
Satu minggu kemudian Joana di bawa pulang karena ia akan melakukan perawatan jalan di rumah. Layaknya seorang suami yang sangat mencintai istrinya, Dave merawat istrinya dengan sangat baik.
Memandikan Joana, membuang kotoran istri, mengganti pakaian serta menyuapinya makan di lakukan Dave seorang diri tanpa bantuan siapa pun.
Dave sama sekali tidak jijik, baginya ini semua adalah bentuk cintanya pada Joana. Sampai dengan hari ini, Joana belum bisa menggendong anaknya, bayi laki-laki yang di beri nama Vazha yang sekarang di rawat oleh nyonya Andina.
"Sayang, kita berjemur sebentar ya." Ujar Dave sambil menghentikan kursi roda yang sekarang menjadi alat bantu Joana.
"Kenapa tidak membuang ku saja?" Ucap Joana dengan suara pelan dan mata berkaca-kaca. "Aku hanya menyusahkan mu, aku beban untuk mu." Imbuhnya.
Dave menarik nafas panjang, di tatapnya mata yang begitu layu milik istrinya.
"Kau istri ku, cinta pertama dan terakhir ku. Seburuk apa pun keadaan mu, aku tidak akan meninggalkan mu." Jawab Dave.
Pelan, tangan Joana yang tampak lemah meraih tangan suaminya.
"Aku lumpuh, anak mu butuh seorang ibu. Aku tidak bisa memberikan kebutuhan dia. Dave, kau bisa menaruh ku di panti sosial dan kau bisa mencari perempuan yang sehat."
"Sekali lagi kau berkata seperti itu, aku akan melempar mu dari lantai dua." Ancam Dave.
"Lebih baik begitu....!" Sahut Joana.
"Sayang, aku bercanda. Kau akan sembuh, percayalah. Aku akan memperjuangkan kesembuhan mu."
Dave memeluk istrinya, rasa sayang pria ini begitu besar. Seminggu berada di rumah sakit dengan keadaan seperti ini membuat berat badan Joana turun drastis.
Dave mengajak istri masuk ke dalam rumah. Ternyata tuan Altan mengintip di balik pintu lubang-lubang pintu gerbang rumah mewah milik tuan Darius.
"Jo,....!!" Jeritnya dalam hati. "Maafkan papa nak, semua ini salah papa yang tidak pernah mengurus mu sejak kecil."
Hanya bisa melihat dari kejauhan karena tuan Darius tidak pernah mengizinkan tuan Altan untuk bertemu dengan Joana demi menjaga perasaan menantunya.
Dave, dengan begitu entengnya pria ini memindahkan istrinya ke atas tempat tidur. Menyelimuti tubuh istrinya lalu mengusap lembut rambut Joana agar ia cepat tidur.
"Tidurlah, kau butuh istirahat yang banyak." Ujar Dave.
Joana hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan suaminya. Perempuan tak berdaya ini pasrah saja. Setelah sang istri tidur, Dave pergi ke kamar anaknya. Nyonya Andina dan tuan Darius berada di sana untuk mengurus cucu pertama mereka.
"Di mana Jo, Dave?" Tanya Nyonya Andina.
__ADS_1
"Sudah tidur, besok aku akan membawa Joana melakukan pemeriksaan lagi. Terapi yang akan di lakukan Joana akan di mulai dari tangan." Jelas Dave.
"Urus istri mu dulu, masalah anak biar mami dan papi yang mengurusnya."
"Terimakasih mi, pi." Ucap Dave. "Anak daddy, kenapa tidur terus nak?" Dave mentoel pipi tembem anaknya.
"Namanya juga bayi, kau dulu juga sama seperti ini." Sahut nyonya Andina.
"Warisan mu banyak nak, maka tidurlah yang nyenyak!" Ucap Dave membuat kedua orang tuanya bergeleng kepala.
"Kau ini, ada-ada saja Dave!" Ujar tuan Darius.
"Aku sudah memutuskan hanya ingin memiliki anak satu," kata Dave memberitahu kedua orang tuanya. "Aku trauma melihat keadaan Joana sekarang. Lebih baik aku tidak memiliki anak lagu dari pada harus kehilangan istri ku."
"Mami tidak menuntut Joana harus memiliki anak banyak. Jika kehamilan bisa beresiko tinggi untuk dia, cukup satu saja!" Jawab nyonya Andina.
Dave merasa bersyukur, kedua orang tuanya selalu mendukung apa pun keputusan Dave. Pria ini kembali ke kamar, memastikan jika keadaan istrinya baik-baik saja.
"Dave......!!" Panggil suara menghentikan langkah Dave menuju kamar mereka sekarang pindah ke lantai bawah.
"Mau apa kau di rumah ku?" Tanya Dave pada Rachel.
Dengan perasaan ragu mengambil paper bag yang di bawa Rachel.
"Aku turut prihatin mengenai keadaan istri mu," ucap Rachel membuat Dave mengerutkan keningnya heran.
"Dari mana kau tahu mengenai istri ku?" Tanya Dave penasaran.
Rachel tersenyum.
"Ada aja, yang jelas aku turut prihatin." Ucapnya lagi. "Semoga saja istri mu cepat mati....!" Batin Rachel yang mendoakan Joana.
"Jika sudah selesai, kau boleh pergi sekarang!" Usir Dave.
"Aku hanya ingin menjenguk anak mu, masa tidak boleh?"
"Anak ku belum bisa di jenguk oleh siapa pun termasuk saudara-saudara ku. Pergilah...!!"
Dengan perasaan jengkel Rachel pergi dari sana. Sebenarnya ia ingin melihat Joana, tentu saja Rachel akan mengejek keadaan Joana yang sekarang tak berdaya.
__ADS_1
Dave membuang hadiah pemberian Rachel. Pria ini paham betul apa yang ada di dalam benak wanita itu.
Setelah itu, Dave masuk ke dalam kamar. Di lihatnya sang istrinya yang sudah bangun dan hendak duduk.
"Sayang, apa yang kau lakukan?" Tanya Dave terlihat panik.
"Aku ingin pergi ke kamar mandi," jawab Joana.
Tanpa banyak bicara, Dave langsung menggendong istrinya menuju kamar mandi.
"Kau basah sayang, langsung mandi ya?" Ujar Dave karena ternyata Joana sudah buang air kecil.
Melihat suaminya, Joana semakin merasa bersalah atas keadaannya yang menjadi beban keluarga.
"Buang aku saja....buang.....!"
Joana kembali menangis, dalam hatinya ia benar-benar hancur.
"Sayang, ini hanya masalah kecil. Aku bisa mengatasinya, jangan menangis lagi."
Dave mengusap air mata istrinya. Dave memandikan istrinya, dengan lembut menggosok pelan setiap bagian kulit istrinya. Setelah bersih dan wangi, Dave menggendong istrinya keluar. Di kenakannya pakaian yang mudah di lepas setelah mengganti pakaian istrinya juga memasangkan pembalut kemudian Dave menganti semua alas tempat tidur.
"Bereskan....!" Ucap Dave dengan senyum lebarnya. "Jangan sedih, selagi kita bersama-sama semua akan lebih mudah untuk di lalui."
"Terimakasih," ucap Joana.
"Ingin tidur lagi?"
"Aku ingin melihat Vazha." Pintanya.
"Iya sayang....!!"
Dave mengajak Joana pergi ke kamar anak mereka. Hanya bisa melihat dan menyentuh tanpa bisa memberinya asi karena sampai dengan hari ini asi Joana sama sekali tidak keluar.
"Jangan menangis terus Jo, sayang air mata mu." Tegur Nyonya Andina. "Apa pun yang terjadi pada mu, baik sehat maupun sakit harus di syukuri."
"Aku hanya takut jika anak ku merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan selama ini. Lahir tapi, tumbuh besar tanpa seorang ibu." Sahut Joana dengan suara pelan. Rasanya terharu sekali melihat perlakuan keluarga suaminya yang begitu baik pada dirinya.
"Tekadkan dalam hati mu untuk sembuh. Kami semua mendukung mu," ucap Nyonya Andina terus memberi semangat untuk menantunya.
__ADS_1