Jerat Cinta Istri Muda

Jerat Cinta Istri Muda
Bab 16: Kerinduan Yang Terobati


__ADS_3

Suara rintik hujan masih terdengar, udara dingin pun kian menusuk tulang. Adiva yang sudah berganti pakaian pergi ke dapur, membuat dua gelas minuman jahe. Tak lupa ia pun membawakan baju ganti untuk Daniel ke ruang tamu. 


Tubuh tinggi nan tegap itu masih terbating tak sadarkan diri dengan baju yang masih basah pula. 


"Uhhmm… merepotkan," gumam Adiva. 


Ia berdiri di hadapan Daniel, menatap lekat wajah tampan sang suami.


"Kenapa mas kamu datang kembali? Disaat hati ini sudah menyerah," lirih Adiva. 


Bukk… 


Adiva terjatuh di atas tubuh Daniel. Matanya melotot menatap Daniel. Ketika ia akan bangun, kedua tangan kekar memeluk erat tubuh mungil diatasnya."Biarkan seperti ini untuk sejenak."


Tanpa menolak Adiva pun terdiam, merasakan pelukan hangat Daniel. Tapi, tubuh mungil itu mulai kembali merasakan dingin,karena menempel pada badan suami dengan baju yang masih basah kuyup. 


"Mas,,," Panggil Adiva. 


Tapi si empu tak bergerak sedikitpun. Adiva mulai merasakan hawa panas yang keluar dari hidup Daniel. Tangannya teulur menyentuh dahi si suami."Ya ampun mas… kamu demam."


Adiva langsung bangun dan menepuk pelan pipi Daniel."Mas bangun, ayo ganti dulu bajumu."


Namun, panggilannya tak dihiraukan. Dengan terpaksa dan bersusah payah, Adiva mulai membuka jas dan kemeja Daniel, menggantinya dengan kaos putih. 


"Masa iya aku harus menggantikan celanya pula," ucap Adiva. 


"Mas bangun."


"Ehmm…."

__ADS_1


"Ayo cepat ganti dulu celanamu!" titah Adiva. 


"Kenapa tidak sekalian saja kamu menggantikan celanaku?"


Adiva memutar malas matanya,"masih sempat-sempatnya kamu becanda Mas. Badanmu udah mulai panas. Ayo cepat ganti!"


Dengan malas dan mata yang sedikit terbuka, Daniel bangun dan pergi ke kamar mandi yang ditunjuk Adiva. 


"Minumlah!" titah Adiva. 


Daniel mengernyitkan dahinya,"ini apa?"


"Ini obat penurun panas Mas," terang Adiva. 


Tanpa bertanya kembali Daniel langsung memasukan obat tersebut kedalam mulutnya. Adiva mengulurkan segelas minuman jahe yang dibuatnya tadi. 


"Terimakasih kasih, kamu masih peduli padaku," ucap Daniel. 


"Adiva, sekali lagi aku minta maaf karena sudah melukai hatimu," ucap Daniel penuh penyesalan. 


"Sudahlah Mas, aku tidak ingin membicarakan hal itu kembali."


"Tapi…."


"Istirahatlah dulu, dan jika hujannya sudah reda dan badanmu sudah agak baikan, segeralah pulang. Kasian mbak Anindira pasti mencemaskanmu."


"Tapi…."


Ucapan Daniel terpotong kembali ketika Adiva pergi meninggalkannya.Tak lama sang istri pun kembali menghampirinya membawa selimut dan juga bantal. 

__ADS_1


"Tidurlah dulu Mas selagi menunggu hujan reda."


Tangan Daniel mencekal pergelangan Adiva."Bisakah kamu menemani hingga aku terlelap?"


Adiva seperti terbius oleh pesona Daniel. Kepalanya menganggguk mengiyakan permintaan Daniel. Kini dua insan itu pun terbaring berdua diatas sempitnya kursi panjang tersebut


Saling memeluk seakan menyalurkan dan mengobati rasa rindu yang menyesakan. Memberi kehangatan satu sama lain. 


Dengan mata terpejam dan tangan kekar yang memeluk tubuh mungil di depannya Daniel berkata,"Adiva pulanglah bersamaku, aku berjanji tidak akan menyakitimu kembali dan berlaku adil."


Adiva menggelengkan kepalanya."Tidak Mas aku lebih baik disini daripada harus menyakiti mbak Anindira."


"Hey,,, lihat dan dengarkanlah," titah Daniel,"kamu harus pulang bersamaku, karena kamu istriku dan hanyalah aku tempat kamu pulang. Tidak ada tempat lain. Biarkan Anindira menjadi urusanku."


"Tapi Mas…."


Daniel langsung megecup bibir mungil istrinya. Seketika itu pula birahinya bangkit dan mulai menyesap bibir manis Adiva. Memperdalam ciumannya pada sang istri. Si empu memejamkan matanya merasakan sensasi yang baru ia rasakan. 


Cukup lama waktu yang mereka lalui dengan hanya bertukar saliva, hingga mereka pun melepaskan pagutannya. 


"Bolehkah aku meminta hakku?" tanya Daniel. 


"Tapi…."


Ucapan Adiva terpotong ketika sang suami bangun dan langsung membopong Adiva layaknya bridel style. 


"Dimana kamarmu," tanya kembali Daniel. 


Telunjuk Adiva menunjuk pada pintu berwarna coklat muda. Daniel yang masih membopong Adiva langsung masuk dan mengunci pintu tersebut. 

__ADS_1


Dan di sebuah kamar itulah Daniel dan Adiva saling mengobati rasa rindu mereka. 


__ADS_2