
"Mbak," cicit Adalah.
"Hay Adiva. Apakabar?" sapa Anindira dengan penuh senyum.
"Ba-baik Mbak," sahut Adiva gelagapan. Ia tak menyangka akan bertemu Anindira di tempat ini.
"Kalian datang kesini untuk belanja juga?" tanya kembali Anindira.
"Iya."
Pandangan Anindira beralih pada Daniel yang sedang menyeruput segelas kopi di depannya.
"Hay Honey. Apakabar? Kenapa kamu lama tak pulang? Apa kamu dah bosan dengan aku? Dan lebih memilih tinggal bersama istri mudamu," ucap Anindira dengan suara cukup keras.
Pengunjung yang mendengar perkataan Anindira seketika melirik kearah mereka bertiga dan saling berbisik. Mereka seakan menggunjingkan apa yang dilihat dan didengarnya.
Adiva menunduk malu karena semua mata tertuju kepadanya.
"Setiap malam aku selalu memasak dan menyiapkan makan malam dan menunggu kepulanganmu. Tapi kamu seakan tak peduli padaku. Aku sudah ikhlas kalau harus dimadu, tapi kamu sebagai suami harus adil pada kedua istrimu. Bukan terus menerus memanjakan istri mudamu," ujar Anindira.
Ucapan Anindira seperti belati tajam yang langsung menghujam kearah jantung Adiva. Tanpa di sadari lelehan air mata mengalir di pipinya.
"Sudah selesai dengan semua ocehanmu?" tanya Daniel, "seharusnya kamu sudah tahu, kenapa aku jarang pulang dan lebih memilih tinggal bersama Adiva. Apa aku harus ingatkan kembali? Tapi aku tak ingin mempermalukanmu di depan banyak orang. Tingkahmu sekarang seperti anak kecil, tidak mencerminkan kedewasaan selayaknya."
Seketika wajah Anindira memerah menahan rasa malu. Perkataan Daniel seperti bumerang yang menyerang balik.
"Mas," panggil Adiva pelan. Ia mengelus punggung tangan Daniel.
"Ayo! Segera kita tinggalkan tempat ini," ajak Daniel.
"Mbak mau pulang bersama kita?" tanya Adiva. Dalam keadaan yang sudah dipermalukan, ia masih sempat untuk berbuat baik pada Anindira.
"Biarkan dia pulang sendiri," tolak Daniel.
Pasangan suami istri itu menginggalkan Anindira yang mematung disana, tanpa menghiraukan bisikan dari para pengunjung disana.
"Awas kamu Adiva!"
🦋🦋🦋
__ADS_1
Setiba di apartemen, Adiva bergegas masuk menuju kamar dan mengunci diri didalam.
"Adiva buka pintunya," pinta Daniel.
Namun, beberapa kali ia meminta untuk dibukakan pintu. Hal tersebut tak dihiraukan Adiva. Di dalam ia menangis dalam diam, menenggelamkan wajah diantara lutut yang ditekuk.
Untuk beberapa saat Daniel membiarkan hal tersebut, memberi ruang untuk istrinya menenangkan diri. Sungguh perkataan Anindira sangat menyakiti Adiva, dan kini ia harus dihadapkan dan diingatkan kembali akan posisi yang sebenarnya. Istri muda yang dinikahi secara siri oleh pria kaya raya.
Sampai saat ini pun Daniel belum memberi tahu Adiva akan rencananya untuk menikahi istrinya kembali secara agama dan juga negara. Agar anaknya kelak dapat pengakuan yang sah dari sang ayah.
Tengah malam Adiva baru keluar kamar. Daniel yang mendengar suara pintu terbuka langsung berdiri dan menghampirinya.
"Apa kamu baik-baik saja?"
"Kenapa Mas masih disini? Pulanglah kasian mbak Anindira," ujar Adiva.
Ia berjalan melewati Daniel dan pergi ke dapur dan mengambil segelas air minum.
"Apa kamu tidak lapar?" tanya khawatir Daniel.
Adiva tersenyum. "Lapar. Bahkan sangat lapar hingga perutku sakit. Tapi aku akan makan kalau Mas mau pulang ke rumah Anindira."
"Kenapa minta maaf Mas? Disini seharusnya aku yang minta maaf. Maaf karena merebut cintanya mbak Anindira. Aku berharap waktu bisa kuputar kembali agar hal seperti ini tidak terjadi pada kita. Namun, itu tidak mungkin," ucap Adiva. Ia berusaha tegar dalam kesedihan yang dirasakannya.
"Adiva," cicit Daniel.
"Mas, aku mohon" pinta Adiva.
"Baiklah aku akan pulang, jaga dirimu dan anak kita. Kalau terjadi apa-apa segera hubungi aku."
Adiva mengangguk mengiyakan sambil tersenyum. Sebelum pergi, Daniel tak lupa memberi kecupan sayang di dahi istrinya, serta mengelus dan mengucapkan selamat malam pada calon anaknya yang masih didalam perut si istri.
Tak terasa bulan pun berganti dan berlalu begitu saja. Kandungan Adiva kini sudah menginjak usia sembilan bulan, dan dalam hitungan hari ia akan segera. Itu yang dikatakan Sarah pada Adiva dan Daniel, selaku dokter kandungannya.
Dalam perjalanan pulang, tak sengaja Adiva melihat tukang rujak di pinggir jalan.
"MAS, BERHENTI!"
Seketika Daniel langsung menginjak rem mobil.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya kaget Daniel.
"Itu... Aku pengen itu," ucap Adiva. Telunjuknya menunjuk kearah pedagang tukang rujak.
Daniel yang melihat arah telunjuk Adiva langsung menolak.
"TIDAK!"
"Mas, aku mohon. Please" mohon Adiva dengan menangkupkan kedua telapak tangannya.
Daniel menghela napas. "Sayang, kamu tahukan kalau makanan pinggir jalan itu tidak higienis. Lagi pula kamu akan segera melahirkan, tidak baik kalau makan rujak."
"Emang ya, orang kaya suka memandang makanan pinggir jalan itu jorok," kesal Adiva.
"Bukan begitu, sayang. Tapi...."
"Terserah!" rajuk Adiva.
Daniel yang melihat Adiva merajuk, segera keluar dan menghampiri pedagang tersebut. Ia membeli satu porsi rujak yang tidak terlalu pedas untuk istrinya. Mata Adiva berbinar ketika melihat Daniel yang membawa satu porsi rujak yang dimintanya.
"Ini."
"Wah... Pasti enak. Terima kasih Mas," ucap Adiva.
"Sama-sama."
Ia pun langsung membuka wadah rujak tersebut dan memakannya.
"Ko gak pedas rujaknya?" tanya heran Adiva.
"Sebentar lagi kamu akan melahirkan. Jangan makan pedas," sahut Daniel.
"Tapi kurang enak, Mas. Kalau makan rujak gak pedas."
"Ya tinggal dibuang aja kalau kurang enak."
"Sayang Mas, kalau dibuang. Mubazir"
"Kalau sayang ya makan."
__ADS_1
"Iya, aku makan," ucap Adiva mengalah.