
Sinar mentari kembali muncul di sela-sela gordeng. Sinarnya yang menyilaukan membuat Adiva terbangun dari tidur nyenyaknya. Tubuh mungil Adiva menggeliat meregangkan Otot-otot yang kaku setelah tidur.
"Eughh…," leguh Adiva.
"Jam berapa sekarang?"
Matanya melirik jam weker diatas nakas dan berteriak."Ahhk!!."
Daniel yang mendengar teriakan Adiva, menghampiri pintu kamarnya, dan…
Bukk…
Adiva menabrak dada bidang Daniel. Hampir saja ia terjatuh jika saja Daniel tidak dengan sikap menangkap tubuh Adiva yang akan menyentuh lantai.
Deg…
Netra mata mereka pun bertemu. Baru pertama kali Adiva melihat pria sempurna seperti Daniel. Leher yang tegas, hidung mancung dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya. Alis hitam yang tebal serta bibir bewarna merah muda.
Beberapa detik mereka dalam posisi intim. Hingga Daniel pun berdehem, membuyarkan semuanya.
"Ehm,,,"
"Ma-maaf," ucap Adiva gugup.
Adiva dan Daniel membenarkan posisi mereka.
"Kenapa kamu tadi berteriak?" tanya Daniel.
"Oh itu, aku kaget sudah telat masuk kerja. Kenapa anda tidak membangun saya?"
"Aku pikir kamu cape dan tidak usah bekerja dulu hari ini."
Adiva berengut kesal mendengar jawaban Daniel. Jika ia tidak berangkat bekerja otomatis gajinya akan berkurang. Melihat Daniel yang sudah berpakaian rapih ia pun bertanya,"Apa anda akan berangkat bekerja?"
"Ya," jawab Daniel singkat.
"Jika kamu ingin pergi jangan lupa untuk ijin terlebih dahulu kepadaku."
"Kenapa begitu?"
"Apa kamu lupa? Aku ini suamimu sekarang. Jadi sekarang kamu adalah tanggung jawabku. Mengerti!"
"Ya."
Tepat pukul tujuh Daniel berangkat berangkat kerja. Meninggalkan Adiva sendirian di apartemennya. Berbagai pekerjaan rumah Adiva lakukan guna menghilangkan rasa bosannya. Dari mulai menyapu, mengepel, mencuci piring, membersihkan kamar mandi, hingga mencuci baju.
Setelah dirasa sudah beres dan bersih perutnya pun berbunyi,"kruukk,,,"
"Laper…" lirih Adiva.
__ADS_1
Akhirnya ia membuka lemari es. Dan ternyata didalamnya hanya ada dua buah telur dan mie instan.
Adiva pun mengambil panci dan menuangkan air kedalam, merebus mie serta dua butir telur yang ditemukannya di dalam lemari es tadi.
Setelah beberapa menit mie instan dengan dua butir telur siap disantapnya. Kepulan asap dengan aroma khas mie tersebut membuat Adiva tak sabar untuk segera memakannya.
Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan mie yang sudah tersaji diatas meja. Membuat Adiva bersendawa dengan keras.
"Uppss." Adiva seketika menutup mulutnya.
"Alhamdulillah kenyang juga akhirnya."
Adiva beranjak dari duduknya, membersikan meja, piring serta panci yang kotor. Ia pun bergegas mandi karena badannya yang sudah lengket dan bau keringat.
Ceklek…
Pintu apartemen terbuka. Daniel pulang dengan wajahnya yang lelah. Matanya terpejam guna mengurangi rasa lelahnya. Ketika ia membuka mata, tak sengaja ia melihat Adiva yang hanya menggunakan handuk pendek dengan rambut basah yang terurai.
Daniel menelan salivanya, bagaimana pun ia adalah lelaki normal. Jakunnya pun mulai naik turun, sedangkan orang yang dilihatnya berjalan begitu saja tanpa tahu ada yang memperhatikan.
Setelah selesai dengan aktifitasnya didalam kamar,Adiva keluar. Ia terlonjak kaget melihat Daniel sudah pulang.
"A-anda sudah pulang?? Sejak kapan anda berada disana?" tanya Adiva beruntun.
Adiva terbelalak mendengar jawaban dari Daniel, sekaligus malu karena tidak menyadari kepulangan Daniel.
"Saya kesini hanya ingin memberikan ini untuk keperluanmu," ucap Daniel sambil menyodorkan kredit card miliknya.
"Tidak perlu karena saya masih bisa memenuhi keperluan saya sendiri."
"Saya tidak menerima penolakan, jadi ambillah itu sudah menjadi kewajiban saya."
Tak ingin Daniel marah, dengan terpaksa Adiva mengambil kredit card tersebut.
"Kalau begitu saya pulang dulu, sampai jumpa lain hari."
"Tunggu!!"
Adiva mengambil tangan Daniel dan menciumnya layaknya bakti istri pada suaminya. Rasa hangat menjalar begitu Adiva mencium tangan Daniel. Belum pernah ia merasakan hal ini sebelumnya, bahkan Anindira yang sudah menikah dengannya selama lima tahun, belum pernah menciun tangannya sama sekali.
"Maaf, setidaknya ijin saya untuk berbakti sedikit saja sebagai seorang istri," ucap Adiva dengan senyum manis di wajahnya.
Tanpa ingin menjawab Daniel pergi begitu saja. Ia berusaha menetralkan rasa yang baru saja ia rasakan. Rasa hangat yang tak pernah Anindira berikan.
🦋🦋🦋
__ADS_1
"Adiva, kamu antarkan kopi ini keruangan pak direktur!" perintah Astrid.
"Kenapa harus saya mbak?" tanya Adiva.
"Ni anak, disuruh ngantar kopi aja ribet bener!!" bentak Astid.
Hari ini Adiva kembali bekerja. Karena tidak ingin berdebat, Adiva pun dengan terpaksa mengantarkan kopi tersebut.
Tok… tok… tok..
Adiva mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Masuk!!"
Adiva membuka pintu begitu ada orang yang menyuruhnya masuk.
"Maaf Pak saya mau…"
Perkataan Adiva terpotong begitu melihat sosok yang didepannya. Daniel yang melihat ekspresi kaget dari Adiva, berjalan menghampirinya.
Menutup dan mengunci rapat pintu di depannya.
Kopi yang dibawa Adiva diambil Daniel, kemudian meminumnya. Adiva tak bergeming sedikit pun ia hanya memperhatikan setiap gerak-gerik Daniel.
"Duduklah!"
Namun si ampun tetap tidak bergeming.
"ADIVA!" panggil Daniel sedikit keras.
"Eh,,, iya. Maaf pak," ucap Adiva sambil menundukkan kepalanya.
Daniel menaikan sebelah alisnya dan kembali berkata,"apa kamu kaget?"
"Kenapa tuan tidak bilang kalau tuan adalah pemilik dari perusahaan tempat saya bekerja?" tanya Adiva.
"Apa itu penting? lagi pula untuk apa kamu tahu siapa aku?"
"Tapi saya berhak tahu, walaupun saya tahu diri kalau saya hanya istri muda tuan." lirih Adiva.
"Sekarang kamu sudah tahu, kalau saya bukanlah orang sembarangan,"
"Maka dari itu saya ingin kita bercerai. Saya tidak ingin membuat anda malu dengan menikahi saya yang hanya seorang office girl. Juga saya tidak ingin orang mengatai saya sebagai pelakor gila harta." jelas Adiva panjang lebar.
"Apa kamu sudah gila hah!? Tidak mungkin saya menceraikan kamu yang baru saya nikahi dua hari. Saya masih punya hati. Jika kamu ingin bercerai setidaknya tunggulah selama enam atau satu tahun."
Daniel begitu marah terhadap Adiva yang begitu mudah mengatakan cerai.
__ADS_1
"Tapi saya tidak mau menyakiti istri tuan. Lagi pula istri mana yang rela berbagi suami dengan wanita lain."
"Kamu tidak usah memikirkan istri pertamaku, biarkan itu menjadi urusanku. "