
Enam bulan sudah Adiva bekerja di perusahaan besar sebagai office girl. Setiap hari ia lalui dengan rutinitas pekerjaan. Jika hari libur ia pergunakan waktu itu dengan membuat kue beraneka rasa, menjual kue buatannya di pasar tradisional.
"Berapa ini harganya, mbak," tanya si pembeli.
"Dua ribu rupiah bu," jawab Adiva.
"Boleh saya coba dulu mbak," tanya kembali si pembeli.
"Silakan bu,"
Adiva mempersilahkan ibu pembeli itu untuk mencoba kue buatannya. Dibukanya bungkus kue tersebut, dan… kue buatannya membuat si ibu takjub.
Belum pernah ia merasakan kue seenak yang dibuat Adiva.
"Mbak, saya borong ya semua kuenya,"
Adiva pun tercengang mendengar kata borong dari si ibu. Dengan gagap ia pun menjawab,"i-iya bu, tunggu sebentar saya bungkus dulu semua kuenya".
Segera ia mengambil kantong keresek berwarna hitam yang disebelahnya. Satu persatu kue pun ia masukan ke dalam kantong keresek tersebut sambil menghitung jumlah kuenya.
"Ini bu, semuanya jadi seratus ribu," ucap Adiva sambil menyerahkan kantong keresek berisikan kue.
Ibu itu membuka dompetnya dan mengambil uang yang bewarna merah dengan nilai nominal seratus ribu rupiah.
"Ini mbak," ucap Ibu tersebut,"apakah mbak juga menerima pesanan kue juga?"
"Ya, tapi saya hanya menerima diwaktu libur saja, bu. Karena saya juga harus bekerja".
"Kalau begitu boleh saya meminta nomer handphone mbak. Barangkali jika saya mengadakan syukuran bisa pesan kue ke mbak".
Dengan senang hati Adiva menuliskan nomer handphone-nya dan diberikan kepada ibu tersebut.
Sungguh ia tak menyangka akan ada yang memborong semua kuenya. Adiva pun bergegas membereskan lapak dagangannya.
"Sudah mau pulang ya mbak?" tanya pedagang sebelah.
"Ya pak, alhamdulillah kue saya sudah habis terjual. Saya permisi pulang duluan".
"Hati-hati ya mbak," ucap si bapak memperingatkan.
__ADS_1
Adiva pun mengangguk dengan senyum yang tak pernah luput dari bibirnya. Kaki mungilnya melangkah meninggal pasar, tempat kedua ia mencari rezeki.
🦋🦋🦋
Hari berganti dengan cahaya sang surya yang hangat. Embun. serta udara segar semakin menambah semangat pagi.
"Sudah mau berangkat kerja Adiva," tanya tetangga yang rumahnya dilewati Adiva.
"Ya, bu".
Tak banyak bicara Adiva dengan langkah lebarnya bergegas menuju tempat ia bekerja. Kakinya menyusuri setiap jalanan yang selalu padat dan ramai dengan berbagai aktivitas.
Tepat pukul setengah tujuh pagi Adiva sampai. Bergegas ia letakan tas selempangnya di loker, mengambil kanebo serta pembersih untuk membersihkan meja yang kotor, walaupun masih terlihat bersih. Teko pun ia isi dengan air dan memasaknya hingga mendidih.
"Hey, kamu tolong buatkan saya kopi hitam," pinta pria yang sudah berdiri di sana.
"Baik pak, akan segera saya buatkan," ucap Adiva.
Dengan cekatan tangannya mengambil kopi saset, gelas serta sendok. Dibukanya kopi tersebut dan dituangkan kedalam gelas yang ia sudah sediakan. Kopi tersebut diseduhnya dengan air panas yang Adiva masak tadi.
Diambilnya kopi tersebut tanpa berkata sedikitpun pada Adiva.
"Dingin banget," gumam Adiva.
Semakin jam berputar semakin sibuk juga kegiatan Adiva. Dari mulai membersihkan setiap ruangan hingga melayani setiap pesanan para karyawan. Pekerjaan hari ini cukup melelahkan untuk Adiva. Sampai jam sembilan malam pekerjaannya baru selesai.
"Cape banget," ucap Adiva.
Kakinya terus melangkah pelan dengan rasa lelah yang dirasakannya. Tiba-tiba Adiva mengedipkan beberapa kali matanya, memcoba melihat dengan jelas sosok pria yang tergeletak dipinggir jalan.
Ia pun segera berlari menghampirinya. Mencoba membangunkan pria tersebut.
"Tuan, bangun tuan,"
Beberapa kali Adiva membangunkannya, namun sosok pria itu tak bergeming sedikitpun. Adiva membuka tasnya dan mengambil air mineral yang selalu dibawanya. Cipratan air yang membasahi wajah pria tersebut membuatnya mulai tersadar.
"Tuan, apa tidak apa-apa? Kenapa tuan tergeletak disini," tanya Adiva.
__ADS_1
"Tolong, kepala saya sakit sekali," ucap pelan pria tersebut.
Adiva melihat sekelilingnya, tak ada satu orang pun yang lewat disana. Hanya ada dirinya dan juga si pria. Tidak mungkin juga ia meninggalkan pria itu disana dengan keadaan sakit yang di deritanya.
Tanpa pikir panjang dan dampak apa yang akan terjadi. Adiva membawa pria itu pulang kerumahnya. Mencoba memapah tubuh pria tersebut dengan tubuhnya yang mungil. Tak disangka sepasang mata melihat Adiva memasukkan seorang pria kedalam rumah. Menimbulkan berbagai pikiran negatif.
"Tuan, adakah orang yang bisa anda hubungi untuk menjemput anda disini?" tanya Adiva.
"Tolong hubungi sekertaris saya," jawab pria itu sambil memberikan handphone-nya pada Adiva.
Baru saja Adiva mau meraih benda pipih persegi panjang tersebut. Suara ketukan pintu beberapa kali di dengarnya. Segera Adiva membukakan pintu. Dahinya mengkerut melihat beberapa orang mendatangi rumahnya.
"Maaf Adiva malam-malam kami mengganggu," ucap pak RT berbasa-basi.
"Tidak apa pak RT. Kalau boleh tahu kenapa datang kerumah saya ramai-ramai?" tanya heran Adiva.
Belum sempat pak RT menjawab, orang yang berada di sampingnya menyela,"kawinkan saja sekarang pak RT ,dari pada nanti kampung kita mendapat mendapat malu karena salah satu warga kita memasukan pria malam-malam".
"Apa maksud anda? Saya membawa pria tersebut hanya menolongnya saja,"
"Alah jangan alesan kamu Adiva. Lihat saja pria itu sudah membuka seluruh kancing kemejanya, pasti kalian akan berbuat zinah".
" Jaga ucapan anda!! Saya tidak seperti yang anda pikirkan".
Namun pembelaan Adiva terhadap dirinya tidaklah berpengaruh. Hingga menimbulkan saling beradu mulut antara Adiva dan warga.
"Sudah cukup!! Saya akan menikahi dia sekarang juga. Apa kalian puas?"
Adiva yang mendengar kalimat tersebut, seketika membeku. Dalam hati ia bertanya,'mengapa harus menikah? sedangkan aku tak tahu siapa dia, begitupun sebaliknya? Aku hanya berniat menolongnya'.
Warga segera membawa penghulu dan menikahkan Adiva dengan pria tersebut. Dengan disaksikan warga Adiva resmi menjadi istri pria yang ditolongnya.
" Sekarang kalian sudah dah menjadi suami istri dan alangkah baiknya, surat nikah segera kalian urus," ucap pak RT,"kalau begitu kami semua pamit,"
Adiva tak menjawab ia bingung dengan apa yang barusan terjadi padanya. Dalam sekejap ia menyandang status istri. Baru saja impiannya ia rangkai, haruskah pupus hanya karena status barunya.
"Maaf, aku terpaksa menikahimu untuk menenangkan para warga. Karena menolongku mereka jadi berfikir negatif tentangmu".
__ADS_1