
Berbagai macam menu makan malam tetata rapi di atas meja makan. Dengan senyum yang terus mengembang, Anindira menatap hidangan tersebut. Walaupun hatinya sakit, ia masih berharap akan cintanya Daniel.
Terdengar suara mesin mobil yang berhenti. Dengan cepat Anindira berjalan menuju pintu depan, menyambut kepulangan Daniel. Wajahnya terus tersenyum, begitu melihat Daniel keluar dari mobil.
"Honey…" panggil Anindira, tak lupa kecupan di pipi Daniel ia sematkan.
"Apa kamu mau makan dulu atau mandi?" tanya kembali Anindira.
"Aku akan mandi terlebih dahulu," jawab Daniel.
Ia pun berjalan menuju kamar, kemudian masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan si istri mempersiapkan baju ganti untuk si suami.
Di dalam kamar mandi, dibawah guyuran air. Daniel terus memikirkan Adiva. Ia ingin memberikannnya sebuah kejutan dengan menjadikan Adiva istri sah-nya dimata hukum agama juga negara.Kini hatinya terikat kuat dengan istri mudanya. Tapi, ia juga masih mencintai istri pertamanya, walaupun tidak seperti dulu.
Tok… tok… tok
"Mas, apa kamu baik-baik saja di dalam?" teriak Anindira.
"Ya, aku baik-baik saja,Honey" sahut Daniel dari dalam kamar mandi.
Tak lama Daniel keluar dengan memakai handuk kimono. Tangan kanannya mencoba mengeringkan rambut dengan
menggunakan handuk kecil.
"Sini, aku bantu keringkan rambutmu denga hairdryer," ucap Anindira.
Daniel duduk di depan meja rias istrinya, sedangkan Anindira mengeringkan rambutnya. Tidak memakan banyak waktu, rambut Daniel pun sudah kering. Anindira pun mematikan hairdryer-nya.
"Sudah," ucap Anindira," ayo cepat pakai bajumu, dan segerlah turun untuk makan malam."
"Hmm."
Begitu Anindira keluar kamar. Daniel mengambil handphone-nya, kemudian menghubungi Adiva. Telepon pun tesambung.
"Assalamu'alaikum, Mas" ucap salam di seberang sana.
"Waalaikumsalam. Adiva maaf malam ini aku tidak bisa pulang ke apartemennya."
__ADS_1
"Iya Mas, tidak apa. Aku mengerti," sahut Adiva.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Daniel.
"Aku baru mau makan, Mas."
"Segeralah makan. Aku tidak ingin kamu kembali sakit seperti kemarin."
"Iya, Mas. Mas juga, jangan lupa makan," ucap kembali Adiva.
"Tentu, Sayang. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. kalau ada apa-apa, segera hubungi aku. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Daniel mematikan teleponnya dan beranjak keluar kamar. Satu persatu anak tangga ia turuni, hingga sampailah ia di depan meja makan.
Anindira tersenyum begitu melihat Daniel datang. Dengan sikap ia pun melayani si suami.
"Terimakasih," ucap Daniel.
"Sama-sama, Honey" sahut Anindira.
"Oh ya, Honey. Bagaimana meetingmu di Surabaya? Apakah lancar?" tanya Anindira beruntun.
Daniel menjawab,"lancar."
"Baguslah kalau begitu."
"Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan, Honey? Sudah lama kita tak meluangkan waktu bersama."
Daniel tak menjawab, tangannya masih sibuk dengan makanan di depannya.
"Honey, apakah kamu mendengarkanmu?" tanya kembali Anindira.
Daniel selesai dengan makannya, ia mengambil air disamping dan meneguknya hingga tandas, kemudian mengelap mulutnya dengan sebet.
"Kita lihat saja besok," tutur Daniel.
__ADS_1
Prang…
Anindira meletakkan sendok dan garfunya dengan keras.
"Honey, mengapa kamu sekarang berubah? Apa karena wanita sial itu?!" tanya marah Anindira.
"Cukup Anindira!! Yang kamu sebut wanita sial, dia juga istriku."
"Tapi dia sudah mati! Sudah mati! Ingat itu, Honey! Jangan kamu bilang, kalau kamu mencintai wanita sial** itu!"
Tanpa ingin berdebat lagi, Daniel segera meninggal meninggalkan meja makan dan juga Anindira disana, yang masih dengan emosi yang bergejolak.
Ia memasuki ruang kerjanya, dan bersandar di kursi kebesarannya. Daniel memijit pelipisnya, merasa pusing dengan tingkah laku Anindira barusan.
Dering ponsel berbunyi, membuyarkan sejenak lamunan Daniel. Ikon hijau pun bergeser.
"Katakan!" ucap tegas Daniel.
"Tuan, anak buah saya telah menangkap salah seorang pelaku kecelakaan tersebut. Dan…."
"Katakan dengan jelas, Kevin!" tegas Daniel.
"Maaf, Tuan…" ucap pelan Kevin.
"Katakan sekarang! Atau kau akan tahu akibatnya!" ancam Daniel.
"Tuan, yang menjadi dalang dari kecelakaan palsu itu adalah… Nyonya Anindira."
Tangan Daniel mengepal kuat. Ia tak menyangka istri pertamanya bisa melakukan hal sekejam itu.
"Jaga orang itu baik-baik. Besok aku ingin menemuinya."
"Baik, Tuan."
Sambungan telepon pun terputus dan…
Brakk…
__ADS_1
Daniel, meninju keras meja kaca di depannya. Darah mengalir dari sela-sela jari tangan kanan. Bulir bening mengalir begitu saja tanpa pemirsi. Hatinya sakit mengetahui kebusukan dari orang tercinta. Kini dalam lubuk terdalam ia hanya bisa bertahan, mengapa. Tanpa ada satu jawaban pun.
Yang Daniel tahu sekarang, Anindira orang di balik kecelakaan tersebut. Dan besok pagi, ia harus segera menemui orang yang telah membantu melancarkan rencana jahat istrinya.