
"Ayo Karina, kita harus keluar dari tempat ini." Ujar Sarah yang saat ini sedang membopong anaknya dengan sekuat tenaga.
"Ma, sakit ma. Aku sudah tidak tahan lagi," ucap Karina dengan suara pelan.
"Sabarlah, jika kita sudah keluar dari tempat ini. Mama akan melaporkan Dave pada polisi."
"Sampai kapan pun kalian tidak akan bisa keluar dari tempat ini," ucap Dave dengan suara dingin hingga membuat Sarah tersentak kaget.
"Bajingan....!" Umpat Sarah. "Biarkan kami keluar dari tempat ini. Kami tidak memiliki masalah dengan mu."
"Mungkin aku tidak tapi, Joana istri ku." Sahut Dave.
"Anak itu memang pantas mati," ucap Sarah memancing emosi Dave.
"Dorhan, seret kembali mereka!" Titah Dave.
"Baik tuan!"
"Cambuk saja perempuan tua ini sama seperti anaknya!"
"Baik tuan!"
Dorhan dan kedua temannya langsung menyeret Sarah dan Karina masuk kembali ke dalam ruang kosong tersebut.
"Tuan, apa boleh kami menikmati tubuh wanita muda ini?" Tanya Dorhan meminta izin.
"Tentu saja boleh, gratis untuk kalian!" Jawab Dave.
"Jangan, ku mohon jangan lakukan itu." Pinta Karina dengan suara lemahnya.
Dave tidak peduli, pria ini memutuskan untuk pergi. Sudah dua hari mereka di kurung oleh Dave tapi, rasanya bagai berhari-hari.
Dave pulang ke rumah, pria ini langsung mencari istrinya yang sedang beristirahat di kamar.
"Sayang,....!" Panggil Dave.
"Dari mana saja?" Tanya Joana dengan wajah di tekuk.
"Ada pekerjaan sedikit. kenapa hem?" Tanya Dave.
"Kau sudah janji pada ku," ucap Joana.
"Iya sayang. Aku ingat janji ku makanya aku pulang sekarang."
"Cepat mandi, aku sudah tidak sabar ingin memakan kue yang terkenal enak itu." Titah Joana yang sudah tidak sabar.
Dave mengusap kepala istrinya lembut kemudian pria pergi mandi.
Setengah jam kemudian, Dave dan Joana akhirnya pergi juga.
Toko kue terkenal yang baru buka ini sudah memiliki banyak pelanggan. Dave yang dulu tidak ingin berbaur dengan antrian seperti ini demi Joana ia lakukan.
Setelah mendapatkan kue yang sesuai dengan keinginan istrinya, Dave kembali ke mobil.
"Sayang, kita makannya di taman ya." Ajak Joana.
__ADS_1
"Terserah di mana asal kau senang, sayang." Sahut Dave.
Dave mencari taman yang terdekat karena hari sudah mulai sore. Menikah beda usia, membuat Dave harus pandai membawa diri dan menyesuaikan selera istri kecilnya.
"Jo,...Joana, kau kah itu?" Tanya suara dari arah belakang.
Joana yang sedang bersiap untuk menyantap kuenya tidak jadi memasukan kue tersebut kedalam mulut. Joana dan Dave menoleh ke arah belakang.
"Oh, benar. Papa sejak tadi memperhatikan mu, ternyata benar. Itu kau dan Dave." Ucap tuan Altan.
Ekspresi wajah Joana yang semula bahagia mendadak dingin tak suka.
"Sayang, ajak aku pergi." Pinta Joana.
"Jo, jangan seperti ini. Papa minta maaf," ucap tuan Altan menyesal.
"Sayang ayo,....!" Ajak Joana yang langsung menarik tangan suaminya.
Dave menurut, tanpa sepatah kata pun pria ini ikut pergi bersama Joana.
Tuan Altan mengejar anaknya, ia terus mengucapkan kata maaf pada Joana tapi, tetap saja Joana diam seribu bahas.
Sampai mobil Dave pergi, tuan Altan hanya bisa termangu dengan sejuta penyesalan di hatinya.
"Sayang, kenapa diam saja?" Tanya Dave.
"Selera makan ku hilang. Menyebalkan!"
"Kita cari tempat yang lain ya," ujar Dave.
Dave mengajak Joana ke salah satu cafe yang berada tak jauh dari taman. Cafe klasik bahkan meja dan kursinya pun sangat unik.
"Sayang, tempatnya bagus banget. Aku suka," ucap Joana yang senang.
"Kalau begitu, akan ku beli tempat ini." Sahut Dave.
"Maksudnya gak gitu juga. Aku hanya sekedar mengagumi, bukan untuk di beli."
"Apa salahnya menyenangkan istri sendiri?"
"Dave,....!" Sapa seorang perempuan. "Hai Dave, apa kabar?"
Perempuan ini hendak memeluk Dave tapi, langsung di tahan Joana.
"Maaf, jangan memeluk suami orang sembarangan!" Tegur Joana.
"What...?" Perempuan yang bernama Jesika ini terkejut. "Jadi benar kabar yang beredar jika kau sudah menikah?"
"Iya, kenapa?" Tanya Dave acuh.
"Oh Dave, kenapa selera mu seperti ini. Dia nampak masih muda!"
"Istri ku masih dua puluh dua tahun. Daun muda dan segar, aku bahkan selalu menggaulinya setiap malam," ucap Dave terang-terangan.
Jesika bingung, ekspresi tertawa tapi hendak menangis.
__ADS_1
"Sayang, sebaiknya kita pergi dari sini." Ajak Joana dengan tingkah manjanya.
"Iya sayang,....!" Ujar Dave dengan nada lembut.
Jesika bengong saat melihat sikap Dave. Pria yang terkenal dingin dan tak mau menjalin hubungan dengan wanita ini terlihat begitu hangat pada Joana.
"Dulu aku mengejar Dave sampai mengancamnya bunuh diri. Tapi, kenapa malah nikah sama perempuan yang seperti anak kecil seperti itu?"
Jesika hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Jika kau ada niatan mengejar Dave kembali, sebaiknya kau urungkan saja." Ucap Rachel yang ternyata memperhatikan Jesika sejak tadi.
"Perempuan ular ini,...! Sejak kapan kau menguping hah?" Ketus Jesika.
"Aku hanya menasehati mu, kenapa kau sangat marah?"
Jesika tak mau berlama-lama di sana, wanita ini memutuskan untuk pergi. Hanya karena Dave, dua sahabat ini pernah bertengkar untuk memperebutkan Dave.
Dave dan Joana, mereka berdua memutuskan untuk pulang karena selera makan Joana mendadak hilang sore ini.
"Besok-besok kita bikin acara di rumah aja biar gak ada yang ganggu," ujar Joana yang merasa kesal.
"Kalau bisa di dalam kamar. Di jamin, tidak ada yang berani mengganggu!" Sahut Dave.
"Itu sih mau mu sendiri," balas Joana.
"Sayang,....!" Rengek Dave lalu memeluk istrinya. "Kita pergi liburan yuk!" Ajak Dave.
"Kau itu sibuk, mana ada waktu pergi berlibur."
"Aku akan minta izin sama papi. Anggap aja liburan kali ini mengulang bulan madu kita."
"Bulan madu katanya tapi, kau jarang mengajak ku pergi jalan-jalan. Menyebalkan!"
"Hai, namanya juga bulan madu. Fokus di atas ranjang membuat anak."
"Tapi, aku juga mau jalan-jalan menikmati dunia luar."
"Iya sayang. Jadi, kamu udah setuju kalau kita pergi liburan?" Tanya Dave memastikan.
"Demi suamiku ini, apa sih yang enggak?"
Kehidupan Dave semakin berwarna, tidak melulu mengurusi soal pekerjaan setiap hari.
"Kau benar, seharusnya ada yang menghabiskan uangku agar aku semangat kerjanya." Kata Dave yang baru saja ingat omongan Joana dulu.
"Apa pun yang aku katakan memang selalu benar. Kau saja seperti batu," ucap Joana malah memancing emosi suaminya.
"Dari pada kau, pecicilan. Kalau ngomong suka teriak-teriak!"
"Pecicilan begini bisa membuat mu puas di atas ranjang," ucap Joana dengan bangganya.
"Kau pun sama," sahut Dave.
"Menyebalkan!" Seru Joana.
__ADS_1