Jerat Cinta Istri Muda

Jerat Cinta Istri Muda
Bab 25: Pergi Belanja


__ADS_3

Hari semakin gelap. Namun, Daniel masih setia menemani Adiva. Sejak dari tadi istri mudanya itu menyuruh Daniel untuk segera pulang ke rumah besar. Karena malam ini adalah giliran Daniel untuk menginap bersama istri pertama, Anindira. 


Tapi tak diindahkan oleh Daniel, membuat Adiva merasa jengkel dengan sikapnya. Sebagai seorang madu dari suami orang Adiva cukup sadar diri, kalau dirinya harus berbagi suami serta cinta kasih si suami. Ia tak ingin serakah.


Walaupun menyakitkan dan Anindira belum menerimanya. Adiva juga tak mau kalau Daniel sepanjang waktu terus menemaninya. Terlepas dari kesalahan yang di perbuatan oleh istri pertamanya terhadap Daniel dan Adiva. Anindira juga membutuhkan perhatian dan cinta Daniel. Entah cinta itu masih ada atau tidak untuk Anindira, hanya Daniel yang tahu. 


"Mas, ini sudah mau tengah malam. Cepat segera pulang sana!" perintah Adiva. 


"Kamu ngusir aku? Bukannya ini rumah aku juga?"


Adiva memutar malas bola matanya. "Apa harus aku ingatkan terus? Kalau aku ini bukan satu-satunya istri Mas. Ada mbak Anindira juga yang berhak terlebih dahulu atas Mas."


"Cukup! Aku gak mau kamu ngomong seperti itu lagi. Baiklah aku pulang sekarang, " ketus Daniel. 


Adiva memegang tangan Daniel. "Kamu marah?"


"Tidak," jawab singkat Daniel. 


Si istri tersenyum dan berkata, "tidak mau mengucapkan selamat malam dan tidur buat dedek bayinya?"


Daniel berbalik dan menunduk, sebelah tangannya mengusap lembut perut rata Adiva. "Papa tinggal dulu ya. Besok kita ketemu lagi. Jagain Mamah buat Papa ya, Sayang. Jangan bandel di dalam sana. Selamat malam dan selamat bobok. Muach…."


Kecupan kecil Daniel berikan di perut Adiva dan beralih di kening si calon ibu. 


"Aku pulang dulu ya," pamit Daniel. 


"Ya. Mas tahukan bagaimana harus bersikap sama mbak Anindira," imbuh Adiva. 


"Huuft… Aku sendiri gak tahu, Sayang."

__ADS_1


"Mas…."


"Ya, harus bersikap adil. Aku tahu itu."


"Jangan sampai Mbak Anindira merasa sendirian. Dan jangan sampai cinta Mas untuknya hilang begitu saja. Bagaimanapun Mbak Anindira sudah mengabdikan dirinya untuk Mas selama bertahun-tahun. Ia sudah menemani dalam suka maupun duka dan sampai saat ini masih setia disamping Mas," jelas Adiva. 


Dengan langkah malas Daniel pun pergi meninggalkan Adiva sendiri di apartemen. Sebenarnya ia khawatir terlebih istrinya itu sedang hamil muda. 


🦋🦋🦋


Hari berlalu begitu saja tanpa terasa. Berganti dengan minggu dan juga bulan. Kandungan Adiva kini sudah menginjak usia empat bulan. Hari ini si ibu hamil bersama suaminya akan pergi berbelanja. 


Sebuah mall tenama, Mall City Center. Sebuah mobil mewah Aston Martin teparkir apik, sepasang suamiistri keluar dari mobil tersebut. 


"Ayo!" Ajak Daniel. Tangannya menggandeng sebelah tangan Adiva. Mereka berjalan menyusuri setiap toko yang terlihat, hingga langkahnya terhenti di depan toko perlengkapan bayi dan ibu hamil. 


"Ngapain kita masuk kesini?" tanya Adiva. 


Dahi Daniel mengernyit, "kenapa kamu bertanya seperti itu? Tentu kita akan membeli baju hamil untukmu."


"Perutku kan masih rata," ujar Adiva. 


"Apa harus menunggu perutmu membesar dulu?"


"Ya, tidak begitu juga."


Daniel melepas genggamannya dan besidekap di depan si istri. Kalau sudah mode seperti itu, Adiva tahu kalau perkataan Daniel tidak ingin dibantah. 


"Ahhkk… Sayang. Ayok pilihkan baju hamil yang cocok untukku," rayu Adiva. 

__ADS_1


Daniel berjalan terlebih dahulu, sedangkan Adiva berjalan mengikutinya dari belakang sambil mencebik. 


Ketika mereka sedang memilih baju, dari kejauhan sepasang mata memperhatikan pasangan tersebut. Tangannya mengepal kuat hingga Menampakkan buku jari yang memutih, hatinya pun kian memanas seperti gunung berapi yang siap meletus mengeluarkan lahar panas. 


Hampir dua jam Adiva dan Daniel menghabiskan waktu di dalam toko tersebut. Adiva kembali dibuat kesal oleh tingkah laku Daniel. Setiap baju yang di cobanya selalu tak cocok dimata Daniel. 


"Aku lapar, Mas" rengek Adiva. 


"Iya sebentar," sahut Daniel. Tapi tangannya masih sibuk memilih baju hamil yang cocok untuk Adiva. 


"MAS!!" kesal Adiva. 


"Hump… Ayok kita ke kasir dulu!" ajak Daniel. 


Setelah selesai membayar barang belanjaannya. Adiva dan Daniel pergi ke tempat makanan siap saji. 


"Mau makan apa?" tanya Daniel.


"Ayam goreng tepung sama spagetti," sahut Adiva. 


"Tidak boleh!" tolak Daniel, "makanan tersebut kurang sehat untukmu."


"Cacing di perutku sudah teriak-teriak minta diisi dari tadi. Apa Mas tega membuat istrinya ini semakin kelaparan?"


Tidak ingin berdebat kembali Daniel pun memesan makanan sesuai dengan permintaan Adiva. Tak lama pesanan mereka pun datang. Karena perut si ibu hamil sudah sangat lapar, Adiva langsung melahap makanan yang ada di depannya, membuat Daniel yang melihat menggelengkan kepala.


Seketika suara dari arah belakang membuat netra Adiva dan Daniel teralihkan. 


"Hay…."

__ADS_1


__ADS_2