
Sudah dua hari Adiva beberapa kali merasakan sakit pada perutnya. Tapi dengan tiba-tiba sakit itu pun hilang. Hal ini sering terjadi pada beberapa ibu hamil yang akan segera melahirkan. Kejadian seperti ini di sebut kontraksi palsu atau Braxton Hicks yaitu, kontraksi dengan pola tidak teratur yang kerap timbul pada kehamilan.
Kontraksi palsu terjadi karena pengencangan perut bagian bawah dan ************. Dan karena hal tersebut Daniel sempat khawatir. Tapi lain dengan hari ini, kontraksi yang dialami Adiva semakin kuat dan membuatnya semakin kesakitan. Tak lama cairan bewarna bening bercampur darah keluar. Dengan sigap Daniel segera membopong istrinya menuju mobil.
"Sabar Sayang, kita akan segera ke rumah sakit," ucap Daniel menenangkan.
"Mas, sakit" rengek Adiva. Tangannya terus mengelus perut dan menggenggam erat tangan Daniel.
Dengan kecepatan tinggi Daniel melajukan kuda besi miliknya. Beberapa kali pula ia membunyikan klaksok.
"Sakit!!"
"Ya Sayang. Sebentar lagi kita sampai."
Hanya dengan waktu 15 menit, Daniel sampai di depan rumah sakit. Ia kembali membopong istrinya yang sedang kesakitan.
"Daniel! Segera baringkan Adiva!" titah Sarah. Ia segera membawa brankar bersama perawat begitu melihat Daniel datang.
"Kamu tunggu disini!"
Didepan pintu tertutup ruang bersalin Daniel terus mondar-mandir tak tenang. Ini adalah pengalaman serta anak pertamanya, ia harus setia menemani Adiva yang sedang berjuang antara hidup dan mati.
"Tuan Daniel, anda bisa masuk untuk menemani nyonya Adiva melahirkan," ucap perawat.
__ADS_1
Didalam ruang bersalin ia melihat Adiva yang merintih kesakitan. Digenggamannya tangan Adiva, berusaha memberi semangat. Tanpa disadari lelehan air mata mengalir di pipi pria tampan tersebut.
"Ayo Adiva semangat, sedikit lagi bayinya akan segera keluar."
Dengan tenaga yang tersisa Adiva berusaha mengejang kembali. Dan tak berselang lama suara tangis si jabang bayi pun menggema. Sarah dengan di bantu suster membersihkan bayi tersebut terlebih dahulu dari darah yang menempel pada badannya. Setelah selesai, Sarah memberikan si bayi pada ibunya untuk mendapatkan ASI pertamanya.
"Selamat ya, sekarang kalian sudah menjadi orang tua," ujar Sarah.
"Terima kasih atas bantuanmu," sahut Daniel.
"Apa aku tidak salah dengar? seorang Daniel mengucapkan terimakasih. Sungguh hal yang langka ini," ejek Sarah.
"Kamu kira aku tidak bisa mengucapkan terima kasih."
"Aku tidak akan memberi tahu nama putraku padamu," sela Daniel.
Sarah memutar malas bola matanya.
"Mas, kamu tuh kalau bertemu dengan dokter Sarah selalu saja betengkar," ujar Adiva. Ia di buat jengkel dengan perdebatan antara Daniel dan Sarah yang tak pernah akur setiap bertemu.
"Baiklah, masih banyak yang harus aku kerjakan. Aku pamit dulu ya Adiva. Selamat beristirahat."
Sarah pun pergi meninggalkan keluarga kecil tersebut.
__ADS_1
"Mas, mau dikasih nama apa anak kita ini?" tanya Adiva.
"Akmal Atharayyan. Apa kamu suka dengan nama itu?" tanya balik Daniel.
"Suka.Itu nama yang bagus untuk bayi tampanku ini."
"Ehmm... Itu karena dia mewarisi ketampanan ayahnya."
Adiva terkekeh melihat Daniel yang narsis dan seperti tidak ingin tersaingi ketampanannya oleh sang anak.
"Kamu kenapa?"
"Tidak. Baru pertama kali aku melihat seorang Tuan Daniel yang begitu narsis," sindir Adiva.
Daniel berdecak. Dilihatnya bayi kecil yang sedang menyusu pada ibunya. Rasanya seperti mimpi, kini ia telah menjadi seorang ayah dari anak yang sangat diidamkan. Setelah sekian tahun menunggu untuk momen seperti ini. Sungguh kebahagiaan tidak ternilai, bisa memiliki keluarga yang lengkap.
🦋🦋🦋
Di tempat lain, Anindira yang mengetahui Adiva sudah melahirkan, tidaklah senang. Ia akan tetap berusaha membuat Adiva dan anaknya sekarang untuk menghilang. Ia tidak rela kalau Daniel semakin memperhatikan keluarga kecilnya dan mengabaikan dirinya.
Ia pun tersenyum smik. "Tunggu saja Adiva! Aku akan segera menyingkirkanmu dan juga anakmu!"
Anindira mulai memikirkan kembali rencana jahatnya terhadap istri muda dari suami tercintanya.
__ADS_1