Jerat Candu Istri Sewaanku

Jerat Candu Istri Sewaanku
Chapter 32


__ADS_3

"Sayang, dua hari lagi aku ada kejutan untuk mu," ucap Dave memberitahu Joana.


"Kejutan apa?" Tanya Joana penasaran.


"Kalau di kasih tahu sekarang, bukan kejutan namanya."


"Menyebalkan!" Seru Joana.


"Galak sekali," ucap Dave menggoda. "Tubuh mu kecil tapi, kalau urusan galak kau nomor satu."


"Perjaka tua...!" Ledek Joana.


"Keperjakaan ku sudah kau renggut. Aku bukan perjaka lagi," sahut Dave.


"Gak ke balik? Perasaan kau yang sudah merenggut kegadisanku." Balas Joana.


"Kalau saling menikmati, kenapa harus saling menyalahkan?"


Tiba-tiba saja Edric muncul di saat Dave dan Joana sedang beradu mulut di pinggir kolam renang.


"Nah, ini perjaka tua yang asli." Ucap Dave dan Joana bersamaan.


"Sialan kalian berdua!" Umpat Edric kesal.


"Kenapa kau mengganggu pagi kami yang indah ini?" Tanya Dave.


"Rachel datang menemui ku. Dia akan mengatakan tentang Joana pada papi mu." Ujar Edric memberitahu.


"Biarkan saja!" Sahut Dave.


"Kalau begitu, aku akan bersiap-siap." Ucap Joana.


"Mau kemana kau?" Tanya Dave dengan kerut di dahinya.


"Karena sebentar lagi mertua ku akan memecat diriku ini sebagai menantu." Jawab Joana dengan santainya.


"Jangan gila, awas saja jika kau berani pergi dari rumah ini."


"Hai Edric, kenapa teman mu ini galak, datar dan.......?" Joana tidak melanjutkan pertanyaannya.


"Di balok es, biarkan saja." Jawab Edric.


"Pergi dan urus pekerjaan mu!" Titah Dave.


Edric pun berlenggang pergi dengan santainya.


"Pertanyaan mu untuk Edric yang terakhir, katakan pada ku. Apa?" Tanya Dave pada istrinya.


"Tidak ada!" Jawab Joana singkat.


"Berani bohong akan ku lempar ke kolam!" Ancam Dave.


"Jadi suami gak ada manis-manisnya. Menyebalkan!"


"Cepat katakan!" Desak Dave.


"Gak ada. Udah ih, jangan maksa!"

__ADS_1


Drrrrt.....


Ponsel Dave berbunyi.


"Papi menelpon ku," kata Dave memberitahu Joana.


Pria ini beranjak dari duduknya kemudian berdiri untuk menerima panggilan telpon.


Setelah beberapa saat mengobrol, Dave mematikan ponselnya.


"Papi meminta kita untuk pergi ke rumahnya."


"Pasti papi mu sudah mengetahui tentang masalah ku." Ujar Joana mendadak murung.


"Jangan sedih. Percayalah, semua akan selesai."


Joana menarik nafas panjang, entah kenapa masalah selalu datang kepada dirinya.


"Ayo bersiap-siap," ajak Dave.


Pria ini merangkul pundak istrinya, mereka pergi ke kamar untuk berganti pakaian.


Kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya Dave dan Joana sampai juga di rumah tuan Darius.


Dave memicingkan matanya saat melihat Rachel yang tengah duduk bersama dengan keluarganya.


"Nah, ini dia pembunuhnya paman." Adu Rachel pada tuan Darius. "Ada beberapa akun yang mengatakan dengan jelas bahkan mereka menunjukan bukti jika istri Dave seorang pembunuh."


"Kau sudah terlalu jauh ikut campur Rachel. Aku tidak suka," ujar Dave dengan suara dingin.


Davina yang sudah tahu


hanya memilih diam karena ia ingin melihat sejauh mana Rachel bersikap.


"Istri ku tidak akan menjelaskan apa pun kepada kalian. Joana bukan pembunuh, aku bisa jamin itu." Ucap Dave tegas.


"Terlepas benar atau salahnya berita ini, mami harap Joana bisa menyelesaikannya. Nama keluarga kita sedang di pertaruhkan sekarang."


"Dave, buka mata mu. Istri mu ini seorang pembunuh!" Rachel menghasut.


"Jika aku seorang pembunuh. Memangnya kenapa? Apa kau mau aku bunuh juga?"


Ucapan Joana membuat Dave tertawa geli.


"Papi, mami. Sudahlah, kalian jangan khawatir. Dan kau Rachel, kenapa kau harus ikut campur dalam masalah orang lain hah?"


"Dave, aku peduli padamu. Apa salahnya hah?"


"Jangan mencintai suami orang, tidak baik!" Ucap Joana memperingati.


"Paman, kenapa paman diam saja? Seharusnya paman bertindak tegas pada pembunuh ini."


Entah kenapa malah Rachel yang sibuk sendiri.


"Aku rasa kau sudah tidak waras," ucap Dave. "Pergi dari rumah ini." Usir Dave.


"Kau bisa pergi sekarang, Rachel. Kami akan menyelesaikan masalah dalam keluarga kami tanpa melibatkan orang luar," ucap nyonya Andina yang mengusir secara halus.

__ADS_1


"Baik aunty, aku harap kalian bisa berpikir jernih!"


Rachel melirik Joana dengan tajam sebelum meninggalkan rumah tuan Darius.


"Bisa di jelaskan Dave!" Titah tuan Darius.


Untung saja tuan Darius tidak mau mendengarkan dari satu pihak. Hal ini lah yang membuat Dave bisa bersikap santai seperti ini.


Dave menceritakan apa yang sudah terjadi pada Joana bahkan menunjukan bekas cambukan di tubuh Joana. Tentu saja tuan Darius dan nyonya Andina terkejut melihatnya.


Sebagai seorang ibu, nyonya Andina merasa tersentuh perih hatinya. Seorang anak perempuan yang seharusnya di lindungi oleh cinta pertamanya tapi, malah ia siksa sampai menderita.


Nyonya Andina memeluk Joana, entah kenapa pula tak ada air mata yang keluar. Joana merasa biasa saja selain ia saat ini sedang merindukan pelukan hangat seorang ibu.


"Sayang, kenapa kau diam seperti orang kebingungan?" Tanya Dave heran.


"Aku baru sekarang merasakan pelukan hangat dari seorang ibu. Rasanya seperti ini, damai." Jawab Joana membuat seisi ruangan terdiam.


"Jo, kau bebas memeluk mami kapan pun kau mau. Jangan sedih, meskipun kau tidak mendapatkan cinta dari mama dan papa mu, setidaknya kau masih bisa mendapatkan cinta dari kami terutama Dave." Tutur nyonya Andina.


"Terimakasih mi," ucap Joana.


"Biasanya Joana akan makan roti di atas makam mama-nya sambil curhat!" Ujar Dave memberitahu keluarganya.


"Manusia satu ini,....!" Joana geram.


"Dave, berhenti menggoda istri mu. Kau ini bisanya membuat orang marah tapi, giliran di balas gak terima!" Ujar tuan Darius.


"Anak mu itu, pi...!" Seru nyonya Andina.


"Orang dewasa pada kenapa sih? Ribet....!" Ujar Davina kemudian memilih masuk ke dalam kamar.


Dave dan Joana pamit pulang setelah meyakinkan kedua orang tuanya jika Joana bukan pembunuh dan Dave bisa membuktikan semua itu.


"Masalah pembuktian, apa yang harus aku buktikan?" Tanya Joana sedih.


"Sudahlah, jangan di pikirkan. Kau lihat saja nanti, suami mu ini yang akan menyelesaikannya."


"Aku sedang tidak ingin bercanda," ucap Joana.


"Aku juga tidak bercanda!" Sahut Dave. "Ada sesuatu yang sedang aku kerjakan. Nanti, kau akan melihat papa mu menangis penuh penyesalan."


"Apa yang sedang kau lakukan di belakang ku?" Tanya Joana curiga.


"Yang jelas ada dan aku tidak bisa cerita sekarang."


"Kau memang menyebalkan!" Seru Joana kesal.


"Jika aku bisa membuktikan kebenaran dari masalah yang kau hadapi, apa yang akan kau berikan pada ku?"


"Sepuluh ronde, aku main di atas!" Racau Joana.


"Aku pegang ucapan mu, sayang." Ujar Dave.


"Terserah kau lah. Aku pusing!" Sahut Joana dengan wajah pasrah.


Dave tersenyum lebar mendengar perkataan istrinya barusan. Rencana kejutan yang dua hari kini berubah menjadi satu hari. Dave mengirim pesan kepada anak buahnya untuk menyelesaikan pekerjaan mereka malam ini juga.

__ADS_1


__ADS_2