Jerat Candu Istri Sewaanku

Jerat Candu Istri Sewaanku
Chapter 25


__ADS_3

Edric menarik nafas panjang saat mendengar cerita dari Dave. Ingin sekali Edric memukul kepala Dave tapi, ia tahan.


"Baru ku temukan laki-laki bodoh seperti mu," ucap Edric kesal. "Kalau aku jadi Joana, sudah pasti aku akan melakukan hal yang sama."


"Kenapa begitu?" Dave tidak terima.


"Coba kau ingat lagi bagaimana hubungan mu dan Joana terjalin. Dave, kau laki-laki dewasa sedangkan Joana hanya seorang perempuan dua puluh dua tahun. Kau memiliki segalanya, sedangkan dia hanya hidup sendiri dan berjuang sendiri. Wajar jika dia memiliki pemikiran seperti itu."


"Apa yang wajar? Aku sudah mengatakan jika aku sangat mencintai dia."


"Pengakuan cinta dengan lisan tanpa tindakan itu sama saja tidak berguna. Joana tidak salah, di posisi ini kau lah yang salah. Sikap mu kaku hingga membuat dia memiliki pemikiran jika kau akan membuang dia jika kau bosan nanti."


Dave terdiam, mencerna setiap ucapan Edric.


"Pergilah, cari dia dan minta maaf padanya. Masalah kau ingin anak dari dia, seharusnya kau bisa menyakinkan Joana jika kau bisa menjadi suami dan ayah yang baik. Kau sendiri yang menegaskan pada Joana jika kau tidak ingin menikah dan memiliki anak seumur hidup mu. Wajar jika dia takut memiliki anak dari mu."


Panjang nasehat Edric akhirnya membuka mata Dave. Pria ini hanya bisa menyesali ke egoisan yang sudah menyalahkan Joana.


dave bergegas pergi mencari istrinya, mencoba menghubungi Joana tapi, ponsel Joana mati. Hati Dave mendadak kalut, kenapa dia membiarkan Joana pergi meninggalkan rumah.


Jalanan kota, jalanan pinggir kota sudah di lewati oleh Dave tapi, tetap saja ia tak bisa menemukan Joana.


Hari mulai malam, Dave semakin gelisah memikirkan nasib istri kecilnya. Ponsel Dave berdering, ternyata Davina menelponnya meminta Dave untuk pulang ke rumah utama.


Mau tidak mau Dave memutar kemudi menuju rumah kedua orang tuanya. Setibanya di sana, Dave sedikit merinding melihat ekspresi kedua orang tuanya yang begitu dingin menahan amarah.


"Jelaskan apa ini?" Ujar tuan Darius seraya menunjukkan selembar kertas perjanjian antara Dave dan Joana.


"Dari mana papi mendapatkannya?" Tanya Dave mulai panik.


"Bajingan satu ini, kau sudah membohongi keluarga mu sendiri."


"Perjanjian itu sudah tidak berguna lagi. Aku dan Joana saling mencintai," ucap Dave memberitahu.


"Jika kau dan dia saling mencintai, kenapa Joana pergi dari rumah mu?" Tanya tuan Darius tampak marah.

__ADS_1


"Dave, di mana Joana?" Nyonya Andina bertanya dengan nada marah.


"Kau apakan Joana?" Sentak tuan Darius.


"Hanya salah paham," ucap Dave tak bisa menjawab.


"Kalau benar salah paham. Kenapa dia pergi dari rumah mu, Dave?"


"Kau sudah menipu kami. Dave, kau sangat keterlaluan!" Ucap nyonya Andina merasa kecewa.


"Mami, aku benar-benar mencintai Joana. Kami hanya salah paham!"


"Jika benar kau dan Joana hanya salah paham. Cepat cari dia....!" Titah tuan Darius.


"Masalah surat perjanjian itu memang benar. Pada awalnya aku membayar Joana untuk jadi istri Sewaanku. Tapi, semakin aku bersama dengan Joana, aku mencintai dia. Hanya saja aku tak bisa menunjukkan seperti apa rasa cinta itu. Papi, mami, tolong percaya pada ku."


"Mami benar-benar kecewa sama kamu," ucap Nyonya Andina kemudian pergi dari ruang keluarga. Begitu juga dengan tuan Darius yang merasa kecewa dengan Dave.


"Kak, maafkan aku. Aku datang ke rumah kakak, masuk ke kamar dan melihat kamar kaka sudah berantakan. Aku tidak sengaja menemukan surat perjanjian itu," ucap Davina merasa bersalah.


Dave bergegas pergi, pria ini kembali melanjutkan mencari Joana. Hari sudah larut malam, Dave tak juga menemukan Joana. Pada akhirnya ia memutuskan untuk pulang.


Di kamar, Dave baru sadar jika Joana mengembalikan semua kartu termasuk kartu pribadi milik Joana yang isinya uang pemberian Dave.


"Joana tidak membawa sepeser uang. Bagaimana jika dia kelaparan? Tidur di mana dia malam ini?"


Gelisahlah hati Dave, dadanya menyeruak merasakan kekhawatiran. Dave berusaha melacak ponsel Joana tapi. Alamat terakhir menunjukkan jika Joana ada di suatu tempat.


Dave menunggu pagi untuk mendatangi tempat tersebut. Semalam ini nyaris ia tak bisa tidur.


Pukul enam pagi, Dave bergegas pergi ke tempat yang ia lacak tadi malam. Ternyata tempat ini sebuah tempat jual beli ponsel.


"Maaf, aku ingin bertanya. Apa pernah kau melihat perempuan ini?" Tanya Dave pada penjual ponsel.


"Oh, perempuan ini kemarin sore minta untuk membeli ponselnya. Dia bilang sedang butuh uang jadi, aku membeli ponselnya."

__ADS_1


"Setelah itu, kemana dia pergi?" Tanya Dave lagi.


"Kalau itu aku tidak tahu!" Jawabnya.


Dave menghembuskan nafas kasar, jejak Joana hanya sampai di tempat ini. Sekarang, Dave tidak tahu lagi kemana ia harus mencari Joana.


Yang di cari saat ini masih tidur begitu nyenyak di kontrakan yang pernah Joana tempat dulu. Rumah dengan beberapa pintu yang berada di dalam gang. Yang mengontrak di sini biasanya para perantau.


"Jo, kemana kau pergi sayang?"


Dave terduduk lesu di dalam mobilnya. Emosi sesaat telah merusak hubungan Dave dan Joana.


Edric menyusul Dave, karena Dave sudah tidak bisa mengemudi. Wajah kusut, lingkar mata hitam, belum pernah Edric melihat keadaan Dave seperti ini sebelumnya.


"Baru sehari di tinggal Joana, kau sudah seperti orang gila. Makanya, kalau ada masalah itu di selesaikan dengan kepala dingin. Jangan emosi mu aja di besarkan!" Oceh Edric.


"Diamlah. Kepala ku pusing!"


"Aku sudah menyuruh beberapa anak buah untuk mencari Joana. Sebagai seorang suami, seharusnya kau tahu tempat favorit Joana. Di mana itu?" Tanya Edric.


Dave melipat kedua tangannya, pria ini mencoba mengingat tempat favorit Joana.


"Jangan bilang kau tidak tahu!" Seru Edric kesal. "Sudah pasti kau tidak tahu makanan dan minuman kesukaan Joana. Warna favorit, atau hobinya?"


"Sungguh, aku tidak tahu semua itu." Jawab Dave.


"Selain urusan ranjang, pasti kau tidak peduli pada dirinya!" Sahut Edric geram. "Kau ini memang pantas di sebut sebagai laki-laki tak berguna!"


Dave hanya diam, apa yang di katakan Edric ada benarnya juga. Dave memang laki-laki tak berguna.


"Kerahkan banyak anak buah untuk mencari istriku," titah Dave sebelum keluar dari mobil.


"Jika sudah begini saja, sekampung di buat repot!"


"Ayolah, bantu aku. Joana itu sudah seperti saudara ipar mu. aku ingin tidur sebentar," ujar Dave yang sudah tidak kuat lagi karena hampir semalam ia tidak tidur.

__ADS_1


"Istirahatlah, aku akan mencari Joana!" Ujar Edric yang merasa kasihan. Mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur seperti ini.


__ADS_2