Jerat Cinta Istri Muda

Jerat Cinta Istri Muda
Bab 1: Duka Adiva


__ADS_3

"Ayah!! Ibu!! " jerit Adiva kecil memanggil. Namun ayah dan ibu Adiva tak kunjung membuka matanya. Tubuhnya terbujur kaku berbalut kain putih dengan wajah yang sudah pucat pasi. 


"Adiva sayang, sudah jangan menangis nak!" bujuk nenek Ayu.


Namun tangisnya tak kunjung reda malah semakin kencang. Dipeluknya gadis kecil yang terus meraung-raung memanggil ayah dan ibu. Tangannya yang sudah keriput membelai lembut rambut panjang Adiva. 


Ayah dan ibu Adiva mengalami kecelakaan tabrak lari ketika hendak pergi bekerja. Rak disangka dari arah kejauhan sebuah mobil melaju kencang yang mengakibatkan keduanya harus meregang nyawa. 


Langit pun ikut bersedih mengiringi proses pemakaman kedua orang tua Adiva, meninggalkan seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun bersama nenek yang sudah tua renta. 


Satu persatu orang yang ikut memakamkan ibu dan ayah Adiva meninggalkan pemakaman. Kini hanya Adiva dan sang nenek yang masih setia berada di pusaran kedua orang tuanya. 


"Adiva, ayo pulang!" ajak nenek Ayu. 


"Hujan semakin deras nak, nanti kamu bisa sakit,"


Adiva tak bergeming sedikitpun. Matanya sudah sembab, namun masih mengeluarkan bulir bening. Hujan yang mengguyur tubuhnya pun tak ia hiraukan, walau tubuh kecilnya sudah mulai menggigil kedinginan. 


Seminggu setelah kepergian orang tuanya menghadap sang kuasa. Adiva masih saja murung, mengurung diri didalam kamar. Bebagai bujuk rayu sudah nenek Ayu lakukan, demi sang cucu agar mau keluar dan kembali ceria seperti dulu. 


"Adiva, nenek tahu ini sangat berat untukmu nak. Namun kita tidak bisa mencegah takdir yang datang," ucap nenek Ayu. 


"Tapi nek, kenapa harus secepat ini ayah dan ibu meninggalkan Adiva?"


Tak ada jawaban dari nenek Ayu, hanya seulas senyum yang beliau berikan. 


"Ayo, temani nenek jalan-jalan!" ajak nenek Ayu. 


Diraihnya tangan mungil Adiva. Membawa gadis kecil itu keluar rumah. Langkah gotainya menandakan kalau ia malas untuk berjalan. Nenek Ayu menggelengkan kepalanya. Seulas senyum menghias wajahnya yang sudah tidak muda lagi melihat sikap Adiva yang enggan diajaknya keluar rumah. 


Cukup lama mereka berdua menyusuri jalan. Sesekali nenek Ayu meminta berhenti dan berteduh dibawah pohon yang rindang yang mereka jumpai. Menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya, menghirup udara segar yang menyeruak disekelilingnya.

__ADS_1


"Adiva ayo, kita duduk dulu disana!" ajak nenek Ayu. 


"Nek, ini sudah mau tengah hari sebaiknya kita cepat pulang sebelum terlalu panas. Lagi pula kita sudah beberapa kali berhenti nek," rengek Adiva. 


"Sebentar sajasayang,  sayang".


Dengan kesal Adiva menuruti keinginan nenek Ayu. Beberapa kali kakinya ia hentakkan ke tanah. Tak sengaja matanya tertuju pada satu keluarga yang sedang bercanda garau. Gelak tawa serta senyum bahagia tak luput dari wajah mereka. 


 Seketika ingatan bersama ayah dan ibu kembali  berputar di otak gadis kecil tersebut. Mengembalikan memori serta kenangan yang sempat ia lupakan. 


"Adiva, kamu baik-baik sajakan?" tanya nenek Ayu. 


Namun orang yang beliau tanya tak menjawab. Matanya tertuju pada tiga orang yang tidak jauh duduk disampingnya. Satu keluarga yang berkengrama, dengan gelak tawa serta senyum ceria mengiringi. 


Nenek Ayu yang melihat Adiva menyaksi hal tersebut menghembuskan pelan napasnya. Digenggamnya tangan Adiva."Ayo pulang nak!"


Mereka pun berdiri dan kembali berjalan. Sesampainya di rumah, nenek Ayu memanggil Adiva,"Adiva". 


"Nenek harap kamu ikhlas menerima kepergian ayah dan ibumu. Mereka akan sedih jika melihat anak gadisnya tidak baik-baik saja".


Adiva menghampiri nenek Ayu. Senyuman melengkung di wajahnya yang cantik. 


" Nenek, maaf selama ini Adiva selalu bersedih dan membuat nenek khawatir. Adiva sadar kalau Allah lebih menyayangi ayah sama ibu. Adiva ikhas sayan, nek".


Direngkuhnya gadis mungil di hadapan nya."Adiva,,, sayang."


"Adiva sayang nenek,"


Cukup lama mereka berpelukan melepaskan rasa sedih yang mereka pendam sendiri semenjak kepergian orang tua Adiva. 


                                🦋🦋🦋

__ADS_1


Sepuluh tahun berlalu, kini Adiva Maharani tumbuh menjadi gadis cantik dengan tubuhnya yang mungil. Rambut panjangnya tergerai indah melambai-lambai tertiup angin. Duduk dibangku panjang sambil menikmati indahnya sang surya yang kembali keperaduannya. 


"Hump,,, andai saja kalian masih ada, tidak mungkin aku menikmati indahnya hari ini sendirian".


" Ayah, ibu, nenek. Adiva kangen kalian semua," lirih Adiva. 


Bulir bening pun kembali membasahi pipi mulusnya. Nenek Ayu yang selalu menemaninya setiap hari. Tempat Adiva berkeluh kesah, kini telah menyusul kedua orangtua Adiva tepat di hari jadinya yang ke depanbelas. Rasa kehilangan kembali ia rasakan. Kini hidupnya sebatang kara tanpa sanak saudara dan tinggal sendiri dirumah peninggalan orang tuanya. 


Nenek Ayu  meninggal karena sakit yang diderita beliau yang tak kunjung sembuh. Adiva yang saat itu baru menginjak kelas dua sekolah menengah atas, harus bekerja ekstra untuk membiayai pengobatan nenek Ayu. Bekerja seusai sekolah menjadi buruh tukang cuci para tetangganya. 


Beruntung ia mempunyai otak yang cerdas, sehingga selalu mendapatkan beasiswa. Pengeluaran untuk sekolah pun hanya sebatas peralatan sekolah saja. 


Pagi pun menjelang. Sang surya dengan malu menampakan dirinya. Cahaya yang menyinari memberi kehangatan serta harapan bagi semua insan. 


"Semangat Adiva, hari ini adalah hari pertama kamu bekerja jadi tidak boleh telat, demi cita-cita yang kamu  impikan," ucap Adiva menyemangati dirinya. 


Ia mempunyai impian untuk bisa masuk kesalah satu Universitas dan bisa merubah nasibnya menjadi lebih baik. 


Foto gedung Universitas yang diimpikannya ia pajang di dinding kamarnya, sebagai penyemangat memulai hari dan mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk bisa masuk kesana. 


Ia pun keluar, tak lupa pintu rumah ia kunci. Menyusuri setiap jalan dengan bersenandung ria. Jalanan pun mulai padat dengan kendaraan roda empat dan roda dua. Beruntung tempat Adiva bekerja tidaklah jauh dari rumahnya. Perusahaan besar dengan gedung yang cukup tinggi tempat ia bekerja sebagai office girl. 


Sesampainya di sana, Adiva bergegas menuju pantry


Membersihkan meja serta menyiapkan air panas. 


" Hey, kamu baru disini ya?" tanya Astrid seniornya. 


"Ya, saya baru bekerja hari ini mbak," Jawab Adiva. 


Tanpa ingin bertanya kembali, Astrid berlalu begitu saja dihadapan Adiva. Wara wiri kesana kemari Adiva melayani setiap pesanan yang diminta para karyawan yang bekerja disana. Tanpa mengenal rasa lelah,  mengingat semangatnya untuk menggapai cita-cita yang diimpikan. 

__ADS_1


__ADS_2