
Jam dua belas tiba, waktunya para karyawan untuk istirahat begitu juga dengan Daniel. Tapi, ia enggan untuk keluar kantor walau hanya sekedar makan siang.
Tok… tok… tok
Terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk," ucap Daniel.
Wanita dengan paras cantik membuka pintu dan kemudian masuk. Ia tersenyum melihat Daniel yang sibuk berkutat dengan bolpoint dan lembaran kertas putih.
"Honey…."
Seketika Daniel menghentikan aktifitasnya, kemudian melirik kearah asal suara tersebut. Wanita itu pun kemudian menghampiri Daniel dan duduk diatas pangkuannya.
"Kenapa kamu kesini?" tanya Daniel.
"Apakah aku tidak boleh menemui suamiku? Kenapa kamu tidak pulang kerumah?"
"Maaf,,, kemarin aku capek sekali sehabis pulang dari Surabaya. Jadi aku menginap di apartemen," ucap bohong Daniel,"apa kamu marah?"
"Awalnya aku marah, tapi sekarang kemarahan ku hilang begitu bertemu denganmu, Honey" tutur Adiva,"aku merindukanmu. Apakah kamu akan pulang hari ini?"
"Ya," jawab Daniel berat hati.
"Kalau begitu aku aku akan memasak untukmu, Honey" ucap Anindira.
Ia pun mengecup bibir Daniel. Namun, tak ada respon sama sekali dari si empu, wajahnya datar dan dingin.
__ADS_1
"Aku pulang dulu ya, Honey."
"Hmm…."
Anindira beranjak dari pangkuan Daniel, dan pergi dari ruangannya.
"SIAL!! Sikapnya sekarang berubah dingin padaku. Semua ini gara-gara wanita s****n itu," umpat Anindira.
Ia pun segera pergi dari kantor Daniel dan begegas menuju supermarket.
🦋🦋🦋
Ditempat lain Kevin dibuat tercengang, akan laporan dari anak buahnya.
"Ini tidak mungkin…" gumam Kevin.
"Apa kalian yakin dengan apa yang kalian katakan?" tanya Kevin.
"Kami sangat yakin, Tuan. Dan kami juga sudah menangkap salah satu anak buah suruhan nyonya Anindira untuk di jadikan saksi."
"Bawa orang itu kehadapanku!" titah Daniel.
Dua anak buah Kevin pun membawa orang tersebut kehadapannya. Mukanya sudah babak belur akibat perlawanannya.
Dengan wajah yang dingin, Kevin mengawati wajah orang di hadapannya dan bertanya,"apa benar kamu orang suruhannya nyonya Anindira?"
"Iya," jawabnya singkat.
__ADS_1
"Apa kamu tahu akibat dari perbuatanku?" tanya kembali Kevin,"tuan Daniel bisa membuangmu ke pulau terpencil atau memberikanmu suntikan virus, yang dimana virus tersebut akan terus menggerogoti tubuhmu hingga kamu pun meminta kematianmu sendiri."
Kaki orang tersebut gemetar, ia tidak menyangka akan berurusan dengan orang seperti Daniel dengan sifatnya yang kalem, Daniel juga orang misterius dan juga kejam.
"Aku mohon, Tuan. Ampuni aku… aku hanya orang yang dibayar oleh nyonya Anindira dan melaksanakan perintahnya," ucap orang tersebut memelas
Kevin berbalik."Katakan semua itu pada tuan Daniel. Bawa dia masuk kembali."
Kini Kevin gusar. Ia mengusap kasar wajahnya."Ya Tuhan… Bagaimana ini? Bagaimana caraku menyampaikan semua ini pada tuan Daniel? Bagaimanapun juga tuan harus tahu walaupun berat untuk menerima semua ini."
"Dan ini file CCTV yang kami dapatkan dari salah satu restoran, tempat dimana nyonya Anindira merubah penampilan wanita tersebut dan menyuruhnya masuk kedalam taksi," ungkap salah satu anak buah Kevin.
Kevin kembali bertanya,"apakah kartu identitas yang ditemukan polisi itu juga palsu?"
"Ya, Tuan."
"Baiklah.Terimakasih atas bantuan kalian semua. Dan ini bayaran untuk kalian." Kevin menyodorkan amplop coklat pada salah anak buahnya.
"Terimakasih, Tuan."
"Hmm…. Tahan orang itu sampai kita bertemu dengan tuan Daniel!" perintah Kevin.
"Baik, Tuan."
"Aku harus segera memberitahu tuan Daniel, sebelum sesuatu yang buruk terjadi," gumam Kevin,"aku harap nyonya Anindira tidak mengetahui kalau Adiva pulang bersama tuan Daniel."
Kevin segera meninggalkan tempat tersebut. Langkah panjangnya berjalan menuju mobil yang teparkir di depan rumah kosong itu.
__ADS_1
Tatapannya lurus kedepan, dengan pikiran yang terus berkecamuk. Ia tak menyangka kalau nyonya besarnya bisa senekad dan sekejam itu.