
Setelah mendengar penjelasan dari Daniel yang menikahi Adiva karena salah paham warga waktu itu, membuat Anindira senang. Dan juga pernikahan mereka hanyalah pernikahan secara agama, belum resmi tercatat dalam negara.
Walau Daniel mengatakan hanya mencintai dirinya, tapi ada ketakutan dalam hati Anindira. Ia takut suatu saat Daniel akan mencintai Adiva. Ia tahu datangnya cinta karena sudah terbiasa, dan ia pun tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Anindira mengambil handphone-nya yang ada diatas meja, mengetik dan mengirimkan pesan kepada seseorang.
'Segera cari dimana wanita itu tinggal!' perintah Anindira.
Karena Daniel tidak memberitahukan dimana Adiva tinggal, maka Anindira menghubungi orang suruhannya untuk mencarinya.
"Aku harus segera bertemu dengannya dan menyuruhnya untuk pergi jauh, sebelum mas Daniel menyadari perasaannya kepada wanita itu," gumam Anindira.
Ia tahu kalau Daniel mulai mencintai Adiva, dari sorot mata dan juga perkataannya yang akan segera menceraikan Adiva seakan ia tidak rela untuk melepaskan wanita tersebut.
🦋🦋🦋
Dinginnya malam seakan ingin membawa Adiva pergi kedalam alam mimpi. Seharian ia bekerja keras, tubuhnya lelah ingin segera istirahat.
"Duh,,, cape banget," gumam Adiva.
Ia pun beranjak ke kamar mandi membersihkan tubuhnya yang sudah lengket dengan keringat. Dibawah guyuran air, kembali ia teringat akan kepergian dan penolakan Daniel akan cintanya. Adiva memegang dadanya dan berkata,"baru pertama kali aku mencintai seorang pria, dan ternyata sesakit ini jika cinta tak terbalaskan."
Adiva mengakhiri ritual mandinya, berganti pakaian dengan piyama tidur kebanggaannya. Merebahkan tubuh yang sudah lelah sedari tadi. Ketika matanya akan terpejam, bel pun berbunyi.
Merasa tidak ada yang mengetahui kalau dirinya tinggal di apartemen Daniel, membuat Adiva mengernyitkan dahinya. Ia pun berjalan menuju pintu apartemen dan membukanya.Begitu pintu terbuka tiba-tiba...
Plak...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Adiva.Ia pun memegang pipinya yang terasa perih dan panas.
"Kau!! Dasar wanita tidak tahu malu! Beraninya kamu merebut mas Daniel dariku!" hardik marah Anindira.
Mata Adiva terbelalak sekaligus kaget, mendengar perkataan wanita yang baru saja menamparnya. Ia pun mencoba menatap wanita di depannya. Wanita dengan bentuk tubuh yang ideal serta tinggi bak seorang model dengan amarahnya yang bergejolak, datang menghampirinya.
Adiva tahu kalau kejadian seperti ini pastilah terjadi.
__ADS_1
"A-apa nyonya adalah Anindira?" tanya pelan Adiva.
"Ya, aku Anindira. Istri, yang suaminya kamu rebut!" hardik Anindira.
"Maaf nyonya, tapi saya tidak bermaksud untuk merebut suami nyonya. Kami menikah hanya karena sebuah kesalah pahaman saja," bela Adiva.
"Apa kamu bilang?! Aku bukalah wanita bodoh yang bisa kamu kelabui. Dan lagi pula mas Daniel sudah bercerita kepadaku. Tapi, aku tidak akan percaya begitu saja dengan penjelasan mas Daniel. Aku tahu wanita sepertimu hanya menngincar hartanya mas Daniel. Maka dari itu kamu menjebaknya dengan berpura-pura menolongnya, dan minta warga untuk menggerebek kalian yang hanya berdua didalam rumah pada malam hari. Sehingga kamu bisa menikah dengan mas Daniel. Memang trikmu itu sungguh murahan, menjebak suami orang hanya untuk menaikkan status sosialmu. Dasar wanita j****g!!" tuduh Anindira.
"Cukup!! nyonya Anindira yang terhormat. Saya bukan wanita seperti yang anda tuduhkan." bela Adiva.
"Jika kamu bukan wanita j****g yang seperti aku tuduhkan. Aku minta padamu untuk segera pergi dari sini dan jauhi mas Daniel. Aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang jika kamu bersikukuh bersama suamiku. Ingat itu baik-baik!!" tekan Anindira.
"Tanpa anda minta pun saya akan segera pergi jauh dari sini," ucap Adiva.
"Baguslah, aku pegang ucapanmu!"
Anindira pun pergi begitu saja meninggalkan apartemen tersebut dan menutup pintu dengan keras.
Brak...
Bahu dan badan Adiva bergetar. Air matanya terus mengalir tanpa mau berhenti.
"Aku bukan wanita seperti itu! Aku bukan wanita j****g!! Aahk!!" teriak Adiva.
Ia membanting semua barang yang ada disana. Meluapkan semua amarahnya atas tuduhan Anindira yang begitu menyakitkan.
Sekarang Adiva seperti orang gila. Dari mulai ruang tamu, dapur dan kamar yang ia tempati pun berantakan, layaknya kapal pecah. Semua itu menggambarkan hati Adiva yang hancur berkeping-keping.
Tak ada tempat untuk ia bersandar, ataupun bercerita. Hidupnya sungguh dalam kesendirian. Cinta yang ia rasakan pada suaminya pun hanya bertepuk sebelah tangan. Membuat dirinya seakan tertekan.
Pandangannya mulai kabur, seakan semua ruangan terus berputar, dan...
Bukk...
Ia pun terjatuh dengan mata yang tertutup. Daniel yang berniat pulang ke rumah utama, sengaja menyempatkan diri terlebih dahulu untuk menemui Adiva, memastikan keadaannya baik-baik saja.
__ADS_1
Ceklek...
Daniel membuka pintunya, dan ia dikejutkan dengan semua ruangan yang sudah berantakan.
"Ada apa ini? Kenapa semua berantakan sekali?" tanya heran Daniel.
"Adiva... Adiva..." panggil Daniel.
Namun, tidak ada sahutan dari orang yang dia panggil. Daniel melihat sekeliling dan langkahnya kini menuju kamar Adiva.
"Adiva!" pekik Daniel.
Segera ia mengangkat tubuh mungil istrinya, dan di baringkannya di atas ranjang.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti ini?" tanya kembali Daniel.
Dirogohnya handpone yang ada dalam saku kanan celana, mendial nomer asisten kepercayaannya.
"Kevin, tolong cek CCTV yang ada di apartemenku! Sepertinya ada yang tidak beres," perintah Daniel,"dan kamu segera hubungi dokter untuk segera datang ke sini."
Daniel menutup sambungan teleponnya, sebelum orang yang ia hubungi menjawab.
Tak lama berselang, dokter pun datang. Memeriksa keadaan Adiva yang sedang tidak sadarkan diri.
"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Daniel.
"Dia hanya kelelahan dan sepertinya dia mengalami tekanan yang cukup berat," jelas dokter.
Daniel mengerutkan dahinya,'apa mungkin Adiva tertekan karena cintanya aku tolak?' batin Daniel.
"Setelah sadar, segera berikan obat ini untuk ia minum," ucap dokter,"kalau begitu saya pamit pulang."
Daniel pun mengantar dokter tersebut sampai pintu, dan kembali ke kamar Adiva. Menatap lekat wajah wanita yang sedang terbaring tak sadarkan diri diatas tempat tidur.
Handphone-nya pun berbunyi, segera Daniel mendial ikon berwarna hijau.
__ADS_1