
Tiba-tiba saja Dokter mengulurkan tangan mengajak Dave berjabat tangan. Dave mengerutkan keningnya lalu melirik ke bawah.
"Maaf, ini maksudnya apa?" Tanya Dave seraya menunjuk tangan Dokter perempuan yang menangani Joana tadi.
Dengan perasaan malu, Dokter tersebut menarik tangannya lalu memaksakan senyumnya.
"Selamat tuan, istri anda positif hamil." Ucap Dokter memberitahu. "Saya hanya ingin memberi ucapan selamat saja. Tidak lebih!" Imbuh sang Dokter.
Betapa malunya wajah Joana atas kelakuan suaminya ini.
"Coba katakan sekali lagi, istri ku hamil?"
"Ya tuan dan usia kandungannya sudah memasuki delapan minggu." Jelas Dokter.
Tanpa memiliki rasa malu Dave langsung memeluk Joana lalu mengecup bibir istrinya kegirangan.
Dokter tersebut hanya bisa membuang pandangannya.
"Sayang lepas. Aku malu,..!" Joana melepas pelukan suaminya.
"Kau hamil sayang. Sebentar lagi kita akan punya anak," ucap Dave.
"Aku tahu, jangan berlebihan!"
"Kau tidak suka kah?" Tanya Dave dengan wajah dinginnya.
Joana tidak menjawab, ia sendiri masih merasa pusing dan tak mau menanggapi kegilaan suaminya.
Kembali pulang ke hotel, wajah Dave tampang dingin bahkan pria ini hanya diam saja. Sedikit tidak memperdulikan istrinya, membuat Joana merasa heran pada suaminya.
"Sayang, aku mau minum jus jeruk." Rengek Joana mengetes suaminya.
"Ambil saja sendiri...!" Tolak Dave.
"Kau ini kenapa?" Tanya Joana mulai kesal.
"Kau yang kenapa? Apa kau tidak suka hamil anak ku hah?" Sentak Dave seketika membuat mata Joana berkaca-kaca.
"Aku bahagia saat aku hamil. Tapi, kau sangat berlebihan. kau terlalu erat memelukku padahal kau tahu sendiri jika kepala ku pusing dan tubuh ku lemas. Jika kau tidak mau tidak usah membentak ku. Aku tidak suka!"
Balik Joana yang marah, ia langsung naik ke atas tempat tidur lalu menutup wajahnya dengan bantal sambil menangis.
Dave sadar, ia salah pria ini masih belum bisa mengontrol emosinya karena takut kehilangan Joana.
"Sayang, aku minta maaf. Ini aku ambilkan jusnya."
"Tidak usah. Aku tidak butuh, urus saja dirimu. Aku mau pulang....!"
Semakin keras tangis Joana, membuat Dave panik.
__ADS_1
"Sayang, jangan menangis. Aku hanya takut jika kau tidak menginginkan anak ini mengingat kau pernah minum obat penunda kehamilan." Ujar Dave berusaha menjelaskan.
"Aku mau pulang. Aku tidak mau di sini, kau jahat!"
Dave berusaha menenangkan istrinya. Di saat Dave hendak meraih tangan istrinya, langsung di tepis oleh Joana.
"Jangan menyentuhku!" Seru Joana. "Ini yang aku takutkan dari mu. Kau sebenarnya tidak mau memiliki anak dari aku. Kau hanya ingin menikmati tubuh ku saja!"
Joana mulai meracau.
"Sayang, aku tidak seperti itu. Aku sangat menginginkan anak dari mu. Kau hanya salah paham sudah, jangan marah lagi. Kamu mau apa akan aku turuti semua."
"Kalau begitu, jangan ganggu aku sekarang!" Ucap Joana kembali merebahkan diri.
Dave serba salah, entah kenapa istri menjadi cengeng seperti ini.
"Aku mau pulang, aku tidak mau di sini." Ucap Joana dengan isak tangisnya.
"Tapi, liburan kita masih satu minggu lagi."
"Kau jahat, tidak mau mengurus ku."
"Sayang, kau hanya salah paham."
Dave langsung memeluk istrinya, mengusap lembut wajah yang berlinang air mata.
"Jangan menangis lagi, kasihan anak kita." Ujar Dave lalu mengusap lembut perut istrinya. "Aku sayang pada mu. Jadi, jangan berpikir yang aneh-aneh."
"Iya sayang. Aku tidak akan berani pada mu. Jangan menangis lagi, kau terlihat seperti anak kecil nanti."
Joana menghentikan tangisnya, ia langsung memeluk suaminya erat. Rasanya damai saat Joana menghirup aroma tubuh sang suami sampai dirinya tertidur.
Melihat Joana yang sudah tidur, Dave beranjak dari tempat tidur karena ia teringat jika sang istri meminta belikan sesuatu.
"Sayang, aku pergi sebentar membeli buah untuk mu dulu ya." Ujar Dave memberitahu istrinya.
"Hem,....jangan lama-lama!" Jawab Joana dengan nada pelan.
Dave pun mengambil dompetnya kemudian pria ini pergi.
Bug.......
"Aduh,...maaf....maaf. Aku tidak sengaja," ucap seorang wanita yang tanpa sengaja menabrak Dave.
"Kalau jalan jangan main ponsel!" Sahut Dave kemudian melanjutkan langkahnya.
Wanita tersebut memandang Dave yang saat ini memasuki lift.
"Tampan sekali pria itu. Dia seperti bukan orang sembarangan," ucap wanita tersebut.
__ADS_1
Wanita yang bernama Nindi ini pun memutuskan untuk mengejar Dave tapi sayang, ia tak mendapatinya.
Sementara itu, saat ini Rachel yang tanpa memiliki rasa malu datang ke rumah tuan Darius untuk bertemu dengan nyonya Andina.
Wanita ini sengaja datang hanya untuk mengambil hati kedua orang tua Dave.
"Tumben kau datang ke sini, ada apa?" Tanya nyonya tanpa basa basi.
"Hari ini hari minggu, aku ingin mengajak tante dan Davina pergi ke mall."
Nyonya Andina tersenyum tipis.
"Aku sudah lama tidak melihat Dave. Kalau boleh tahu, di mana dia?" Tanya Rachel penasaran.
"Oh, Dave pergi liburan bersama istrinya." Jawab nyonya Andina. "Davina juga saat ini sedang pergi liburan."
Seketika ekspresi Rachel berubah.
"Bagaimana tante, apa tante mau aku ajak pergi?" Tanya Rachel.
"Maaf ya Rachel, hari ini keluarga tante ada acara di luar. Lain kali aja ya...!"
Seketika ekspresi wajah Rachel masam.
"Oh, kalau begitu aku pamit ya tante. Nanti, kalau ada waktu aku akan main ke sini lagi."
Nyonya Andina hanya menanggapi dengan senyuman. Rachel pun pamit pergi.
"Siapa mi?" Tanya tuan Darius yang baru saja keluar.
"Rachel...!"
"Mau mengambil hati mami itu. Udah, gak usah di tanggapi. Selama ini dia kemana aja? Dave sudah menikah baru sibuk mencari." Ucap tuan Darius sedikit garam.
"Ya udahlah, jangan di bahas. Ayo pergi....!"
Pasangan suami istri ini pun pergi jalan-jalan berdua.
Kembali ke Dave, pria ini baru saja kembali ke hotel setelah berkeliling mencari buah mangga. Jauh-jauh liburan ke negara orang Dave hanya di sibukkan mencari buah mangga di malam hari.
"Hai.....!"sapa suara menghentikan langkah Dave. "Aku yang tidak sengaja menabrak mu tadi." Imbuhnya.
"Siapa?" Tanya Dave tidak mengenali.
Perempuan tersebut mengulurkan tangannya mengajak Dave berkenalan.
Dave hanya melirik tanpa berniat membalas Uluran tangannya.
"Maaf, aku tidak tertarik berkenalan dengan mu. Ada istri yang sedang menungguku," ucap Dave kemudian berlalu begitu saja.
__ADS_1
Nindi tercengang, ia tak percaya karena baru sekarang ada seorang pria sombong yang tidak mau berkenalan dengan dirinya.
"Biasanya laki-laki mengantri untuk berkenalan dengan ku. Baru sekarang ada pria sombong seperti dia. Aku semakin penasaran," ujar Nindi yang merasa tertantang.