malam ini aku ampuni kau, ayo kembali ke kamar!" Ajak Dave.


"Gendong....!'' rengek Joana.


Dengan senang hati Dave menggendong istrinya kembali ke kamar.


"Mau ngapain?" Tanya Joana saat Dave hendak melepas celananya.

__ADS_1


"Katanya mau ngasih jatah lebih. Ah, gimana sih?"


"Aku ngantuk...!"


"Sayang......!!"


Dave merengek seraya menggosok-gosok wajahnya ke atas perut Joana dengan lembut.


"Yang penting keluar, gitu aja kok repot!" Ucap Joana.


"Ya gak ada sensasinya." Jawab Dave.


Merasa kasihan pada suaminya, Joana mengiyakan untuk memberi jatah lebih pada Dave.


Malam telah berganti pagi, Joana sudah segar selepas mandi tapi, tidak dengan Dave yang sudah dua hari ini merasa malas untuk menyentuh air.


"Sejak kapan manusia pembersih seperti diri mu jadi malas mandi?" Tegur tuan Darius.


"Sudah dua hari ini, pi...!" Jawab Dave.


"Wajarlah, mungkin bawaan bayi." Sahut nyonya Andina.


"Akhirnya kakak ku ini mau punya anak juga," ucap Davina yang baru sampai tadi subuh. "Jadi pengen punya anak!" Imbuhnya langsung mendapatkan tatapan tajam dari semua orang.


"Berani macam-macam kakak kirim kau keluar angkasa!" Ancam Dave.


"Ada baiknya kau belajar yang rajin," ujar Joana. "Menjadi seorang istri itu susah, kadang makan hati kadang bahagia kadang-kadang ya begitu lah."


"Benar itu Jo....!" Sahut nyonya Andina membenarkan.


"Tapi, papi tidak merasa tersinggung!" Bantah tuan Darius benar-benar membuat Dave kesal.


Dave yang kesal memutuskan untuk mengakhiri sarapan paginya dan langsung kembali ke kamar.


"Sudah lama tidak ada kamar mandi bergoyang," ucap Dave. Aku merindukan gaya itu.....!"


Dave menggila, pria ini berguling-guling di atas tempat tidur.


Siang berganti sore, Dave dan Joana sedang bersiap-siap untuk pergi ke acara pesta pernikahan salah satu anak dari klien Dave.


Gaun putih setengah kaki, rambut panjang ikal sengaja di biarkan tergerai, perut sedikit buncit tapi, tak mengurangi kecantikan Joana.


"Istri ku memang cantik," puji Dave yang saat ini memeluk istrinya dari belakang. "Hanya dengan melihat wajahmu, pedang pusaka ku bisa bangun."


"Setiap kata-kata mu selalu menjurus ke arah sana. Sayang, ayo pergi sekarang!" Ajak Joana.


"Iya sayang, ayo pergi sekarang!"


Mereka berdua pun pergi ke salah satu hotel mewah tempat acara berlangsung. Sejak menikah dengan Dave, ini pertama kalinya pria ini mengajak sang istri bertemu dengan orang banyak.


"Tak kalah mewah dari pesta pernikahan kita, aku benar-benar kagum dengan orang yang mendekornya." Ucap Joana.


"Ada uang, semua beres!" Sahut Dave. "Kita duduk di sana ya....!"


Dave dan Joana memilih duduk di meja nomor tiga dari depan.


"Hai, sepertinya aku menemukan pria itu lagi. Sama siapa dia?"

__ADS_1


Ternyata ada Nindi di dalam pesta tersebut karena dia salah satu tamu undangan.


Nindi mencoba mendekat, memastikan apa yang ia lihat.


"Hai,....!" Sapa Nindi.


Dave dan Joana menoleh ke arah sumber suara.


"Apa ku bilang, kita sudah beberapa kali bertemu secara tidak sengaja. Itu artinya kita berjodoh," ucap Nindi di hadapan Joana.


"Buka mata mu, di sini ada istrinya. Banyak lelaki nganggur di luar, jangan mengganggu suamiku!" Sahut Joana santai.


"Sebenarnya aku heran pada mu, aku juga tidak mengenal mu tapi, kenapa kau selalu muncul di hadapan ku hah? Pergi sana!" Usir Dave.


Nindi tak menjawab, wanita ini malah memandang Joana dengan tatapan sinis.


"Pergilah, kami tidak mengenal mu!" Usir Joana.


Tanpa banyak bicara Nindi pergi dari meja Dave.


"Sayang, siapa dia?" Tanya Joana penasaran.


"Aku juga tidak tahu. Perempuan itu membuat ku geli," ujar Dave.


Nindi terus memperhatikan Dave dari mejanya. Sesekali melihat ke arah Joana untuk membandingkan pada dirinya.


"Seperti perempuan itu masih sangat muda," ucap Nindi. "Aku jauh lebih cocok bersanding dengan pria itu." Imbuhnya.


Nindi beranjak dari duduknya saat melihat Joana berjalan ke arah toilet. Dengan cepat wanita ini menyusul Joana tanpa sepengetahuan Dave.


"Heh,.....!"


Nindi yang tidak tahu diri langsung menarik tangan Joana.


"Kenapa?" Tanya Joana singkat.


"Aku menyukai suami mu," ucap Nindi membuat Joana tertawa.


"Goda lah suamiku, jika dia tergoda pada mu maka aku akan dengan senang hati melepaskan seorang pengkhianat untuk kau yang lebih membutuhkan," sahut Joana seolah menantang.


"Sombong...!" Seru Nindi. "Jika kau di tendangnya, nanti nangis!"


"Aku memang mencintai suami ku, sekali saja dia bermain di belakangku, aku tidak sungkan menyedekahkannya pada mu. Goda saja, apa dia akan tergoda pada mu?"


Joana tidak jadi masuk ke dalam toilet, ia kembali ke meja lalu menarik tangan suaminya mengajak pulang.


"Sayang, kau kenapa?" Tanya Dave heran.


Joana tidak menjawab, pria ini hanya menurut saat istrinya mengajak keluar.


"Jo,....hai....Joana...!!" Sapa Aston dengan senyum lebarnya.


"Jangan menghalangi jalan ku," ucap Joana dengan wajah dinginnya.


Wanita ini langsung mendorong Aston agar tak menghalangi jalannya.


"Sayang, kau ini kenapa?" Tanya Dave semakin heran.

__ADS_1


__ADS_2