
Mengetahui kalau dirinya hamil, membuat Adiva bimbang. Entah ia harus bahagia atau tidak, dalam hatinya ia sangatlah senang kalau kini dalam perutnya akan tumbuh janin. Disisi lain ia merasa takut untuk memberi tahukan kabar bahagia ini pada Daniel. Takut jika si suami tak menginginkan bayinya.
"Bagaimana aku menyampaikan kabar bahagia ini pada mas Daniel? Apakah ia akan menerimanya? Bagaimana kalau tidak?"
Adiva terus memikirkan hal tersebut, hingga sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya.
"Sayang…" bisik Daniel.
Adiva terlonjak kaget begitu mendengar suara Daniel tepat di telinganya.
Ia pun menoleh dan bertanya,"Mas, sudah pulang?"
"Hmm."
Daniel meletakkan dagunya di atas bahu Adiva. Menikmati semilir angin yang berhembus.
"Mas…."
"Ssttt… biarkan sejenak seperti ini."
Adiva menghala napas.
"Mengapa kamu melamun? Berulang kali aku menekan bel,tapi kamu tak kunjung membukakan aku pintu. Untung saja aku memiliki kunci cadangan," ujar Daniel.
"Maaf…. "
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya spontan Daniel.
__ADS_1
"I-itu… itu…."
Daniel membuka matanya yang semula terpejam. Ia membalikkan tubuh istrinya dan berhadapan dengannya.
"Katakan… apakah ada masalah?"
Adiva menggeleng kepala. Pandangannya menunduk tak mau melihat pada Daniel. Tubuh mungil si istri direngkuhnya, mengusap rambut panjang yang tergerai indah. Daniel tahu kalau Adiva sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kamu tahu sayang, entah bagaimana aku sekarang sangat menyanyangimu melebihi nyawaku sendiri. Aku kira tak akan pernah jatuh cinta lagilagi. Ternyata, pikiranku salah."
Sejenak Adiva terdiam. Ia pun bertanya,"bagaimana cinta Mas sama mbak Anindira?"
"Aku masih menyayanginya ,walaupun tak akan sama seperti dulu. Tapi aku tidak akan menceraikannya sesuai permintaanmu. Terlepas dari apa yang pernah ia lakukan dibelakangku," jelas Daniel.
"Mas… a-apakah kamu tidak pernah berpikir untuk memiliki anak?" tanya pelan Adiva.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tentu saja aku sangat menginginkan seorang anak," jawab tegas Daniel.
"Tunggu… kamu bertanya seperti itu apa jangan-jangan kamu…."
"Aku hamil, Mas" ucap Adiva. Tubuhnya bergetar, ia merasa takut setelah mengatakan hal tersebut pada Daniel.
"Benarkah itu?" tanya Daniel menyakinkan.
"Iya Mas, aku bahkan memakai tiga alat kontrasepsi sekaligus agar lebih yakin," tutur Adiva dan ia pun mulai terisak.
"Alhamdulillh, ternyata apa yang sangat aku dambakan terkabul juga," ucap syukur Daniel,"kenapa kamu menangis, sayang?"
__ADS_1
"A-aku takut jika Mas tak menginginkan bayi ini."
"Ya ampun. Apa ini yang membuatmu melamun sedari tadi?"
"Mas…" rengek Adiva. Ia memukul pelan dada suaminya.
Melihat kelakuan si istri yang seperti anak kecil, membuat Daniel tergelak, dan semakin menggoda si istri. Dan membuat Adiva semakin merengek.
"Sudah, sakit sayang. Jangan kamu pukul terus dadaku."
Adiva mengerucutkan bibirnya,ia tak menyangka Daniel sangatlah jahil, sehingga mampu membuatnya kesal.
"Besok kita pergi ke dokter kandungan untuk memeriksa kandunganmu berapa bulan dan meminta sarannya agar anak kita ini selalu sehat."
"Ya."
Tangan Daniel mengelus perut rata Adiva.
"Ya sudah, aku mau mandi dulu. Apa kamu mau ikut?"
"Mas…."
"Kenapa? Mau ikut?"
"Cepatan Mandi, Mas!!"
"Iya … iya sayang, Mas mandi dulu."
__ADS_1
Daniel berbalik dan pergi menuju kamar mandi. Sementara Adiva merasa lega, apa yang tadinya ia khawatirkan ternyata tidak terjadi dan malah sebaliknya.
Daniel begitu bahagia kalau sekarang ia dan Adiva akan menjadi calon ayah dan ibu dari buah hati yang di kandung Adiva.