
"Kenapa melihat ku seperti itu?" Tanya Joana pada suaminya yang sejak tadi memperhatikan dirinya.
"Tidak apa-apa sayang. Cepat selesai makan mu!" Jawab Dave.
Joana pun kembali fokus pada makanannya.
"Tadi malam dia marah dan menangis. Apa sekarang sudah lupa?" Dave bertanya di dalam hati.
"Hari ini kita kemana?" Tanya Joana.
"Kau mau-nya kemana sayang?" Dave bertanya balik.
"Aku heran dengan mu. Kau pikir aku pernah ke tempat ini sebelumnya?"
Dave tertawa masam sedikit takut dengan sorot mata istrinya.
"Aku yang salah, kedipkan mata mu sedikit," ujar Dave.
"Aku tidak ingin pergi ke mana-mana hari ini." Kata Joana seraya menunjuk wajah malasnya.
Dave mengerutkan keningnya heran.
"Kenapa?" Tanya Dave.
"Malas, aku hanya ingin tiduran manja di peluk suami ku." Jawab Joana.
"Kita hanya dua minggu di sini. Manfaatkan kesempatan untuk mengenal dunia luar." Ujar Dave mengingatkan.
"Aku sedang malas, aku hanya ingin di peluk suamiku." Sahut Joana. "Jika kau tidak ingin memeluk ya sudah. Jangan peluk aku selamanya!" Rajuk Joana kemudian ia meninggalkan meja makan.
"Dia ini kenapa? Perasaan sejak kemarin marah-marah tidak jelas!"
Dave menggelengkan kepalanya. Pria ini kemudian menyusul istrinya yang saat ini sedang menutup diri dengan selimut.
"Sayang, jangan marah. Aku hanya canda. Ayo sini, aku peluk!"
Dave membujuk istrinya.
"Jika seorang istri ingin di peluk suaminya, apa itu salah?" Tanya Joana dengan suara bergetar menahan air mata.
"Kenapa kau jadi cengeng sekarang hem?"
"Aku juga tidak tahu kenapa dengan diri ku tapi, rasanya hati ku ingin menangis."
Dave langsung memeluk istrinya, membelai wajah Joana dengan lembut penuh cinta.
"Jangan menangis sayang, aku tidak suka melihat mu mengeluarkan air mata dengan sia-sia."
__ADS_1
"Tapi, kau pernah mengatai aku perempuan jalanan." Ujar Joana yang ternyata masih mengingat semua ucapan Dave.
Dave menghembuskan nafas pelan lalu berkata. "Maaf, waktu itu aku emosi. Kau tahu sendiri aku sangat menginginkan seorang anak dari mu."
"Hanya seorang anak? Kenapa tidak lebih?"
Dave benar-benar bingung menghadapi perangai istrinya sekarang.
"Sayang, apa kau benar mencintai ku?" Tanya Joana tiba-tiba.
"Aku serius mencintai mu. Kau ini kenapa sebenarnya?"
"Kau tampan dan memiliki segalanya. Aku hanya takut jika suatu hari kau sudah bosan pada ku lalu memilih perempuan yang jauh lebih segalanya dari ku."
"Aku tidak seperti itu sayang. Tolong jangan berpikiran yang tidak-tidak."
"Dave, aku mencintaimu." Ucap Joana lalu memeluk suaminya erat-erat.
Semakin heran dengan sikap istrinya, Joana biasa seperti ini. Di banding berdua di dalam kamar, Joana pasti akan lebih memilih pergi jalan-jalan.
Di sisi lain, saat ini Aston sedang berada di tempat ia bertemu dengan Joana kemarin. Di carinya ke sana ke sini tapi, Aston tidak juga menemukan Joana.
"Aku yakin jika Joana menginap di salah satu hotel dekat sini," ucap Aston begitu yakin. "Tapi, hotel di sekitar sini termasuk hotel berbintang dan mewah. Aku yakin jika Joana tidak akan mampu menginap di sini secara dia hanya anak dari seorang pengusaha biasa. Tapi, suami Joana seperti orang terpandang."
Aston benar-benar pusing, ia terus menimbang diri menyakinkan hati jika Joana belum menikah mengingat umur mereka masih dua puluh dua tahun.
Setengah harian mencari tak membuahkan hasil. Akhirnya Aston memutuskan untuk kembali ke hotel tempat ia menginap.
Wajahnya pucat pagi ini, kepalanya pusing dan tubuhnya terasa lemas. Selera makannya juga akhir-akhir ini sangat kacau apa lagi suasana hatinya acap kali berubah hingga membuat Dave kebingungan menghadapi sang istri.
"Aku minta maaf sudah mengajak mu melakukan penerbangan malam itu. Mungkin, kau sakit karena belum terbiasa." Ucap Dave.
"Tidak, bukan masalah itu. Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan diri ku sendiri." Sahut Joana.
"Kita pergi ke Dokter ya," ajak Dave untuk yang kesekian kalinya.
"Aku tidak mau. Pasti nanti di suntik!" Tolaknya.
"Sayang, tidak semua penyakit harus di suntik. Kita pergi ke rumah sakit hanya untuk mengecek kesehatan mu saja."
"Tetap saja di suntik. Aku tidak mau, kalau minum obat aku mau!"
Dave membuang nafas kasar.
"Iya, nanti kita minta obat dan vitamin aja. Gak di suntik kok."
"Kalau di suntik bagaimana?" Tanya Joana yang sangat takut pada jarum suntik.
__ADS_1
"Aku tidak akan merayap di atas tubuhmu selama seminggu!" Jawab Dave.
"Aaah, aku gak mau. Takut....!"
"Ayo lah sayang, jangan seperti ini. Kalau kau sakit terus sakitnya parah bagaimana?"
Joana terdiam sejenak, ia juga berpikir hal yang sama seperti suaminya karena rasa pusing dan lemas yang ia alami akhir-akhir ini suka datang dan pergi secara tiba-tiba.
"Iya Deh. Aku mau pergi ke Dokter," ucap Joana membuat Dave bernafas lega.
"Kau semakin cantik jika menurut. Aku mencintaimu, sayang."
"Aku juga mencintaimu," balas Joana.
Mereka pun bersiap-siap pergi ke rumah sakit. Begitu manjanya Joana sampai ia tak mau melepaskan genggaman tangan suaminya.
Sementara itu, kabar Sarah dan Karina saat ini mereka masih di kurung oleh anak buah Dave bahkan ibu dan anak ini di jadikan budak nafsu oleh anak buah Dave.
"Ma, mau sampai kapan kita akan seperti ini?"
Sambil berderai air mata Karina bertanya pada mama-nya.
"Mama juga tidak tahu." Jawab Sarah yang sudah pasrah.
"Semua ini salah papa," ucap Karina. "Papa memperkosa anak orang sampai hamil dan membunuhnya. Sekarang aku yang harus menerima karmanya."
Sarah terdiam, selama ini ia masih membela suaminya yang ada di penjara.
"Belum kasus penipuan, perampokan. Aku sudah lelah rasanya menyembunyikan semua ini," ucap Karina yang masih terisak.
Masih sama, Sarah hanya diam saja. Kecintaannya pada sang suami membuat ia menutup mata atas kejahatan yang di lakukan suaminya selama ini.
"Tidak. Semua ini bukan salah papa mu. Semua ini salah Joana. Dia itu pembawa sial dalam hidup kita," ucap Sarah tegas.
"Aku ingin keluar dari tempat ini. Aku ingin keluar....!" Jerit Karina histeris.
Tubuhnya sekarang sama seperti Joana, memiliki bekas cambukan.
"Seharusnya kita menyingkirkan Joana dari dulu," ucap Sarah.
Karina tak menanggapi, wanita ini hanya bisa menangis meratapi dan menikmati rasa sakit yang masih menjalar di sekujur tubuhnya.
"Lepaskan aku,....lepaskan aku.....!"
Sarah tak kuasa melihat anak kesayangan menjadi seperti ini. Kebenciannya pada Joana semakin dalam bahkan ia berniat untuk membunuh Joana agar hatinya puas.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
__ADS_1
Yuk mampir di novel baru yang berjudul "Istri Kedua Mafia"