
Setelah memeriksa Adiva dokter Arga menghampiri Daniel."Istri anda terkena maaf akut, sepertinya beberapa hari ini ia telat makan."
"Maag akut?" tanya heran Daniel.
"Apa anda tidak mengetahuinya?" tanya balik dokter Arga.
"Eh, sa-saya tahu kalau istrinya saya itu mempunyai riwayat penyakit maag. Mungkin karena seminggu ini saya kerja lembur jadi tidak terlalu memperhatikan pola makannya," sahut Daniel sembarangan.
"Baiklah saya akan memberi resep obat yang harus istri Tuan minum agar segera sembuh. Dan untuk sementara pasien harus makan bubur dan jangan sampai kembali telat makan." jelas dokter Arga.
"Apa istri saya bisa pulang sekarang dok," tanya kembali Daniel.
"Ya, tunggu pasien bangun terlebih dahulu," sahut dokter Arga,"kalau begitu saya pamit."
Dokter Arga keluar meninggalkan Daniel dan Adiva. Tak lama handphone dalam saku celana depan sebelah kanannya berdering.
Tertera dengan jelas nama Anindira yang muncul di layar kaca persegi panjang tersebut. Daniel menggeser ikon bewarna hijau ke atas.
"Halo honey," sapa Daniel.
"Honey kamu dimana sekarang? Ini sudah hampir jam 7 malam," ucap Anindira.
__ADS_1
"Aku di rumah sakit," sahut Daniel.
"Apa kamu sakit? Di rumah sakit mana? Aku akan segera datang kesana."
"Bukan aku yang sakit, tapi Adiva," ucap Daniel.
"Apa!? Jangan bilang kalau kamu menemuinya."
"Aku menemuinya hanya untuk menjenguknya saja yang sedang sakit, karena dia tadi tidak masuk kerja."
"Kamu tidak bohongkan Honey. Jangan sampai kamu mengingkari janjimu!"
"Aku tidak membohongimu dan tidak akan mengingkari janjiku padamu. Cinta dan hatiku hanya untuk kamu, tidak ada ruang untuk yang lain. Kalau begitu sudah dulu ya, Honey. Aku harus pergi dulu sebentar, dan tunggu aku di rumah. Bye Honey."
Daniel terpaku melihat Adiva yang sudah berdiri dibelakangnya, dengan bulir bening yang sudah mengalir deras bagai anak sungai.
'Apa Adiva mendengar semua yang aku bicarakan?' batin Daniel.
Perlahan ia mendekati Adiva berusaha membujuk dan memegang tangannya. Namun, si istri malah berbalik dan berlari kencang. Melewati lorong rumah sakit tanpa memperdulikan tatapan semua orang.
"ADIVA... ADIVA... tunggu, ADIVA..." Daniel terus berteriak memanggil nama istrinya. Ia pun berusaha mengejar Adiva.
__ADS_1
Beruntung setelah melewati gerbang rumah sakit, Adiva masuk kedalam keramaian orang, membuat Daniel kebingungan dan kehilangan jejak.
"****!!" umpat Daniel.
Ia menerobos kerumunan tersebut mencoba mencari sosok Adiva. Namun, sang istri tak kunjung ia temukan juga.
"Kevin, kerahkan semua anak buahmu untuk mencari Adiva sekarang! Ia pergi dari rumah sakit," perintah Daniel.
Ia mematikan sambungan teleponnya sebelah pihak dan kembali menyusuri jalan.
Waktu telah telah berlalu seiring bergantinya hari. Namun, pekatnya sang malam masih setia, berteman dengan dinginnya dan sepinya yang senantiasa menemani.
"Adiva, kamu dimana sekarang? Maafkan aku yang telah dengan sengaja membohongimu. Aku mohon pulanglah," gumam Daniel.
Kini ia sedang duduk di sisi jalan trotoar. Jalan raya yang sepi karena waktu yang sudah menunjukan dini hari, tak ada satu pun kendaraan yang lewat disana.
"Tuan," panggil Kevin.
Daniel menengok orang yang sudah duduk disampingnya,"Apa kamu sudah menemukannya?"
"Belum Tuan, tapi anak buah saya masih mencari keberadaan Adiva," jelas Kevin.
__ADS_1
"Ini semua salahku, membuat ia pergi dan meninggalkan aku. Rasa yang kini bersemayam secara diam-diam kini bisa aku rasakan. Ya, aku mulai mencintai dan kehilangan dia secara bersamaan," ucap Daniel.
Ia pun tersenyum pahit merasakan kehilangan akan kepergian Adiva yang berurai air mata. Kevin merasa iba akan keadaan yang dihadapi Daniel sekarang, baru kali ini ia melihat atasannya itu terpukul akan kehilangan seorang wanita.